Alesya Ramania Syahreza, anak seorang pengusaha kaya yang cukup terkenal di kotanya.
Dia merupakan gadis yang sangat centil dan cerewet, tapi ia juga menjadi idola di kampus karena kecantikannya.
Alesya sangat sulit dia atur, bahkan dia sering melakukan hal hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Sampai pada akhirnya papahnya mencarikan supir untuk mengawasinya, awalnya Alesya tidak mau karena ia merasa tidak bebas kalau memiliki seorang supir.
Tapi setelah melihat supir yang begitu tampan ia pun langsung mau, dan pada akhirnya mereka jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putry Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cindy jahat!
Hari pun sudah gelap, terang rembulan dan taburan bintang bintang meramaikan suasana malam ini.
Jam menunjukkan pukul 19.00, semua mahasiswa telah berkumpul, untuk mendengarkan arahan dari pemandu camping, untuk memulai acara jurit malam.
"Jadi kalian akan berjalan menyusuri hutan ini, melalui petunjuk yang sudah di berikan di setiap jalan, dan harus kembali tepat waktu. Jam 20.30 kalian harus sudah sampai disini. Mengerti?" jelas pak Alex panjang lebar.
"Iya pak!" jawab mahasiswa serempak.
"Oke saya akan bagi menjadi kelompok, 1 kelompok akan berisi 4 orang." Pak Alex pun mulai membagi kelompok. Dan kelompok yang sudah di sebutkan langsung beranjak menyusuri jalan yang sudah di tunjukan.
Dan sayangnya Clarista tidak satu kelompok dengan Alesya, ia berjalan duluan dengan kelompoknya yang sudah di tentukan pak Alex. Dan kini hanya tersisa Alesya, Cindy, dan 2 mahasiswa laki laki.
"Oke sisanya, kalian satu kelompok ya." Seru pak Alex.
Sean yang sedari memperhatikan dari depan tendanya, seketika ia merasa khawatir jika Alesya satu kelompok dengan Cindy, ia takut kalau nanti terjadi apa apa. Ia pun beranjak dan menghampiri pak Alex. "Pak apa saya boleh ikut?".
"Tidak, ini kegiatan mahasiswa. Kamu kan bukan mahasiswa di sini." Jawab pak Alex tegas.
"Sudah kalian jalan sekarang!" seru pak Alex pada Alesya dan teman yang lain.
Alesya mengelus pundak Sean. "Tenang honey aku tidak apa apa." Ia pun beranjak mengikuti temannya.
Sean menghela nafasnya kasar, ia pun beranjak masuk kedalam tendanya. Ia membaringkan tubuhnya, dan menyilangkan tangannya di belakang kepala sebagai bantal. "Tuhan tolong jaga Alesya, jangan sampai terjadi apa apa padanya." Terlihat raut ke khawatiran di wajahnya.
.
.
Sudah setengah perjalanan Alesya dan teman temannya menyusuri jalan yang sudah di beri petunjuk, mungkin teman teman yang lainnya, yang berangkat terlebih dahulu sudah hampir sampai finis.
Alesya terlihat sangat ketakutan, ia terus menggandeng lengan Cindy. "Aduh Cin aku takut".
Cindy terlihat begitu tidak suka kalau Alesya terus menggandeng lengannya. Seketika terlintas ide busuk di benaknya. Ia pun menghentikan langkah kakinya. "Ehh tunggu tunggu."
2 teman laki lakinya yang berjalan di depan pun ikut menghentikan langkahnya, mereka menoleh kebelakang. "Ada apa Cin?." Tanya salah satu dari mereka.
"Aku kebelet pipis nih, Sya anterin aku yuk." Cindy mencoba untuk berpura pura.
"Gak ah Cin aku takut, kamu minta anterin aja tuh sama Rifki atau Vino."
"Iya ayo Cin aku anterin." Ucap Rifki.
"Gak ah masa di anterin cowo, ayo lah Sya sebentar aja." Cindy terus memaksa Alesya agar mau mengantarkannya.
"Ya sudah ayo." Alesya terpaksa mengantarkan Cindy, walaupun ia sebenarnya takut. Mereka berdua pun beranjak, sedangkan Rifki dan Vino tetap disitu menunggu mereka.
Mereka berdua sudah melangkah lumayan jauh dari tempat Rifki dan Vino menunggu. Alesya semakin takut karena hutan itu benar benar menyeramkan. Mereka berdua membawa senter masing masing.
"Cin udah dong sini aja jangan jauh jauh." Ucap Alesya sambil menghentikan langkah kakinya.
"Oke deh kamu tunggu sini ya, jangan tinggalin aku, aku pipis di balik pohon itu ya." sambil menunjuk pohon besar yang agak jauh dari mereka.
"Aku ikut aja deh Cin." Alesya terus memegangi lengan Cindy.
Cindy menyingkirkan tangan Alesya. "Masa iya kamu ikut sih, udah kamu tunggu sini aja. Aku gak lama kok."
"Beneran ya jangan lama lama." Alesya begitu terlihat ketakutan.
Cindy mengangguk, ia pun beranjak tapi baru selangkah ia melangkahkan kakinya. Tiba tiba senter yang ia pegang mati. "Aduh Sya mati lagi senterku, aku pinjam senter kamu dong".
"Jangan dong Cin, nanti aku gimana. Ini gelap sekali."
"Sya sebentar, nanti aku kembali lagi. Ayolah aku pinjam, sudah tidak tahan ini."
Alesya pun memberikan senternya pada Cindy. "Ini, jangan lama lama ya Cin".
"Oke, kamu hadap kesana dong jangan ngintip." Cindy pun beranjak menuju ke balik pohon besar itu.
Alesya membalikan badannya, ia terlihat sangat takut. Ia celingukan ke kanan, ke kiri dan ke atas. "Ini seram sekalii."
Sementara itu Cindy yang ada di balik pohon, memastikan Alesya agar tidak menghadap ke arahnya. Cindy berjongkok, ia pun berjalan pelan pelan melewati semak semak sambil berjongkok. Saat sudah jauh dari Alesya ia langsung berlari, menuju ke tempat Rifki dan Vino menunggunya.
"Alesya Alesya, kenapa kau meninggalkanku!" teriak Cindy sambil berlari ke arah Rifki dan Vino.
"Ada apa Cin? loh Alesya mana?" tanya Vino yang mulai panik.
"Lohh dia itu tadi udah pergi duluan, aku di tinggalin." Jawab Cindy, seakan akan ia tidak tahu apa yang terjadi.
"Dia belum kesini loh." Ucap Rifki yang ikut panik.
"Terus dia dimana dong." Cindy berakting panik.
"Ya udah kita cari lagi ke tempat tadi kamu buang air kecil." Ajak Vino.
"Tapi Vin aku itu tadi lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Alesya udah berjalan ke arah sini, aku tidak mungkin salah lihat." Ucap Cindy berusaha meyakinkan kedua temannya itu.
"Mungkin dia sudah jalan duluan, ayo coba kita jalan lagi sambil cari dia." Imbuh Cindy lagi.
"Kalau dia jalan duluan, kita pasti melihatnya Cin." Ucap Rifki masih tak percaya.
"Mungkin dia lewat jalan lain, ayo cepat kita lanjutkan perjalanan kita, ini waktunya udah mau habis loh." Cindy terlihat tidak sabaran.
"Ya sudah ayo." Rifki dan Vino pun beranjak ke arah barat, sesuai dengan anak panah yang berada di pohon samping mereka.
Cindy mengikuti mereka di belakangnya, ia pun sengaja memutar tanda panah itu ke arah selatan, tanpa sepengetahuan Rifki dan Vino.
*
*
Kasihan ya Alesya di tinggal sendirian tanpa senter lagi, bayangin aja gelapnya hutan kaya gimana😠😭.
aku nyicil baca dan like y thor, aku simpan jd favorite
salam dari aku dan mntan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
bisa aja cri visualnya
7clike buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..