Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Semua itu berawal dari tiga tahun yang lalu. Saat dia menduduki bangku kelas tiga sekolah menengah pertama di tahun ajaran terakhir.
Sebelumnya, hubungan antara Tora dan Dicky begitu akrab. Mereka adalah sahabat yang tak terpisahkan. Saling bersama, saling memahami, juga akan selalu ada saat mereka membutuhkan. Yang jelas, mereka adalah sahabat baik sejak sekolah dasar.
Tora memiliki adik perempuan yang jarak umurnya hanya satu tahun di bawah Tora.
Gadis itu manis, cantik, juga rajin. Namun, dia anak yang pendiam juga terkenal dengan sebutan gadis irit bicara.
Tapi, dia begitu penurut juga sangat berbakti pada orang tuanya. Tora sangat menyayangi adik perempuannya ini. Dia rela memberikan apa saja yang gadis itu inginkan. Hanya saja, gadis itu tidak pernah meminta sesuatu pada abangnya. Hal itu terkadang membuat dia merasa kesal sekaligus sakit hati. Merasa, sebagai abang yang tak pernah dianggap ada oleh adiknya.
Namum, pada suatu sore, adik Tora itu akhirnya datang meminta sesuatu pada abangnya. Dia minta Tora menyampaikan pada Dicky, kalau dia mengangumi Dicky. Bukan hanya sebatas mengangumi, melainkan, suka.
Tora yang mendengar ucapan adiknya, tentu saja langsung kaget. Namun, beberapa saat kemudian, dia menyetujui permintaan sang adik. Dengan perasaan yang tidak karuan, Tora langsung menyampaikan permintaan adiknya pada Dicky.
Dicky yang mendengarkan ucapan itu terlihat santai. Karena sebelumnya, dia susah sering mengalami hal ini. Sudah berkali-kali dia mendapatkan ucapan seperti itu. Jadi, dia tidak kaget lagi mendengar penuturan dari sahabat baiknya ini.
"Maaf, Tora. Aku tidak bisa menerima cinta dari adikmu. Karena aku tidak bisa berpacaran dengan perempuan yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri."
"Dic, tolong pertimbangkan lagi ucapan ku. Jika kamu tidak suka, maka aku harap, kamu bisa pura-pura suka saja. Mana tau, kamu akan benar-benar nyaman dengan adikku. Dia tidak jelek, Dic. Jadi kami gak akan malu jika jalan dengan dia."
"Ini bukan masalah jelek atau nggak, Tora. Yah ... kamu harus mengerti kalau aku memang benar-benar tidak bisa."
Dengan perasaan sedih dan kecewa, Tora berusaha menerima keputusan yang Dicky buat. Bagaimanapun, dia tidak bisa memaksa keinginan seseorang, bukan? Apalagi orang itu seperti Dicky. Tuan muda terhormat dari keluarga paling kaya.
Tora pulang ke rumah sambil menyusun kata-kata untuk dia sampaikan pada adiknya. Dia berusaha membuat adiknya paham dengan apa yang sedang terjadi. Meskipun sejujurnya, dia sangat sedih karena tidak bisa memenuhi permintaan pertama adiknya. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia tidak punya kuasa untuk memaksa orang lain untuk memenuhi keinginannya.
Sampai ke rumah, Tora langsung mendatangi kamar adiknya. Berkali-kali dia panggil sambil mengetuk pintu kamar itu. Namun, yang punya kamar sama sekali tidak menjawab sedikitpun.
Tora bergegas menanyakan keberadaan adiknya pada sang mama. Jawaban mama sungguh membuat hati Tora merasa cemas. Mama mengatakan kalau adiknya ada di dalam. Dia pulang dengan wajah tertunduk. Kelihatannya, sangat sedih.
Hal itu sontak membuat Tora kelabakan tidak karuan. Dia meminta mamanya membuka pintu kamar sang adik dengan kunci cadangan. Karena pintu kamar adiknya, sedang terkunci dari dalam.
Melihat wajah cemas anak sulungnya, mama segera melakukan apa yang anaknya katakan. Mencari kunci cadangan di laci kamarnya, lalu kemudian, bergegas menuju kamar anak bungsu yang sedang tertutup rapat.
Pintu berhasil mereka buka. Namun apa yang mereka lihat adalah sebuah pemandangan yang sangat menyayat hati. Sampai-sampai, jantung mereka berhenti berdetak untuk sesaat.
Mama yang tidak bisa menahan diri, mendadak terkulai lemah. Dia pingsan tanpa bisa berucap sepatah katapun terlebih dahulu.
Bagaimana tidak? Apa yang mereka lihat adalah hal yang sungguh diluar logika mereka. Putri kesayangan keluarga itu sedang tergantung di depan jendela kamar dengan lidah menjulur keluar. Siapa yang bisa menerima hal yang sangat mengejutkan ini?
"Tidak! .... " Hanya teriakan itu yang mampu Tora ucapkan.
Teriakan itu membuat papa yang baru pulang dari kantor, berlari kencang menuju kamar sang putri. Betapa kagetnya dia saat melihat apa yang terjadi.
Tora yang sedang memeluk tubuh gadis kesayangannya, melihat sebuah kertas yang tergeletak di atas lantai. Di sana juga ada buku diary yang sedang terbuka. Dengan tangan bergetar, Tora meraih kertas itu.
Sungguh sangat menyayat hati ketika Tora membaca tulisan tangan adiknya yang ada di atas kertas tersebut. Adiknya minta maaf padanya, karena telah meminta satu hal yang mustahil untuk abangnya lakukan.
Dia menyalahkan dirinya karena tidak tahu malu. Dia pikir, dia telah membuat abangnya malu dengan mengatakan apa yang dia inginkan ada sahabat abangnya.
Dari tulisan itu juga, Tora mengetahui, bahwa adiknya sudah mendengar ucapan penolakan dari Dicky. Adiknya merasa sangat malu sehingga memutuskan hal konyol seperti yang dia lakukan saat ini. Yaitu, bunuh diri dengan menggantungkan diri di depan jendela.
Saat itulah, hubungan mereka berubah, dari sahabat baik, jadi musuh bebuyutan. Tora menyalahkan Dicky atas kematian adiknya. Dia marah. Bahkan, sangat marah juga benci dengan Dicky. Dia menaruh dendam pada Dicky yang sebenarnya adalah sahabat baiknya sendiri.
Sejak itu, Tora selalu merebut siapapun perempuan yang Dicky cintai. Dia menjadi perusak hubungan Dicky dengan perempuan yang Dicky cintai.
Karena itu adalah sumpahnya. Sumpah yang Tora buat di depan jasat adik kesayangannya. Dia akan merebut semua perempuan yang Dicky cintai. Dia akan membuat Dicky merasakan rasa sakit kehilangan perempuan yang disayang.
Ingatan Dicky tiba-tiba kembali saat tangan sopir menyentuh pelan pundaknya. Sedikit terperanjat, namun dia berusaha untuk tidak memperlihatkan apa yang dia rasakan pada sopir tersebut.
"Tuna muda. Apa yang tuna muda lakukan di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam? Apa .... "
"Kita kembali sekarang, Pak. Aku tidak ingin lagi ke sini."
Pak sopir langsung mengikuti apa yang tuan mudanya katakan. Karena sebenarnya, dia sudah mendengar semua yang terjadi dengan Dicky barusan. Hanya saja, dia tidak ingin menambah masalah tuan mudanya. Dia terpaksa berpura-pura tidak tahu apa-apa sekarang.
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱