1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 sejarah yang dihapus
Alea memandang buku harian itu tanpa berkedip Tangannya sedikit gemetar Kalimat di halaman pertama masih terlihat jelas.
«"Jika kamu membaca buku ini, berarti seseorang telah mengubah sejarah."»
"Diubah... bagaimana?" bisik Naya.
Alea membalik halaman berikutnya Tulisan tangan Mira memenuhi setiap lembar.
15 Juli 2006
"Kalau suatu hari ada yang membaca buku ini, jangan percaya semua yang kamu lihat."
"Ada orang yang mampu menghapus ingatan dan mengganti kenyataan."
"Kalau kami kalah, mereka akan menulis ulang sejarah agar terlihat seperti kecelakaan biasa."
Ruangan menjadi sunyi Raka mengerutkan kening.
"Itu menjelaskan kenapa banyak dokumen tentang Hotel Karunia hilang."
Elang mengangguk.
"Organisasi XIII memang terkenal pandai menghilangkan jejak."
"Tapi..."
"Kalau benar mereka bisa mengubah sejarah..."
"...berarti kekuatan mereka jauh lebih besar daripada yang kita kira."
Naura tiba-tiba menunjuk halaman terakhir buku.
"Ada tulisan baru..."
Padahal beberapa detik sebelumnya halaman itu kosong.
Perlahan, tinta hitam muncul sendiri.
«"Pergilah ke Perpustakaan XIII sebelum bulan purnama."»
Di bawahnya muncul sebuah peta.
Peta itu menunjukkan sebuah pulau kecil di tengah danau.
Di tengah pulau hanya ada satu bangunan tua berbentuk perpustakaan.
"Tempat itu..." gumam Elang.
"Aku pernah mendengarnya."
"Tapi semua orang menganggapnya legenda."
Alea menutup buku harian itu.
"Kalau begitu kita akan membuktikan apakah legenda itu nyata."
Di tempat lain...
Direktur X berdiri di depan jendela sebuah ruangan gelap Di belakangnya berdiri Selena.
"Mereka menemukan buku harian itu."
Direktur X hanya tersenyum.
"Biarkan."
"Semakin banyak yang mereka ketahui..."
"...semakin dekat mereka dengan kita."
Selena tampak ragu.
"Tapi bagaimana jika mereka benar-benar menemukan Buku Ketiga Belas?"
Direktur X menoleh perlahan.
"Kau masih belum mengerti."
"Buku itu..."
"...memang sedang mencari pemilik barunya."
"Dan pemilik itu..."
"...sudah berada di antara mereka."
Selena terdiam.
"Naura?"
Direktur X menggeleng.
"Bukan."
"Elang?"
Ia kembali menggeleng.
"Tunggu saja."
"Saat waktunya tiba..."
"...Buku Ketiga Belas akan memilih sendiri."
Keesokan paginya...
Alea, Raka, Naura, Elang, Keanu, Naya, Dimas, dan Liora berangkat menuju danau yang ditunjukkan di peta.
Perjalanan memakan waktu hampir lima jam.
Saat mereka tiba...Langit mulai mendung.
Kabut tipis menyelimuti permukaan air Di kejauhan...Terlihat sebuah pulau kecil.
Dan tepat di tengah pulau itu berdiri sebuah bangunan tua Bentuknya seperti perpustakaan kuno Tidak ada satu pun manusia di sana.
Namun ketika mereka hendak menyewa perahu...Seorang kakek tua tiba-tiba muncul Wajahnya dipenuhi keriput Matanya tajam.
Ia menatap satu per satu wajah mereka Lalu berhenti pada Naura.
"Kalian mau ke pulau itu?"
Alea mengangguk.
Kakek itu menghela napas panjang.
"Sudah terlambat."
"Mereka sudah lebih dulu sampai."
"Apa maksud Kakek?" tanya Naura.
Kakek itu menunjuk ke arah pulau.
Di balik kabut...
Perlahan muncul cahaya merah.
Lalu terdengar suara yang sangat mereka kenal.
Ding...
Suara lift.
Padahal...
Di pulau itu tidak ada hotel.
Kabut di atas danau semakin tebal.
Suara "Ding..." itu bergema sekali lagi, membuat bulu kuduk semua orang meremang.
Naura menggenggam erat lengan Alea.
"Itu... suara lift lagi."
Kakek tua itu mengangguk pelan.
"Bukan lift yang datang."
"Melainkan gerbangnya."
Semua menoleh.
"Gerbang?" tanya Raka.
Kakek itu mengambil sebuah lentera tua dari samping perahunya.
"Setiap kali Gerbang Karunia mulai terbuka..."
"...lift itu bisa muncul di mana saja."
"Di sekolah."
"Di rumah."
"Di hutan."
"Bahkan di tengah danau."
Elang mengepalkan tangannya.
"Berarti waktunya memang sudah dekat."
Kakek itu menatap Elang cukup lama.
"Kamu..."
"Pernah masuk ke organisasi itu, bukan?"
Elang terkejut.
"Kakek tahu?"
Kakek itu hanya tersenyum tipis.
"Aku mengenal setiap orang yang pernah mencari Perpustakaan XIII."
"Tapi tidak semua berhasil menemukannya."
Mereka akhirnya menaiki perahu kayu milik sang kakek.
Air danau sangat tenang.
Aneh.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara serangga.
Hanya suara dayung yang membelah permukaan air.
Sekitar lima belas menit kemudian...
Mereka tiba di pulau kecil itu.
Bangunan perpustakaan tampak jauh lebih besar dari yang terlihat dari kejauhan.
Pintunya terbuat dari kayu hitam.
Di atasnya terukir kalimat dalam bahasa Latin.
Elang membacanya perlahan.
«"Veritas semper Pentium habit."»
"Apa artinya?" tanya Naura.
"Setiap kebenaran selalu memiliki harga."
Suasana langsung terasa lebih berat.
Saat Alea mendorong pintu...
Kreeeek...
Pintu terbuka sendiri.
Di dalamnya dipenuhi rak-rak buku yang menjulang hingga langit-langit.
Jumlahnya ribuan.
Mungkin puluhan ribu.
Semua buku berwarna hitam.
Di tengah ruangan berdiri sebuah meja besar.
Di atas meja terdapat satu buku yang terbuka.
Seolah-olah sedang menunggu mereka.
Namun sebelum mereka mendekat...
Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Tok...
Tok...
Tok...
Seseorang perlahan menuruni tangga.
Seorang wanita tua berambut putih.
Mengenakan gaun hitam panjang.
Matanya berwarna abu-abu terang.
Ia membawa sebuah tongkat kayu yang dipenuhi ukiran angka Romawi.
Wanita itu berhenti tepat di depan mereka.
"Aku sudah menunggu."
Alea melangkah maju.
"Siapa Anda?"
Wanita itu membungkukkan badan sedikit.
"Namaku..."
Eleanor.
"Penjaga terakhir Perpustakaan XIII."
Naura mengernyit.
"Kalau Kakek tadi menjaga pulau ini..."
"...lalu tugas Anda apa?"
Eleanor tersenyum tipis.
"Tugasku menjaga pengetahuan."
"Dan memastikan..."
"...Buku Ketiga Belas tidak jatuh ke tangan yang salah."
Ia menatap satu per satu wajah mereka.
Lalu pandangannya berhenti pada Dimas.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Kenapa..." bisik Eleanor.
"Dimas...?"
Semua langsung menoleh ke arah Dimas.
Dimas terlihat kebingungan.
"Saya kenapa?"
Eleanor menggenggam tongkatnya erat.
Wajahnya mendadak pucat.
"Itu tidak mungkin..."
"Buku itu..."
"...sudah memilihmu."
Ruangan mendadak bergetar.
Rak-rak buku bergoyang.
Sementara dari lantai paling atas perpustakaan...
Sebuah buku hitam perlahan melayang turun.
Sampulnya dihiasi simbol XIII berwarna emas.
Buku itu berhenti...Tepat di depan Dimas Lalu terbuka sendiri.
Di halaman pertamanya hanya tertulis satu kalimat.
«"Selamat datang, Penulis Ketiga Belas."»