Bumi Pranadipta Abadi, diusianya yang baru menginjak 20 tahun ia sudah memiliki seorang bayi. Tak ayal setiap gadis yang dikencaninyapun menjauh.
5 tahun berlalu, takdir mempertemukannya dengan wanita berhijab yang menjadi OB di tempatnya bekerja.
Siapa sangka Khalea Azalea Zuri, 27 tahun. Wanita muda yang telah memiliki putra berusia 7 tahun hasil pelecehan yang menimpanya bertahun silam mampu menggetarkan hatinya.
Apa yang terjadi jika keadaan memaksa 2 insan itu bersatu?
Mampukah mereka membuka hatinya kembali?
Akankah cerita kelam masa lalu akan menjadi penghalang keduanya untuk tetap bersama?
Bagaimana Bumi menyikapi takdir yang mempertemukan Kanaya dengan orang tua kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janda
"Lho kok cuma beli 2 nasi uduknya? Apa Abi gak dibelikan sarapan Nay?" ucap Abi Choirul yang baru keluar kamar dan melihat Naya masuk menjinjing kantong plastik dengan 2 bungkusan di dalamnya.
"Ini untuk Yanda sama Abi, Naya sudah sarapan," ujar Naya penuh semangat membawa kantung di tangannya.
"Memang Naya sarapan apa?" Choirul yang senang menggoda tampak mendekati dan terus bertanya pada Naya. Sedang Bumi langsung masuk ke kamar dan membersihkan dirinya.
"Sarapan nasi goreng," jawab Naya.
"Wahh, emang udah ada tukang nasi goreng pagi-pagi. Dimana tuh Nay yang jual? Abi juga mau tuh sarapan nasi goreng," tanya Choirul dengan wajah serius dan otak yang penasaran.
"Naya makan nasi goreng di rumah Manda," polos Naya.
"Wahh, nama siapa itu. Apa Bumi diam-diam punya cewek tapi gak cerita ke aku?" batin Choirul.
"Nay, Manda cantik gak orangnya?" Dan Choirul tampak mulai menyelidik kini.
"Manda cantik," jawab Naya sambil mengemil keripik di toples.
"Wahh, bener nih Bumi punya cewek cantik dan udah deket pula sama Naya," batin Choirul kembali.
"Nasi goreng Manda enak gak Nay?" tanya Choirul lagi.
"Enak, tapi Manda gak punya udang. Jadi nasi gorengnya pakai telor aja," celoteh Naya.
"Wahh, ternyata tuh cewek juga pinter masak. Jadi tambah penasaran aku," batin Choirul.
Tak berselang lama, Bumi keluar dari kamar sudah dengan pakaian santai sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Dan Choirul segera mendorong Bumi ke kamarnya.
"Lho, kamu ini kenapa to Rul?" bingung Bumi dengan kelakuan teman yang sudah seperti saudara baginya itu.
"Bum, ternyata kamu sudah punya cewek ya, kok diem-diem aja gak cerita ke aku?" gusar Choirul.
"Cewek apa sih Rul, nggak ada. Awas minggir aku mau sarapan!!" Bumi segera berlalu ke ruang tamu.
"Bum, Bumii ... tunggu Bum!!" teriak Choirul tapi tak ditanggapi Bumi. Bumi terus berjalan sampai ke ruang makan dan membuka bungkusan nasi uduk di meja, Choirulpun tampak membuka bungkusan nasi uduk juga, dan mereka makan bersama saat ini.
"Bum ...."
"Hemm ...."
"Orang mana cewekmu? Cerita dong!" Dan Choirul masih penasaran dan mengganggu Bumi dengan tanyanya.
"Lagi makan jangan berisik, nanti keselek," tegas Bumi.
"Kata Naya orangnya cantik, apa bener?" tanya Choirul lagi.
"Naya? Nggak ada, aku nggak lagi deket sama cewek manapun Rul," tegas Bumi lagi.
"Wahh, masih ditutupi juga ... sahabat macam apa ini," batin Choirul.
"Bum ...."
"Hemmm,"
"Nasi goreng Bum, kata Naya nasi gorengnya enak," ujar Choirul.
Dan ...
Uhuk ... Huk ....
"Jangan-jangan cewek yang Choirul maksud dari tadi Khal, guru ngajinya Naya. Oalahh, mesti salah paham ini orang," batin Bumi terkekeh.
"Kenapa kamu Bum?" heran Choirul melihat Bumi tersenyum-senyum sendiri.
"Gpp, aku lucu sama kamu, kamu tau nggak yang Naya maksud bikinin dia nasi goreng itu siapa?" ujar Bumi.
"Siapa ... siapa??" antusias Choirul.
"Wahh, udah mau jujur nii," batin Choirul.
"Itu bu guru ngajinya Naya, bukan cewekku, ngaco kamu," Ucap Bumi masih terkekeh.
"Lho kok guru ngaji manggilnya Manda?" bingung Choirul.
"Manda itu panggilan aja kok, maksudnya Ibu. Jadi gak ada cewek yang kamu kira itu," tegas Bumi.
"Emang guru ngajinya Naya rumahnya dimana?" tanya Choirul masih penasaran.
"Itu, kontrakan yang di depan sawahnya Pak Burhan. Yang cat biru," ujar Bumi menjelaskan.
"Khalea?"
"Lho, kok kamu malah kenal? tau namanya pula. Aku malah baru tau ini nama panjang wanita itu. Siapa tadi namanya?"
"Khalea," ucap Choirul.
"Ohh, jadi Khalea nama wanita itu," batin Bumi.
"Kenal dimana kamu Rul, jangan-jangan kamu naksir dia ya?" senyum Bumi menggoda.
"Cantik ya Bum? Awalnya aku suka pas pertama kali ketemu dia, tapi belakangan aku baru tau dia janda," ucap Choirul.
"Jadi Khal dikenal sebagai janda disini, padahal dia menikah aja belum pernah," batin Bumi.
"Bum ... ngapain kamu bengong?" Choirul mengagetkan.
"Oh gpp. Kamu emang ketemu Khalea dimana Rul?" tanya Bumi sambil memasukkan suapan ke mulutnya.
"Di rumah pak RT, pas ngasih titipanmu untuk warga yang kurang mampu itu. Dan ternyata Khalea itu salah satu nama penerima bantuan yang terdaftar, dia kesana bareng anak laki-laki. Aku fikir adiknya, ehh ... ternyata anaknya. Dan aku dikasih tau kalau dia janda sama pak RT," ujar Choirul.
"Ohhh ...," lirih Bumi.
"Padahal namanya bagus, gak sembarangan. Kayak nama anak orang kaya dan berpendidikan. Tapi sayang nasibnya gak sebagus namanya," ucap Choirul.
Bumi hanya terdiam dan menyimak setiap yang Choirul ucapkan, dalam hatinya membenarkan setiap kata yang diucapkan temannya tersebut.
"Bum, kamu sadar nggak? Kalau dilihat-lihat, wajahnya Khalea itu unyu-unyu banget lho, pakai baju SMA juga masih pantes tuh, ealah ternyata seorang janda. Palingan itu baru lulus langsung dijodohkan terus hamil dan cerai menurutku," terka Choirul antusias.
"Nggak tau, aku nggak pernah terlalu memperhatikan. Tapi kalau kamu suka ya maju dong, jangan lihat dari statusnya," sergah Bumi.
"Wahh nggak bisa Bum, aku yang masih ting-ting ini kalau bisa maunya dapet yang ori dan ting-ting juga. Apalagi kamu tau sendiri ibukku selektif. Ya nggak masuk Khalea itu." Dan Bumi tampak menggeleng-geleng mendengar ujaran Choirul.
"Kamu kenapa Bum, gak seneng gitu kayaknya denger jawabanku?"
"Bukan begitu, mau janda atau bukan dia manusia, dan pasti ia berdiri sampai saat ini penuh perjuangan, jadi aku kasihan kalau dia dikotak-kotakkan statusnya," ujar Bumi.
"Nggak bisa Bum, ini prinsip hidup," keukeh Choirul. Bumipun tampak mengangguk tak ingin berdebat.
"Bum, kenapa nggak sama kamu aja Khalea itu? cocok, kalian sama-sama orang tua tunggal. Khalea itu pasti udah khatam jadi ibu. Pas untuk Naya, sudah deket juga kayaknya anakmu," lugas Choirul.
"Ngawur kamu Rul," ucap Bumi.
"Lho kenapa, wajah oke, baik, pintar, sayang sama Naya, apa kurangnya coba? Bukannya kita nggak boleh mengkotak-kotakkan manusia?" sindir Choirul kini dengan senyum yang tak bisa dimengerti antara menggoda atau mengejek.
"Sudah, aku mau pergi sama Naya ... urusi dirimu sendiri jangan urusi orang lain," kilah Bumi.
Dan di tempat berbeda ....
•
•
"Manda ... kita jalan-jalan yuk! Saga mau deh makan es krim di Mall, sambil baca-baca buku di Toko Buku. Saga janji nggak minta beli kok, Saga mau numpang baca aja. Boleh ya Manda ...."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🐢Happy reading❤❤