Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abaikan Yang Tidak Penting
Usai membicarakan banyak hal dengan papa dan mamanya, Gavino pamit untuk pergi tidur. Dia berasalan jika, besok pagi harus berangkat sekolah pagi-pagi sekali. Karena ada jam tambahan pada pagi harinya.
"Gavin tidur dulu Pa, Ma."
"Iya Sayang. Yang rajin ya belajarnya di sekolah," sahut Mirele, mengingatkan pada anaknya.
Gavino mengangguk mengiyakan. Dia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri.
Sedangkan kedua orang tuanya, masih belum juga punya keinginan untuk pergi ke kamar. Mereka berdua, kembali berbincang-bincang tentang banyak hal. Sama seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pasangan suami istri pada umumnya.
Setelah Gavino masuk ke dalam kamar, dia tidak langsung pergi tidur. Tapi dua duduk di meja belajar, yang tak jauh dari tempat tidurnya.
Dia ingin melakukan sesuatu, yang bisa mewujudkan impian papanya tadi. Meskipun dia tahu, jika papanya hanya bicara sekedarnya. Dan tidak mempunyai pikiran untuk menuntut apa-apa padanya.
Tapi Gavino ingin mewujudkan impian papanya itu. Dengan melakukan apa-apa yang dibutuhkan, untuk membuat kios papanya menjadi sebuah usaha waralaba. Sama seperti yang dikatakan oleh papanya tadi.
Waralaba adalah bentuk kerja sama bisnis antara pemilik merk, produk, atau sistem operasional dengan pihak kedua yang berupa pemberian izin untuk pemakaian merk, produk, dan sistem operasional.
Ada beberapa tujuan dari diadakannya kerjasama waralaba. Beberapa diantaranya adalah seperti meminimalkan resiko kerugian, mempermudah pengenalan produk pada konsumen, dan menyederhanakan usaha bagi pemula.
Jadi, tentu saja Gavino membutuhkan tenaga profesional, yang ahli dalam bidang usaha tersebut.
Dia butuh informasi yang bisa mencari tahu, siapa dan di mana mereka saat ini.
( Ting )
( Selamat malam Good Father )
( Apa yang ingin Anda aktifkan )
"Aku ingin tahu, siapa orang yang bisa membantuku mewujudkan impian Papa."
( Impian yang mana Good Father )
"Mendaftarkan kios papa untuk jadi usaha waralaba."
( Sistem informasi diaktifkan )
"Ya, Aku mau tahu dan mencari keberadaan orang itu."
( Baik Good Father )
( Sistem informasi aktif )
( Dalam proses pencarian )
1%
5%
15%
25%
35%
40%
55%
70%
80%
90%
95%
100%
( informasi didapatkan )
Di layar sistem, yang bisa di lihat oleh Gavino, ada beberapa orang yang biasa melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan bidang usaha. Sama seperti yang diinginkan oleh papanya, Giordano.
Satu persatu dari mereka terlihat jelas. Dengan semua identitas diri mereka. Termasuk nomor handphone milik mereka yang bisa dihubungi.
Sistem informasi yang diaktifkan oleh Gavino, juga menyalin informasi yang didapat. Dengan mentransfer ke file milik Gavino di komputer.
Jadi, sewaktu-waktu Gavino bisa melihat dan menghubungi mereka nantinya.
Gavino tersenyum puas, dengan hasil dari sistem informasi malam ini. Dan tak lama kemudian, sistem informasi kembali dia non aktifkan.
Tapi Gavino tidak langsung pergi tidur. Dia ingin menghubungi mereka-mereka, yang bisa membantunya. Untuk melakukan pekerjaan yang harus dikerjakan. Dalam mewujudkan impian papanya.
Satu persatu orang yang dia inginkan dapat dihubungi. Bahkan, ada juga yang bersedia untuk membuat nama usaha sendiri, dengan perkembangan warabala yang saat ini sedang digandrungi oleh remaja-remaja dan sebagian besar masyarakat modern.
Dia akan mengatur segala sesuatunya, agar permohonan ijin untuk usaha itu bisa cepat terselesaikan.
Gavino hanya mengiyakan. Dan mereka akan bergerak cepat. Sesuai dengan permintaan Gavino, sang Good Father.
Auranya Gavino tentu saja berbeda, tidak akan sama seperti jika dia sedang berada di lingkungan sekolah atau teman-teman lainnya. Yang hanya mengenal dirinya sebagai Gavino saja.
Tapi jika sedang menjadi Good Father, dia seakan-akan menjadi orang lain. Seseorang yang disegani, dihormati. Dengan segala keistimewaan yang dia miliki.
*****
Di sekolah.
Semuanya berjalan dengan baik, sama seperti biasanya. Karena para siswa siswi, sekarang ini sudah tidak lagi dalam keadaan was-was. Sama seperti dulu, di saat ada Alano.
Bicara tentang Alano, sekarang dia sudah ada di luar kota. Dia sekolah di sana, karena kedua orang tuanya yang merasa malu dengan kelakuannya selama ini. Yang ternyata mengikuti langkah para geng ataupun mafia yang menjual berbagai macam obat dan senjata ilegal.
Untungnya, kedua orang tuanya termasuk orang yang berpengaruh. Sehingga Alano bisa dibebaskan dengan jaminan dan syaraf tertentu.
Tapi ternyata semua kejadian yang sudah dialami oleh Alano, tidak membuatnya kapok.
Dia masih menghubungi beberapa orang temannya, yang bisa dia ajak untuk bekerja sama. Agar bisa menghajar Gavino sewaktu-waktu.
Teman-temannya itu, dari sekolah lain. Dan tentunya Gavino tidak mengenali mereka juga.
Dan sekarang, ada seseorang yang menghubungi Gavino. Untuk di ajak berduel sepulang sekolah.
..."Aku ada banyak kerjaan."...
..."Cihhh! bilang aja Kamu pengecut."...
..."Maaf. Aku tidak mengenalmu."...
..."Makanya ayo ketemuan! Kita duel, biar Kamu tau, siapa Aku sebenarnya."...
..."Tapi Aku tetap tidak mau. Lagipula, Aku tidak merasa penasaran dengan siapa Kamu sebenarnya."...
..."Awas aja kalau Kamu tidak datang! Aku akan obrak-abrik kios papa dan mama Kamu."...
..."Apa maksudmu?"...
..."Hahaha... Kamu pikir Aku tidak tau? hahaha... apa sih yang tidak Aku tau tentang Gavino sang pecundang!"...
Orang itu justru menyebut Gavino sebagai seorang pecundang. Padahal dia tidak tahu, siapa Gavino yang sebenarnya.
Untungnya, Gavino tidak terpengaruh dengan ucapan provokatif orang tersebut. Dia tetap diam dan mendengarkan semua perkataan yang diucapkan, orang yang menantangnya saat ini.
..."Hai Gavino. Kamu budekkk ya!"...
..."Aku mendengarnya kawan."...
..."Shittt! Jangan menyebutku kawan. Aku bukan kawanmu yang semuanya adalah pengecut. Sama seperti dirimu."...
Gavino tidak lagi menyahut perkataan orang tersebut. Dia hanya tersenyum tipis, mendengar semua ocehan lawan bicaranya di telpon.
Untungnya, saat ini dia masih berada di dalam mobilnya. Dia belum keluar dan berjalan menuju kelasnya.
Tapi sayangnya, dari arah samping ada Dante dan Lorenzo yang baru saja datang bersama. Dan mendekat ke tempat mobilnya Gavino terparkir. Sehingga dengan terpaksa, Gavino memutuskan sambungan telpon dari orang yang tadi menantangnya.
Gavino dengan cepat membuka pintu mobil. Kemudian dia keluar untuk menyapa teman-temannya itu.
"Hai Dante, Lorenzo. Kalian berangkat bersama ya?" sapa Gavino, dengan pertanyaan yang dia ajukan.
"Iya. Motor Lorenzo mogok di jalan, dan kebetulan Aku lewat. Jadi Aku ajak sekalian." Dante memberikan penjelasan pada Gavino. Karena memang seperti itulah yang terjadi tadi.
Lorenzo juga mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Dante. Dan dia menyatakan bahwa, "Aku tidak cek motorku lebih dulu tadi. Dan akhirnya, kesialan pagi ini Aku alami. Untung saja ada Dante yang lewat."
Sekarang, mereka bertiga sama-sama tersenyum. Kemudian memutuskan untuk segera masuk ke dalam kelas.
Gavino tidak membicarakan tentang dirinya, yang tadi mendapat panggilan telpon dari seseorang. Bahkan orang tersebut sudah menantangnya juga.
Dia tidak mau jika, teman-temannya ini ikut terlibat dalam permasalahan yang belum jelas asal usulnya.
Jadi dia tidak menghiraukan perkataan orang tersebut. Gavino tidak mau ambil pusing. Karena dia hanya ingin belajar untuk hari ini, sebagai bekal untuk kehidupannya ke depan nanti.