Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Senyuman sempurna serta langkah yang elegan. Ashilla menyapa setiap orang yang ia lewati. Banyak yang mengenalnya dan banyak yang menyukai nya. Dan itu akan Dia manfaatkan sebaik-baiknya.
Di perjalanan menuju ke kantin ,hari ini ia tak ke kantin sekolah abangnya. Karena menurut pesan yang di kirim pria itu. Mereka saat ini berada di kantin SMP - tentu saja bersama Vian. Dari arah jauh ia sudah bisa melihat interaksi kecil mereka. Namun dia tetap tenang. Berjalan menghampiri dengan senyum yang masih merekah manis
"Hai bang, lama nunggu ya!!" Sapa nya ke arah Revano, ia melihat beberapa pria yang duduk di sana "hai kakak-kakak " siapanya. Ia tersenyum manis menatap lembut ke arah mereka semua . Matanya menyipit sempurna memperlihatkan kesan manis dan cantik dari ashilla.
"Hai dedek paling manis sedunia , sini duduk sama AA Zian " ucap Zian . Dia mendorong tubuh jangkung yang ada di sampingnya. Dengan tidak berperasaan . Ryan terpekik, saat tubuh nya terhuyung namun untungnya tidak jatuh mengenai lantai. "Dasar anj" gumamnya , menatap tajam Zian dengan tangan terkepal menahan amarah.
"Gak kak , aku duduk di sini aja " ashilla duduk tepat di depan Vian . Tersenyum kecil dengan sorot yang sedikit tajam. Ia mengalihkan atensi nya pada Ryan , dan mengubah mimik wajah nya menjadi khawatir dan cemas " kak Ryan gak papa , ada yang sakit?" Tanya nya.
Ryan tertawa kecil" gak papa kok ,dia emang gitu orang nya" ucapnya sedikit tertekan. Ingin sekali ia mengupat dan menerkam Zian dengan beberapa Bogeman di seluruh tubuh nya agar perasaan kesalnya hilang. Namun ada peraturan tidak tertulis yang di buat Revano. Jangan mengupat atau berperilaku buruk di depan adiknya.
"Ouh iya Abang kenapa gak tungguin aku dulu , Vian kamu gak kasih tau Abang dan yang lain ya?" Dia menatap ke arah Revano dan berbalik menatap Vian dengan pandangan kecewa. "tadi di kasih tau kok. Tapi kata Abang duluan aja. " jawab nya.
"Tapi kan kamu tau aku mau pergi ke WC sebentar , seharusnya kamu paham dong "katanya. Menatap Vian minta penjelasan. Vian terdiam sebelum meminta maaf dengan tulus pada ashilla." Udahlah gak papa" Rajuk ashilla . Dia terlihat marah dengan kesal meninggalkan kelompok itu.dan lebih memilih ke tempat para perempuan yang berkumpul di pojokan.
Vian merasa bersalah ,dia menatap Vano dengan pandangan bingung " bang apa aku salah?" Tanya nya. Revano menggeleng " dia emang gitu anaknya , adek gak salah kok"
Ashilla datang dengan langkah agak berat, menghentakkan kaki kecilnya tanpa sadar. Beberapa siswa menoleh.
"Guys... gabung ya," ujarnya sambil duduk. Senyumnya kecil, tapi jelas tidak secerah biasanya.
"Lho, kenapa di sini? Kok nggak sama Abang lo di sana?" tanya jian sambil menunjuk kelompok cowok di kejauhan.
Ashilla memutar bola matanya malas . Membuat nafas berat seolah sedang sesak" lagi males aja."
"Kenapa, berantem sama bang Revano?"tanya Milan yang ada di sana. Di sana juga ada 2 teman lainnya seperti Sarah dan raya. Dan sisanya teman sekelas mereka." Bukan , cuma sama Vian" nada suaranya tetap tenang namun terkesan tersinggung.
Sarah ikut menimpali, "Kenapa emangnya?"
Ashilla memainkan rambutnya, seolah mencoba menutupi ekspresi.
"Tadi aku bilang mau ke WC sebentar... tapi pas balik mereka udah jalan semua. Aku kira mereka nunggu."
Milan langsung merangkul bahunya.
"Ya ampun... tapi mungkin mereka nggak sengaja, ass. Cowok kan suka gitu."
"Aku tahu..." Ashilla mengangguk kecil, tampak menahan sesuatu. "Cuma... rasanya agak nggak dianggap aja."
Jian- si bendahara yang biasanya logis ikut bicara, "Tapi Vian gak salah? Dia kan anak baru, mungkin belum sepenuhnya paham."
"Aku nggak marah kok... cuma kaget."
Ashilla tersenyum kecil, seolah berusaha bijak.
"Lagipula, aku cuma pengen dipikirin juga sekali-sekali. Capek kalau harus ngertiin terus "lirihnya -tersenyum kecut
Seorang gadis dengan telepon genggam di tangan nya datang. Matanya masih pokus sama hp nya dan duduk di samping ashilla yang masih kosong."kenapa, ada apa,siapa,ada gosip panas ya? Kok suasananya gini?"ucapnya
"Gak Mel , cuma ngeluh dikit " saut ashilla di sampingnya.
"Ngeluh apa, ceritain dong"
"Jangan as, nanti ke sebar jadi gosip dehh"
"IHH aku juga pilih-pilih kalau nyebar gosip " Rajuk nya. Dia Amel -si gosip berjalan.
"Udah gak mungkin Amel gitu" sela ashilla,dia menatap Amel dengan senyuman yang kecil " dia kan baik "
Ashilla menghela napas berat. Lebih seperti enggan dengan intonasi suara yang rendah " aku cuma merasa capek , semenjak ada Vian aku dilimpahi banyak tanggung jawab baru"
"Vian ,siapa itu?" Tanya nya
"Dia itu adik bang Revano yg sesungguhnya ,dan tadi pagi dia mulai masuk ke sekolah ini" ucap Sarah menanggapi.
" tanggung jawab apa?, dia nakal ya sampe buat kamu Cape kaya gini?"
"Gak tapi tubuh nya rentan , jadi dia gampang sakit. Jadi aku harus menjaganya di mulai di sekolah dan di rumah"
Amel terperangah mendengar kata-kata ashilla. "Gak harus gitu dong, kalau dia sakit ya dia yang harus menjaga diri . Bukan di jagain cewek yang lemah kaya kamu. Kamu seharusnya di jagain as" bantah Amel.
Yang lain terlihat ragu , namun tak ayal mengangguk menyetujui" ya mungkin karena aku bukan anak kandung mereka - aku kan cuman ponakan Tante Diana " ucap ashilla lemah.
"Jangan berpikir negatif as, walaupun kamu bukan anak kandung mereka kami gak peduli kok. Jadi jangan buat itu jadi kelemahan " ucap Jian . Ashilla melihat mereka satu-satu lalu tersenyum kecil.
"Makasih ya... serius. Aku lega denger itu."
Ia melirik ke Amel yang tampak merasa bersalah.
"Mel, jangan gitu dong mukanya... aku nggak papa kok."
Ia menjembil pipi Amel pelan.
"Aduh! As!" Amel meringis tapi tertawa.
Ashilla ikut tertawa kecil... lalu tiba-tiba merendahkan suara.
"Jangan bilang siapa-siapa ya. Terutama kamu, Mel. Aku nggak mau orang-orang salah paham."
"As..."
Ashilla menoleh. Amel tampak ragu.
"Kamu terlalu baik, as. Aku bersyukur banget bisa temenan sama kamu," ucap Amel sebelum memeluknya erat.
Ashilla membalas pelukan itu perlahan.
Di balik bahu Amel, bibirnya melengkung membentuk senyum licik, begitu tipis hingga tak ada yang menyadari.
Tangan Ashilla mengelus punggung Amel lembut, hampir menenangkan.
"Iya... as juga bersyukur punya kalian."