Mengisahkan sosok Jamal si bocah biasa dari desa, namun akhirnya mampu meroket hingga kekancah dunia. Entah itu dunia nyata atau bahkan dunia imajinasi.
Dia dipilih menjadi murid pribadi Sang Pendekar Legenda. Dilatih berbagai ilmu tentang pendekar. Seperti jurus-jurus, alcemis, formasi, dan penempaan senjata.
Ada apakah? Mengapa demikian? Simak kisahnya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adib Mudzofar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Di Desa Cendana
Mereka segera melesat melaksanakan ucapan Ling Tian. Setelah semua terkumpul, mereka berniat akan memberikan kepada Ling Tian. Namun,
"Kalian keluarkan isinya!" perintah Ling Tian.
"B-baik Tuan Muda!" menurut.
Para murid Klan Wang mengeluarkan semua isi dalam cincin penyimpanan. Terlihat tumpukan menggunung didepannya berupa sumber daya kultivasi dan koin-koin emas, perak maupun perunggu. Bahkan ada beberapa puluh koin platinum. Sungguh harta yang banyak!
Ling Tian menduga harta ini adalah hasil rampokan para bandit selama bertahun-tahun lamanya. Kemudian Ling Tian mengambil masing-masing sepuluh koin dari jenisnya dan memasukkannya kedalam saku celananya.
"Kalian boleh ambil semua sumber daya! Dan untuk semua koinnya untukku! Hehehe," ucap Ling Tian.
"Kami tidak berani Tuan Muda!" jawab mereka.
"Sudahlah! Anggap saja ini hari keberuntungan kalian! Dan juga aku tidak membutuhkan sumber daya seperti itu!" ujar Ling Tian.
"B-baik Tuan Muda! Terima kasih telah menyelamatkan kami! Dan juga sumber daya ini," kata Wang Gou tulus.
"Lupakan saja. Sekarang tolong masukkan kembali semua koinku itu kedalam cincin penyimpanan!" pinta Ling Tian.
"Baik!"
Setelah selesai memasukkan semua koin itu, Wang Gou menyerahkannya kepada Ling Tian.
"Baiklah! Jika semua sudah selesai, aku harus melanjutkan perjalanan!" pamit Ling Tian.
"Silakan Tuan Muda! Semoga perjalanan anda lancar dan menyenangkan!" ucap semua murid.
"Baik."
Swuuusshh...
Ling Tian berlari melesat meninggalkan para murid Klan Wang,
"Tuan Muda! Siapa nama anda?" teriak Wang Gou.
"Ling Tian!" jawab Ling Tian yang kemudian menghilang dari pandangan mereka.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Ling Tian terlebih dahulu mencari sungai untuk membersihkan diri dari bau amis tumpahan darah disekujur tubuhnya. Setelah mandi dan memakai pakaian baru, Ling Tian kembali melesat dengan cepat.
*****
Dua jam perjalanan tanpa kendala, Ling Tian kini telah sampai didepan pintu gerbang dengan gapura besar bertuliskan "Desa Cendana".
Dengan langkah santai Ling Tian menuju gerbang itu dan ikut mengantri. Setelah menunggu beberapa saat, kini tiba gilirannya.
"Identitasnya Tuan Muda!" kata penjaga gerbang.
Ling Tian mengeluarkan lencana perak Klan Ling dari sakunya.
"Klan Ling? Hm.. Lima keping perunggu!" kata penjaga tersebut menyebutkan nominal pajak masuk yang harus Ling Tian bayar.
Tak perlu waktu lama Ling Tian memberikan kepingan.
"Baiklah! Silakan masuk Tuan Muda!" kata si penjaga.
"Baik!" jawab Ling Tian sembari melangkah pergi.
'Hmm.. Desa yang cukup maju!' gumamnya.
Setelah semua urusan di pintu gerbang selesai. Ling Tian bergegas masuk ke Desa. Terlebih dahulu dia mencari penginapan untuk beristirahat. Tak perlu banyak waktu, Ling Tian sudah menemukan sebuah penginapan sederhana dan memasukinya.
'Penginapan Bunga Emas!' gumam Ling Tian.
"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?" tanya seorang pelayan.
"Iya! Apa masih ada kamar yang kosong?" ujar Ling Tian.
"Tentu saja Tuan Muda! Mau kamar biasa atau VIP Tuan?"
"Yang biasa saja! Aku akan menginap hanya untuk satu malam saja! Berapa biaya yang harus dikeluarkan?"
"Untuk kamar biasa hanya tiga keping perak Tuan Muda!"
"Baik! Hantarkan saya ke kamar segera!"
Setelah membayar biaya administrasi penginapan. Ling Tian mengikuti si pelayan menuju kamarnya.
"Silakan Tuan! Ini kamarnya dan ini kuncinya!" ucap pelayan sambil memberikan kunci.
"Terima kasih! Oiya! Apa di penginapan ini bisa pesan makanan atau minuman?" tanya Ling Tian.
"Tidak Tuan! Jika anda ingin makan maka tepat sebelah gedung ini ada restoran!" jawab pelayan.
"Owh! Baiklah,"
"Baik Tuan. Saya undur diri!" kata pelayan.
"Silakan!".
Ling Tian memasuki kamarnya. Dia langsung merobohkan badannya di kasur. Melepas penat dan rasa lelah pasca pertarungan tadi pagi. Saat ini masihlah siang hari menuju sore, namun entah mengapa tiba-tiba rasa kantuk menyerang Ling Tian. Beberapa kali terlihat dirinya menguap.
"Hoaaah..."
'Mengapa tiba-tiba sangat mengantuk? Ini tidak seperti biasanya!' gumam Ling Tian.
Ling Tian merasa heran akan hal itu. Namun karena dirinya tidaklah sedang terburu-buru dalam perjalanan, juga ditambah rasa lelah pada tubuhnya, dia membiarkan begitu saja kantuk itu hingga tak sadar terlelap.
*****
Didalam alam bawah sadarnya, Ling Tian ditarik oleh sesuatu dan masuk kedalam lorong dimensi yang sangat kacau. Dia terombang-ambing kesana-kemari selama berjam-jam lamanya, hingga perutnya terasa sangat mual dan ingin mengeluarkan semua isi didalam perutnya. Ling Tian terus terseret kekuatan lorong itu sampai dia melihat titik putih tanda pintu keluar lorong.
Swuuush...
Boomm...
Ling Tian terlempar kuat sekali dan menabrak tanah.
"Aduh! Sakit sekali!" ucap Ling Tian.
"Eh! Dimana ini?" ucapnya lagi setelah tersadar sepenuhnya.
Dia berada di hamparan padang rumput yang luas berhiaskan taman bunga dan pepohonan yang indah. Ling Tian celingukan ke kanan kiri. Dia bingung dengan apa yang terjadi sehingga dirinya berada ditempat indah ini.
"Kemarilah nak!" ujar suara pria sepuh yang tiba-tiba muncul.
"Siapa? Dan dimana anda kek?" ucap Ling Tian.
"Lihat kebelakang! Aku disini!" jawab suara itu.
Ling Tian segera menoleh kebelakang. Ling Tian mendapati seorang paruh baya sedang duduk santai didepan danau memunggunginya. Tanpa berlama Ling Tian bergegas mendatangi pria paruh baya tersebut.
"Salam Tuan!" kata Ling Tian sambil membungkukkan badan sopan.
"Hahaha! Ya! Bocah! Waktumu kurang dua tahun lagi! Dan ingat pesan kami saat itu!" ucap pria paruh baya.
"Maaf! Apa yang anda bicarakan? Dan siapakah Tuan?" bingung Ling Tian.
"Tentu saja kamu tidak faham dengan maksud perkataanku! Karena ingatan sejatimu masih tersegel bocah! Oiya.. Namaku Pendekar Jibril dan kamu adalah muridku Jamal!" ucap pria itu yang ternyata adalah Pendekar Jibril.
"Aku? Jamal muridmu?" tunjuk Ling Tian pada dirinya sendiri. Dia semakin tidak faham dengan ucapan pria yang baru pertama kali ditemui dan menganggap dirinya guru Ling Tian.
"Ya! Kamu memang muridku Jamal! Sudahlah! Sebentar lagi juga kamu akan mengetahui semuanya!"
"...." Ling Tian hanya diam.
"Aku sengaja membawamu kemari hanya untuk mengingatkan akan tugasmu nanti! Jangan sampai lalai!"
"Owh, jadi Tuan Pendekar Jibril yang membawaku. Tugas? Tugas apa?" ujar Ling Tian.
"Sudah kukatakan! Nanti kamu akan mengetahui sendiri! Ambil ini!" kata Pendekar Jibril sambil melempar sebuah lencana. Kemudian berkata,
"Kamu sudah tepat dalam perjalanan, teruslah ke arah Hutan Gelap itu! Didalamnya ada satu keturunan Monster Beast Legenda atau lebih terkenal dengan Binatang Suci, Naga Langit. Dan juga ada seorang tua ahli pedang sebagai tuannya. Temui dia! Perlihatkan lencana itu! Dia akan tahu seketika. Dan belajarlah ilmu pedang dengan dia!" ucap Pendekar Jibril panjang lebar.
Ling Tian melotot terkaget mendengar ucapan pria itu. Ras Binatang Suci di Hutan Gelap? Dia sepenuhnya tidaklah langsung percaya. Bagaimana mungkin di Benua Langit ada Ras Binatang Suci? Itu mustahil menurutnya.
"Sudahlah! Tidak perlu difikirkan! Ingat saja pesanku tadi! Sekarang akan aku kembalikan jiwamu ini ke jasad yang sedang molor di penginapan itu! Hahaha."
Tanpa menunggu persetujuan Ling Tian, pria paruh baya atau Pendekar Jibril itu melemparkan Ling Tian kedalam lubang hitam atau lorong dimensi yang tiba-tiba muncul.
Swuuusshh...
"Aah!" kaget Ling Tian.
"Hahaha! Ingat pesanku bocah!" ucap Pendekar Jibril sebelum lorong dimensi itu tertutup.
*****
Didunia nyata...
"Akhhh!" Ling Tian kaget dan terjatuh dari kasurnya.
"Ah! Sial! Ternyata hanya mimpi!" gerutunya.
"Tapi kenapa terasa begitu nyata? Dan.. Eh! Lencana ini?"
.
.
.
________________&&&&.
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
"jangan selalu mengartikan sesuatu hanya dari luarnya saja!. Terkadang yang terlihat bagus belum tentu dalamnya bagus juga, contohnya Mangga🤣 akeh ulere njerone!" .... (evek tetangga ngidam mangga, jadi pingin bahas mangga)😂
🤣🤣🤣
ngintip dong lobang pantatnya... 🤣
PEMALAS...!!!
ISI SATU JILID TAK SEBANDING DG IKLAN...
DASAR PENULIS MALAAAS...!!!
HARAM JADAH IKLAN NYA, SANGAT MENGGANGGU...!!!