Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI-HARI BERLALU - ARYA ARSYAD SIKUMBANG BERUSIA TIGA TAHUN
Hari-hari berlalu dengan cepat di Pande Sikek. Musim panen silih berganti. Sapi hasil aqiqah yang dulu dituntun berjalan kaki dari Payakumbuh kini sudah menjadi dua ekor di kandang belakang, beranak satu. Dan bayi gembul yang dulu ditawa cekikikan di halaman rumah gadang ketika aqiqahnya, kini telah memasuki usia tiga tahun. Namanya tetap Arya Arsyad Sikumbang.
Walaupun bicaranya agak cadel, itu yang membuat semua orang di rumah gadang gemas padanya. Kalau ia meminta minum, ia bilang "Mimi, Mimi". Kalau ia memanggil ayahnya, ia bilang "Ayah... Yah...". Huruf 'R' belum bisa ia sebutkan dengan jelas. Kata "Payobadar" ia sebut "Payobadal". Kata "Sikumbang" ia sebut "Sikumbang" tapi 'R' nya hilang. Tapi matanya, matanya sangat tajam dan ingin tahu.
Di rumah itu, Arya adalah anak bungsu. Di atasnya ada kakaknya, Uni Etek Rahma yang sudah kelas 3 SD Inpres Pande Sikek. Setiap pulang sekolah, Uni Rahma meletakkan buku-buku pelajarannya di atas tikar pandan. Buku-buku itu sudah lusuh, sampulnya dari kertas semen, tulisannya masih pakai ejaan lama. Ada buku 'Ini Budi', ada buku berhitung.
Anehnya, tidak seperti anak umur tiga tahun lain yang suka main tanah atau main kelereng di halaman, Arya Arsyad Sikumbang tergolong suka bermain dengan buku-buku pelajaran kakaknya itu.
Ia tidak merobeknya. Ia hanya duduk, membuka-buka halaman demi halaman. Kadang ia bolak-balik. Kadang ia menatap huruf-huruf itu lama sekali, seolah huruf-huruf itu adalah gambar kuda atau gambar mobil-mobilan. Siti Aminah, ibunya, sering memarahinya dengan halus.
"Arya, jan dirusak buku Uni. Beko Uni marah," kata Siti Aminah.
Tapi Arya hanya menjawab dengan cadelnya, "Indak... Arya... ncaliak... sajo, Mak."
Abdullah bin Rais Payobadar, ayahnya, melihat ada yang berbeda pada anak bungsunya itu. Ia masih ingat perjuangannya enam bulan menabung pakai uang receh Rp 10, Rp 25 dan merokok rokok klobot kulit jagung demi aqiqah sapi anak ini. Ia merasa anak ini membawa berkah. Sawahnya tahun ini hasilnya bagus.
Suatu sore, ketika hujan rintik-rintik turun di Pande Sikek dan tidak bisa ke ladang, Abdullah duduk di beranda sambil melinting rokok klobotnya seperti biasa. Kulit jagung kering dan tembakau iris Rp 10. Arya kecil yang berumur tiga tahun itu datang mendekat, membawa buku 'Ini Budi' milik Uni Rahma yang sudah sobek ujungnya.
"Ayah... Yah... ko... a... pa?" tanya Arya dengan cadel, menunjuk huruf A besar.
Abdullah tersenyum. Ia pangku anak bungsunya yang pipinya tembem itu.
"Ini huruf A, Nak. A untuk Ayah," kata Abdullah.
Arya mengulang dengan cadel, "A... un... tuk... Ayah."
Hari itu, untuk pertama kalinya, Abdullah bin Rais Payobadar mengajari anaknya belajar mengenal huruf abjad. Ia tidak punya papan tulis. Ia hanya punya arang dari tungku dapur dan lantai papan rumah gadang.
Ia tulis di lantai: A, B, C, D, E.
"Arya, ikuti Ayah. A... B... C..."
Arya dengan mata bulatnya memperhatikan arang yang menggores lantai. Ia mengulang, walaupun cadel, tapi ia ingat bentuknya.
Besoknya, Abdullah melanjutkan. Ia ajari juga mengenal angka. Ia ambil biji jagung yang biasa untuk pakan ayam.
"Ini angka 1, Nak. Satu biji jagung. Ini angka 2, dua biji jagung," kata Abdullah.
Arya yang baru tiga tahun itu mengambil biji jagung itu, ia hitung dengan jari mungilnya. "Catu... duo... tigo..."
Siti Aminah yang melihat dari dapur hanya tersenyum. Ia pikir ini hanya main-main ayah dan anak. Paling-paling seminggu baru hafal A sampai C.
Tapi apa yang terjadi dalam tiga hari belajar itu membuat Abdullah bin Rais Payobadar terkejut bukan main. Terkejut yang membuat rokok klobotnya jatuh dari bibirnya.
Hari pertama, Arya belajar A sampai Z. Ia masih cadel, tapi ia sudah bisa menunjuk huruf dengan benar. Abdullah tunjuk huruf M, ia bilang "M". Tunjuk huruf S, ia bilang "S".
Hari kedua, Abdullah iseng, ia tulis di lantai papan dengan arang: "BUDI". Ia tanya, "Ini apa, Nak?"
Arya yang cadel itu mengeja, "Be... U... De... I... Budi!"
Abdullah terdiam. Ia tulis lagi kata lain yang lebih sulit: "PANDE SIKEK".
Arya mengeja pelan, tapi benar, "Pa... nde... Si... kek! Pande Sikek!"
Hari ketiga, puncaknya terjadi. Abdullah baru saja pulang dari sawah, masih dengan lumpur di kakinya. Ia melihat Arya duduk sendiri di tikar, bukan main tanah, tapi memegang arang dan menulis di lantai. Tulisannya memang masih seperti cakar ayam, berantakan, besar kecil tidak karuan. Tapi ketika Abdullah mendekat dan membaca, ia kaget.
Di lantai tertulis dengan arang: "AYAH", "IBU", "ARYA", "SAPI".
Walaupun tulisannya seperti cakar ayam, tapi ejaannya benar.
"Ya Allah..." gumam Abdullah.
Ia langsung menguji kemampuan anaknya lebih jauh. Ia ambil buku berhitung milik Uni Rahma.
"Nak, kalau Ayah punya 2 biji jagung, ditambah 2 biji jagung lagi, jadi berapa?" tanya Abdullah sambil meletakkan biji jagung.
Arya yang tiga tahun yang bicaranya masih cadel itu tidak menghitung pakai jari lama-lama. Ia langsung menjawab dengan cadelnya yang lucu, "Am... pek!"
Empat. Benar.
Abdullah menambah ujian. "Kalau 5 dikurang 2?"
Arya menjawab cepat, "Tigo!"
Benar lagi.
Jantung Abdullah berdebar. Ia coba yang lebih sulit, yang bahkan anak kelas 2 SD pun masih susah. "Kalau 2 dikali 3?"
Arya menatap biji jagung itu, ia kelompokkan. Dua kelompok, masing-masing tiga. Ia hitung. "Anam!"
Benar. 2 x 3 \= 6.
Abdullah yang sudah tidak tahan, dengan tangan gemetar karena takjub, ia coba ujian terakhir yang paling sulit untuk anak tiga tahun. Pembagian.
"Kalau 6 biji jagung Ayah bagi untuk 2 orang, satu orang dapat berapa?"
Arya membagi biji jagung itu dengan adil, tiga untuk Ayah, tiga untuk ia sendiri. Ia menjawab dengan pipi tembemnya yang serius, "Tigo... ciek... untuk... Ayah... tigo... untuk... Arya!"
Benar. 6 dibagi 2 sama dengan 3.
Pada detik itu juga, Abdullah bin Rais Payobadar tidak bisa menahan haru dan bangganya. Ia yang selama ini dikenal sebagai bangsawan Minangkabau yang tegar, yang tahan merokok rokok klobot kulit jagung selama 6 bulan demi aqiqah sapi anaknya, kini matanya berkaca-kaca.
Ia langsung mengangkat tubuh mungil anak kecil bungsunya itu tinggi-tinggi ke udara. Tubuh Arya yang ringan dan gembul itu ia angkat, ia putar-putar sedikit.
Sambil mencium pipi tembem Arya yang bulat dan masih berbau bedak, dengan suara keras yang membuat Siti Aminah keluar dari dapur, Abdullah bilang ke istrinya dalam bahasa daerah Minangkabau Pande Sikek yang kental:
"MAK ARYA! OI, MAK ARYA! LIHEK SIKO! ANAK KITO CADIAK BANA! ANAK KITO PINTAR BANA! BARU TIGO HARI DIAJARI, INYO LAH BISA MEMBACO, MANGITUANG, TAMBAH, KURANG, KALI, BAGI! ANAK KITO BUKAN ANAK BIASO, MAK!"
Siti Aminah yang datang tergopoh-gopoh menggendong kain sarungnya, melihat lantai papan yang penuh tulisan cakar ayam dari arang, melihat biji-biji jagung yang sudah dibagi-bagi, dan melihat suaminya yang mengangkat Arya tinggi-tinggi, ia pun ikut menangis haru.
Ia dekati anaknya yang masih cadel itu.
"Arya... cubo bacoan buku Uni ko nak," kata Siti Aminah sambil membuka buku 'Ini Budi' secara acak.
Arya yang masih digendong ayahnya, dengan bicara cadelnya yang khas anak tiga tahun itu, membaca dengan lancar:
"I... ni... Bu... di... Bu... di... pe... gang... ba... la..."
Walaupun cadel, tapi bacaannya lancar, tidak mengeja lagi.
Malam itu, rumah gadang Abdullah bin Rais Payobadar di Pande Sikek heboh. Berita menyebar cepat dari surau ke surau, dari lapau ke lapau, bahwa anak bungsu Abdullah yang aqiqahnya dulu pakai sapi hasil tabungan 6 bulan dengan uang receh Rp 10 dan rokok klobot itu, ternyata anak yang sangat cadiak.
Usman bin Rauf Sikumbang, mamak kandung Arya, datang malam itu juga dengan membawa obor. Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang juga datang. Mereka melihat sendiri keajaiban itu. Anak tiga tahun, bicara masih cadel "Payobadal", tapi sudah bisa membaca dan berhitung kali bagi.
Datuk Rajo Alam Nan Cadiak mengelus kepala Arya dan berkata dengan pelan, sambil menghisap rokok klobotnya:
"Anak iko... anak iko ada tanda. Dulu bapaknya puaso rokok putih, isap rokok klobot kulit jagung 6 bulan demi bali sapi aqiqah. Kini Allah baliak an pahala itu lewat kecerdasan anaknya. Jago anak iko, Abdullah. Jan disio-siokan. Umur baru tigo tahun alah bisa mambaco. Iko anugerah."
Sejak malam itu, tidak ada lagi yang melihat Arya Arsyad Sikumbang hanya sebagai anak kecil yang cadel dan suka main buku. Mereka melihatnya sebagai anak ajaib dari Pande Sikek. Anak yang tulisan cakar ayamnya di lantai papan rumah gadang, ternyata adalah tulisan pertama dari seorang anak yang kelak akan membawa nama Payobadar dan Sikumbang jauh lebih tinggi.
Dan di beranda rumah gadang itu, di bawah lampu tempel yang temaram, Abdullah bin Rais Payobadar masih memeluk tubuh mungil anak bungsunya, menciumi pipi tembemnya berkali-kali, dengan bau asap rokok klobot kulit jagung yang masih menempel di bajunya, menjadi saksi bisu bahwa kerja keras dan doa seorang ayah selama 6 bulan itu tidak pernah sia-sia.