Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Nama yang Asli
Van katering melaju membelah padatnya arus lalu lintas kawasan industri menuju ruko Katering Barokah.
Di sepanjang jalan, mata Intan Saputri tak pernah lepas dari kaca spion.
Sekitar dua ratus meter di belakangnya, sebuah sedan hitam milik Maya mengawal dengan tenang, memastikan tidak ada kendaraan asing bertopi hitam yang membuntutinya dari kafe Zona Empat.
Begitu van terparkir aman di halaman ruko, Intan segera turun dan melangkah cepat ke ruang belakang.
Tak sampai lima menit kemudian, Maya menyusul masuk. Ia memutar kunci pintu ruko dan menurunkan tirai jendela, menciptakan suasana privat yang pekat.
"Kamu aman, Intan."
"Pria berjaket parka itu tidak mengikutimu secara langsung."
Ujar Maya seraya melepas kacamata hitamnya dan meletakkannya di atas meja kerja.
"Tapi bidikan kameranya di depan kafe tadi menegaskan satu hal: dia sengaja mengumpulkan identitas setiap orang yang berhubungan dengan Ardiansyah Putra."
Intan duduk di kursi kerja, merapikan blazernya yang sedikit kusut.
"Siapa sebenarnya pria itu, Mbak Maya?"
"Apakah dia polisi?"
Maya tidak langsung menjawab. Ia membuka laptopnya, menyambungkan kilat memori (flashdisk) yang baru saja diambilnya dari jaringan peretas mitra.
"Saat kamu di toilet kafe tadi, saya sempat meminta rekaman CCTV jalanan di depan kafe dan mencocokkan plat nomor motor trail yang terparkir di dekat meja pria itu"
Jelas Maya, matanya memindai layar monitor yang menampilkan data diri seseorang.
"Pria itu bukan intel kepolisian."
Intan mengerutkan alisnya.
"Bukan polisi?"
"Lalu siapa?"
"Namanya Rendra Wijaya."
Kata Maya seraya mengarahkan layar laptop ke hadapan Intan.
"Dia adalah seorang detektif swasta sekaligus mantan auditor forensik keuangan."
"Dan yang paling penting... dia disewa oleh Korban Utama skandal penggelapan dana proyek Pandawa dua tahun lalu."
Intan menatap foto di layar laptop. Foto seorang pria berahang tegas dengan bekas luka tipis di alis dan mata yang tajam—sosok bertopi hitam berjaket parka yang mengawasinya di kafe tadi pagi.
"Siapa korban utama yang menyewanya, Mbak?" tanya Intan penasaran.
"Seorang pengusaha kontraktor lokal bernama Pak Herman."
Jawab Maya pelan.
"Dua tahun lalu, Ardiansyah Putra—yang saat itu memakai nama palsu Rian Cipta—membawa lari uang investasi sebesar satu koma dua miliar rupiah milik Pak Herman."
" Kasus itu membuat perusahaan Pak Herman bangkrut dan serangan jantung merenggut nyawanya."
" Sekarang, putri kandung Pak Herman menyewa Rendra untuk memburu Ardiansyah sampai ke akar-akarnya."
Dada Intan berdesir hebat. Informasi itu menghantam jiwanya seperti godam berat.
Dua juta rupiah yang dicuri Ardiansyah darinya di Desa Sukamaju ternyata hanyalah serpihan kecil dari rekam jejak kejahatan pria itu.
Ardiansyah adalah seorang predator finansial yang tidak ragu menghancurkan hidup sebuah keluarga demi menguras harta mereka.
"Jadi... Rendra mengawasi saya karena mengira saya adalah bagian dari komplotan Ardiansyah?"
pikir Intan, menyatukan benang merah di kepalanya.
"Tepat"
Sahut Maya, menepuk bahu Intan pelan.
"Di mata Rendra, kamu adalah perwakilan katering baru yang mendadak muncul dan menandatangani dokumen transaksi puluhan juta rupiah dengan penipu kawakan."
"Pria itu mengira kamu adalah kaki tangan baru Ardiansyah untuk mencuci uang."
Intan menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya menatap lurus ke arah dokumen kontrak PT Pandawa Perkasa yang tergeletak di meja.
Situasi kini berubah menjadi persimpangan yang berbahaya.
Jika Rendra bergerak gegabah dan menyergap Ardiansyah secara serampangan atau menyerahkannya ke pihak berwajib tanpa bukti aliran dana yang utuh, Ardiansyah bisa saja lolos menggunakan celah hukum atau kabur membawa uang tarikannya.
Dan yang lebih buruk, Intan serta Katering Barokah bisa terseret sebagai pihak terduga komplotan penipu.
"Kita harus meluruskan ini."
Kata Intan, suaranya tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan tegas.
Maya memandang muridnya dengan raut terkejut.
"Maksudmu?"
"Rendra punya data korban masa lalu dan jaringan investigasi, sementara kita punya akses langsung ke dalam operasional harian Ardiansyah di Zona Empat."
Jelas Intan, berdiri tegak di samping meja.
"Kita punya tujuan yang sama: menghancurkan Ardiansyah tuntas sampai ke akarnya."
"Tapi Rendra itu profesional yang dingin, Intan."
"Dia tidak akan mudah percaya pada perwakilan katering yang baru dikenalnya."
Peringatan Maya.
"Kalau begitu, saya akan membuatnya percaya."
Balas Intan mantap.
"Saya akan menunjukkan siapa saya yang sebenarnya."
Intan meraih tas selempangnya, mengambil buku catatan hitam kecil yang selalu menemaninya.
Ia membuka halaman paling pertama—halaman tempat ia pernah menangis meratapi nasibnya saat baru tiba di kota—lalu membalik ke halaman terbaru yang kini dipenuhi nama-nama bank, nomor rekening, dan stempel dokumen Ardiansyah Putra.
Ia telah menanggalkan kepolosannya. Nama yang asli dari sang penipu telah terbongkar, dan kini saatnya Intan melangkah sebagai pemegang kendali permainan.
"Mbak Maya, bisa dapatkan nomor kontak pribadi atau lokasi tempat Rendra berkumpul malam ini?" tanya Intan.
Maya tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kebanggaan melihat keteguhan muridnya yang kini sudah menjelma menjadi pemburu sejati.
"Dia sering memantau area Zona Empat dari kedai kopi tua di jalan lintas selatan."
"Tempat itu sepi dan jauh dari jangkauan anak buah Ardiansyah."
"Bagus"
Kata Intan, merapikan blazernya.
"Nanti malam, saya yang akan mendatangi mejanya."
"Kamu yakin, Budak Kecil?"
"Ini bisa jadi konfrontasi yang berbahaya."
Ujar Maya menatap mata Intan lekat-lekat.
"Saya sangat yakin."
Jawab Intan tanpa ragu sedikit pun. Matanya berbinar tajam.
"Dulu saya lari dari desa karena ketakutan."
"Tapi malam ini, saya yang akan menemui detektif itu dan menawarkan aliansi."
"Ardiansyah Putra harus membayar semua perbuatannya—bukan cuma untuk dua juta rupiah milik saya, tapi untuk semua hidup yang sudah dia hancurkan."
Hujan gerimis mulai membasahi kaca ruko saat sore beranjak gelap. Di dalam ruangan remang itu, Intan Saputri menyatukan tekadnya.
Nama asli sang musuh sudah di genggaman, dan kini, aliansi baru di balik bayang-bayang kota siap dilahirkan untuk mengepung sang serigala dari segala sisi.
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe 😊
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya