Tasya Fitra Shakilah Haris, gadis cantik bertubuh mungil itu menjadi korban keegoisan ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya, walaupun menolak berkali-kali Tasya akan tetap dijodohkan dengan pria yang memiliki umur jauh lebih tua darinya bahkan ia tidak mengenalinya dan tidak pernah memikirkan akan berjodoh dengan pria yang di anggapnya tua itu, namun karena suatu kejadian akhirnya Tasya menerima perjodohan itu dengan penuh keterpaksaan.
Akankah pernikahan mereka akan menimbulkan cinta?
Yukk baca kisah Tasya selanjutnya ❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah
"Maaf." Tasya berucap lirih dengan kepala yang masih menunduk, ia tidak berani menatap suaminya yang sudah di penuhi amarah itu.
"Ayo kita pulang." Rey membuka jaketnya lalu memakaikannya di tubuh Tasya. Rey hendak berjalan menuju tempat di mana motornya terparkir namun ia urungkan saat Tasya masih berdiri mematung di tempatnya.
"Huh, menyusahkan saja." Rey memutar tubuhnya, kemudian ia menarik tangan gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu, namun dengan sekuat tenaga Tasya menghempaskan tangan pria itu, Kening Rey berkerut
"Aku tidak mau pulang." ucapnya lirih.
"Kau mau tinggal di sini? Kau mau menjadi penunggu jembatan ini?" Seketika Tasya memperhatikan di sekelilingnya, ya tempat ini begitu sepi sangat jarang di lalui kendaraan, apa tempat ini berhantu?, Tasya menjadi merinding di buatnya, kenapa ia bisa berada di sini? padahal bukan tempat ini yang akan ia kunjungi tadinya.
"Kau masih mau di sini?" Pertanyaan Rey langsung dijawab dengan gelengan kepala.
"Ya sudah ayo kita pulang, Mama sudah menunggumu di rumah."
"Ta-tapi aku tidak ingin kembali ke rumah, aku takut papa memarahiku." Tasya menatap kedua mata Rey dengan tatapan memelas, seketika Rey memalingkan wajahnya.
"Kau harus menerima konsekuensinya, jika om Haris memarahimu itu adalah tindakan yang benar atas kesalahan yang telah kau perbuat." jawabnya dingin, lalu ia berlalu pergi dari sana meninggalkan Tasya yang masih berdiri mematung.
"Kau masih betah di sini?" tanya Rey sesaat setelah menyalakan mesin motornya.
"Di sini begitu banyak penunggunya, apa kau ingin menjadi bagian dari mereka?" tanyanya lagi, Tasya melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Rey dan meraih helm yang telah di sodorkan Rey padanya.
"Aku mau menelpon pak Komar dulu." Rey merogoh ponselnya yang di letakannya di saku celananya. Setelah menelpon pak Komar, ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian, Rey berhenti tepat di depan teras rumah Tasya, terlihat Haris yang sudah menunggu mereka.
Tasya menurunkan tubuhnya dari atas motor, ia tidak berani melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah karena takut dengan ayahnya yang sudah memasang wajah penuh amarah.
"Sayang." Kinaya hendak menghampiri anaknya itu namun dengan cepat Haris menarik tangannya.
"Pa." ucapnya dengan wajah memelas menatap suaminya.
"Masuk!" pinta Haris kepada istrinya itu, Kinaya menganggukan kepalanya, sejenak ia menatap Tasya yang berdiri mematung dan dengan kepala tertunduk, kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumah bersama Bi Una.
Rey mengajak Tasya untuk masuk namun wanita itu menggeleng kepalanya pelan, ia tidak ingin masuk ke rumah karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"MASUK!" Haris meninggikan suaranya seketika Tasya terperanjat kaget. Apa papa semarah itu? pikirnya, dengan kaki yang berat ia melangkah menapaki anak tangga teras rumahnya itu diikuti oleh Rey di sampingnya.
Di ruang keluarga, Haris mendudukan tubuhnya di single sofa sambil memijat pelipisnya yang terasa pening, sedangkan Tasya ia berdiri tepat di samping sofa yang di duduki ayahnya itu.
"Apa papa pernah mengajarimu untuk keluar tanpa izin?" tanyanya menoleh ke arah anak bungsunya itu. Tasya hanya terdiam ia meremas ujung lengan jaket yang di pakainya, tangannya berkeringat dingin, baru kali ini ayahnya semarah ini hingga berani membentaknya di depan orang.
"Kenapa kau mulai tak di kenali? kau bukan Tasya yang papa kenal." ketusnya menatap Tasya dingin
"Maafkan Tasya pa." ucapnya masih dengan kepala tertunduk dalam.
"Papa tidak menyangka kau akan seliar ini. Apa karena pria itu?" Tasya langsung mengangkat kepalanya, ini tidak ada hubungannya dengan Ryo, selama ini ia menjadi anak penurut karena ia menyayangi kedua orang tuanya tapi kenapa mereka malah menyalahkan orang lain jika sikap Tasya tidak sesuai dengan yang mereka inginkan?
"Ini tidak ada hubungannya dengan kak Ryo." Tasya meninggikan suaranya, ia tidak suka ayahnya itu selalu saja menyalahkan Ryo.
"Kau sudah berani meneriaki papa?" Haris berdiri dari duduknya menatap Tasya penuh amarah.
"Benar kata papa semenjak kau pacaran dengan kekasihmu yang tidak tahu diuntung itu, kau menjadi anak yang pembangkan sekarang"
"Pa, ini bukan salah kak Ryo. Dia pria yang baik, papa saja yang tidak mau menerima kebenaran itu."
Plaakkk
Tasya memengangi wajahnya yang terasa panas, papa menamparku? kenapa? apa aku salah membela orang yang tidak bersalah?
"Om." Rey membulatkan matanya, ia tidak menyangka mertuanya itu melakukan hal di luar dugaannya.
"Kau puas?" Tasya menatap Rey penuh amarah.
"Kau puaskan melihat semua ini, kau puas melihat penderitaanku? seharusnya kau membiarkan aku mati tadi." Air mata Tasya mulai membanjiri wajahnya, ia memilih mengakhiri hidupnya dari pada harus menerima semua ini, ia membenci pria itu pria yang menggagalkan rencananya. Ia sangat membenci Reyhans Rahardian sampai kapanpun.
"Kau mencoba mengakhiri hidupmu?" Haris mencengkram kedua lengan anaknya itu. Tasya masih tak bergeming.
"Jawab pertanyaan papa!" pintanya dengan suara gemetar, seketika tubuhnya ikut gemetar, matanya mulai beranak sungai dan tidak dapat di bendung lagi.
"Kau mau mengakhiri hidupmu hanya karena tidak suka dengan keputusan papa? jika kau tahu yang sebenarnya, kau akan berterima kasih atas pilihan yang papa ambil." Haris melepas cengkramannya lalu pergi meninggalkan Tasya yang masih berdiri mematung sesekali ia mengusap wajahnya yang sudah dipenuhi air mata itu. Sedangkan Rey, ia ikut pergi dari sana.
Tasya menjatuhkan tubuhnya di lantai, ia tidak tahu kenapa masalah ini semakin rumit. Semua ini gara-gara pria tua itu seandainya saja ia tidak masuk dalam kehidupan mereka pasti tidak akan ada masalah seperti ini.
"Syaa." Kinaya yang baru saja memasuki ruang keluarga langsung memeluk tubuh anaknya itu, ia ikut menumpahkan air mata.
"Ma, apa Tasya salah? Tasya belum bisa menerima keberadaan pria itu di hidup Tasya. Tasya membutuhkan waktu untuk menerimanya " Suara isakan tampak keluar dari mulut gadis itu, ia menangis dengan sejadi-jadinya
"Maafkan mama, seharusnya mama tidak marah kepadamu. Mama salah sudah memaksamu untuk langsung menerima Rey di kehidupanmu. Maafkan mama." Kinaya mempererat pelukannya
"Ma, aku tidak tahan jika mama mendiamiku, aku ingin mati saja jika mama melakukan hal itu. Hanya mama tempat satu-satunya untuk Tasya berbagi masalah tapi mama justru ikut mendiamiku. Aku tidak bisa Ma."
"Maafkan mama, mama janji tidak akan melakukannya lagi. Jangan tinggalkan mama, cukup kakakmu saja yang pergi meninggalkan mama. Mama tidak ingin anak mama pergi lagi, mama tidak ingin kehilangan orang yang mama sayangi." Tasya merenggangkan pelukannya, ia baru menyadari jika mamanya pernah mengalami kehilangan anak yang sangat di cintainya dan hampir membuatnya gila. Kenapa Rey bisa mengatakan hal yang sama?
"Maafkan Tasya ma. Tasya tidak akan melakukannya lagi, maafkan Tasya." Tasya kembali memeluk Kinaya erat, ia menyesal sudah berpikir untuk mengakhiri hidupnya tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi setelahnya.
Lama mereka berpelukan, Kinaya akhirnya bisa mengontrol dirinya lagi kemudian ia mulai merenggangkan pelukannya.
"Apa kau kedinginan? Ayo minum obat sebelum kau terserang flu." ujar Kinaya lalu membantu Tasya untuk berdiri dan membawanya di meja makan.
"Apa papa menamparmu sangat keras?" tanya Kinaya yang sudah mendudukan tubuhnya di kursi tepat di samping Tasya, ia mengusap pipi Tasya yang masih memerah bekas tamparan ayahnya. Tasya menjawab dengan anggukan.
"Maafkan Papa. Papa melakukan hal itu karena ada alasannya, kau akan tahu nanti." Kinaya menyendokan makanan untuk anak bungsunya itu lalu berlalu mengambil stok obat yang berada di ruang keluarga, sebelumnya ia menyuruh Bi Una untuk memanggil Rey agar ikut makan malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading ❤️❤️
sukses selalu buat othor nya