MOHON MAAF, INI NOVEL PERTAMA SAYA, ISINYA MASIH SANGAT BERANTAKAN.LEBIH-LEBIH ALURNYA JUGA LONCAT-LONCAT. BTW LANJUTAN DARI NOVEL INI LEBIH RAPI YA, JUDULNYA PETUALANGAN ZHANG XIUHAN. TRIMS DAN MAAF SEKALI LAGI...
Zhang Xiuhan merupakan pemuda biasa saja yang tak memiliki keahlian bela diri. Meski tak memiliki latar belakang kependekaran, kebaikan hatinya telah berhasil mematahkan Mantera pada Pedang Naga Emas yang kemudian memaksanya untuk masuk dan terlibat di dunia persilatan.
Tak hanya terlibat di dunia kependekaran, Zhang Xiuhan juga melibatkan dirinya dalam memerangi militer Kekaisaran Min yang telah melakukan penjajahan di banyak wilayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashirama Senju, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30 - Kematian Xing Juan
Li Jie tak pernah menduga jika tangannya sendiri yang menghabisi nyawa kakek tua Xing Juan, salah satu pendekar legendaris dari Sekte Bambu Kuning.
***
Lima pendekar pilihan dari Sekte Kalajengking Merah tengah bertarung dengan sengit di wilayah Sekte Bambu Kuning.
Kang Jian, pendekar Kesatria yang berusia 25 tahun menempati posisi di gerbang utama Sekte Bambu Kuning. Kang Jian merupakan pendekar yang dijuluki dengan Pendekar Kulit Baja karena tubuhnya kebal dengan segala pusaka.
Siluman Ular Sisik Emas yang dimakan oleh leluhur keluarga Kang Jian membuat garis keturunannya memiliki kekebalan tubuh bagai sisik Ular Emas. Keberadaan keturunan dengan kelebihan khusus ini hanya terjadi dalam kurun waktu 100 tahun sekali.
Kelahiran Kang Jian merupakan sebuah anugerah bagi Sekte Kalajengking Merah karena kemampuannya sangat menguntungkan saat diterapkan dalam peperangan.
Dengan badannya yang kekar dan kebal dari pedang dan tombak, Kang Jian berhasil memporak-porandakan barisan pasukan militer Kaisar Zhao Bing dengan mudah.
Begitu para pasukan Kaisar Zhao Bing mulai mengepung Kang Jian yang maju seorang diri, puluhan Kunai terbang mendarat di dada mereka dan membuat mereka meregang nyawa.
Pendekar penyerang jarak Jauh dari Sekte Kalajengking Merah diwakili oleh Chyou Fai, berusia sebaya dengan Kang Jian, Chyou Fai merupakan pendekar dengan keahlian lemparan pisau yang bisa menyerang menggunakan kaki, tangan, sekaligus mulut.
Lemparan pisaunya selalu mengenai sasaran, sehingga dalam misi kali ini ia ditugaskan untuk menyamar sebagai Shinobi pelempar Kunai.
Pasukan Kaisar Zhao Bing berkurang jumlahnya dengan cepat, dalam kondisi yang kacau itu, Li Jie, Hongli, dan Changyi menerobos masuk lewat pintu lain dengan menggunakan pakaian khas Shinobi.
Li Jie ditugaskan sebagai pengatur strategi peperangan karena posisi penyerang jarak dekat dan ahli racun haruslah dibebankan kepada pendekar yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya.
Di samping itu Li Jie ditugaskan untuk berkeliling memberi dukungan kepada Hongli dan Changyi dengan meninggalkan jejak serangan Es. Hingga akhirnya keberadaan peran Li Jie disadari oleh Tong Mu, pendekar tingkat langit dari Kekaisaran Ming.
"Mau ke mana Kau, pengacau!" Tong Mu melilit kaki Li Jie yang hendak kabur menggunakan pusaka Pecut Penghancur Tulang.
Li Jie terhempas ke tanah dan segera bangkit untuk menghindari pecutan pusaka milik Tong Mu. Pusaka Pecut Penghancur Tulang dapat membuat luka dalam yang kuat sehingga untuk mengurangi efek serangan Pecut Penghancur Tulang, Li Jie mengalirkan banyak tenaga dalam guna melindungi tubuhnya.
Li Jie dengan bergegas membuat gerakan untuk menciptakan serangan hawa dingin. Begitu Li Jie bersiap untuk melakukan gerakan jurusnya, ia merasakan sendi-sendinya nyeri. Tulang-belulangnya terasa remuk.
Ia gagal mengeluarkan aura es karena gerakannya tak sempurna. Seluruh tubunya terasa ngilu dan ia pun menggunakan rencana terakhir.
Ia melempar bom asap dan berusaha menjauhi Tong Mu. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, ia menggunakan jurus Hantu Terbang untuk mencari tempat persembunyian.
Ia takut terkena racun berbahaya mengingat seluruh tubuhnya terasa nyeri dan ngilu.
Li Jie masuk ke dalam rumah kosong yang paling besar dan luas di antara rumah-rumah lain. Ia mencari ruangan untuk bersembunyi dan memulihkan tenaganya.
Begitu menemukan ruang di ujung rumah kosong itu, Li Jie segera masuk dan mencari tempat bersembunyi. Tangan Li Jie tak sengaja mencengkeram sebuah arca Dewa yang berada di ruangan tersebut.
Tiba-tiba sebuah pintu rahasia terbuka di ujung ruangan. Tanpa pikir panjang, Li Jie masuk menelusuri ruangan tersebut.
Tak begitu lama, ia menemukan seorang kakek tua yang sedang duduk bersila, tubuhnya dipenuhi oleh luka tusukan, bajunya berwarna merah akibat darah yang mengalir dari luka-lukanya. Yang paling mengerikan adalah, wajah kakek itu membiru. Bibir dan lingkaran matanya menghitam.
"Senior... Apakah Anda baik-baik saja?" Li Jie yakin orang tersebut pastilah anggota dari Sekte Bambu Kuning yang masih selamat.
"Siapa Kau? Kelihatannya Kau bukan dari Kekaisaran Ming."
"Siapa saya itu tidak penting. Saya datang untuk menolong. Senior, apa yang bisa saya lakukan?"
"Bunuh aku!" kakek tua itu berucap yakin.
"Senior, jangan bercanda. Kita dalam peperangan. Saya masih muda dan butuh petunjuk dari senior."
"Anak muda, meski aku tak mengenalmu, aku bisa merasakan kebaikanmu. Karena itu kukira Kau layak untuk mendapat pusaka milikku."
"Senior, apa maksud senior?"
"Aku adalah Xing Juan. Kukira setidaknya pernah mendengar namaku."
Li Jie tersentak kaget. Seingatnya, Xing Juan merupakan merupakan nama dari ketua Sekte Bambu Kuning. Dan seingatnya, semua orang mengatakan bahwa Xing Juan telah tewas.
Melihat keheranan di wajah Li Jie, Xing Juan menjelaskan bahwa ia berhasil kabur dari peperangan untuk menyelamatkan pusaka miliknya.
"Aku mungkin akan dikenang sebagai pengecut karena kabur dalam peperangan. Tapi aku mengemban tanggung jawab untuk melindungi pusaka leluhur kami."
Li Jie mencoba mengalirkan tenaga dalamnta untuk membantu mengurangi luka Xing Juan. Usahanya gagal dan Xing Juan hanya tersenyum tipis.
"Aku merasakan ada kekuatan besar dalam tubuhmu. Tapi struktur tulangmu buruk. Kualitas kekuatanmu mungkin setara dengan Pendekar Langit, tapi struktur tulangmu berada di bawah tingkatan Pendekar Kesatria."
Li Jie tersentak kaget. Ia memang tak memiliki latar belakang kependekaran sehingga luput dari pengetahuan-pengetahuan mendasar soal dunia persilatan.
"Kau mungkin pendekar dengan kekuatan mengagumkan dalam tempo pertarungan yang pendek. Tapi jika dihadapkan dalam pertarungan yang panjang, Kau bisa dilumpuhkan dengan sangat mudah."
Li Jie mulai menyadari alasan mengapa sendi dan tulangnya nyeri tak terkira. Mungkin itu disebabkan oleh struktur tulangnya yang buruk.
"Anak muda, aku memiliki pusaka yang mampu membimbingmu untuk menemukan sebuah kitab yang dijaga oleh leluhur kami, Kitab Dewa Bambu Bertuah."
Xing Juan mengeluarkan sebuah kalung giok dari balik jubahnya. Li Jie menerima Kalung itu ragu-ragu.
"Kalung itu akan menuntunmu menemukan kitab pusaka kami, dengan satu syarat."
Li Jie mulai paham arah pembicaraan Xing Juan. Ia mundur perlahan dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak... Tidak, Senior!" Li Jie berucap.
"Anak muda, tubuhku sudah sekarat. Tanpa Kau bunuh pun aku akan mati dengan segera. Apa ruginya jika Kau mempercepat kematianku?"
"Maafkan saya Senior. Saya tidak pantas melakukannya. Itu tidaklah patut."
"Anak muda, aku semakin yakin bahwa Kau adalah anak yang baik. Seharusnya, kesempatan untuk mendapatkan Kitab Suci kami merupakan kesempatan yang tak akan dilewatkan oleh pendekar mana pun."
Setelah mengucapkan hal tersebut, Xing Juan batuk-batuk dan semakin melemah. Ia menghardik Li Jie untuk segera membunuhnya. Usahanya sia-sia karena Li Jie sedikit pun tak ingin membunuhnya.
Sebaliknya, Li Jie justru memberinya semangat untuk bertahan sedikit lebih lama lagi. Melihat kegigihan Li Jie yang menolak membunuhnya, Xing Juan bersujud.
"Terimalah sujud dari kakek tua ini, Anak muda. Aku tak akan mengangkat kepalaku jika Kau tak lekas membunuhku."
Li Jie kaget mendapati Xing Juan bersujud di depannya. Li Jie mencabut pedangnya, wajahnya berduka dan tangannya gemetar. Dengan mata tertutup, ia menghunuskan pedang itu ke punggung Xing Juan.
semangat Thor