Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Septia
Nattan berdecak lirih saat membaca beberapa pesan dari nomor yang sama yang meminta dirinya agar segera datang kesuatu tempat.
"Nat, mau kemana Lo?" ujar bagas menahan tangan Nattan yang hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Cabut, ada urusan bentar."
"Nggak bisa entar emang, elah baru juga datang, nggak asik banget Lo ah."
"Next, gue bakalan lebih lama bareng kalian, tapi serius kali ini gue benar-benar harus cabut dulu, sorry bro!" Nattan menepuk pelan pundak Bagas, kemudian menyambar jas dan kunci mobilnya dengan tergesa-gesa.
"Ngapa tuh bocah, pakai acara lari-lari kayak orang kesetanan." gumam Arga yang masih terdengar jelas oleh Bagas, sementara Radhika sudah melantur, dengan tubuh yang terkulai lemas, karena mabuk.
"Nggak tahan kali dia, mau bercocok tanam sama bininya." ujar Bagas.
"Bisa jadi sih, tapi gila aja nggak sabaran banget begitu."
"Namanya juga pengantin baru, Lo belum pernah ngalamin sih."
*
"Maksud kamu mengirimi saya pesan seperti itu untuk apa?" ucap Nattan dengan rahang mengeras.
Sementara seseorang yang berdiri dihadapannya tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi kamu peduli kan sama aku, buktinya kamu tetap datang kesini, dan memastikan keadaan aku baik-baik saja."
"Hentikan kegilaan ini Septia."
Ya, wanita tersebut adalah Septia, yang mengirimkan Nattan banyak pesan dengan penuh ancaman didalamnya.
Bahkan wanita tersebut mengancam akan bunuh diri jika Nattan tidak datang saat itu juga.
"Mau kamu apa Septia?"
"Kamu sudah tahu jawabannya Nat."
"Kamu juga sudah tahu, bahwa aku sudah memiliki pasangan, bahkan istri Septia, jadi berhenti menggangguku."
"Ok, aku akan berhenti mengganggu kamu, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Temani aku makan, anggap saja ini permintaan terakhirku Nat, please."
"Septia_"
"Kamu pilih makan malam, dan aku nggak akan mengganggu kamu lagi, atau kamu memilih menolak, dan aku akan terus mengganggu kamu, bagaimana?"
Dengan banyak pertimbangan akhirnya Nattan pun memilih untuk makan malam bersama didepan Apartemen milik Septia, dimana sudah tersaji beberapa menu makanan yang sudah wanita itu sediakan sebelumnya.
"Aku senang banget Nat, akhirnya bisa makan malam sama kamu." ujar Septia, sembari memperhatikan cara makan Nattan yang membuatnya semakin terpesona.
Sementara itu Nattan segera menghabiskan makanannya, agar ia bisa pulang secepatnya, entah mengapa saat ia bersama dengan Septia, Nattan merasa tengah berkhianat terhadap Anggia.
"Jangan pulang dulu Nat, sebentar lagi aja." cegah Septia, begitu melihat Nattan bersiap akan pergi.
"Sorry Septia, istri saya sudah menunggu."
"10 menit."
"Nggak."
"Ok, lima menit! lima menit lagi aja, ya please!" Septia mengatupkan kedua tangannya memohon pada Nattan, agar pria tersebut tetap duduk disana selama lima menit.
Sementara itu, Nattan mulai gelisah, saat merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.
"Nat, kamu baik-baik saja kan?" Septia menyentuh tangan Nattan yang kemudian ditepisnya dengan kasar.
"Aku harus pulang."
"Nggak, jangan! disini saja, aku bisa kasih apapun yang kamu inginkan Nat."
"CK, apa yang sudah kamu masukkan kedalam makanan dan minuman yang kamu berikan tadi Septia Ayu Salendra." bentak Nattan, membuat Septia mundur satu langkah, tubuhnya gemetar terlebih saat mendapati tatapan mata Nattan yang menghunus tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup.
*
"Arggghh.. sialan!" Nattan memukul kemudi dengan sangat keras, saat merasakan tubuhnya yang mulai tak terkendali.
Dan di sisa kewarasannya, ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya.
"Mas Nattan udah pulang?" tanya Anggia sembari menghampiri Nattan yang sedang menatapnya dengan tatapan berbeda.
"Wajah mas Nattan kenapa?" lanjut Anggia saat menyadari jika wajah Nattan kini tak seperti biasanya.
Pelan pria itu mendekat, kemudian memegangi kedua bahu milik Anggia.
"Anggia, saya punya satu pertanyaan_ apakah kamu rela jika saya jajan diluar bersama wanita lain."
Deg!
Pertanyaan macam apa itu? batin Anggia.
"M-maksud mas Nattan?"
"Saya yakin kamu sudah cukup mengerti Anggia."
Anggia melengos, "Menurut mas Nattan, memangnya ada seorang istri yang merelakan suaminya bersama wanita lain terlebih mereka melakukan_"
"Jadi kamu tidak rela jika saya meniduri wanita lain."
Anggia mengangguk dengan kepala yang tertunduk.
"Kalau begitu, layani saya."
Seketika Anggia tergagap, mendongak menatap kedua manik suaminya yang sudah dipenuhi kabut gairah.
*
*