NovelToon NovelToon
BLOODY LOVE

BLOODY LOVE

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Romantis / Fantasi / Supernatural / Tamat
Popularitas:18.3M
Nilai: 5
Nama Author: Nara Zwei

Satu demi satu penduduk di Kota Bjork menghilang secara misterius. Jose, anak lelaki keempat dari keluarga Argent memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut setelah pelayan di keluarganya mati mendadak. Hal yang aneh adalah, mayatnya ditemukan kering tanpa darah. Sejak itu rentetan kematian dan orang hilang mulai muncul dalam jumlah besar. Kecurigaan Jose tertuju pada orang baru di kota tersebut, William. Penyelidikan Jose malah membawa dirinya ke rahasia gelap di Bjork.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara Zwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Maria ikut menoleh sopan, tersenyum anggun ketika melihat sosok di samping Rolan. Ia mengenali Marco, pria tua yang tinggi dan angkuh. Dagu pria itu selalu diangkat tinggi, membuat kelopak matanya turun setengah ketika menatap orang lain.

Maria masih ingat kenangan buruknya dengan Marco. Waktu itu Marco menyinggung rencana untuk menjodohkannya dengan Jose. Sayangnya ide itu terdengar begitu tiba-tiba hingga ia tak sadar tertawa kecil. Baginya, Jose sudah seperti saudara sendiri.

Maria tidak bermaksud buruk, tetapi bagi keluarga Argent yang menjunjung tinggi etika di atas segalanya, tawa Maria adalah sebuah penghinaan. Bahkan meski keluarga Garnet sudah minta maaf dengan sangat rendah hati dan kedua orangtua Jose juga sudah memaklumi, kelihatannya Marco sama sekali belum melupakan penghinaan itu.

Kini keduanya saling bertukar senyum dan sapa dengan sopan. Maria membungkuk hormat dan Marco membalas dalam kesopanan yang dingin.

“Makan siang sudah disiapkan, kan?” Jose berkata cepat, membuat perhatian semua orang teralih kepadanya.

“Ayolah, Maria baru saja datang! Masa kau mau menyuruhnya makan lalu mengusirnya pergi?” Rolan mengeluarkan jam saku dari kantung celana.“Masih ada waktu untuk ngobrol.”

“Kita masuk dulu ke kamar santai,” putus Marco. Keningnya mengerut dalam. Ia jelas tidak senang melihat tamu dan tuan rumah mengobrol sambil berdiri di depan pintu.

Dipimpin oleh Marco, keempat orang itu berjalan beriringan menuju ruang santai. Letaknya ada di sayap timur rumah. Mereka melewati koridor kaca yang menampilkan rumah kaca Renata. Maria mengekspresikan kekaguman dengan tulus, berharap bahwa itu akan melunakkan kekerasan hati Marco, tetapi hanya Rolan yang memberi reaksi. Bahkan Jose yang biasanya menanggapi dengan ramah hanya diam saja di sisi Maria.

“Kenapa denganmu?” bisik Maria pada Jose ketika Rolan sedang bicara dengan Marco tentang jenis tumbuhan tertentu yang hanya hidup di daerah tropis.

Jose menoleh kaku, menatap Maria dengan sorot heran di matanya. “Kenapa memangnya?”

“Jangan balas tanya, deh! Kelihatannya kau tidak suka aku datang. Apa aku mengganggu atau ... apa? Kalian sedang ada pertengkaran internal?” Maria menangkap seulas senyum tipis di bibir Jose, membuatnya berharap bahwa lelaki itu akan menepuk punggungnya dengan ringan seperti biasa dan berkata bahwa tidak ada masalah yang terjadi.

Namun sepertinya memang ada masalah. Jose justru balas menatapnya dengan serius untuk beberapa saat, kemudian berkata dengan bisikan pelan, “Setelah makan aku akan mengantarmu pulang. Kau ada kelas kan jam dua nanti.”

Maria mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung. Sekarang ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Jose. Tepat ketika ia membuka mulut untuk memperjelas rasa herannya, Rolan kembali berpaling kepada mereka.

“Jadi, apa yang kalian bicarakan?”

“Cuma soal pelajaran,” Jose menanggapi dengan cepat, membuat kedua bola mata Maria menyorot heran.

Tentu saja mereka memang mengungkit soal kelas musiknya, tetapi rasanya itu tidak bisa masuk kategori pembicaraan yang dimaksud Rolan.

“Bagaimana kabar Nyonya Argent?” tanya Maria, berusaha mengganti topik ke arah yang bisa digapainya.

“Baik,” Rolan yang menjawab, disertai anggukan ringan. “Dia akan bergabung dengan kita nanti. Tapi sekarang sih sedang keluar bersama teman-temannya. Mengurus dana sosial.”

“Ah, baik sekali,” ucap Maria basa-basi. Meski begitu, kelegaannya memang jujur. Ia merasa agak tenang mengetahui bahwa dirinya tidak akan jadi satu-satunya perempuan di acara makan siang nanti. Rasanya pasti canggung sekali mengingat Jose sedang tidak menjadi orang yang dikenalnya selama ini.

“Aku dengar kalian membicarakan soal Lord Dominic,” Marco berkata ketika mereka memasuki ruang santai. Ia duduk duluan di sofa warna putih yang berada di ujung meja, diikuti oleh Rolan, Jose, kemudian baru Maria searah jarum jam.

Maria mengedarkan pandangan sekilas ke seluruh ruangan sebelum menempatkan pandangannya pada wajah Marco. Ia menelisik rahang tegas dan kumis putih pria itu, tanpa sadar bergidik ketika bertatapan langsung dengan mata hitam dingin yang melekat pada wajah Marco.

“Ya, aku mendengar dari Lady Lidya Jewel. Katanya, Lord Dominic belum pulang sejak kemarin.” Maria mencuri pandang ke arah Jose, memperhatikan kawannya yang sedang menunduk memainkan jari. “Katanya dia ada janji dengan Jose.”

“Tapi dia tidak datang,” ungkap Jose tegas. “Aku menunggunya lama, tapi dia tidak datang. “

“Ya, aku juga bukan berkata sebaliknya,” kata Maria tergesa, menyadari bahwa Jose sedang tidak dalam suasana hati yang baik. “Aku cuma mengatakan apa yang kudengar dari Lady Lidya. Dia kelihatan sangat cemas, katanya Lord Dominic tidak pernah menghilang tanpa kabar.”

“Ayolah, Dave itu kan memang tukang main.”

“Kita tidak bisa meremehkan orang hilang dalam kondisi seperti ini, Jose,” Maria menyahut kesal. “Orang-orang hilang di Bjork. Kebanyakan dari mereka cuma pergi untuk bertemu dengan teman atau bekerja, lalu tiba-tiba saja mereka lenyap! Aku rasa wajar saja kalau Lady Lidya jadi cemas.”

“Tentu. Aku tidak bilang kalau sikapnya tidak wajar, kan?”

Marco berdeham keras, membuat Jose tergesa menggumamkan maaf pada Maria.

Nah, ternyata memang ada yang tidak beres di sini, pikir Maria heran. Ia sama sekali tidak pernah melihat Jose bersikap seperti itu. Memang, mereka sering sekali bertengkar. Bahkan saat mengantarnya ke pesta yang diadakan oleh Sir William pun, Jose sempat saja mengajaknya bertengkar. Namun yang sekarang terasa aneh bagi Maria. Jose seperti sedang meresahkan suatu hal.

“Mungkin Lord Dominic memang cuma sedang bermain saja.” Maria mengalihkan pandangannya kembali ke arah Rolan dan Marco. “Tapi menurutku ada baiknya juga kalau polisi secepatnya mencarinya.”

“Keluarganya tidak melapor?” Rolan mengerutkan kening.

“Katanya sudah, tapi mereka disuruh menunggu. Selama belum menghilang sampai dua kali dua puluh empat jam, mereka belum mau bergerak.” Maria menekuri ukiran kayu di atas meja di depannya. Meja itu datar dan berbentuk oval, dengan ukiran etnik di permukaan atas. Lembaran kaca tipis dilekatkan juga di atas meja, membuat hiasan keramik mau pun gelas tetap bisa ditaruh dengan manis.

“Yah, polisi sudah cukup sibuk mengusut banyak orang hilang akhir-akhir ini." Rolan mengedikkan bahu.

“Memang, aku juga paham itu,” Maria mendesah. “Apalagi masih belum ada satu pun korban yang ditemukan, itu pasti membuat kepolisian cemas.”

Jose batuk dua kali, lalu mengangguk menyetujui ucapan Maria. “Memang, kasihan sekali keluarganya. Mereka pasti sangat cemas, ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya kepada anggota keluarga mereka yang menghilang.”

***

1
LiyanRui
udah bertahun tahun dari pertama kali baca, gk bisa lupa sama Jose
kak Nara gk ada niatan nerbitin karyamu kah?
pengen punya versi buku fisiknya😔
narazwei: Aaa harus minta ke noveltoon kalo ituu...
total 1 replies
Ayuhikma Andreana
Kecewa
istri miliarder: kenapaa jir
total 3 replies
Ayuhikma Andreana
Buruk
De Nana
kesini entah yg keberapa kali😌 selalu ada hal yg bikin kangen dari jose😆
Henah Helza
setelah 4 tahun lebih ku rasa baru blk lgh
Riri YMM(✿ ♥‿♥)
kak nara, sumpah kangen bngt sama karya kaka yg 1 ini:(
dari baca sambil nunggu kaka up sampe baca ulang karna kangen😞😞
mahesa
Luar biasa
Jatmiko
Benar. Dan perempuan terkadang tingkahnya sulit ditebak karena mereka ahli bersandiwara. 😅
Jatmiko
Wah .. apa benar Lady Chantall adalah pengkhianat ?
Jatmiko
Terkadang Renata memanggil Kak pada Marco, terkadang memanggil dengan nama depannya saja. 🤔
Jatmiko: ah .. benar juga. Trik umum para perempuan kalau ada maunya /Facepalm/
total 2 replies
Jatmiko
Tadinya aku pikir opium.
Jatmiko
Candaannya ekstrim sekali /Facepalm/
Jatmiko
Menyelundupkan narkotika.
Jatmiko
Maka kota Bjork akan dipenuhi lagi oleh para penyamun.
Zepita II
wokkk Nolan /Facepalm/
Zepita II
OMG OMG XAVIER HASTINGS 😭
Zepita II
wuhuuuuu balik lagi niiih, udh 4 th yg lalu dan aku kangen ❣️
Scarlett Roe
I think something's changed. Beberapa kalimatnya ada yg berbeda dari terakhir kali aku 'jenguk' mereka. Tetap enak dibaca sih, cuma menyesuaikan lagi dulu
narazwei: Kok tahu sih 😳😳😳
total 1 replies
Syauqi Baiduri
Luar biasa
narazwei: Thank youu
total 1 replies
Anonim
vmvvnxvx
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!