Ferdi Nichol Aditya Atmaja, seorang pria tampan berusia 27 tahun. Sangat suka meledek temanya Nova, yang kecanduan membaca novel online.
Bagi Ferdi cerita novel online yang dibaca oleh Nova sangatlah basi. Berbicara seputar perempuan miskin yang dinikahi oleh CEO dengan jalur di lecehkan terlebih dahulu.
Ferdi menilai itu semua adalah sebagai bentuk merendahkan kaum wanita. Ia mengkritik hampir semua novel online yang Nova baca. SAMPAI KEMUDIAN HIDUP FERDI BERUBAH SEPERTI CERITA NOVEL ONLINE.
Ya, ia diminta oleh ayahnya untuk menyelamatkan perusahan keluarga mereka. Dengan menikahi seorang janda kaya beranak tiga. Tentu saja Ferdi menolak, namun keadaan semakin hari semakin menghimpit.
Hingga akhirnya memaksa Ferdi untuk menempuh jalan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
"Sayang."
Nadia tiba di apartemen milik Frans. Sebuah apartemen yang jarang ditempati, mengingat Frans saat ini masih tinggal bersama kedua orang tuanya.
Apartemen ini nanti rencananya akan menjadi tempat tinggal ia dan Nadia setelah menikah. Dan jika Nadia sudah hamil serta anak mereka sudah lebih dari satu, baru mereka akan pindah ke rumah yang lebih besar.
"Hai."
Frans memeluk dan mencium Nadia seperti biasa, meski kini hatinya sudah menjadi tak biasa. Sebab telah ada hati lain yang mulai mengusik.
"Aku udah bawa uang 20 milyar ke om Adrian di kantor papa kamu. Papaku minta maaf saat ini baru bisa bantu segitu." ucap Nadia.
Frans tersenyum tipis lalu mencium bibir Nadia. Untuk urusan bantu membantu memang keluarga Nadia tak pernah perhitungan.
Hal ini jugalah yang kadang membuat Frans begitu berat untuk meninggikan Nadia, meski secara hati ia tak begitu mencintai wanita itu.
"Bilang ke papa kamu, kami sekeluarga sangat berterima kasih." ucap Frans.
Nadia tersenyum, namun tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
"Koq sudut bibir kamu lebam gini, kenapa?" tanya Nadia kaget sekaligus khawatir.
"Mmm."
Frans berpikir keras, sebab ia tak mungkin mengungkapkan alasan sesungguhnya pada Nadia.
"Aku dari sparing sama Ferdi." jawabnya kemudian.
"Oh."
Nadia percaya akan hal tersebut. Sebab Ferdi dan Frans memang mengikuti banyak kelas beladiri dari kecil. Sehingga hal semacam itu biasa bagi Nadia.
"Aku kangen tau."
Nadia mulai mendongak dan menatap Frans dengan tatapan yang seolah meminta. Seperti paham Frans pun akhirnya mencium bibir perempuan itu.
"Hmmh, Nadia menggeliat dan mengeluarkan suara. Tangan Frans langsung meraih dan meremas dua bongkahan, yang ada di bagian bawah belakang tubuh perempuan itu.
Nadia merapatkan area sensitif miliknya ke milik Frans. Hingga terasa benda panjang dibalik celana pria itu pun menegang.
Mereka terus berciuman, kini tangan Frans mulai membuka kancing baju kemeja yang dikenakan Nadia. Ia menurunkan kemeja itu dan tampaklah dua gunung kembar ada disana.
Frans mulai meremas-remas bagian itu. Namun entah mengapa wajah Clara kini melintas di dalam benaknya.
Frans terus berkonsentrasi karena takut mengecewakan Nadia. Ia berusaha keras untuk tetap berada di jalur, sampai kemudian ia dan Nadia pun berhasil melakukan hal tersebut.
Nadia berteriak-teriak keenakan. Frans sendiri turut menikmati, sebab sudah cukup lama mereka tak melakukan hal tersebut.
Ia membawa Nadia menghadap ke kaca apartemen dan menghantamnya dari arah belakang.
"Hmmh."
"Ssshh."
"Aaaah."
Suara keduanya terdengar di segala penjuru ruangan. Frans memang selalu menjadi ganas ketika dirinya sudah terbakar gairah. Ia menghentak-hentakkan miliknya dalam-dalam ke milik Nadia.
"Kamu mau ini kan, rasakan ini."
"Ah, ah, aaaah."
Nadia memutar-mutar pinggulnya dan itu memberikan sensasi kenikmatan tersendiri bagi Frans.
Mereka terus bermain dari berbagai sisi sampai kemudian. Nadia berteriak sangat kencang, begitupula dengan Frans. Mereka mencapai puncak secara bersama-sama.
Tubuh keduanya bergetar hebat, sesuatu yang hangat mengalir didalam rahim Nadia. Sebait sesal pun timbul di hati Frans, meski hal ini sudah sering ia dan Nadia lakukan.
Tapi kali ini ia takut Nadia hamil, sebab wajah Clara kembali melintas dalam benaknya. Jika Nadia hamil, itu artinya kesempatan untuk berpindah ke hati lain semakin terbatas.
Tapi kalaupun ia memaksa meninggalkan Nadia demi Clara, bagaimana hubungan kedua orang tua mereka kelak. Sebab Jeffri pun banyak hutang budi kepada ayah Nadia.
"Sayang, kapan kita nikah?"
Tiba-tiba Nadia melontarkan pertanyaan yang membuat Frans tersentak sekaligus terdiam.
"Ya, terserah orang tua kita aja kapan maunya." Frans beralasan.
"Waktu itu udah pernah kan kita yang tentukan, tapi mereka bilang tunggu dulu. Tunggu sampai budgetnya sesuai, karena mereka pengen pesta besar dan mengundang pejabat juga." tukas pemuda itu lagi.
"Iya sih, padahal sebenarnya kalau kita adakan intimate wedding aja udah cukup koq. Kamu, aku, orang tua kita, saudara dekat kita, temen-temen dekat. Beres deh." ujar Nadia.
"Daripada aku keburu buncit nantinya." lanjut perempuan itu.
Frans menghela nafas.
"Tau sendiri kan orang tua, pengennya meriah, mewah. Kalau bisa seisi bumi di undang, ya di undang sama mereka." ujarnya kemudian.
Nadia pun tertawa.
"Udah budaya sih, jadi susah. Orang tua di kita tuh suka malu kalau pesta sederhana. Takut dibilang ini dan itu, padahal kita nya mah biasa aja." ucap perempuan itu.
***
Ferdi menjalani kelas kedua, dengan John Panggabean. Seperti biasa ia kembali diintimidasi dan dituntut harus belajar dengan serius.
Satu jam pertama ia berusaha untuk terlihat biasa saja. Namun memasuki jam kedua ia mulai tak bisa menahan rasa bosan, yang mulai merayapi benaknya.
"Bro, pada kemana nih?. Bete gue anjay."
Ia mengirim pesan di grup kantornya dan langsung mendapat berbagai tanggapan.
"Udah, yang bener ikut kelasnya. Jangan bolos ya anak baik." ujar Jordan.
Orang sekantor Ferdi sudah tau proyek apa yang tengah dijalankan Jeffri kepada Ferdi sekarang.
"Semangka, semangat kaka." timpal Nova
"Cemungud eaaa." Sean lebih menyebalkan lagi.
"Ganbatte kakak." Nathan ikut-ikutan, begitu juga dengan karyawan lain.
"Ciayo Fer."
"Semangat Oppa, Saranghae."
"Ayo Fer, kamu bisa. Demi mengejar mbak-mbak jendes."
"Wkwkwk."
"Badjingan lo semua." balas Ferdi sambil menahan senyum, saat ini ia masih dalam pengawasan John.
Ferdi menerima hukuman tambah lima buku, sebab ia kemarin sempat kabur dari kelas dan kali ini ia merencanakan hal serupa.
"Kamu jawab pertanyaan saya, Ferdi."
John sudah mulai akan memberi ujian untuk Ferdi. Pemuda itu berpikir keras bagaimana caranya untuk kabur, tapi sedari tadi John tak jua pergi ke toilet. Sepertinya ia puasa demi memberi pelajaran pada Ferdi. Ia tidak minum hingga tidak perlu membuang air kecil.
"Hhhhh."
"Lama banget lagi ini si tuan tanah, kagak pergi-pergi." Ferdi menggerutu dalam hati.
"Kan gue jadi nggak bisa kabur." lanjutnya lagi.
John mulai melontarkan pertanyaan.
"Saya mau minum, om." ujar Ferdi berusaha menyela semua itu.
John melirik air mineral yang ada di samping Ferdi. Maka Ferdi pun sadar jika ia tak bisa beralasan untuk membeli air mineral. Pemuda itu lalu minum dengan super lambat sambil berpikir bagaimana caranya untuk menghilang.
"Buruan!"
Bentak John.
"Uhuk, uhuk."
Ferdi tersedak dan kali ini bukan gimmick. Saking terganggunya ia sampai pergi keluar dan mencari udara. Disana ia memang terbatuk-batuk dan John tau jika itu bukan pura-pura.
"Kamu kenapa, Ferdi?" tanya Jeffri pada anaknya itu. Kebetulan Jeffri tengah melintas.
"Uhuk-uhuk."
Ferdi terus saja batuk sampai kemudian,
"Byuuur."
Pemuda itu pun kembali kabur dan Jeffri kecolongan bahkan di depan matanya sendiri.
s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
😍😍😍😍😍😍