Kisah seorang wanita yang di sia-siakan oleh lelaki yang paling di cintai nya.
"Tega sekali kamu Andra, aku sudah berkorban banyak sekali untuk mu, aku meninggalkan Ayah dan Ibu ku demi kamu, bahkan Ibu ku hampir bunuh diri demi kamu bisa di terima oleh Ayah ku, tapi apa balasan kamu, kamu menyakiti aku"
Indah Paramita.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berkorban untuk ku, Aku tidak pernah memaksa mu untuk meninggalkan orang tua mu demi aku dan aku tidak pernah memaksamu untuk menikah dengan ku. Jadi jangan kau anggap kau hebat atas pengorbananmu, ingat! aku tidak pernah memintanya.
Andra wirawan
Lalu bagai manakah kisah selanjutnya?
Akankah Indah akan tetap mempertahankan cinta yang lama yang kini mulai menyakitinya.
Ataukah Indah lebih memilih pergi dengan mencari cinta yang baru dan meninggalkan kenangan lama yang awalnya bahagia tapi akhirnya hampa.
Ataukah Indah akan pergi namun tidak lagi percaya dengan laki-laki karena Indah sudah sangat benci dengan laki-laki karena Ia menganggap lelaki semua penghianat!
Inilah kisahnya
TALAK TIGA (Perjalanan Cinta Indah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
POV Author
Kini Indah sudah memasuki Prusahaan Ayah nya. Indah terus berjalan menuju ruangannya, tidak semua karyawan mengetahui Indah adalah putri tunggal dari Abdullah Abraham, pemilik dari Abraham Group.
Ketika Indah sudah sampai di ruang kerja Ayahnya ia di hampiri oleh sekertaris Abdullah.
"Nona Selamat pagi" sapa Dino, Dino adalah orang kepercayaan Abdullah bahkan Dino tau semua tentang prusahaan Abdullah, karena kejujuran Dino Abdullah menaruh kepercayaan begitu besar pada Dino.
"Ya selamat pagi, Dino kamu ikut saya masuk ada yang mau saya bicarakan" kata Indah sambil membuka pintu dan masuk lalu duduk di kursi kebesaran Abdullah.
"Apa yang Ingin Nona bicarakan dengan saya?" tanya Dino dengan sopan ia hanya berdiri di depan meja kerja Abdullah.
"Kamu duduk dulu" kata Indah dengan wajah datarnya.
Dino mengangguk, lalu duduk di kursi kini keduanya duduk saling berhadapan hanya meja kerja Abdullah yang menjadi pemisah mereka.
"Nona mau bicara apa?" Dino bertanya karena setelah Dino duduk, Indah hanya diam saja sambil memainkan bolpoin di tangannya.
Indah menaruh bolpoin yang di pegangnya ke atas meja, lalu menyandarkan dirinya di kursi yang ia duduk sambil melipat kakinya tangannya ia letakan di atas meja.
"Jadi begini Dino" Indah menjeda sesaat ucapannya.
"Kamu sudah tau kan sementara waktu saya yang akan menggantikan Ayah saya di sini?" Indah bertanya pada Dino dengan serius.
"Ya Nona, tuan Adam sudah memberi tau saya" jawab Dino dengan sopan.
Indah bangun dari duduknya dan berdiri ia berjalan menuju jendela di ruangan kerja Ayahnya itu, dan matanya memandang keluar.
"Jadi Dino selama saya bekerja di sini, saya mau memiliki seorang asisten, dan kamu tau saya sudah tidak punya waktu untuk mencari asisten dalam waktu yang lama, saya butuh sekarang" kata Indah.
"Ya Nona, tapi bukankan biasanya saya yang melakukan pekerjaan asisten dan sekertaris itu Nona" tanya Dino sedikit bingung dengan ucapan Indah.
"Ya kamu benar, tapi saya mau asisten saya seorang wanita" kata Indah.
"Tapi Nona, kalau anda mencari asisten baru apakah saya sudah tidak bekerja lagi di sini Nona, maksud nya saya di berhentikan begitu Nona" tanya Dino yang merasa takut kalau dirinya akan di pecat.
"Tidak, kamu tetap menjadi sekertaris di sini, kamu tetap menjadi tangan kanan Ayah saya seperti biasa namun saya butuh asisten seorang wanita" kata Indah sambil berjalan kembali ke kursi kerja Ayahnya.
"Oh saya mengerti Nona, dan saya akan membawa salah satu karyawan wanita untuk menemui Nona dan kalau Nona setuju maka Nona bisa menjadikannya Asisten Nona"
"Baik cepat kamu bawa kemari" kata Indah dengan wajah datar tanpa ekspresinya.
Tidak butuh waktu lama Indah menunggu, hanya sepuluh menit saja sudah ada yang mengetuk pintu Indah tau itu pasti Dino dan calon asistennya.
"Masuk"
Dino dan seorang wanita itu masuk sambil menunduk dengan sopan. Indah hanya diam menyenderkan tubuhnya di kursi kebesaran ayahnya pandangan Indah lurus melihat Dino dan wanita itu.
"Dino saya ucapka terimakasih, dan kamu boleh keluar tinggalkan kami berdua di sini, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu nanti kalau saya sudah selesai dengan dia saya akan memanggil kamu" kata Indah.
"Baik Nona, kalau begitu saya mohon undur diri" Dino menunduk lalu melangkah keluar dan kembali menutup pintu.
Indah masih dengan wajah datarnya, ia terus memandang wanita di depannya dengan seksama, wanita itu tentu merasa risih karena Indah terus memperhatikan penampilsnnya.
"Duduk"
"Iya Bu" orang itu menuduk dan mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Indah.
"Siapa nama kamu?"
"Saya Vega Sinara Bu" jawab wanita itu sambil menunduk ia tidak berani menatap wajah garang yang di tunjukan Indah.
"Tatap wajah saya" Indah berbicara tegas.
Wanita itu mendongkak dan menatap wajah Indah dengan rasa was-was.
"Kamu tau siapa saya?" tanya Indah.
"Iya Nona" jawab Vega.
"Siapa saya" tanya Indah dengan suara tegas dan wajah datarnya.
"Putri Tuan Abdullah Abraham "jawab Vega dengan menahan rasa takut.
"kenapa wanita ini seperti menemui macan apa aku segarang itu sampai-sampai untuk bernapas saja dia seperti tidak berani. kalau wanita ini tau aku ini pernah di bodohi dan di hina oleh suami ku sendiri aku yakin sa*at i***ni dia bukan takut dan menunduk tapi tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya karena menaha rasa sakit akibat tidak bisa menghentikan tawa nya"
"Bagus!"
"Apa kamu tau untuk apa kamu di bawa kemari?"
"Untuk menjadi asisten Anda Nona" jawab Vega dengan suara yang pelan namun masih bisa Indah mendengarnya.
"Apa kamu bersedia menjadi asisten saya?"
"Ii-iya Nona" jawab Vega dengan terbata-bata.
"Saya tidak suka dengan orang yang takut pada orang lain jadi kalau kamu masih mau bekerja di sini tatap wajah saya dan hilangkan ketakutan mu itu" Indah berbicara sangat tegas.
Vega menatap wajah Indah sambil menelan salivanya dengan kasar.
"Ternyata anak tuan Abdullah jauh lebih garang dari pada tuan Abdullah" batin Vega.
"Apa kamu sedang mengupat saya" tanya Indah.
"Tidak Nona"
"Lalu kenapa diam?"
"Saya bersedia menjadi asisten anda Nona" kata Vega.
"Bagus!" jawab Indah.
"Sekarang kamu temui Dino dan minta semua catatan apa saja jadwal saya dan mulai sekarang kamu yang mengatur semua jadwal saya" kata Indah sambil menunjuk pintu.
"Baik Nona" Vega mengangguk dan keluar dari ruangan itu tidak berapa lama Vega sudah kembali lagi dengan membawa apa yang di minta Indah.
"Nona nanti siang Anda ada pertemuan dengan tuan Arfan Briano Hartono pemimpin Hartono Group" Vega menjelaskan kegiatan Indah.
"Baik, tolong siapkan semuanya dan Dino juga harus ikut rapat sampai kan padanya " kata Indah.
***
Kini Indah sudah bersiap-siap untuk memasuki ruang rapat di prusahaanya karena Vega sudah memberi tau kalau dari pihak Hartono Group sudah menunggu di ruang rapat.
"Nona ayo kita ke ruang rapat karena mereka sekarang sedang menunggu Anda" kata Vega.
Indah tidak menjawab Indah hanya sekali menganguk lalu berjalan keluar dari ruanganya memasuki Lift.
"Apa Dino sudah di ruang rapat"
"Sudah Nona" jawab Vega.
Ting!.
Indah keluar dari dalam lift di ikuti Vega di belakangnya.
"Selamat siang" kata Indah saat dia sudah berada di ruang rapat.
"Siang" jawab Yeni dan Bimo.
Lalu Indah melihat dengan jelas siapa rekan bisnisnya dan ternyata di sana ada Yeni, Bimo dan Lelaki garang yang menyebut Indah gembel.
Indah terlihat terkejut begitu juga dengan ketiga orang rekan bisnisnya itu, Yeni tau kalau Indah adalah anak dari pemilik prusahaan Abraham Group tapi ia tidak tau kalau Indah sudah bekerja juga di prusahaan Abraham Group.
Yeni mulai mengerti dengan keadaan yang membuat Bimo dan Bossnya terlihat bingung karena Bimo memang tidak tau dengan pasti siapa Indah sedangkan Boss Yeni merasa heran kenapa si gembel Indah bisa masuk keruang rapat itu.