TERBIT CETAK
NOVEL BISA DIDAPATKAN DI GRAMEDIA
Laki-laki biasa yang ingin hidup biasa-biasa saja, harus mengalami sederet kejadian di luar nalar. Saat isterinya tengah hamil tua, tiba-tiba saja dia merasa tinggal di tempat yang asing. Tempat tinggalnya bernama Desa Ebuh. Anehnya, tak ada satu pun warga desa yang dia kenali.
KOBENG adalah dialeg dari wilayah tempat tinggal penulis. Artinya apa? Akan kalian temukan jika membaca kisah ini sampai tuntas.
Baca juga kisah horor misteri
1. Rumah di tengah sawah
2. Rumah Tusuk Sate
3. Rumah Tepi Sungai
karya bung Kus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telungpuluh Loro
Terbangun jam 7 pagi. Purbo merasakan tubuhnya segar dan bersemangat. Benar kata Mak Nah, wedang parem membuat kualitas tidurnya membaik.
"Gimana badanmu Mas?" tanya Dini saat melihat Purbo mengucek ngucek matanya.
"Ah, yah lebih enteng," jawab Purbo sambil menggeliat dan menguap lebar.
Purbo kali ini memperhatikan Dini. Istrinya itu tidur dengan rambut panjang yang terurai, dengan kulit putih pucat dan cekungan mata yang menghitam. Dari yang terlihat, Dini sedang tidak baik baik saja.
"Sayang, hari ini kita ke dokter yuk," ajak Purbo. Dia mengkhawatirkan kondisi kesehatan Dini.
"Aku nggak pa pa Mas. Efek hamil tua nih," jawab Dini pelan.
"Sedari kemarin setiap kuajak ke dokter begitu terus alasanmu. Kamu terlihat lemah dan pucat Yang," bujuk Purbo.
"Aku berubah jelek ya?" tanya Dini sambil tersenyum.
"Bukan itu masalahnya. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu. Kalau soal cantik, kamu selalu nomor satu di mataku," Purbo menghela nafas.
"Ih, gombal," Dini terkekeh.
"Ayoklah, kita ke dokter hari ini," Purbo terus berusaha membujuk istrinya.
"Aku nggak pa pa Mas. Kamu itu kok ngeyel sih. Yang ngrasain hamil kan aku, yang tahu kondisi tubuhku ya diriku sendiri. Aku merasa baik baik saja kok Mas," jawab Dini mulai jengkel.
"Hmmm, yasudah. Tapi kalau kamu ngerasain nggak enak atau kurang sehat segera ngomong ke aku ya? Agar kita bisa cepat ke dokter," Purbo akhirnya mengalah, Dini mengangguk setuju.
Menit berikutnya Mak Nah datang membawa nampan berisi semangkuk bubur dan satu gelas tajin hangat. Mak Nah segera menghampiri Dini dan bersiap menyuapi majikannya itu.
"Bubur merahnya Nyonya," ucap Mak Nah seraya membantu Dini untuk duduk.
Purbo mengamati bubur yang dibawa Mak Nah. Butiran butiran nasi yang nampak besar, dengan aroma pandan yang menyengat. Terlihat enak dan menggiurkan. Hanya saja warna merah maroon dari kuahnya terlalu pekat yang membuat tengkuk Purbo merinding.
"Bubur apa itu Mak?" tanya Purbo penasaran.
"Oh, ini bubur merah Tuan. Campuran beras kentan, santan, parutan kelapa, gula pasir, dan gula aren. Dan juga beberapa lembar daun pandan. Tuan mau?" tanya Mak Nah sambil tersenyum.
"Kok warna merahnya se pekat itu Mak?" Purbo nampak penasaran.
"Bubur merah memang begini adanya Tuan. Njenengan mungkin melupakannya," sanggah Mak Nah.
"Mau aku suapin Yang?" Purbo beralih menatap Dini.
"Biar Mak Nah saja Mas," jawab Dini kalem.
"Yah baiklah. Aku mau cari udara segar kalau begitu," Purbo beranjak dari tempat tidurnya.
"Jangan keluyuran terus Tuan," ucap Mak Nah mengingatkan. Purbo diam tak menyahut. Purbo ogah dinasehati Mak Nah.
Seperti hari hari sebelumnya, kabut tebal menyambut Purbo di teras rumah. Suasana cukup gelap, karena matahari seakan kehilangan keperkasaannya, tak mampu menembus pekatnya kabut berwarna hitam kelam itu. Sesekali Purbo menguap. Masih ada sisa sisa kantuk meski semalam dia tidur lebih dari 10 jam.
Purbo mengamati pekarangan rumahnya yang tertutup kabut. Meskipun samar, dia dapat melihat beberapa tangkai bunga di pucuk daun mangga yang lebat. Rupanya musim mangga sebentar lagi tiba.
Di saat Purbo tengah asyik memandangi pohon mangga, ekor matanya menangkap sekelebat bayangan orang di jalanan depan rumah. Purbo menyipitkan mata, mencoba mengamati lebih jelas. Dan benar saja, di antara pekatnya kabut terlihat bayangan orang tengah berjalan mondar mandir.
"Siapa?" gumam Purbo sendirian.
Sedikit tergesa gesa, Purbo mengambil sandal jepitnya. Dia segera berlari membelah kabut yang nampak semakin tebal. Melewati halaman rumah, hawa dingin seakan membuat beku kulit ari nya.
Sampai di jalanan, nyatanya tak ada siapapun. Sosok yang tadi nampak mondar mandir kini sudah lenyap. Mungkinkah Purbo salah lihat? Beberapa saat lamanya Purbo berdiam diri di tengah jalan. Hingga akhirnya dia menyadari jejak kaki di atas tanah yang becek.
Jejak kaki yang nampak bolak balik di tengah jalan. Jejak itu mengarah keluar desa. Artinya memang ada seseorang yang tadi mondar mandir disana. Namun kini orang itu sudah pergi.
Karena penasaran, Purbo mengikuti jejak kaki itu. Selama ini Purbo tak pernah melihat warga desa yang melewati rumahnya. Setahu Purbo warga desa Ebuh hanya berkutat di wilayah pasar dan pemukiman.
Sampai di tikungan jalan, akhirnya Purbo menemukan seorang laki laki tengah duduk di bawah pohon akasia. Laki laki itu memakai jaket tebal, sebuah kupluk berwarna abu abu, dan menggendong tas ransel besar di punggungnya.
"Hei, halloo," sapa Purbo.
Melihat kedatangan Purbo laki laki itu nampak kaget. Dia tak segera menyahut. Malah memperhatikan Purbo dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Maaf, Anda siapa?" tanya laki laki itu setelah melihat Purbo dari dekat.
"Ah, saya Purbo Mas," Purbo mengulurkan tangan.
"Saya Hasan," laki laki yang bernama Hasan itu menjabat tangan Purbo erat.
"Sepertinya anda bukan warga sini," gumam Purbo sambil mengamati Hasan.
"Saya bersama teman teman kampus club pecinta alam sedang melakukan penjelajahan. Dan sepertinya saya salah jalur hingga ke tempat ini," jelas Hasan.
"Oohhh benar dugaan saya. Anda bukan warga desa sini," Purbo manggut manggut.
"Memangnya disini ada pemukiman penduduk Mas?" Hasan terlihat penasaran.
"Bukannya anda baru melewatinya? Anda tadi juga lewat depan rumah saya lho," jawab Purbo.
"Hah? Benarkah? Di sebelah mana Mas?" tanya Hasan lagi.
"Nggak jauh dari sini. Tapi nggak terlihat karena kabut," Purbo mengibas ibaskan tangannya.
"Apa nama desa ini Mas?" Hasan terus bertanya.
"Desa Ebuh Mas," jawab Purbo cepat.
"Ebuh? Aku baru dengar ada desa bernama Ebuh di kaki bukit manik manik ini," Hasan mengernyitkan dahi.
"Ayo Mas Hasan mampir saja ke rumah saya. Sambil nunggu teman teman anda datang. Mungkin mereka ada di belakang," Purbo menawarkan Hasan untuk berkunjung ke rumahnya.
"Duh Mas, terus terang saja saya agak ngeri dengan wilayah sini," sambung Hasan.
"Ngeri kenapa Mas?" tanya Purbo penuh selidik.
"Ya kan daerah sini terkenal 'wingit' Mas. Saya pengen cepat cepat pulang saja. Bisa jadi kan teman teman sudah menunggu di bawah sana," jawab Hasan setengah berbisik.
"Halah Mas, nggak ada yang begituan disini. Desa Ebuh tuh rame banget. Anda kalau jalan lurus dari sini bakal menemukan pasar desa yang ramai banget di jam segini," Purbo menunjuk jalanan berkabut di depannya.
"Pasar? Pasar apa Mas?" Hasan terlihat terkejut, dengan dua bola matanya yang menonjol.
"Pasar desa Mas. Tepat di tengah tengah pemukiman warga," jawab Purbo.
Mendengar penjelasan Purbo, Hasan nampak semakin bingung. Dahinya terlihat mengkerut.
"Emm kalau saya berjalan lurus, berarti sudah keluar dari hutan ini ya Mas?" tanya Hasan kemudian.
"Ya nanti ada gapura desa, lurus saja. Nah setelah itu, di bawah sana anda akan melihat sebuah lapangan tempat kendaraan saya dan warga desa terparkir. Kayaknya setelah itu sudah jalur utama menuju ke kota Mas," jawab Purbo menerangkan.
Bersambung___