NovelToon NovelToon
Kepentok Cinta Sama Rival Kantor

Kepentok Cinta Sama Rival Kantor

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Peri Bumi

"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"

Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.

Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.

Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.

Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?

Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.

Simak kisah mereka disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar dari rumah

Minggu pagi, Rain bersantai di apartemen barunya, menikmati waktu luang yang jarang dia miliki di tengah kesibukan kerja selama ini. Seperti kebiasaan yang selalu dia jaga sejak pindah ke Surabaya, dia menyempatkan diri video call dengan ibunya dan Tiyu setiap akhir pekan, meski jadwal terkadang harus disesuaikan dengan kesibukan masing-masing.

"Assalamualaikum, Bu!" sapa Rain begitu panggilan video tersambung, melihat wajah ibunya yang mulai menua namun tetap memancarkan kehangatan yang sama seperti dulu.

"Waalaikumsalam, Nak. Gimana kabarnya di sana?" tanya ibunya, suaranya terdengar penuh rindu.

"Baik, Bu. Alhamdulillah semuanya lancar," jawab Rain, tersenyum lebar. "Kerjaan makin stabil, Kenzo juga udah pindah ke sini sekarang."

"Alhamdulillah," ibunya terlihat lega mendengar itu. "Ibu seneng banget denger kabar itu. Jadi kalian berdua sekarang udah nggak jauh-jauhan lagi?"

"Iya, Bu. Udah nggak perlu LDR lagi," jawab Rain, tertawa kecil mengingat perjuangan berbulan-bulan yang akhirnya membuahkan hasil.

Tiba-tiba, layar bergeser sedikit, menampilkan wajah Tiyu yang muncul dari samping ibunya, membawa laptop dengan tumpukan kertas skripsi yang masih terlihat berantakan di mejanya.

"Kak Rain! Kangen banget," seru Tiyu, melambaikan tangan bersemangat.

"Gimana skripsinya, Tiyu? Udah sampai mana?" tanya Rain, penasaran dengan perkembangan adiknya.

"Alhamdulillah, minggu depan aku sidang, Kak!" jawab Tiyu, matanya berbinar penuh semangat. "Dosen pembimbing udah setuju semua revisiannya."

Rain merasakan matanya berkaca-kaca mendengar kabar itu. "Beneran? Aduh, Tiyu, aku bangga banget sama kamu!"

"Makasih, Kak. Ini semua juga berkat dukungan Kakak selama ini," jawab Tiyu, suaranya sedikit bergetar menahan haru. "Aku janji, abis ini aku bakal langsung cari kerja, biar Kakak nggak perlu nanggung semuanya sendirian lagi."

"Nggak usah buru-buru mikirin itu," Rain menjawab lembut, meski hatinya dipenuhi rasa bangga yang meluap. "Fokus aja sidang dulu, lulus dengan baik. Itu udah lebih dari cukup buat bikin aku bahagia."

---

Ibunya, yang sejak tadi memperhatikan obrolan hangat antara kedua anaknya, akhirnya ikut menambahkan. "Rain, kapan-kapan kalau ada waktu, ajak Kenzo main ke rumah, ya. Bapak sama Ibu kangen pengen ketemu langsung, bukan cuma lewat foto yang kamu kirim waktu itu."

"Pasti, Bu," jawab Rain mantap. "Nanti kalau ada libur panjang, kita usahain pulang bareng-bareng."

"Kenzo baik, kan, Kak?" tanya Tiyu, sedikit menggoda. "Kalau dia berani nyakitin Kakak, biar aku yang urus, meski aku cuma adik kecil."

Rain tertawa mendengar candaan adiknya. "Dia baik banget, Tiyu. Kamu bakal suka sama dia."

Obrolan hangat itu berlanjut selama hampir satu jam, membahas berbagai hal kecil, mulai dari kabar tetangga di kampung, rencana pulang lebaran tahun ini, hingga cerita-cerita ringan yang selalu berhasil membuat Rain merasa dekat dengan rumah, meski secara fisik terpisah jarak yang cukup jauh.

---

Sore harinya, giliran Kenzo yang melakukan video call dengan orang tuanya, kali ini dengan Rain duduk di sebelahnya, ikut serta dalam obrolan keluarga yang sudah menjadi rutinitas mereka sejak kepindahan Kenzo ke Surabaya.

"Gimana kabar kalian berdua di sana?" tanya Mama Kenzo, wajahnya terlihat bahagia melihat anaknya bersama Rain dalam satu layar.

"Baik, Ma. Kerjaan lancar, meski ada beberapa tantangan di kantor," jawab Kenzo, sedikit menyinggung dinamika dengan Farrel dan Vera tanpa terlalu detail.

"Rain gimana? Udah betah di Surabaya?" tanya Mama Kenzo, kali ini menujukan pertanyaan langsung ke Rain.

"Udah mulai betah, Ma. Apalagi sekarang ada Kenzo, jadi nggak sesepi dulu," jawab Rain, tersenyum hangat.

Papa Kenzo, yang biasanya lebih pendiam dalam obrolan keluarga semacam ini, tiba-tiba ikut bersuara. "Kenzo, gimana perkembangan proyek yang kamu pimpin di sana? Papa denger dari kolega, cabang Surabaya termasuk salah satu yang paling menjanjikan pertumbuhannya."

"Alhamdulillah, Pa, sejauh ini progressnya positif," jawab Kenzo, menjelaskan sedikit detail perkembangan kerja yang sedang dia tangani.

"Bagus," Papa Kenzo mengangguk puas. "Tapi jangan lupa, kerja keras itu penting, tapi jangan sampai lupa jaga kesehatan dan waktu buat orang-orang terdekat juga."

"Siap, Pa," jawab Kenzo, tersenyum mendengar nasihat yang sudah sering dia dengar sejak kecil, namun tetap terasa relevan di setiap fase kehidupannya.

---

Setelah panggilan video dengan orang tua Kenzo berakhir, mereka berdua duduk santai di ruang tengah apartemen, menikmati suasana sore yang tenang setelah rutinitas video call keluarga yang menghangatkan hati.

"Keluarga kamu selalu bikin aku ngerasa diterima," kata Rain, tersenyum mengingat obrolan hangat tadi.

"Mereka emang selalu gitu ke orang yang mereka anggap tulus," jawab Kenzo, mengecup dahi Rain lembut. "Lagipula, gimana mungkin mereka nggak sayang sama kamu, orang yang bikin aku sebahagia ini."

Rain tertawa kecil, menyandarkan kepalanya ke bahu Kenzo. "Aku juga bahagia banget, Kenzo. Meski masih ada tantangan di kantor, tapi punya dukungan keluarga sebesar ini bikin semuanya terasa lebih ringan buat dihadapi."

"Ngomong-ngomong soal keluarga," Kenzo tiba-tiba teringat sesuatu, "gimana kalau minggu depan kita coba atur waktu buat pulang sebentar ke Jakarta? Sekalian nengokin Tiyu yang mau sidang skripsi."

Mata Rain langsung berbinar mendengar tawaran itu. "Serius? Aku pengen banget bisa hadir langsung waktu sidang Tiyu."

"Aku juga pengen ada di sana buat dukung dia," jawab Kenzo tulus. "Lagipula, aku juga kangen ketemu langsung sama adik kamu, bukan cuma denger cerita-cerita lucu tentang dia dari kamu."

Rain memeluk Kenzo erat, terharu dengan perhatian tulus yang selalu ditunjukkan kekasihnya itu, bahkan untuk hal-hal kecil yang sangat berarti bagi keluarganya sendiri.

"Makasih, Kenzo. Buat semuanya," bisik Rain, merasakan kehangatan yang menjalar dari kebersamaan sederhana namun begitu berharga itu.

Sore itu, di tengah gemerlap kota Surabaya yang perlahan mulai terasa seperti rumah baru bagi mereka berdua, Rain menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya bukan hanya soal pencapaian besar dalam karier atau keberhasilan menghadapi tantangan di kantor, melainkan juga soal momen-momen sederhana bersama orang-orang tercinta, baik keluarga kandung yang selalu mendukung dari jauh, maupun keluarga baru yang perlahan terbentuk bersama seseorang yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Cup!

Tiba-tiba tanpa aba-aba, Rain mencium pipi Kenzo. Membuat Kenzo malu dan salah tingkah. Padahal mereka sama sama dewasa, tapi untuk pertama kalinya Rain mencium pipi Kenzo.

Karena malu, Rain berlari menuju dapur.

"Rain!!!" Kenzo mengejar Rain, karena dia gemas dengan pacarnya.

Selanjutnya, tentu saja Rain tertangkap. Kemudian Kenzo mendekap Rain, Rain mencoba melepaskan diri, "Kenzo awas hahahaha...." Kenzo membalas dendam dengan mencium pipi Rain beberapa kali.

"Ahahaha...." Rain tertawa karena tingkah Kenzo seperti anak kecil. Keduanya kemudian tertawa bersama

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
Xlyzy
jelas lah dia dia dah Dig dug plu gugup pertama kali loh ketemu wajar aja, apalagi ini camer 🤭
Tamaa
Bagusnya memang Rain ke Surabaya aja, biar hubungan mereka teruji selain itu kalau hubungan terus berlangsung tanpa adanya masalah sedikitpun dan bertemu setiap hari pasti ada rasa bosan yang muncul sedikit.
Tamaa
awas hubungannya jadi renggang
Tamaa
Kena mutasi nih, harus ldr dong
-Thiea-
habisnya si pandu juga kagak jelas. kayak tarik-ulur gitu. jadi bingung kan si rain.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠ : dia hablum minannas ke semua orang ka 😭
jadinya bikin cewek salah paham
total 1 replies
-Thiea-
mulai nyaman sih ya komunikasinya walau masih ketus.
Mingyu gf😘
nahh, sama kenzo aja deh yang gak plin plam
Mingyu gf😘
Jangan mau sama pandu rain, dia kayaknya terlalu plin plan sama hatinya
Aquarius97 🕊️
apakah itu artinya bang Kenzo juga percaya pada rain.. uhuyuhuyuhuy 😍😍
Aquarius97 🕊️
tenang saja... kan ada babang Kenzo rain...
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
moga aja ayahnya kenzo meridhoi rain
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
nontonnya di noveltoon juga kah?😄
Prayy
ternyata sifat Kenzo kaya gitu demi nutupin dari semua orang deh karena beban yang di pikul nya
Prayy
kenapa kaget ? masih canggung yaaa
Prayy
sampai pandu tauu buruan pandu nanti ke duluan pak Kenzo
Prayy
mulai mulai satu kantor udh tahu nih
Myz Pena
cieee yanh mau makan dengan calon mamernya... rain happy...tapi pandu auto mewek sendirian 🤧...
Putry Chan
kalimat " aku disini " itu singkat tapi power full genggaman tangan Kenzo bikin rain merasa lebih nyaman , tim solid bgt semoga mereka bisa ngelewatin tes dari papa kenzo
ginevra
nah, akhirnya kamu sadar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!