NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandaran Cinta Di Pundak Dafa? 19.

Hujan justru makin deras, menciptakan dinding air yang mengisolasi halte dari bisingnya jalan raya. Keheningan di antara mereka mulai terasa mencekik.

Lilis sibuk mengencangkan cengkeraman pada jaket Dafa, sementara Dafa sesekali mengetukkan sepatunya ke lantai, mencari pengalihan.

"Lu kalau mau pulang duluan, pulang aja, Daf. Jaket lu bisa gue balikin besok," ujar Lilis memecah kesunyian. Suaranya agak diredam oleh kain tebal yang membungkus kepalanya.

Dafa menoleh, mendengus pelan. "Ngomong apa sih? Motor gue di situ, lu di sini. Masa gue tega ninggalin cewek sendirian di halte sepi jam segini? Dikira cowok apaan gue."

"Ya kan kita cuma akting," sahut Lilis teramat pelan, hampir tertelan suara petir yang menggelegar di kejauhan.

Dafa terdiam. Matanya yang tajam menatap samping wajah Lilis yang separuhnya tertutup tudung jaket. "Akting juga ada etikanya, Lis. Lagian, siapa yang lagi akting sekarang? Emang ada anak sekolah kita yang lewat badai begini?"

Lilis bungkam. Kalimat Dafa ada benarnya, dan hal itu justru membuat dadanya makin sesak. Jika tidak ada penonton, untuk apa Dafa repot-repot bersikap manis?

Untuk mengalihkan debar jantungnya yang kembali tidak sehat, Lilis menggeser duduknya, sedikit mendekat ke arah Dafa yang berdiri di dekat tiang. Dia menekuk lututnya ke dada, menenggelamkan wajahnya di sana.

Rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerangnya. Bukan cuma lelah fisik karena latihan, tapi lelah mental menahan beban ekspektasi orang-orang.

"Daf," panggil Lilis, matanya menatap lurus ke depan.

"Hmm?" Dafa beralih posisi, kini ikut duduk di bangku halte, berjarak satu jengkal dari Lilis.

"Lu pernah ngerasa capek banget gak, sama sesuatu yang lu perjuangin, tapi orang lain cuma nganggep itu main-main?"

Dafa menoleh, menyadari ada nada yang berbeda dari suara Lilis. Tidak ada sinisme atau ketegangan seperti biasanya. Yang terdengar hanya kepasrahan. "Maksud lu? Soal apa?"

"Anak-anak cheerleader," jawab Lilis singkat. Dia menghela napas, membuat uap tipis keluar dari bibirnya karena udara dingin. "Semua orang di sekolah taunya anak cheers itu cuma pelengkap. Cuma cewek-cewek rok mini yang modal teriak-teriak di pinggir lapangan pas tim basket lu lagi main. Centil. Gak ada esensinya."

Dafa mendengarkan tanpa memotong. Sebagai kapten tim basket, dia tahu persis stigma itu memang melekat erat di koridor sekolah mereka.

"Padahal mereka gak tahu," lanjut Lilis, suaranya mulai bergetar emosional namun tetap berusaha ditahannya. "Tangan anak-anak gue biru-biru karena nahan beban pas bikin pyramid. Si Meta minggu lalu engkelnya geser karena salah landing pas latihan flying. Kita latihan fisik sama kerasnya kayak tim lu, Daf. Malah mungkin lebih detail karena salah hitungan satu detik aja, taruhannya nyawa teman yang dilempar ke atas."

Lilis menunduk, menatap ujung sepatunya yang basah. "Impian gue gak muluk-muluk sebelum lulus. Gue cuma mau bawa tim ini menang di Kejurnas bulan depan. Gue mau buktiin ke kepsek, ke anak-anak basket yang suka ngetawain kita, kalau kita ini atlet. Kita punya harga diri yang sama gedenya sama piala-piala yang lu bawa pulang."

Dafa terpaku. Ini pertama kalinya dia melihat sisi Lilis yang ini. Bukan Lilis si ketua cheers yang galak, judes, dan defensif. Ini adalah Lilis yang rapuh, yang memikul beban tanggung jawab sendirian demi nama baik teman-temannya.

Udara malam makin menggigit. Lilis mendadak menggigil kecil. Tanpa sadar, karena ruang gerak yang sempit dan dorongan rasa lelah yang amat sangat, kepala Lilis yang masih terbungkus jaket itu perlahan miring, lalu bersandar di bahu lebar Dafa.

Dafa tersentak kecil. Tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Bahunya mendeteksi bobot ringan kepala Lilis, bersamaan dengan aroma sampo stroberi dari rambut cewek itu yang menyeruak di antara wangi parfumnya sendiri.

Dafa ingin bergerak, tapi urung saat mendengar helaan napas berat Lilis yang terasa pasrah di dekat lehernya. Cewek itu tampaknya sudah terlalu lelah untuk peduli pada batasan pacaran fiktif mereka.

"Bahu lu keras, tapi lumayanlah daripada tiang halte," gumam Lilis, matanya terpejam. Dia mencari posisi nyaman, menolak kenyataan bahwa tindakannya ini sangat berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

Dafa perlahan merilekskan otot bahunya, membiarkan Lilis bersandar dengan lebih nyaman. Dia menatap lurus ke depan, ke arah jalanan yang sepi, namun fokusnya seratus persen terpusat pada gadis di sampingnya.

"Gue gak pernah mikir kalian centil," ucap Dafa lembut, memecah keheningan dengan kejujuran yang langka.

Lilis membuka matanya sedikit, mendengarkan.

"Tiap kali tim basket main, dan kalian ada di pinggir lapangan... jujur, lu pada bikin atmosfernya beda. Teriakan lu Lis, kedengaran paling kencang tahu gak dari tengah lapangan. Bikin anak-anak cowok ngerasa kalau kita gak berjuang sendirian," Dafa terkekeh pelan, mengingat bagaimana suara melengking Lilis sering kali mendominasi gor.

Dafa menoleh sedikit, menatap puncak kepala Lilis yang bersandar di bahunya. "Soal Kejurnas... lu pasti bisa. Gue udah sering liat lu latihan sampai magrib lewat jendela ruang OSIS. Lu pemimpin yang hebat Lis. Anak-anak lu respek sama lu karena lu yang paling depan pas pasang badan kalau mereka salah."

Mendengar penuturan Dafa, ada sesuatu yang hangat yang jauh lebih hangat dari jaket tebal yang dipakainya, merembes masuk ke dalam dada Lilis. Pengakuan sederhana itu meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanannya malam ini.

Tanpa sadar, Lilis tersenyum kecil di balik kegelapan tudung jaketnya.

Rasa dihargai oleh seseorang yang selama ini dianggapnya musuh ternyata se-melegakan ini.

"Makasih, Daf. Lu ternyata gak se-brengsek yang gue kira," bisik Lilis, matanya mulai memberat karena kantuk dan rasa nyaman yang magis.

Dafa tidak membalas ejekan itu. Pandangannya perlahan turun, menatap wajah Lilis yang kini terlihat begitu damai dalam tidurnya yang mulai menjemput. Bulu mata cewek itu yang lentik, hidungnya yang kecil, dan bibirnya yang sedikit terbuka menahan napas teratur.

Detik itu juga, gemuruh hujan di sekitar mereka seolah mendadak senyap.

Dafa merasakan ada getaran aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya di ulu hatinya.

Itu bukan rasa kasihan, bukan juga tuntutan akting agar terlihat sebagai pacar yang baik.

Ada debaran konstan yang menuntut pengakuan di dalam dadanya.

Sentuhan fisik yang tidak disengaja ini, pembicaraan intim ini, dan bagaimana Lilis mempercayainya malam ini tanpa topeng sinisnya... semuanya tiba-tiba terasa begitu nyata.

Dafa Mahendra, si cowok yang selalu menganggap hubungan asmara di SMA sebagai komedi remeh, malam itu menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus mendebarkan.

Tatapan matanya yang biasa malas dan cuek, kini melembut sepenuhnya, mengunci wajah Lilis dengan intensitas yang tidak bisa dibohongi lagi. Hatinya telanjur jatuh, tepat di bawah atap halte yang bocor, terperangkap bersama gadis yang awalnya hanya bagian dari kesalahan sepele di koridor sekolah.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!