Rania menatap tubuh Rina yang terlihat begitu kurus kering seolah tidak memiliki daging, padahal bisa dibilang bahwa Rina memiliki porsi makan yang begitu banyak ketika sedang mengisi perut, namun entah ke mana semua makanan yang sudah masuk sehingga dia terlihat begitu kurus dan pucat.
"Kok Mbak punya air susu?" Rania bertanya dengan nada heran.
Namun pertanyaan itu tidak pernah Rina jawab, tentu saja membuat Rania semakin bingung sehingga dia memutuskan untuk mencari tahu Dan setelah sedikit demi sedikit mengetahui maka Rania yang menjadi sangat syok, terlebih lagi dia juga menyadari bahwa Rina sama sekali tidak memiliki bayi namun dia terus memiliki air susu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Memohon bantuan
Wanita cantik itu menatap Rania dengan tatapan tajam yang sangat menusuk sehingga membuat gadis yang sedang duduk itu menjadi kebingungan, mau bertanya juga bingung ingin memberikan pertanyaan apa karena saat ini mereka datang bertamu dan ingin meminta bantuan kepada Purnama atas masalah yang sedang Rania hadapi saat ini.
Mbok Inem juga masih terdiam karena dia bingung mau berkata apa kepada Purnama, bila tidak salah ingat maka wanita yang duduk di hadapan dia saat ini memang Purnama. Mbok Inem pernah bertemu dengan wanita itu beberapa kali tapi sudah begitu lama sehingga bisa dikatakan saat ini dia sudah lupa bagaimana wajah wanita yang bernama Purnama itu.
Agak takut juga bila banyak berbicara karena nanti bila sedikit saja ada kesalahan maka yang ada mereka akan gagal sudah, jadi lebih baik mereka mengikuti dulu alur ke mana Purnama akan membawa percakapan tersebut, sebab tidak mungkin juga dia memberikan tatapan tajam seperti itu kepada Rania tanpa alasan sama sekali.
Hanya Rania saja yang merasa bingung dan juga takut melihat tatapan Purnama yang begitu tajam menusuk, selama ini mana pernah ada manusia yang berani bertatapan mata dengan Purnama secara langsung, sama seperti Rania yang langsung menundukkan kepala karena tidak sanggup melihat power yang ada di dalam diri Ratu Ular itu.
''Tuyul.'' Purnama menatap mereka berdua.
''Benar, karena kami sudah membuktikan sendiri saat ingin melihat tuyul itu.'' Mbok Inem dengan cepat mengganggu.
''Ini Aku sedang memberitahu kalian, bukan bertanya!'' ucap Purnama.
''Oh eh iya.'' Mbok Inem mengangguk karena takut bila nanti salah lagi.
''Tapi kalau tuyul itu memang benar lalu apa dia akan menyusu pada saya juga?'' Rania memberanikan diri untuk bertanya.
''Dia sudah menyusu kepada dirimu dan saudara kandung kau itu setuju.'' jawab Purnama sehingga membuat Rania kaget Setengah Mati.
''Kenapa bisa begitu?!'' pekik Rania karena dia memang takut membayangkan tuyul itu mendatangi dia.
''Kau memiliki darah yang sama dengan pemilik utama, dan bisa dikatakan selama ini kau adalah orang yang memakan banyak uang tersebut.'' jelas Purnama.
''Mbak tolong saya, Mbak!'' Rania menjatuhkan diri di kaki Purnama agar mendapat pertolongan.
''Kami datang ke sini marena mengharapkan pertolongan dari dirimu, Kasihan dia hanya tinggal sebatang kara saat ini.'' Mbok ini yang tetap berusaha membantu untuk berkata walau nanti akan kena bentak lagi.
Purnama masih tetap diam dan sudut mata dia melirik kepada Rania yang sudah menangis ketakutan, sebab Gadis itu pasti tidak mau bilang sampai menyusui tuyul yang dijadikan peninggalan oleh Rina, terlebih lagi dia merasa sangat kaget karena Rina malah setuju bila dia yang menyusui tuyul itu kembali.
Purnama tidak mungkin berbohong tentang hal itu dan Rania juga sudah memutuskan dia akan percaya apa saja omongan yang keluar dari mulut Purnama, Sebab Dia sangat yakin memang hanya Purnama yang bisa membantu dirinya untuk terlepas dari jerat pesugihan tersebut, bahkan Bila perlu Rania ingin meminta tolong agar arwah Rina mendapat ketenangan.
''Kakak mu itu selamanya akan jadi arwah gentayangan karena dia telah memberikan kehidupan kepada para iblis.'' Purnama tahu apa yang Rania pikirkan.
''Jadi dia akan tetap gentayangan seperti itu?'' Rania berkata dengan air mata berderai.
''Ya, untuk sekarang tidak usah kau pikirkan dulu dia karena dia juga sudah mati.'' ujar Purnama dengan nada yang begitu dingin.
''Kalau orang yang Salah tanggap maka akan mengatakan dia itu wanita yang tidak punya hati.'' Mbok Inem membatin sendirian.
''Benar, bahkan orang yang tidak salah tangga pun akan mengatakan hal seperti itu karena aku memang tidak punya hati.'' ujar Purnama sambil tersenyum kepada Mbok Inem.
''Anu, saya... '' Mbok Inem bingung mau menjelaskan bagaimana.
''Tolong saya ya, Mbak.'' Rania memegang dengkul Purnama.
''Kau kalau mau pegang-pegang saja jangan antara iya dan tidak seperti itu, pegang kok seperti meraba kan aku nanti bisa jadi birahi. mana sekarang sudah tidak punya lawan!'' Purnama merutuk kepada Rania.
''Dasar ular gendeng!'' Aksara mengumpat karena dia ikut mendengarkan.
''Kadang mulut dia itu memang perlu kena tabok karena kalau berbicara suka sekali sembarangan, tidak lihat yang menjadi lawan bicara itu masih gadis kecil.'' Jeno juga ikut merutuk.
Benar apa yang dikatakan oleh dua arwah tampan tersebut karena sekarang Rania menjadi bengong, terlebih lagi wajah Purnama sama sekali tidak menggambarkan bahwa dia sedang bercanda sehingga Rania melirik Mbok ini untuk meminta jawaban karena dia tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Purnama ini.
''Kok sungkeman, ada acara apa ini memangnya?'' Arya muncul dan dia langsung bertanya.
''Ini satu lagi, apa biji mata dia itu tidak melihat!'' kesal Aksara.
''Udah sih, Kau ini kenapa kok emosian sekali?'' Jeno menepuk pundak pendekar Pedang emas itu.
''Tampan sekali bocah ini.'' Mbok Inem saja terpesona ketika melihat Arya datang dengan senyum menawan.
Tapi senyum itu perlahan pudar begitu saja ketika melihat Rania dan dia juga merasakan ada sesuatu yang sangat besar mengintai keselamatan gadis tersebut, takkan Purnama tidak perlu menjelaskan apa yang telah terjadi karena saat ini Arya dengan cepat menyadari bahwa orang yang datang ke rumah mereka pasti mengalami gangguan gaib seperti Rania sekarang.
''Tolong minta kepada Gun garam kasar dan juga akar pohon dari sungai wadal.'' Purnama memberi perintah kepada Arya.
''Oke.'' Arya berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu.
''Jadi kamu memang bisa membantu kami agar dia terbebas dari jerat tuyul itu, nduk?'' Mbok ini bertanya dengan lembut sehingga hati Purnama sedikit tersentuh.
''Ya, untuk sementara pakai saja dulu apa yang aku berikan itu dan aku akan mencari tahu tentang tuyul tersebut.'' Purnama sedikit menurunkan nada suara dia.
''Mbak Terima kasih banyak karena mau membantu aku seperti ini.'' Rania sangat senang karena akhirnya dia mendapat pertolongan.
''Hehhhh lelah nya kami!''
Julia dan Airin mendadak saja datang karena mereka usai bertempur menghadapi arwah wanita yang telah menjadi Ibu susu tuyul itu, ini mereka sudah tiba di rumah dan sedikit terlambat karena percakapan antara purnama dan Rania sudah terjadi sehingga sekarang mereka hanya menatap dengan pandangan bingung.
''Ahh Syukurlah kalau dia sudah bisa datang ke rumah ini.'' Julia merasa lega.
''Kok kau tahu tentang dia?'' Jeno bertanya penasaran.
Julia segera menceritakan apa yang telah terjadi sehingga Jeno pun paham bahwa mereka telah terlebih dahulu bertemu dengan Rania beserta dengan Mbok Inem, sebab Rania bisa datang ke rumah ini berkat pertolongan mereka berdua juga.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.