Nyaris diperkosa oleh teman suaminya, membuat Syma mengalami trauma yang mendalam. Sang suami sendiri, bukannya merangkul sang istri. malah menuduhnya melakukan perselingkuhan dan dengan kejamnya merampas hak asuh anaknya. Memisahkan sang anak dari ibunya.
hal itulah yang menyebabkan Syma terpaksa menjadi simpanan pria kaya yang memiliki kekuasaan tinggi agar bisa mengambil kembali hak asuh atas anaknya.
"Tidak ada yang menyayangi anakku, melebihi aku sendiri !
aku mungkin bisa kehilangan suami, tapi tidak dengan anakku. Akan kuperjuangkan sampai mati."
"Jadilah simpananku, maka aku akan membuatmu mendapatkan kembali hak asuh anakmu."
Tentu saja Syma menerimanya meski ada rasa berat dihatinya. Namun demi anaknya, dia rela menerima tawaran itu.
Dari tawaran itu juga Syma meminta agar Ersad menikahinya sah secara agama.
Ersad menyetujui keinginan Syma.
Kehidupan rumah tangga mereka awalnya harmonis. Ersad juga mulai terbuka dengan istri barunya itu. Dan perlahan... rasa itu mulai tumbuh.
Semuanya berubah ketika istri pertama Ersad meninggal. Syma harus menghadapi kebencian suaminya karena tuduhan atas pembunuhan istri pertamanya yang bernama Erika.
Lalu bagaimana cara Syma mengembalikan cinta suaminya? akankah kebenarannya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMS EPS 31: IKATAN KAMI SAH
"Aku akan menikah dengan Kak Ersad. Menggantikan Kakakku yang telah Kau bunuh. Aku harap Kau tidak mengacaukan pernikahan kami nanti," ucap Nora dengan angkuhnya. Sengaja membuat Syma sakit hati.
Namun Syma bukanlah wanita yang mudah termakan dengan ucapannya. Syma tidak mempercayai hal itu. Sebab itulah Syma memilih untuk diam dan melanjutkan makannya. Tanpa menanggapi ucapan Nora.
"Apa kau tuli? Aku bicara padamu... " Nora menghentak meja dengan keras.
Syma meletakkan sendoknya secara perlahan dan penuh adab. Kemudian menatap Nora datar. "Aku tidak tahu apa tujuanmu mengatakan hal itu. Jika kau ingin membuatku sakit hati atau membenci suamiku sendiri. Maka maaf...
Itu tidak akan pernah terjadi. Jadi percuma saja kau mengatakan omong kosong padaku, karena aku tidak akan percaya."
Mendengar hal itu membuat Nora menatapnya sinis. Terlihat jelas bahwa wanita itu sedang mengejek Syma habis-habisan.
"Kau terlalu percaya diri, Ja*ang munafik. Kau hanya simpanan! Aku tekankan sekali lagi, Hanya simpanan. Kak Ersad akan menendangmu kapan saja, jika dia sudah tidak membutuhkanmu lagi,"
"Lalu kenapa dia tidak menendangku?" Syma tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Nora, seakan menunjukan perlawanannya.
"Mas Ersad bahkan mencariku dan membawaku kembali padanya. Untuk apa? Dan lagi...
Aku tidak perduli bagaimana statusku. Apakah istri simpanan, atau apa? Aku tidak peduli! Yang aku tahu, bahwa Mas Ersad adalah suami sah ku secara agama.
Aku tekankan sekali lagi padamu. SAH. Ikatan diantara kami ini SAH. Yang berarti bahwa hubungan kami ini halal."
Melihat Syma yang seakan menantangnya. Membuat Nora berang.
"Dasar munafik. Tidak tahu malu!"
Nora langsung mengangkat tangannya untuk menampar Syma. Namun Syma yang segera tahu gelagat dari Nora itu segera menangkis tangan Nora dan menahannya kuat. Syma juga sengaja mencengkram tangan Nora dengan kasar, karena merasa kesal dengan sikap Nora yang semakin menjadi-jadi. Membuat getaran amarah tiba-tiba menjalar ditubuh Syma.
"Aku peringatkan padamu, Nora. Sekeras apapun usahamu untuk memisahkanku dari Mas Ersad. Jika Allah ingin tetap kami bersama, maka usahamu itu hanyalah sia-sia," ucap Syma menatapnya tajam dan sedikit meremas tangan Nora sehingga wanita itu meringis kesakitan.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?"
Suara Ersad yang menggelegar, membuat mereka mengalihkan perhatian. Syma sendiri melihat tatapan Ersad yang mengarah ke tangannya. Membuat Syma langsung melepaskan tangan Nora.
Sementara Nora sendiri malah menyunggingkan senyuman liciknya sembari memegang tangannya yang memerah.
"Lihat wanita ini, Kak. Dia menyakitiku," Nora menunjukan tangannya yang merah pada Ersad.
"Apa yang membuatmu menyakitinya Syma?"
Syma baru saja ingin membuka mulutnya. Namun suara Nora langsung menyela. "Aku hanya memberi tahu padanya, bahwa Kakak akan menikahiku. Dia tidak menerima dan malah menyerangku," rengeknya.
"Kenapa kau diam saja, Syma..." Ersad mendesis ketika berucap.
"Untuk apa aku menjelaskan? Mas juga tidak akan percaya padaku. Seharusnya Mas sendiri yang berbicara dan memperingati Nora agar berhenti bicara omong kosong."
"Dia tidak bicara omong kosong. Semua yang dia katakan benar adanya. Aku memang akan menikahinya, sebagai pengganti Erika."
Syma terhenyak. Matanya menatap Ersad dengan nanar. Syma menggeleng tidak percaya sembari tertawa hambar. Ucapan Ersad membuat luka baru didalam dirinya. Begitu menyakitkan, karena luka lama saja masih belum sembuh.
Sementara Nora tersenyum bangga. Matanya menatap Syma seakan merendahkan.
"Apa yang Mas katakan? Kenapa Mas ingin menikahinya?" ucap Syma sedikit bergetar. Sementara matanya sudah berkaca-kaca.
"Memangnya kenapa? Erika, wanita yang sangat aku cintai saja bisa aku duakan. Apalagi hanya wanita sepertimu."
Ersad segera pergi setelah mengatakan hal itu. Begitu juga dengan Nora yang mengikuti langkah Ersad menuju kamarnya.
Sementara Syma...
Wanita itu terduduk lemas. Tubuhnya bergetar. Air mata yang sempat dia tahan kini mengalir deras tanpa bisa dicegah lagi. Perasaannya begitu hancur.
Syma sendiri bingung. Padahal sejak awal dia sudah sadar bagaimana posisinya. Dia juga bisa menerima sebagai madu dari Erika. Lalu kenapa ketika aku ingin di madu, rasanya sakit sekali? Apa ini yang dirasakan Erika saat mengetahui siapa aku?
Kenapa sesakit ini...
Apa ini karma untukku, karena telah mengganggu rumah tangga orang lain?' lirih nya di sela isak tangis yang pecah.
******
Syma mendekati Ersad yang sedang berkutat dengan laptopnya. Ketika menyadari kehadiran Syma. Ersad menghentikan kegiatannya. Alisnya berkerut melihat Syma yang berbeda kali ini.
Mulai dari penampilan yang nampak lebih menggoda. Syma memakai lingeri tipis, nyaris memperlihatkan semua tubuhnya. Rambutnya yang dia biarkan tergerai serta make up tipis namun menggoda. Membuat siapapun tidak akan bisa memalingkan wajahnya dari suguhan indah ini.
Begitu pula Ersad. Matanya terpaku menatap Syma seakan rugi jika mengedipkan matanya sekali saja. Apalagi melihat gelagat Syma yang perlahan menggodanya.
"Jangan menikahinya.... " bisik Syma ditelinga Ersad. Membuat pria itu menahan sesuatu didalam dirinya. Apalagi ketika tangan Syma merambat kedadanya. Ersad nyaris runtuh dalam pertahannya.
"Kenapa? Atas dasar apa kau melarang ku, Syma. Ini sudah menjadi keputusanku," ucap Ersad menahan tangan Syma agar berhenti menggodanya.
"Karena aku mencintaimu Mas," bisiknya sembari mengambil tempat duduk dipangkuan Ersad.
Ersad hanya menatapnya dingin. Dia mendesis ketika tangan Syma menjalar ke seluruh tubuhnya. Membuat aliran darahnya seakan mengalir deras.
Syma menatapnya begitu teduh. Sementara Ersad menatapnya penuh nafsu. Ketika tangan Syma semakin nakal, Ersad sudah tidak tahan lagi.
Dia segera menarik tengkuk Syma dan menciumnya dengan rakus.
"Kau sendiri yang memulai ini, Syma,"
"Dan aku senang mendapatkan pahala haji dan umroh, karena telah memulainya duluan," ucap Syma begitu teduh.
Ersad kembali menyambar bibirnya. Membuat suara decakan yang terdengar cukup memalukan.
Tidak ada kelembutan yang Syma rasakan. Ersad seakan sedang menerkamnya habis-habisan bagaikan hewan buas yang kelaparan. Tangan Ersad menarik semua pakaian Syma sampai robek dan nampak menyedihkan.
Ketika Syma meringis menahan sakitnya. Saat itulah Ersad menghentikan kegiatan kasarnya. Dia kembali melakukannya dengan lembut dan membuat Syma merasa rileks.
Merasa tidak puas melakukannya disana. Ersad segera mengangkat tubuh Syma dan melemparnya keranjang.
Lalu mereka melanjutkan aktifitas sebagai mana seharusnya yang suami istri lakukan. Bergelut dibawah selimut, menumpahkan semua gelora yang menggebu-gebu didalam diri mereka.
Mengubah dinginnya malam menjadi panas yang bergairah. Tidak bisa dipungkiri bahwa keduanya saling menikmati sampai akhirnya ambruk dengan nafas yang masih terdengar kasar.
*****
"Apapun yang kau lakukan padaku, tidak akan mengubah keputusanku Syma."
"Untuk apa kau melakukan hal itu Mas?"
"Suatu saat kau akan mengerti," ucapnya menatap Syma sekilas dan pergi dari sana. Meninggalkan Syma sendirian yang tidak memakai sehelai benangpun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Syma bahkan terlalu enggan untuk beranjak dari sana. Matanya perlahan terpejam, seiring dengan semua pikiran yang berkecamuk di dalam dirinya.