Walaupun semua berawal tanpa didasari oleh rasa Cinta dan hanya sebuah perwujudan rasa berbaktinya kepada sang ayah, Cinta terpaksa harus menerima perjodohan dari orang tuanya.
Namun keterkaitan ia dengan lelaki itu membuat sedikit demi sedikit terkuaknya masa lalu yang kelam dan juga sebuah kenyataan yang mulai terbongkar.
Apakah Cinta mampu menghadapi itu semua dan menerimanya?
Ataukah ia memilih untuk mundur dan menyerah begitu saja akan takdir yang mempermainkannya.
Ikuti terus "Takdir Cinta," novel romance dengan cerita yang akan menguras emosi kalian!
Np : Mungkin, "Takdir Cinta" akan terus berlanjut akan tetapi kemungkinan besar slow update dikarenakan Author pindah lapak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungaspt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Di Bandara Dan Buku Kenangan
Di tengah kekalutannya dengan perasaan yang menduga-duganya, terdengar suara seseorang yang menegurnya, "Kau jelek jika menangis," ujar orang itu.
Nafas Cinta tersendat sejenak. Dengan wajahnya yang masih setia tertunduk dapat ia lihat di lantai, sepasang kaki berdiri di hadapannya dengan alas sepatu hitam. Mendongak ia untuk memastikan siapa pemilik suara. Tertegun sesaat gadis itu setelah menyadari siapa orang yang di depannya sekarang, masih dengan mata yang sedikit berkaca-kaca ia berdiri.
"Kau masih hidup?" dengan mata yang menelisik Cinta bertanya.
Orang yang diberi pertanyaan semacam itu menaikkan sebelah alisnya heran, "Kau berharap aku mati?"
Cinta menggeleng dengan cepat, di ketuknya kepalanya beberapa kali dengan tangan. Refleks lawan bicaranya menahan tahan gadis itu, "Kau menyakiti dirimu sendiri."
"Bu-bukan itu maksudku, kau baik-baik saja?"—Cinta memutar paksa badan orang di depannya—"tidak ada yang terluka?"
Mendapat perlakukan aneh dari Cinta orang itu semakin menampakkan wajah bingungnya, "Hei, hentikan itu. Sebenarnya ada apa dengan kau?"
"aku pikir kau kecelakaan," jawab cinta menatap Iqbal dengan gurat kekhawatiran.
"Kau berharap aku kecelakaan?"
Kembali Cinta menggeleng dengan cepat, "Tidak, bukan seperti itu. Tadi aku melihat berita dan ada kecelakaan di dekat sini, bahkan beberapa orang di sini membicarakannya, jadi aku pikir Kau–" ungkap Cinta dengan jujur.
"Aku kecelakaan?" tukasnya memotong ucapan Cinta.
Sekarang ia mengerti atas perlakuan aneh Cinta terhadapnya.
"Kak Iqbal!" teriak Aldi dari kejauhan, lelaki itu baru selesai keluar toilet.
Kedua orang yang sedang bicara itu mengalihkan pandangan pada Aldi yang berjalan cepat ke arah mereka.
"Akhirnya kau datang Kak, kami berdua menunggumu dari tadi," terang Aldi pada kakaknya.
Pandangan Aldi beralih pada Cinta, menatap heran mata sahabatnya yang tampak sedikit berair dengan hidung agak memerah.
"Kamu kenapa Cin?"—Aldi menangkup kedua pipi Cinta—"kamu sakit?"
"Tidak,"—Cinta mencoba melepas tangkupan tangan Aldi di wajahnya—"aku hanya sedikit kedinginan, AC nya lumayan dingin," bohong Cinta.
"Ekhm," Iqbal berdeham kecil membuat intensitas keduanya beralih pada lelaki itu.
"Baiklah, karena Kak Iqbal sudah datang aku pergi membeli tiket dulu, nanti kehabisan tiket penerbangan terakhir hari ini." Aldi berjalan meninggalkan keduanya.
Mendadak suasana menjadi kaku di antara keduanya. Cinta yang bingung harus melakukan apa memilih kembali duduk, begitu juga dengan Iqbal yang merasa mulai jengah berdiri saja sejak tadi mulai mendudukkan dirinya di kursi tunggu itu.
"Em..., sebenarnya sejak pagi tadi kau pergi ke mana?" Cinta kembali membuka suaranya, mencoba memberanikan diri bertanya.
Flashback
"Apakah kita kembali saja Tuan?" tanya supir taksi menepikan taksinya ke pinggir jalan.
Iqbal menggeleng, "Tolong coba sekali lagi."
Sang supir mengangguk, dan menjalankan mobilnya.
Dilihat Iqbal dari kejauhan seorang nenek yang sedang menyapu halaman rumahnya, "Coba tanya nenek itu," pinta Iqbal.
Sang supir itu menurut, dan kembali turun dari mobilnya untuk yang kesekian kalinya, berharap kali ini mereka menemukan tempat yang dicari.
Tak sama seperti tadi, supir itu terlihat begitu lama berbincang-bincang dengan nenek tua itu.
Supir itu mengangguk ke arah Iqbal, membuat Iqbal tersenyum lega.
°°°
Sudah 1 jam lebih lamanya perjalanan, namun Iqbal belum kunjung sampai ke tempat tujuannya, membuat lelaki berperawakan tinggi itu beberapa kali mengecek jam di tangannya.
"Apakah masih jauh lagi Pak?" tanya Iqbal mulai tak sabar.
"Sebentar lagi Tuan, setelah sepertigaan ini 10 menit lagi kita akan sampai," jawab pak supir menjelaskan.
Iqbal mengangguk di tempatnya duduk.
Perkataan sang supir benar adanya, setelah kurang lebih 10 menit mereka berdua akhirnya sampai di suatu tempat. Pak supir itu memberhentikan mobil taksinya di depan sebuah bangunan kecil berlantai dua. bukan rumah lebih seperti toko. Iqbal langsung turun dari mobil taksi, menyuruh sang supir menunggu di luar saja.
Saat pertama kali Iqbal menginjakkan kakinya ke dalam toko tersebut terlihat penampakan ruangan di dalamnya yang begitu sederhana di luar namun terlihat kesan mewah di dalamnya, dengan lemari-lemari kaca mengelilingi ruangan itu juga lampu besar yang menggantung di setiap sisi langit membuat tempat itu seperti berkilauan.
Pandangan Iqbal mengeliling ke setiap penjuru, tak ada siapapun di sana. Iqbal berjalan memutari ruangan, melihat-lihat isi dari lemari kaca seperti sedang mencari sesuatu di dalamnya.
"Ketemu!" batinnya sedikit berteriak, sambil mencoba membuka lemari kaca itu namun sebelum itu terjadi terdengar suara orang lain yang menginterupsinya, membuat ia mengurungkan niatnya itu.
"Ada yang bisa saya bantu anak muda?"
Iqbal berbalik, sedikit kaget sekaligus merasa tak nyaman. Lelaki itu menggaruk tengkuknya, "Aku membutuhkan sebuah heavenly chocolate."
"Maaf, tidak ada," jawab wanita tua itu.
Iqbal menaikkan alisnya bingung, "Tapi, bukankah itu–"
"Itu pesanan orang, maaf," sahut orang tua itu merasa tak enak hati.
"Aku akan pulang hari ini ke Jakarta, aku mohon bisakah itu untukku saja? Aku akan memberikan uang lebih untuk itu," ujar Iqbal yang terlihat seperti membujuk wanita tua itu.
"Apakah untuk kekasih?"
Pertanyaan yang dilontarkan wanita tua itu membuat Iqbal terdiam. Ia bingung harus menjawab apa.
Wanita tua itu hanya tersenyum melihat reaksi diamnya pemuda yang sedang berada di hadapannya sekarang, "Maaf, aku tidak bisa memberikan pesanan orang lain itu padamu. Tapi, aku bisa membuatkan yang baru jika kau mau menunggu."
Flashback End
"Apa aku harus menjawabnya?"
Cinta diam, ia sudah menduga lelaki yang ada di sampingnya ini pasti tak akan menjawab pertanyaanya.
Iqbal menyerahkan sebuah paperbag kecil pada Cinta, gadis itu tak langsung mengambilnya dan hanya memandangi paperbag bermotif kotak-kotak coklat itu dengan pandangan bertanya-tanya seperti berkata, "Apa ini?" hanya dengan pandangan.
"Ambil," ucap Iqbal menyuruh Cinta untuk menerima paperbag yang ada di tangannya.
Seperti sebuah perintah Cinta menurut, ia sedikit mengintip isinya.
"Cokelat?"—Cinta mengambil kotak besar di dalam paperbag itu—"heavenly chocolate?" gumamnya, setelahnya kembali ia memasukkan sekotak besar cokelat itu dan menaruh paperbagnya ke samping tubuhnya.
Cinta memandang Iqbal yang seperti tidak ada niatan untuk membalas pandangannya, karena lelaki itu sibuk dengan pandangan lurusnya.
"Aku tau kau menginginkannya," sahut Iqbal singkat dengan masih tanpa memandang balik lawan bicaranya.
"Aku sudah mendapatkan 3 tiket, pesawat kita berangkat jam 5 nanti," ujar Aldi berjalan menghampiri mereka berdua dan ikut duduk di samping Cinta dengan posisi menengahi antara dua pasang tunangan itu.
"Kenapa kalian diam, apa terjadi sesuatu?" heran Aldi melihat keduanya yang seperti membisu.
"Masih ada banyak waktu, aku ingin pergi makan siang dulu," tukas Iqbal lalu berjalan pergi meninggalkan kedua sahabat itu.
"Baiklah,"—sahut Aldi menjawab perkataan kakaknya, tiba-tiba pandangan Aldi teralih pada paperbag yang ada di samping Cinta dan langsung mengambilnya—"apa ini? Wah cokelat, aku minta ya Cin."
Cinta langsung menarik paperbag dari tangan Aldi, "Tidak, enak saja."
"Pelit banget sih Cin," rajuk Aldi.
"Beli dong,"
Cinta tersenyum memperhatikan paperbag di tangannya, "Terima kasih," gumamnya terlampaui pelan.
°°°
1 jam lalu Aldi, Iqbal, dan Cinta telah sampai di Jakarta dengan selamat. Mereka bertiga sepakat sebelum pulang mampir dahulu ke sebuah restoran untuk makan malam, setelahnya ketiganya baru pulang ke rumah masing-masing. Sebenarnya Aldi sudah menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu dengan taksi sampai rumah, karena Aldi merasa sedikit khawatir jika Cinta harus pulang ke rumah sendirian di saat sudah malam seperti ini, namun Cinta menolak dengan mengatakan, "Aku bukan anak kecil."
Sekarang Cinta sudah sampai rumah, Cinta memilih langsung membersihkan dirinya dengan mandi, ia sudah sangat merasa gerah sejak tadi, ia membutuhkan air untuk mendinginkan tubuhnya. 30 menit ia di dalam kamar mandi, setelahnya gadis itu keluar dengan sudah menggunakan baju tidur dan tangan yang masih mencoba mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk. Cinta mendudukkan dirinya ke kursi meja rias di kamarnya. Seperti wanita pada umumnya yang ingin merawat wajahnya, Cinta mengoleskan cream skincare ke mukanya, rutinitasnya setiap akan pergi tidur. Di sela-sela kegiatannya itu mendadak Cinta teringat akan sesuatu, "Cokelatku," gumamnya sambil mengedarkan pandangannya mengelilingi seisi kamar, "Di mana aku meletakkannya?"
Cinta menggulung rambutnya yang setengah basah dengan handuk tadi, berdiri ia dan berjalan mengitari kamar.
"Seingatku saat di bandara masih ada,"—Cinta menggigit jarinya, mencoba mengingat-ngingat—"apa tertinggal di dalam mobil taksi tadi?"
Tok tok tok
Suara ketukan pintu, sebelum pintu itu di buka oleh tante Nadia.
Mendengar ketukan pintu di kamarnya Cinta membalik badannya, terlihat tante Nadia yang sedang tersenyum ke arahnya dengan membawa sebuah paperbag.
"Mencari ini?" unjuk tante Nadia mengangkat paperbag itu ke atas memperlihatkannya pada Cinta.
Cinta mengikuti langkah tante Nadia yang kemudian duduk ke pinggiran kasur miliknya.
"Kata Bi Siti ini punya kamu, "—tante Nadia menyerahkan paperbag itu pada Cinta—"dari siapa?"
Cinta mendadak gelagapan menanggapi pertanyaan kecil tante Nadia, "Bukan dari siapa-siapa kok Tan, a-aku beli sendiri," bohong Cinta agar tak diinterogasi lebih lanjut oleh tante kesayangannya.
°°°
Hari ini Cinta juga Henny ada janji dengan Rayhan untuk mengerjakan tugas kuliah bersama, sehingga ketiganya pun setelah selesai mata kuliah terakhir langsung pulang bersama dan pergi ke rumah Rayhan yang juga satu blok dengan Cinta.
Di sinilah sekarang Cinta dan Henny berada, ruang belajar yang ada di rumah Rayhan atau lebih tepatnya rumah tante juga om Rayhan.
Saat baru sampai di rumahnya Rayhan pamit pada kedua gadis itu untuk naik ke atas karena ia ingin berganti pakaian dulu dan berkata, "Jika kalian membutuhkan sesuatu kalian bisa ke kamarku, tapi sesudah aku berganti pakaian tentunya, jika tidak kalian akan mendapat hukuman." Rayhan berucap sambil bergurau.
Seketika wajah keduanya memerah, mengerti akan maksud ucapan Rayhan, kompak keduanya berteriak, "Mesum!"
Rayhan sang pelaku hanya tertawa sebentar dan setelahnya melenggang keluar dari ruang belajar khusus itu.
Cinta berdiri dari duduknya dan mengitari sekeliling ruangan yang lumayan besar itu. Bagaimana tidak bisa dikatakan besar. Lihat, bahkan ruang belajar itu hampir sama besarnya dengan setengah lapangan futsal indoor dengan dikelilingi lemari kayu jati dengan kualitas terbaik yang berisi kumpulan buku-buku layaknya sebuah perpustakaan.
Kembali ia berjalan duduk, namun sebelum itu sebuah lemari kecil di belakang Henny menarik perhatiannya, sebuah buku dengan sampul bertuliskan 'kenangan'. Bukan tidak sopan, entah mengapa seperti ada sesuatu dalam buku itu yang mendorong dan menyuruhnya mengambil buku itu.
"Buku punya orang Cin, jangan asal buka," tegur Henny saat melihat Cinta mengambil dan membuka buku bersampul hitam itu.
Cinta membuka buku itu tanpa menghiraukan ucapan Henny. Di lembar pertama hanya menampilkan hamparan kosong kertas putih tanpa isi, begitu pun pada lembar kedua, ketiga, dan keempat. Cinta menatap heran, mengapa tak ada tulisan apapun di sana.
"Kenapa?"—Henny bangun dari duduknya dan berdiri di samping Cinta—"hanya kertas kosong?"
Cinta mengangguk, namun saat ia ingin meletakkan kembali buku itu ke tempatnya, sesuatu terjatuh dari dalam buku itu. Selembar foto seorang wanita muda yang berumur 20 tahun, terlihat wanita itu tersenyum manis ke kamera. Entah mengapa wajahnya tak begitu asing, Cinta ingin menunjukkannya pada Henny namun sebuah tangan mengambil benda itu terlebih dahulu.
"Ini privasi," tegurnya
"Sorry Rayhan, bukan maksud kami. Foto itu terjatuh saat aku ingin meletakkan kembali buku itu," ujar Cinta yang merasa tak enak.
"Seharusnya kau tak perlu melihatnya!" ucap Rayhan yang mulai menaikkan nada bicaranya, membuat kedua gadis itu sedikit terlonjak kaget.
"Ma-maaf," Cinta berkata sedikit lirih.
"Ya sudah, tak apa," Jawab Rayhan seadanya dengan nada sedikit dingin.
Cinta hanya menanggapi sikap Rayhan yang dingin dengan biasa, menurutnya itu memang salahnya membuka privasi seseorang tanpa izin. Sedangkan Henny sejak tadi menyikut lengan Cinta dan memberi kode pada gadis itu bahwa sikap yang ditunjukkan Rayhan itu cukup berlebihan.
Rayhan keluar dari ruangan itu dengan membawa buku beserta foto yang ia rebut dari Cinta tadi. Setelah beberapa menit baru ia kembali masuk dengan tanpa membawa kembali benda yang ia bawa keluar tadi.
Rayhan mendudukkan diri di seberang kursi Cinta dan Henny.
"Maaf, sikapku tadi terlalu berlebihan," kata Rayhan yang merasa tak enak karena hampir membentak Cinta tadi.
"Tak apa, itu hal wajar jika menyangkut hal yang privasi. Iya kan Hen?" jawab Cinta sambil menoleh ke arah Henny, meminta Henny untuk ikut mengiyakan.
"I-iya Rayhan, gak apa-apa kok."
Hening sejenak.
Sebenarnya Cinta masih merasa penasaran dengan wanita muda yang ada di foto itu.
"Oh iya Rayhan, sebenarnya aku penasaran memangnya foto siapa itu?"
Cinta cengo dengan pertanyaan frontal Henny, bisa-bisanya ia menanyakan hal semacam itu di saat Rayhan tadi hampir membentak mereka karena foto itu.
"Aku bahkan tak sempat melihat foto itu, itu membuatku penasaran," sambung Henny.
"Aku tau kalian penasaran dengan foto itu mengapa aku sampai semarah tadi," ujar Rayhan, masih belum menjawab pertanyaan Henny.
Cinta ragu-ragu menolehkan wajahnya ke arah Rayhan, takut dengan reaksi lelaki itu. Namun di luar ekspektasinya lelaki itu malah memasang wajah santai dengan sedikit tawa yang mengembang.
"Santai saja, tak perlu takut begitu. Aku tau aku berlebihan sekali tadi. kalian tau kan kalau rahasia tentang masa muda kalian ketahuan akan sedikit memalukan," ungkapnya dengan sedikit berbasa-basi.
Kedua gadis itu menatap Rayhan dengan wajah bertanya-tanya tanda masih belum paham akan ucapan lelaki itu.
"Wanita itu? Ahahaha hanya sebuah Cinta pertama yang masih ku simpan."
To Be Continue...