NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

TAMAT!!

Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Penyelamatan Rumah Tangga dan Balas Dendam Cemburu Jino

Udara di dalam penthouse lantai empat puluh terasa jauh lebih dingin daripada biasanya, bukan karena pendingin ruangan yang rusak, melainkan karena atmosfer dingin yang ditebarkan oleh sang Nyonya Rumah.

Sejak insiden sore tadi di kantor pusat West Corporation, Reina belum mengeluarkan sepatah kata pun kepada Jino. Sesampainya di penthouse, gadis itu langsung mengunci diri di kamar tidur utama, mengabaikan segala bentuk rayuan, ketukan pintu, hingga permohonan maaf yang dilontarkan oleh sang CEO di balik daun pintu.

Jino West—pria yang paling ditakuti dan disegani di dunia bisnis metropolitan—kini tampak mondar-mandir gelisah di ruang tengah bagaikan pesakitan yang menunggu vonis hukuman mati. Jas kerjanya sudah terlempar sembarangan di atas sofa, dasinya sudah lama dilepas, dan kemeja putihnya tampak sedikit kusut.

Tok... tok... tok.

"Reina..." panggil Jino untuk kesekian kalinya dengan suara bariton yang terdengar begitu memohon, sangat kontras dengan imej dinginnya selama ini. "Buka pintunya, sayang. Sumpah demi apapun, tidak ada apa-apa antara aku dan Vanessa. Dia datang sendiri tanpa diundang!"

Dari dalam kamar, tidak ada suara sahutan sama sekali. Hanya terdengar bunyi samar-samar lemari pakaian yang ditutup agak keras, menandakan Reina sedang sibuk membereskan barang-barangnya—atau yang lebih mengerikan bagi Jino: bersiap kabur dari rumah!

Mendengar bayangan mengerikan itu, jantung Jino nyaris copot. Ia tidak boleh tinggal diam. Jika ia kehilangan Reina hanya karena kesalahpahaman bodoh dengan wanita masa lalunya itu, ia bersumpah akan mencincang Vanessa menjadi serpihan kecil besok pagi.

Namun, alih-alih terus merengek di depan pintu yang terkunci, otak cerdik sang Tuan Muda tiba-tiba berputar cepat. Ia menyadari satu hal: jika Reina bisa cemburu buta padanya, itu artinya Reina benar-benar mencintainya setengah mati. Dan alih-alih merasa tertekan, sudut bibir Jino perlahan-lahan justru terangkat membentuk seringai licik penuh perhitungan.

Oh, jadi kau mau bermain-main dengan rasa cemburu, Nyonya West? Mari kita lihat siapa yang nanti akan menyerah lebih dulu, batin Jino penuh percaya diri.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah. Di ruang makan penthouse, Reina melangkah keluar dengan mengenakan pakaian kasual rajut berwarna abu-abu, berniat mengambil segelas air hangat di dapur. Wajahnya tampak dingin, matanya sedikit sembab karena kurang tidur, dan ia dengan sengaja memasang ekspresi 'jangan ajak aku bicara' sejauh radius sepuluh meter.

Ia mendapati Jino sudah duduk tenang di kursi makan, mengenakan setelan jas hitam rapi sambil menikmati cangkir kopi hitamnya. Yang membuat Reina terkejut—sekaligus darahnya mendidih kembali—adalah di atas meja makan, terdapat sebuah buket besar bunga mawar merah segar yang diselipi sebuah kartu ucapan berinisial 'V'.

Reina menghentikan langkahnya, mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya hampir menancap di telapak tangannya.

Wah, berani sekali pria itu! Belum juga sehari dimaafkan, sekarang sudah berani terang-terangan memamerkan bunga dari si silikon Vanessa?! geram Reina dalam hati.

Jino, yang menyadari kehadiran istrinya, mendongak perlahan. Ia memasang ekspresi wajah datar yang dibuat-buat tenang, lalu melirik sekilas ke arah buket bunga tersebut sebelum kembali menyeruput kopinya.

"Pagi, Reina," sapa Jino santai. "Tidurmu nyenyak?"

Reina mendengus sinis, melangkah mendekat dengan dagu terangkat tinggi. "Tidurku nyenyak sekali, Tuan West! Jauh lebih nyenyak dibanding melihat pemandangan menjijikkan di meja makan ini," sindir Reina tajam, menunjuk buket bunga mawar merah dengan dagunya. "Wah, gercep juga ya sekretaris pribadi sekaligus teman masa kecilmu itu. Pagi-pagi buta sudah kirim bunga cinta. Kenapa tidak langsung kau ajak pindah ke sini saja?!"

Jino mengangkat sebelah alisnya. Ia sengaja tidak membantah atau menjelaskan apa pun. Malah, sebuah senyuman misterius tersungging di bibirnya—senyuman yang justru semakin menyulut api cemburu di dada Reina.

"Bunga ini indah, kan?" jawab Jino sengaja memancing emosi, memutar-mutar cangkir kopinya perlahan. "Pengirimnya sangat perhatian. Mengingatkanku pada masa-masa dulu saat—"

Brak!

Reina tidak tahan lagi. Ia menggebrak meja makan dengan kedua tangannya, menatap Jino dengan manik mata cokelat yang menyala-nyala penuh amarah dan kecemburuan yang sudah mencapai puncaknya.

"Cukup ya, Jino! Kalau memang kamu masih belum bisa melupakan si silikon Vanessa itu, katakan saja dari awal! Tidak perlu repot-repot membuatku terjebak dalam pernikahan kontrak yang berujung drama murahan seperti ini!" teriak Reina, suaranya bergetar hebat menahan rasa sesak di dadanya.

Tanpa menunggu balasan dari Jino, Reina membalikkan badannya dengan cepat, air matanya nyaris tumpah di sudut mata. Ia berniat melangkah pergi meninggalkan ruang makan menuju pintu keluar.

Namun, sebelum Reina sempat melangkah dua langkah, sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangannya dengan cepat dan menariknya ke dalam dekapan tubuh yang hangat.

Reina meronta-ronta hebat, memukul dada bidang Jino dengan kedua tangannya. "Lepasin aku! Lepas! Pergi sana ke pelukan Vanessa!" amuk Reina histeris.

Jino tidak melepaskannya. Malah, ia memeluk Reina semakin erat, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Reina. Di tengah rontokan itu, tawa kecil yang sarat akan kelembutan akhirnya lolos dari bibir Jino.

"Bodoh..." bisik Jino serak, mengecup lembut puncak kepala Reina. "Kau benar-benar cemburu separah ini, hmmm?"

"Siapa yang cemburu?! Jangan Pede ya!" sangkal Reina setengah mati, meski suaranya mulai melemah dan isakan kecil mulai terdengar.

Jino melonggarkan sedikit pelukannya, lalu menangkup wajah Reina dengan kedua tangan besarnya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata cokelat istrinya yang kini basah oleh air mata. Tidak ada lagi ekspresi menyebalkan atau candaan di wajah Jino; yang ada hanyalah ketulusan yang luar biasa.

"Dengar baik-baik, Nyonya West," ucap Jino lembut, ibu jarinya menghapus pelan air mata di pipi Reina. "Bunga mawar merah itu bukan dikirim oleh Vanessa. Aku yang memesannya khusus semalam dari toko bunga terbaik di Paris sebagai permintaan maafku padamu."

Reina tertegun seketika. Isakannya terhenti. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang basah. "B-bukan dari Vanessa? Lalu inisial 'V' di kartu itu apa?"

Jino tersenyum tipis, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kartu ucapan kecil, lalu menyerahkannya kepada Reina.

Reina merebut kartu itu dengan cepat dan membacanya. Di atas kertas tebal beraksen emas itu tertulis kalimat:

“Untuk istriku tersayang, ratu satu-satunya di hatiku. Maafkan suami bodohmu ini yang bikin cemburu. Dengan cinta, V... (West).”

Seketika itu juga, semburat merah padam menyebar luas di seluruh wajah Reina. Rasa malu bercampur salah tingkah menghantamnya telak. Ternyata huruf 'V' itu singkatan dari nama belakang mereka (West), dan ia baru saja mempermalukan dirinya sendiri karena cemburu buta yang salah alamat!

"K-kenapa tidak bilang dari tadi?!" cicit Reina malu setengah mati, menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajah merahnya di balik dada Jino.

Jino tertawa renyah, merengkuh tubuh istrinya kembali ke dalam pelukan hangat yang paling dirindukannya. "Mana seru kalau aku langsung bilang? Aku kan ingin melihat seberapa besar cintamu padaku sampai-sampai rela cemburu separah itu pada wanita lain."

"Menyebalkan!" gumam Reina pelan, meski ia membalas pelukan Jino dengan erat, merasa jauh lebih lega dari sebelumnya.

Misi cemburu buta ala Jino sukses besar, membuktikan bahwa di balik pertahanan diri yang kuat, Reina sepenuhnya telah menyerahkan hati dan jiwanya kepada sang Tuan Muda angkuh. Dan pagi itu ditutup dengan pelukan hangat serta senyuman damai di lantai empat puluh penthouse kesayangan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!