Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 16
Matahari terus merangkak naik. Kini hampir mencapai puncaknya. Tepat pukul setengah 10 pagi, Rara pulang kerumah. Ia terpaksa diantar Alisha, karena mobilnya ia masukkan ke bengkel untuk diperbaiki sisi kirinya yang lecet akibat benturan tadi malam.
Rara melangkah keluar, saat mobil sudah berhenti didepan pagar. Ia membawa totebag yang berisi pakaiannya.
"makasih ya sha," ucap Rara saat turun dari mobil.
"iya sama-sama," jawab Alisha. Ia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Rara.
Rara berdiri dan berhenti sejenak tepat didepan pagar. Ia mengarahkan matanya mengelilingi suasana depan rumah. Keadaannya tak ada yang jauh beda, semuanya masih sama seperti yang ia lihat biasanya. Tanaman hijau di pot yang tertata rapi dan teras rumah yang lengang. Sekarang ia melihat ke arah garasi. Disana tak ada mobil milik kakak iparnya.
Rara menenangkan hatinya sebelum melangkah ke depan pintu utama. Ia berusaha meniatkan diri untuk bersikap biasa, seolah tidak pernah tahu apa-apa tentang yang ia lihat tadi malam.
"oke, tenang ra. Tetap biasa seolah kamu tidak tahu apa-apa," gumam Rara.
Rara kini melangkah ke depan pintu. Membukanya dan masuk ke dalam. Seperti biasa suasananya sepi dan lengang.
Seketika pintu kamar kakaknya terbuka. Nadia keluar dari sana. Ia tampak menggunakan tampilan rapi seakan ingin pergi keluar. Ia mengenakan blus berpotongan longgar dengan detail pita di pergelangan tangan, dipadukan dengan celana kulot lebar yang tidak membentuk tubuh dan pashmina yang menutupi rambutnya.
"Ra tumben jam segini baru pulang ?," tanya Nadia. Ia berdiri didepan pintu kamar.
"iya soalnya..." Jawab Rara bersambung. Ia mencari alasan dikepalanya.
"aku ketiduran dirumah teman," lanjut Rara dengan senyuman canggung.
" tapi kakak, kok nggak dengar suara mobil kamu," tanya Nadia.
Waduh alasan apalagi
Kalimat itu sesaat muncul dibatinnya. Rara langsung memutar otaknya untuk mencari alasan, agar Nadia tidak mencari tahu lebih dalam soal dirinya yang pulang tidak dengan mobilnya.
"eeh iya. Mobilnya aku tinggal di rumah teman aku kak, karena aku kan masih ngantuk, takutnya kurang fokus. Jadi..." jawab Rara bersambung.
"jadi apa ra ?"tanya Nadia.
"jadi aku tinggal disana sebentar dan tadi pulang dianterin teman aku," sambung Rara. Ia akhiri dengan senyuman lebar yang agak dipaksakan. Ia berharap kakaknya percaya dengan alasannya
"oh gitu," jawab Nadia mengangguk yang artinya ia percaya dengan alasan adiknya.
"kakak mau kemana ?" tanya Rara.
"kakak mau ke toko kue, seperti biasa. Memantau gimana kondisinya. Kamu udah makan ?" jawab Nadia. Ia lalu berjalan menuju dapur.
"kalau mau masak buat makan siang. Dikulkas masih ada bahan-bahannya," kata Nadia dari dapur.
"udah kak, aku udah makan," jawab Rara sedikit keras. Ia masih terhenti langkahnya.
Nadia berjalan keluar dari dapur dan berhenti di depan Rara. "ya udah kalau begitu kakak pergi dulu ya,"
"iya kak hati-hati dijalan," ucap Rara. Ia membalikkan badan, melihat kakaknya keluar rumah dan masuk ke mobil taksi online yang sudah menunggu sekitar 2 menit yang lalu.
Setelah taksi itu berjalan cukup jauh. Hati Rara langsung merasa lega. Ia berhasil membuat kakaknya percaya. Ia menghela napas sejenak. Lalu melangkah kembali menuju kamar.
Ketika lewat depan kamar kakaknya, ternyata pintunya masih terbuka. Sesaat, adegan yang Rara lihat tadi malam, sekelebat muncul di ingatannya saat ia menatap ke dalam kamar. Ia langsung menutup pintu itu dan berusaha menepis ingatan itu.
Rara berdiri didepan pintu dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Masih ada trauma didalam dirinya. Ia sangat berharap bisa menghilangkan ingatannya yang memicu trauma ini