NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Kepulangan dan Pintu Kesempatan Baru

​Pagi tersenyum cerah menerobos tirai kamar Aira. Suasana kamar itu masih persis sama seperti tujuh tahun lalu hangat, penuh kenangan, dan menenangkan. Hari ini, Aira bersiap melangkah ke panggung seminar nasional yang akan digelar di salah satu balai konvensi megah di pusat kota Jakarta.

​Aira memilih busana bergaya smart casual yang memancarkan aura profesional sekaligus modis. Ia mengenakan kemeja berwarna broken white dengan kancing atas dibiarkan terbuka santai, mempertegas garis lehernya. Atasan itu dipadukan dengan oversized blazer berwarna krem yang bagian lengannya sedikit digulung ke atas sebatas siku. Untuk bawahan, ia mengenakan celana kulot panjang bermodel loose pants bertipe high-waist berwarna dark brown dengan garis lipatan setrika yang tegas di bagian depan, memberikan ilusi kaki lebih jenjang dan jenjang penampilan yang formal. Ikat pinggang kulit tipis berwarna cokelat gelap dengan gesper perak melingkar manis di pinggangnya, mempertegas siluet tubuh. Penampilannya disempurnakan dengan pointed-toe pumps berwarna cokelat tua yang senada, serta sebuah shoulder bag berukuran medium yang memuat seluruh dokumen penting dan laptopnya.

​Sambil merangkul tas laptop, Aira melangkah keluar kamar menuju dapur. Aroma harum masakan langsung menyapa indra penciumannya.

​"Selamat pagi, Ma," sapa Aira seraya meletakkan tasnya di kursi dan duduk di meja makan.

​Bu Windy menoleh, mengulas senyum penuh kehangatan melihat putri bungsunya yang tampak sangat anggun. "Selamat pagi, sayangnya Mama."

​"Mama masak apa hari ini?" tanya Aira mengintip asap tipis yang membubung dari atas kompor.

​"Misoa kuah hangat, Sayang. Enak dimakan pagi-pagi, apalagi nanti di tempat acara kamu belum tentu sempat makan siang tepat waktu," sahut Bu Windy seraya membawa dua mangkuk misoa hangat ke meja makan.

​Ibu dan anak itu menikmati sarapan bersama dengan penuh kehangatan. Selesai bersantap, Aira berpamitan dan melangkah menuju taksi daring yang sudah menunggu di depan pagar rumah.

​⚝──⭒─⭑─⭒──⚝──⭒─⭑─⭒──⚝​

​Sementara itu, hari kian beranjak siang di Rumah Sakit Medika Sentra Surya. Suasana lorong-lorong rumah sakit tampak sibuk dan padat derap langkah para medis, panggilan darurat, hingga sanak keluarga pasien yang lalu-lalang memenuhi sudut bangunan.

​Di dalam ruang konsultasi Poli Kebidanan dan Kandungan, duduk seorang dokter spesialis Obgyn dengan kacamata berbingkai elegan bertengger di hidung mancungnya. Penampilannya jauh lebih matang dibanding tujuh tahun lalu rahangnya kini dihiasi pangkasan halus janggut tipis yang justru menambah kesan karismatik dan dewasa. Pria itu adalah Arkan.

​"Kondisi kandungannya sudah jauh lebih kuat dan stabil, Bu. Saya resepkan vitamin suplemennya, ya. Jangan lupa untuk tetap rutin melakukan kontrol sebulan sekali," tutur Arkan profesional seraya menyerahkan lembar resep.

​"Baik, Dokter Arkan. Terima kasih banyak," ucap pasien tersebut sebelum pamit keluar bersama suaminya.

​Usai pasien terakhir meninggalkan ruangan, Arkan melirik arloji di pergelangan tangannya. Masih tersisa beberapa menit sebelum jam praktiknya resmi berakhir.

​Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Sosok perawat muda yang sangat familiar melangkah masuk membawa dua kotak makan siang. Siapa lagi kalau bukan Dinda.

​"Selamat siang, Kak Arkan," sapa Dinda ramah seraya meletakkan kotak makanan di atas meja kerja Arkan. "Ini Dinda bawakan makan siang. Mumpung jadwal praktik Kakak sebentar lagi selesai, yuk makan dulu."

​Arkan mengangguk tipis, menggeser sedikit tumpukan rekam medis untuk memberi ruang. Keduanya mulai menikmati makan siang dalam ketenangan.

​"Oh ya, Kak Arkan sudah mendengar kabarnya belum?" tanya Dinda di sela kunyahannya.

​"Soal apa?" balas Arkan datar tanpa mengalihkan pandangan dari makanan.

​"Aira sudah pulang ke Jakarta sejak dua hari yang lalu."

​TAKK!!!

​Gerakan sendok Arkan terhenti seketika. Pria itu mendongak, menatap Dinda dengan binar terkejut yang tak bisa disembunyikan.

​"Zara maupun Adrian tidak memberi tahu saya apa pun," bisik Arkan seraya menggeleng pelan.

​"Oh... mungkin mereka belum sempat bicara karena Aira langsung sibuk mempersiapkan acara seminarnya hari ini," terang Dinda mengerti jalan pikiran sepupunya.

​Arkan terpaku. Rasa bergejolak hebat di dalam dadanya. Ada dorongan kuat untuk segera berlari dan menemui gadis yang selama tujuh tahun ini selalu mengisi doa-doanya. Namun, keraguan mendadak menahannya. Ia teringat bagaimana Aira memilih menarik diri dan memberi jarak yang sangat jauh sebelum kepindahannya ke Surabaya dulu.

​"Kakak tidak berniat untuk menemui dia?" pancing Dinda saat melihat saudaranya itu malah melamun.

​Arkan tersadar, menghela napas panjang lalu menggerakkan kepalanya pelan. "Entahlah... Mungkin nanti kalau ada waktu luang. Saat ini jadwal operasi dan praktikku masih sangat padat."

​Dinda yang memahami luka dan kehati-hatian Arkan memilih tidak mendesak lebih jauh. Ia mengangguk paham dan melanjutkan makan siangnya dalam hening.

​⚝──⭒─⭑─⭒──⚝──⭒─⭑─⭒──⚝​

​Di sisi lain kota, di dalam sebuah ruang auditorium megah berkapasitas ratusan orang, riuh tepuk tangan baru saja reda. Acara seminar nasional psikologi itu berjalan sukses besar. Pemaparan yang komprehensif dan interaktif meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta.

​Dr. Eko selaku ketua tim riset dan pemateri utama tersenyum bangga. Ia berkali-kali menjabat tangan Aira usai sesi penutupan.

​"Saya sangat puas dengan hasil hari ini, Aira. Pemaparanmu sangat lugas, sistematis, dan mudah dipahami. Apalagi saat sesi tanya jawab tadi kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari praktisi senior dengan sangat percaya diri," puji Dr. Eko tulus.

​Aira menunduk sopan. "Terima kasih banyak, Pak Eko. Ini semua berkat bimbingan dan kepercayaan dari Bapak."

​"Pak Eko!" panggil sebuah suara berat dari arah belakang.

​Dr. Eko menoleh, lalu tersenyum lebar. "Oh, Pak Ridwan! Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu hadir di acara kami."

​"Hahaha, mana mungkin saya melewatkan seminar sehebat ini? Pemaparan materi tadi betul-betul luar biasa!" puji pria paruh baya berpenampilan bersahaja namun berwibawa itu.

​"Terima kasih, Pak Ridwan. Tentu keberhasilan ini bukan cuma karena saya, tapi juga berkat kerja keras asisten peneliti sekaligus co-speaker saya ini," ujar Dr. Eko menepuk bahu Aira dengan bangga. "Aira, perkenalkan, beliau adalah Dr. Ridwan, jajaran rektorat sekaligus pemilik Universitas Mahawangsa."

​Pak Ridwan menatap Aira dengan binar kagum. "Wah, luar biasa... Saya tidak menyangka ada akademisi muda yang begitu energik dan tenang. Cara kamu menyampaikan kasus klinis tadi sangat baik dan sederhana, sehingga audiens dari berbagai latar belakang bisa mencernanya dengan sangat baik."

​Aira tersenyum lembut, menganggukkan kepala penuh hormat. "Salam kenal, Pak Ridwan. Terima kasih atas kehadiran dan apresiasinya. Semua yang saya sampaikan tak lepas dari ilmu dan arahan yang diberikan Dr. Eko serta para dosen pembimbing saya selama ini."

​"Sikap yang sangat rendah hati," puji Pak Ridwan mengangguk puas. "Jarang sekali menemukan talenta muda dengan kombinasi kapasitas akademik dan attitude sepadan seperti kamu."

​"Betul sekali, Pak Ridwan. Aira ini adalah salah satu lulusan terbaik kami yang konsisten berprestasi sejak jenjang S1 hingga magister profesi," timpal Dr. Eko.

​Pak Ridwan manggut-manggut. "Lalu, Nona Aira, apa rencanamu setelah menuntaskan rangkaian seminar ini?"

​"Saya dengar Aira berencana mulai mengajar sebagai dosen di Jakarta, Pak," sahut Dr. Eko mendahului.

​"Benarkah? Di universitas mana kamu akan mengajar, Nona Aira?" tanya Pak Ridwan tertarik.

​"Saya baru beberapa hari kembali ke Jakarta, Pak, dan saat ini baru saja memasukkan berkas lamaran ke beberapa kampus," jawab Aira jujur dan sopan.

​Mata Pak Ridwan berbinar. "Kalau begitu, bagaimana kalau nanti malam Nona Aira menghadiri jamuan makan malam di rumah saya? Saya ingin sekali mengenalkan kamu kepada keluarga saya, sekalian kita berbincang santai mengenai posisi staf pengajar di Universitas Mahawangsa."

​Aira sempat tersentak kaget mendengarnya. Tawaran mendadak dari pemilik universitas ternama tentu bukan hal sepele. Ia spontan melirik ke arah Dr. Eko untuk meminta petunjuk.

​Dr. Eko tersenyum hangat, menganggukkan kepala mantap. "Itu kesempatan emas yang luar biasa, Aira. Kesempatan baik jarang datang dua kali. Datanglah, dan tunjukkan potensi terbaikmu."

​"Tapi... apakah Pak Eko tidak ikut serta? Rasanya kurang sopan jika hanya saya yang hadir," bisik Aira merasa sungkan pada dosennya.

​Kedua pria paruh baya itu terkekeh geli.

​"Tenang saja, Aira. Saya sudah terlalu sering makan malam di rumah Pak Ridwan. Kedekatan kami bahkan lebih dari sekadar rekan kerja kami ini teman memancing setiap akhir pekan," terang Dr. Eko terkekeh.

​"Benar kata Pak Eko. Jadi bagaimana, Nona Aira? Apakah kamu menerima undangan makan malam saya?" tanya Pak Ridwan kembali.

​Aira mengulas senyum profesional. "Baik, Pak Ridwan. Terima kasih banyak atas undangannya. Saya dengan senang hati akan hadir."

​"Bagus! Saya tunggu nanti malam jam tujuh tepat di kediaman saya, ya."

​"Baik, Pak. Saya akan datang tepat waktu."

​"Hahaha, disiplin waktu yang sangat baik! Nah, Pak Eko, mari kita cari makan siang dulu. Acara tadi cukup menguras energi," ajak Pak Ridwan. "Aira, kamu mau bergabung sekalian?"

​"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Ridwan, Pak Eko... Bukan maksud saya tidak sopan, tapi setelah ini saya masih ada beberapa keperluan pribadi yang harus diselesaikan. Mohon izin saya tidak bisa ikut bergabung makan siang," tolak Aira dengan gestur sangat halus dan penuh hormat.

​"Ah, tidak masalah! Santai saja," balas Pak Ridwan ramah.

​"Terima kasih banyak, Pak. Saya mohon pamit terlebih dahulu. Semoga hari Bapak sekalian menyenangkan," pamit Aira sebelum berbalik melangkah meninggalkan auditorium untuk memesan taksi daring.

​⚝──⭒─⭑─⭒──⚝──⭒─⭑─⭒──⚝​

​Tujuan Aira selanjutnya adalah sebuah pusat perbelanjaan modern di kawasan Jakarta Selatan. Langkah kakinya sempat terhenti sejenak di atrium utama mall. Banyak hal yang telah berubah dan bertambah megah sejak terakhir kali ia menginjakan kaki di sana tujuh tahun lalu.

​Ia segera melangkah menuju salah satu butik busana formal. Aira ingin memastikan busana yang akan dikenakannya untuk jamuan makan malam nanti malam terkesan sopan, elegan, dan pas untuk menghormati tuan rumah.

​Setelah memilih beberapa potret gaun dan setelan semi-formal, pilihannya jatuh pada sebuah busana setelan elegan berpotongan simpel namun memancarkan kesan anggun. Dengan puas, ia menyelesaikan pembayaran di kasir.

​Saat melangkah keluar dari butik, nada dering ponsel di dalam tasnya berbunyi. Layar menunjukkan nama sang Mama.

​"Halo, assalamu’alaikum, Ma. Ada apa?" sapa Aira lembut.

​"Wa’alaikumsalam, Sayang. Acaranya sudah selesai?" tanya Bu Windy dari seberang telepon.

​"Sudah dari tadi, Ma. Ini Aira lagi di mall, sekalian jalan-jalan sebentar."

​"Oh begitu... Kalau sudah tidak ada urusan lagi, segera pulang ya, Nak."

​"Iya, Ma. Ini Aira sudah selesai belanja dan langsung jalan pulang."

​"Iya, hati-hati di jalan ya, Sayang."

​Usai menyudahi panggilan, Aira bergegas menuju area pick-up taksi. Hari mulai beranjak sore, dan ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum bersiap menghadiri makan malam penting nanti malam.

​Bersambung__

_____

Style Aira saat seminar wee cantik enggak?☺

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!