Seorang gadis membuka mata dengan perlahan dan menatap sekeliling untuk memastikan dirinya berada dimana. Matanya terbelalak kaget saat menyadari dirinya berada di rumah sakit.
"Astaga, apa yang terjadi sebenarnya? Gue belum mati?" tanya gadis itu dengan bingung.
Sangat mengherankan kalau dirinya masih hidup saat nekat menabrakkan diri di sebuah truk yang sedang melintas di jalan. Dan yang lebih mengherankan di tubuhnya tidak mengalami luka gores sedikitpun.
Penasaran dengan kelanjutan ceritanya langsung aja di baca gaes🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ana marisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Azam kembali berdecak saat membaca pesan mereka yang sangat banyak. Ia kembali mengirimkan ancaman hingga akhirnya mereka serius dan mau memberinya tutor mulai dari menyalakan kompor dan juga membuat bubur.
Dengan segala upaya Azam lakukan hanya untuk semangkuk bubur. Baru menyalakan kompor saja ia sudah keringat dingin, di tambah tangan yang gemetar. Hampir setengah jam terlewati hanya perkara menyalakan kompor, beruntung dengan segala doa yang Azam hafal dan juga memberanikan diri, akhirnya kompor itu akhirnya menyala juga.
Inces Jeje terus mengirim pesan suara untuk menuntun Azam membuat bubur. Bukan hanya Jeje saja, namun anggota yang lain yang memang bisa memasak, ikut membantu Azam, ya, walaupun mereka masih saja mengejek Azam dan mengatainya.
"Demi apapun, gue lebih milih tawuran aja ketimbang masak kayak gini," gumam Azam sambil mengaduk bubur agar tidak gosong.
Sambil menatap room chat dan sesekali mendengar pesan suara dari Jeje yang dengan antusias mengajarinya.
"Nanti inces buat kursus masak aja deh, Babang Azam yang jadi murid pertama. Nanti inces ajarin buat karu ayam, semur jengkol dan teman-temannya," ucap Jeje lewat pesan suara. Azam terkekeh kecil, yakali harus masuk kursus masak.
Bian: "Jadi murid gue aja Bos, gue mau buka kursus menjadi pebinor sejati."
Alan: "Murid gue aja Zam, nanti gue ajarin gimana caranya menjadi buaya yang setia."
Sambil dengan sabar mengaduk buburnya, Azam masih menyempatkan diri membaca pesan dari anggotanya.
Gerry: "Mobil gue gimana bos? Aman kan, nggak lo jual kan Bos?"
Alan: "Udah dibuang mobil, lo Ger. Ngapain nyimpen mobil butut kayak gitu."
Gerry: "Gak papa buang aja, tapi jangan lupa ganti dengan lamborghini Bos. Senang setengah hidup gue mah."
Bian: "Keenakan itu mah. Ganti mobil mainan aja Zam."
Ringga: "@Azam Kiana kehujanan?"
Bian: "Ringga weuhh apa nih, baru nongol udah nanyain Bu Bos?"
Tioo: "Gue mencium aroma-aroma pebinoran."
Inces Jeje: "Didikan @Bian nih pasti. Makanya jangan terlalu bergaul sama dia, bisa-bisa otak kalian tercemar."
Me: "@Ringga, iya gue telat tadi, dua udah nerobos hujan duluan."
Setelah mengirim balasan itu, Azam mematikan ponselnya dan mengerjapkan mata berkali-kali saat melihat bubur yang telah ia masak dengan susah payah sudah menjadi gosong. Beruntung bagian atasnya masih aman, sudah terlanjur malas membuat yang baru, Azam memilih menyendok bagian yang tidak gosong dan menyajikannya untuk Kiana.
Setelah selesai menuangkan di mangkuk, Azam bergegas ke kamar meninggalkan dapur yang sudah hancur kayak habis diterpa badai. Sepertinya setelah ini ia harus menyuruh orang untuk membersihkan apartemennya lagi.
Azam membuka pintu kamar dengan perlahan, kemudian melangkahkan kakinya masuk dengan membawa nampan di tangannya berisi semangkuk bubur untuk Kiana.
"Lo masak bubur atau habis perang sih? Lama bener," ucap Kiana saat melihat kehadiran Azam yang hampir dua jam lebih membuat bubur. Bahkan Kiana sampai kehabisan topik chatting dengan Alira saat menunggu Azam selesai membuat bubur.
"Butuh perjuangan dan tekad yang besar buat masak ini, Ki. Wajar lah gue lama, gue masih meditasi dulu, mantapin diri biar nggak gerogi pas nyalain kompor," balas Azam sambil mengambil duduk di sisi ranjang. "Mau makan sendiri atau gue suap aja?"
Kiana berdecak. "Tangan gue masih berfungsi. Jadi gue bisa makan sendiri." Kiana bangun dari tidurnya dibantu oleh Azam. Ia bersandar di kepala ranjang sambil mengambil bubur dari tangan Azam.
"Kok bau angus sih?" Kiana menatap Azam yang sedang menyengir.
"Kesalahan teknis saat memasak, Ki," ucap Azam membuat Kiana memutar bola matanya jengah.
"Makanya kursus masak aja deh Zam. Masa buat bubur aja sampe gosong kayak gini. Nggak guna lo jadi babu gue," ucap Kiana, walaupun perutnya sangat lapar, namun saat melihat tekstur bubur yang dibuat Azam sudah seperti muntah, membuat rasa laparnya hilang seketika.
"Makan lo aja nih, hilang napsu makan gue liatnya." Kiana menghela napas. Tubuhnya semakin lemas di tambah demamnya yang semakin tinggi. "Kita balik ke rumah aja, seenggaknya di sana gue bisa makan. Lagian banyak tingkah banget malah bawa gue ke sini, bukannya balik ke rumah," cerocos Kiana kesal.
Azam mengerucutkan bibirnya. Ia sudah susah payah memasak bubur namun tidak dimakan oleh Kiana, dan yang ia dapat bukannya ucapan terima kasih malah dapat kata-kata pedas.
Dan pada akhirnya, mereka kembali ke rumah dengan Azam yang harus menggendong Kiana sepanjang koridor bangunan apartemen menuju basemen, membantu Kiana masuk ke mobil Gerry yang ia pinjam untuk menjemput Kiana saat hujan tadi, namun ia terlambat karena Kiana dengan bodohnya sudah menerobos hujan duluan hingga berakhir demam.
Azam mengitari mobil kemudian menjalankan mobil menuju rumah dengan kecepatan sedang. Sedari tadi Kiana hanya memejamkan mata tanpa ada suara dari gadis itu. Suhu badannya semakin panas.
Tanpa butuh waktu lama mobil yang di tumpangi Azam dan Kiana sudah sampai kediaman Nugraha. Azam segera turun dari mobil dan kembali menggendong Kiana ala bridal style. Kebetulan di ruang tengah tengah, Zara tengah berbincang dengan Zain.
Zain dan Zara saling tatap saat melihat Azam menggendong Kiana, dengan segera mereka beranjak dari sofa dan menghampiri putranya.
"Loh, Kia kamu apain Zam?" tanya Zara kepada putranya.
"Kia demam Mom," jawab Azam sambil berjalan menaiki tangga diikuti Zara dan Zain dari belakang.
"Pi, cepat hubungi dokter." perintah Zara dengan panik.
Azam segera membaringkan tubuh Kiana di ranjang dengan perlahan. Ditemani Zara yang duduk di sisi ranjang sambil memegang kening Kiana.
"Panasnya tinggi sekali Zam." ucap Zara.
Tak berselang lama dokter sudah tiba dan mulai memeriksa keadaan Kiana. Dokter menjelaskan kalau Kiana hanya demam karena habis kehujanan. Dan sudah diberikan resep obat yang harus di minum nantinya.
Mereka yang mencemaskan keadaan Kiana kini sudah bernapas dengan lega. Zain dan Zara meninggalkan kamar Azam dan membiarkan Kiana beristirahat.
****
Keesokan harinya, Azam sudah siap dengan seragam sekolahnya yang jauh dari kata rapih. Cowok itu memang jarang sekali memakai almamater, dasinya saja hanya di sampirkan di bahu.
Sambil memakai sepatu di sofa yang terlihat di kaki ranjang, Azam menatap ke arah Kiana yang masih berbaring di kasur. Cewek itu tidak masuk sekolah hari ini karena keadaannya yang belum pulih. Di tambah Zara yang melarangnya karena tidak mau terjadi apa-apa dengan gadis itu.
"Jangan lupa sarapan sama minum obat. Kalau mau sesuatu panggil Bibi atau Mommy aja," ucap Azam yang sudah selesai memakai sepatu. Ia berjalan mengambil jam tangan di atas nakas dan memakainya sambil menatap Kiana yang sudah bangun.
"Kalau mau buah atau makanan luar, suruh mang Joko aja buat beli, lo jangan keluar dulu. Ingat lo itu belum pulih. Perbanyak minum air putih juga, tuh udah gue siapin."
Azam nyerocos terus sambil memperbaiki rambutnya, hal itu membuat Kiana menatapnya dengan heran.
"Lo cerewet juga?" tanya Kiana, ia tidak habis pikir. Dari selesai mandi sampai selesai bersiap, Azam nyerocos terus.
Azam kemudian berbalik mendekati ranjang. Ia membungkuk dan membenarkan selimut yang sudah melorot dan menariknya hingga menutupi seluruh tubuh Kiana, menyisakan kepala saja yang terlihat.
"Bukan cerewet, tapi ini bentuk kalau gue perhatian sama istri," gumam Azam nyaris tidak terdengar. Ia menegakkan tubuh kembali dan menampilkan wajah datar. "Gue berangkat dulu."
****
Kiana
Alira
Loli
Elsa
Wulan
Azzam
Devan
Davian
Ringga
Bian dan Alan
Dah untuk visual itu dulu yah semoga kalian suka... babay mau ngilang lagi heheh
dan kiana sama rayyan aja.. cocok🤭😁