NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - MAP BIRU MASUK KELANTAI 3

Pukul sembilan pagi, suasana Kantor Lintas Nusa Lantai 3 terasa lebih dingin dari biasanya.

AC menunjukkan angka 16 derajat. Dingin seperti itu mengingatkanku pada masa ketika aku masih menjadi intern dengan gaji dua juta rupiah. Dulu, aku sering duduk di meja kecil dekat kipas angin tua sambil mengenakan sweater krem yang sudah berbau apek.

Sekarang aku masih duduk di meja yang sama.

Bedanya, hari ini aku memakai blazer hitam milik Mama. Blazer itu sedikit kebesaran di tubuhku, tetapi cukup membuatku terlihat pantas berada di kantor ini.

Mama sudah berangkat ke Jakarta bersama Papa. Sebelum pergi, Mama meninggalkan blazer itu buat kupakai.

Aku tersenyum kecil ketika melihat meja di hadapanku.

Ada dua map di sana. Map hitam berisi kontrak senilai 500 juta yang sudah lunas. Di bagian sampulnya masih tertempel tulisan tanganku sendiri menggunakan pulpen biru yang tutupnya entah hilang ke mana.

**Kontrak Lili x Damian.**

Seumur hidup.

Gajinya: Rumah Biru, bando biru, dan sup buntut.

Kontrak aneh yang dulu kutulis sebagai candaan, tetapi justru menjadi awal perubahan hidupku.

Dari balik pintu kaca, Damian terlihat sedang membaca dokumen. Sekarang dia benar-benar CEO Lintas Nusa. Kemeja putihnya rapi, rambutnya tertata, dan sikapnya jauh berbeda dari laki-laki yang dahulu membetulkan atap Rumah Biru menggunakan kaus tiga puluh lima ribuan.

Aku hampir kembali membaca dokumen ketika suara lift terdengar.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Tiga orang keluar dengan langkah tergesa-gesa.

Fadil memakai kemeja kotak-kotak dengan rambut penuh pomade. Di tangannya ada map biru tebal. Di belakangnya, Bu Lastri berjalan sambil membawa tas hitam. Sementara seorang pengacara bernama Hendro memegang map cokelat yang ujungnya sudah terlipat.

Aku langsung mengenali mereka.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Fadil bahkan tidak menunggu satpam mempersilakan masuk. Dia mendorong petugas itu dan langsung berteriak.

"Damian Aditya Pratama mana? Mana Papa? Panggil dia sekarang!"

Beberapa karyawan menoleh. Ada yang menghentikan pekerjaannya, sementara yang lain mulai berbisik.

Aku berdiri dari kursi.

"Kalau mencari Papa, beliau sudah pindah ke Jakarta. Ini kantor Lintas Nusa Lantai 3. Bukan tempat untuk berteriak seenaknya."

Fadil menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

"Lili? Kamu masih kerja di sini?"

Aku merasakan pipiku panas. Dulu, pertanyaan seperti itu sering membuatku merasa kecil. Seolah-olah menjadi intern adalah sesuatu yang memalukan.

Namun sekarang aku tidak ingin menundukkan kepala lagi.

"Aku memang masih di sini. Ada masalah?"

Fadil tertawa sinis.

"Bagus. Berarti kamu bisa menyaksikan sendiri bagaimana kami mengambil kembali hak keluarga."

Damian keluar dari ruangannya setelah mendengar keributan. Dia berjalan mendekat, lalu berhenti di sampingku.

"Ada urusan apa sampai datang membawa rombongan?"

Pengacara Hendro segera membuka map cokelat. Dia mengeluarkan fotokopi sertifikat berwarna kekuningan, kemudian meletakkannya di meja resepsionis.

"Kami datang untuk menyampaikan tuntutan pengembalian aset. Ruko Putih Blok B No.5 merupakan properti yang telah dihibahkan Pak Aditya kepada Fadil pada tahun 2019."

Aku terdiam.

Ruko Putih Blok B No.5.

"Menurut dokumen ini," lanjut Hendro, "sertifikat tersebut masih atas nama Bu Lastri. Karena itu, kami meminta pengosongan dan pengembalian properti."

Bu Lastri mengangguk cepat.

"Betul. Itu memang hak keluarga kami. Jangan mentang-mentang sekarang Lili dekat dengan Damian, lalu semuanya mau diambil."

Aku menatap perempuan itu. Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dadaku.

Damian mengambil map biru tersebut.

Dia tidak langsung membantah. Sebaliknya, dia membawanya ke meja kerjaku, kemudian memeriksa setiap lembar dokumen dengan teliti.

"Lili, coba lihat bagian ini."

Aku mendekat.

Dia menunjuk bagian materai pada dokumen yang diklaim dibuat tahun 2019.

"Materainya tertulis sepuluh ribu rupiah," kataku pelan.

Damian mengangguk.

"Tarif materai sepuluh ribu mulai berlaku tahun 2021. Kalau dokumen ini benar dibuat tahun 2019, ada hal yang harus dijelaskan."

Wajah Hendro berubah.

"Materai bukan satu-satunya penentu keabsahan dokumen. Jangan asal menuduh!"

"Benar," jawab Damian tenang. "Karena itu kami tidak akan mengambil kesimpulan hanya dari materai. Dokumen ini akan diperiksa bagian legal, termasuk tanda tangan, tanggal, dan riwayat pencatatannya."

Fadil langsung maju.

"Jangan berlagak pintar! Papa sudah menjanjikan ruko itu kepadaku!"

Damian menatapnya tanpa berkedip.

"Kalau memang benar, buktikan melalui jalur hukum. Jangan datang ke kantor orang lalu memaksa mengambil properti."

Fadil mengepalkan tangan.

Damian mengambil interkom.

"Security, tolong dampingi tamu kami. Amankan salinan dokumen untuk diserahkan ke bagian legal. Jangan ada yang mengambil atau mengubah berkas sebelum pemeriksaan selesai."

Dua petugas keamanan segera datang.

Hendro terlihat semakin gelisah.

"Pak Damian, kami hanya menjalankan tugas. Jangan sampai masalah ini diperbesar."

"Justru saya ingin semuanya jelas. Kalau dokumen kalian asli, proses hukum akan membuktikannya. Kalau ada pemalsuan, pihak yang bertanggung jawab harus mempertanggungjawabkannya."

Fadil berusaha mengambil kembali map biru dari meja.

Namun petugas keamanan segera menghalanginya.

"Jangan sentuh barang saya!" teriak Fadil.

Damian tetap tenang.

"Ini kantor, bukan tempat untuk membuat keributan. Silakan selesaikan melalui kuasa hukum."

Aku menghela napas panjang.

Di tengah suasana tegang itu, ponselku bergetar.

Pesan dari Mama masuk.

**Lili, Mama lihat CCTV kantor. Ada Fadil dan Bu Lastri datang? Kamu baik-baik saja? Papa sedang menghubungi pengacara.**

Aku membalas singkat.

**Aku aman, Ma. Damian sedang mengurus semuanya.**

Mama langsung membalas.

**Jangan takut kehilangan sesuatu yang memang menjadi hak Damian.**

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Entah kenapa, mataku mulai terasa panas.

Dulu aku pernah berdiri di depan orang-orang yang merendahkanku tanpa bisa membela diri. Aku pernah merasa tidak punya rumah, tidak punya uang, bahkan tidak punya seseorang yang bisa kuandalkan.

Sekarang aku masih perempuan yang sama. Hanya saja, aku sudah belajar bahwa mempertahankan sesuatu tidak harus dilakukan dengan berteriak.

Damian menyentuh bahuku pelan.

Dia tersenyum tipis sebelum kembali menghadap bagian legal yang baru datang.

Map biru dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut. Map cokelat milik Hendro ikut diperiksa, sementara Fadil dan Bu Lastri diminta meninggalkan lantai tiga setelah memberikan keterangan awal.

Sebelum masuk lift, Fadil sempat menoleh kepadaku.

"Ini belum selesai, Damian!"

Pintu lift akhirnya tertutup.

Kantor perlahan kembali tenang. Suara AC terdengar lagi, bercampur dengan bunyi keyboard dari meja-meja karyawan.

Aku duduk kembali di meja intern.

Di hadapanku masih ada map hitam berisi kontrak 500 juta yang sudah lunas. Di sampingnya kini tersisa salinan dokumen bermasalah yang akan diperiksa bagian legal.

Aku menatap kedua map itu cukup lama.

Rumah Biru mengajariku bertahan ketika hidup terasa sulit. Lantai tiga mengajariku bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan tetap berdiri meskipun tangan gemetar.

Namun aku belum tahu satu hal.

Kenapa Fadil begitu yakin bahwa Ruko Putih Blok B No.5 adalah miliknya?

Dan siapa sebenarnya yang memberikan dokumen tahun 2019 itu kepadanya?

Aku belum sempat bertanya kepada Damian ketika ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuat senyumnya langsung menghilang.

**Pak Aditya.**

Damian mengangkat telepon.

Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah serius.

"Baik, Pak. Saya mengerti."

Dia menutup telepon, lalu menatapku.

"Lili, ada masalah baru."

"Apa?"

Damian mengambil map hitam dari meja.

"Papa bilang sertifikat asli Ruko Putih bukan di tangan Fadil."

Aku mengerutkan kening.

"Kalau begitu, ada di mana?"

Damian menatapku cukup lama sebelum menjawab.

"Menurut Papa, sertifikat aslinya masih disimpan di Rumah Biru ketinggalan, Mama lupa bawa pas ke Jakarta."

Dadaku mendadak berdebar.

Rumah Biru?

Bukankah Mama dan Papa sudah pergi ke Jakarta?

**Perang map biru ternyata belum selesai.**

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!