NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Tiga hari setelah ulang tahun Arga, Ratna mengirim hadiah kedua.

Hadiah itu bernama Maya Lestari.

Maya datang pukul sepuluh pagi dengan mobil hitam, koper kecil, dan surat penugasan dari Pradipta Foundation. Usianya sekitar dua puluh enam, cantik dengan cara yang halus: rambut panjang rapi, blouse krem, rok pensil, sepatu mahal, senyum lembut yang dibuat agar orang ingin percaya.

Marni mengantarnya ke ruang tamu dengan wajah terlalu puas.

"Nyonya Alya, ini Mbak Maya. Nyonya Ratna mengirim beliau untuk membantu Tuan Arga menata kembali kegiatan yayasan dan jadwal sosial."

Alya menatap Maya.

Maya menunduk sopan. "Selamat pagi, Nyonya Alya. Saya Maya Lestari. Sebelumnya saya bekerja di tim komunikasi Pradipta Foundation. Bu Ratna meminta saya membantu Tuan Arga, terutama karena kondisi beliau mulai membaik."

"Membantu dalam kapasitas apa?"

Maya menyerahkan map. "Asisten khusus."

"Untuk Arga?"

"Iya."

"Siapa yang menandatangani?"

"Bu Ratna sebagai Ketua Pembina Foundation."

Alya membuka map.

Suratnya rapi. Terlalu rapi. Tugas Maya mencakup jadwal acara sosial, komunikasi yayasan, penyusunan citra publik Arga, dan koordinasi dengan tim Pradipta Group. Tidak ada satu kalimat pun yang menyebut ia akan tinggal di rumah ini, tetapi koper kecil di sampingnya berkata lain.

"Koper itu?"

Maya tersenyum. "Bu Ratna menyarankan saya standby beberapa hari pertama. Agar koordinasi lebih mudah."

"Di rumah ini?"

"Jika Nyonya berkenan."

Marni cepat menambahkan, "Kamar tamu lantai bawah sudah siap."

Alya menatap Marni.

Marni langsung menunduk, tetapi senyumnya belum hilang sepenuhnya.

"Menarik," kata Alya. "Kamar siap sebelum aku berkenan."

Maya tampak canggung. "Maaf, saya tidak bermaksud memaksa."

"Tentu."

Arga masuk dari arah ruang kerja, memakai kemeja gelap dan tongkat. Ia berhenti saat melihat Maya.

Wajahnya tidak berubah, tetapi Alya melihat matanya menjadi dingin.

"Maya."

Maya tersenyum lebih lembut. "Mas Arga."

Mas.

Alya mengangkat alis.

"Kalian saling kenal?"

Arga menjawab, "Dulu dia sering ikut acara yayasan."

Maya menunduk. "Saya pernah membantu Bu Ratna mengurus beberapa acara yang Mas Arga hadiri secara daring."

"Dan sekarang kamu dikirim menjadi asistenku?"

"Saya hanya menjalankan tugas."

Arga menatap Alya.

Alya menatap balik.

Tidak perlu bicara.

Ratna sedang mengirim bidak yang lebih halus daripada Marni, lebih cantik daripada dokumen, dan lebih sulit ditolak di depan orang karena statusnya profesional.

Maya berkata, "Saya paham situasi mungkin terasa mendadak. Tapi dengan kondisi Mas Arga yang mulai pulih, publik akan memperhatikan. Bu Ratna khawatir Nyonya Alya terlalu terbebani mengurus medis, rumah, dan komunikasi sekaligus."

Alya duduk. "Bu Ratna perhatian sekali."

"Beliau hanya ingin membantu."

"Aku yakin."

Arga berkata, "Aku tidak membutuhkan asisten khusus."

Maya menatapnya dengan mata lembut. "Mas Arga mungkin belum merasa perlu. Tapi setelah acara ulang tahun kemarin, banyak pihak mulai bertanya. Jika tidak dikelola, narasi tentang kesehatan dan posisi Mas Arga bisa liar."

Kalimatnya benar.

Itu yang membuatnya berbahaya.

Alya bertanya, "Narasi liar seperti apa?"

"Misalnya, bahwa Nyonya Alya terlalu mengendalikan Mas Arga. Atau Mas Arga dimanfaatkan untuk menyerang Bu Ratna."

"Dan kamu datang untuk mencegah itu?"

"Saya datang untuk membantu membuat komunikasi lebih seimbang."

"Seimbang antara fakta dan kebohongan?"

Maya terdiam.

Arga menutup mulut, menyembunyikan senyum.

Marni tampak kesal.

Maya cepat memulihkan diri. "Saya tidak bermaksud begitu, Nyonya."

"Bagus. Karena di rumah ini, kata-kata akan dicatat."

Alya mengambil surat penugasan dan menuliskan sesuatu di bagian bawah dengan pena.

Marni terkejut. "Nyonya?"

Alya menyerahkan kembali kepada Maya.

Maya membaca.

`Diterima sebagai konsultan komunikasi eksternal. Tidak tinggal di kediaman Arga Pradipta. Tidak memiliki akses ke kamar pribadi, dokumen medis, ruang kerja, staf rumah, dan jadwal tanpa persetujuan tertulis Alya Pradipta dan Arga Pradipta.`

Wajah Maya berubah tipis.

"Nyonya, kalau saya tidak tinggal di sini, koordinasi bisa kurang efektif."

"Gunakan email."

"Tapi Bu Ratna--"

"Tidak tinggal di sini."

Maya menatap Arga. "Mas Arga?"

Arga menjawab, "Istriku sudah jelas."

Maya menggigit bibir.

Tidak kuat. Hanya cukup untuk terlihat tersakiti.

Trik yang bagus untuk pria yang ingin merasa dibutuhkan.

Sayangnya, Arga sedang terlalu sibuk belajar hidup untuk melindungi perasaan perempuan kiriman Ratna.

Marni menyela, "Tuan, Mbak Maya sudah jauh-jauh datang. Tidak enak kalau langsung diminta pulang."

Alya menatapnya. "Marni, kamu masih bekerja di sini karena aku membiarkan. Jangan membuatku meninjau ulang sebelum makan siang."

Marni pucat.

Maya segera berkata, "Tidak apa-apa, Bu Marni. Saya mengerti posisi Nyonya Alya."

"Bagus," kata Alya. "Kalau begitu kita mulai dengan pekerjaan pertama."

Maya terkejut. "Pekerjaan?"

"Kamu konsultan komunikasi, bukan tamu. Susun pernyataan singkat bahwa Arga sedang menjalani pemulihan, semua kegiatan publik akan dibatasi berdasarkan rekomendasi dokter, dan tidak ada pihak selain Arga dan istrinya yang berwenang memberi komentar tentang kondisi medisnya."

Maya diam.

"Ada masalah?"

"Bu Ratna mungkin perlu meninjau."

"Tidak."

"Nyonya, beliau Ketua Pembina Foundation."

"Pernyataan ini tentang kondisi medis Arga, bukan agenda foundation."

Arga menatap Maya. "Kamu dengar."

Maya menunduk. "Baik."

Alya melanjutkan, "Kirim draft sebelum jam tiga. Setelah disetujui, kirim ke Dira dan tim yayasan. Jangan kirim ke Ratna sebelum aku setujui."

"Itu akan sulit."

"Maka buktikan kamu kompeten."

Maya menatap Alya.

Untuk pertama kalinya, kelembutannya retak.

Di balik senyum itu ada rasa tersinggung. Mungkin ia terbiasa diterima. Mungkin Ratna menjanjikan bahwa Arga akan lebih mudah diarahkan daripada Alya.

Mungkin ia datang bukan hanya untuk menjadi asisten.

Alya tidak peduli.

Ponsel Maya bergetar.

Ia melihat layar sebentar.

Alya berkata, "Angkat."

"Maaf?"

"Kalau itu Bu Ratna, angkat. Pakai speaker."

Maya memucat. "Ini... ini urusan pribadi."

"Di rumahku, setelah kamu datang membawa surat tugas Ratna dan koper, tidak ada yang benar-benar pribadi."

Arga hampir tertawa lagi.

Maya mematikan panggilan.

Kesalahan.

Alya tersenyum.

"Kamu boleh pulang sekarang. Yusuf akan mengantar sampai gerbang. Koper tidak perlu dibuka."

Maya berdiri perlahan. "Nyonya Alya, saya harap kita bisa bekerja sama baik-baik."

"Kita lihat dari draft jam tiga."

Maya menunduk kepada Arga. "Mas Arga, semoga pemulihan Mas lancar."

"Terima kasih."

Setelah Maya pergi, Marni ikut mundur tanpa diminta.

Ruang tamu kembali sunyi.

Arga duduk di sofa. "Ratna semakin kreatif."

"Dia semakin panik."

"Maya dulu pernah dijodohkan denganku secara tidak resmi."

Alya menoleh.

Arga mengangkat bahu. "Sebelum aku dibuat terlalu sakit. Keluarganya punya jaringan rumah sakit. Ratna sempat memainkan ide itu di depan Ayah."

"Dan kamu?"

"Aku bahkan tidak kuat datang ke makan malam perkenalan."

"Beruntung."

Arga tersenyum. "Kamu cemburu?"

Alya menatapnya datar. "Pada perempuan yang membawa koper ke rumah orang sakit atas perintah ibu tirimu?"

"Jawaban yang menyakitkan."

"Kamu bertanya untuk disakiti."

Arga tertawa pelan.

Namun setelah tawa itu, ia berkata lebih serius, "Ratna tidak akan berhenti."

"Aku tahu."

"Hari ini Maya. Besok mungkin berita bahwa kamu melarangku punya asisten perempuan."

"Bagus."

"Bagus?"

"Kalau mereka membuat isu itu, kita keluarkan pernyataan medis dan akses rumah. Orang akan bertanya kenapa Ratna ingin orangnya masuk ke ruang pribadimu."

Arga menatapnya.

"Kamu sudah menyiapkan jawaban sebelum pertanyaannya muncul."

"Itu kebiasaan."

"Dari hidup lama yang belum mau kamu ceritakan?"

Alya diam.

Arga tidak memaksa.

Pukul tiga kurang sepuluh, email dari Maya masuk.

Draft-nya rapi.

Terlalu rapi untuk orang yang baru dipermalukan.

Alya membacanya, lalu mengirim revisi.

Di bagian akhir, ia menambahkan satu kalimat:

`Setiap upaya menggunakan kondisi kesehatan Arga Pradipta untuk kepentingan pihak tertentu akan ditindak secara hukum.`

Ia menekan kirim.

Di rumah utama Pradipta, Ratna pasti membaca kalimat itu tidak lama lagi.

Alya berharap perempuan itu duduk saat membacanya.

Karena perang kecil soal koper pagi ini baru permulaan.

Dan benar saja, lima belas menit kemudian, Maya berdiri di teras rumah utama dengan wajah pucat.

Ratna membaca revisi Alya tanpa bicara. Daren berdiri di sampingnya, lalu menghela napas pendek.

"Dia mengubah Maya menjadi kurir," kata Daren.

Ratna meletakkan ponsel. "Bukan. Dia mengubah Maya menjadi saksi bahwa kita mencoba masuk."

Maya menunduk. "Maaf, Bu."

Ratna tersenyum, tetapi senyum itu tidak menenangkan. "Jangan minta maaf. Lain kali, kalau Alya menutup pintu depan, kita masuk lewat opini publik."

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!