“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
•••
Jio dan Giselle kembali ke dalam mobil.
"Jio... jadi ciuman kemarin itu–“
"Kau mau makan?"
“Kau mengalihkan pembicaraan?”
Jio terdiam, tak menjawab pertanyaan Giselle yang tepat sasaran.
Giselle berdecih kesal, "Kalau begitu, antarkan aku pulang."
Bukankah hal ini bagus untuk Jio, namun kali ini tidak begitu. Entahlah Jio hanya tak ingin membahas hal itu ia juga tak ingin cepat-cepat pulang ke rumah hari ini.
"Ada tempat yang ingin kau kunjungi sebelum pulang?"
"Tidak ada. Antarkan aku pulang.”
"Kenapa tidak ada? Biasanya kau akan memaksaku pergi ke suatu tempat bersamamu dan sekarang malah tidak ada?"
Giselle mengangguk membenarkan, "Ya, tidak ada."
"Tapi aku ada."
“Tidak mau!”
“Hanya sebentar…”
Mobil Jio melaju kencang di jalan beraspal tersebut menuju suatu tempat yang sebelumnya ingin ia kunjungi dari jauh hari.
Disinilah mereka berakhir.
Aroma segar khas pantai dengan hamparan pasir luas yang membentang sepanjang mata memandang seketika menyeruak memasuki indra penciuman.
Matahari yang kian bergerak turun sedikit demi sedikit tertutup awan turut menampilkan keindahannya, ombak yang bergulung pun menambah indahnya pemandangan yang tercipta.
Giselle tak ingat kapan terakhir kali ia pergi ke pantai seperti ini, yang ia ingat hanya dirinya yang sering mendatangi club untuk berpesta.
Kalau bukan karena Jio, dia pasti lupa jika ada tempat seindah ini untuk menenangkan pikiran selain club malam.
Jio pun tampak menikmati hilir angin yang berhembus menerpa, mengibarkan pakaian yang mereka kenakan.
"Bukankah ini tempat yang bagus untuk menenangkan pikiran, juga meredakan emosi?"
"Tempat ini memang sudah bagus dari sananya, tapi aku masih kesal padamu."
"Itu hakmu."
"Kau tidak ingin aku mengartikan lebih tentang ciumanmu kemarin?"
"Aku tidak ingin membahasnya sekarang Giselle, lebih baik begitu seterusnya."
"Apa aku baru saja ditolak?"
"Sudah kubilang aku tidak–"
"Tidak ingin membahasnya?" Sela Giselle cepat.
"Apa alasannya? Kenapa kau jadi pengecut begini? Apa kau hanya ingin mempermainkan perasaanku?"
"Kau yang lebih dulu bermain." Suara Jio meninggi.
"Tidak bisakah kau bedakan antara permainan dan perasaanku yang sesungguhnya?"
Jio diam, dia tak tahu harus berkata apa.
Jio akui bahwa yang Giselle katakan ada benarnya jika dirinya terlalu pengecut untuk melakukan hal yang seharusnya dia lakukan.
"Kau tahu aku gadis yang keras kepala, aku tidak menyerah semudah itu.”
“Aku akan terus meyakinkanmu, aku akan terus mengganggumu, aku akan terus menunggu sampai kau memiliki perasaan yang sama untukku, aku bahkan rela menjatuhkan harga diriku untukmu."
Tangan kanan Giselle meraih jemari Jio, menggenggamnya sedang tangan kirinya menarik tengkuk pria tersebut untuk mendekatkan wajah mereka, bibir Giselle berucap tepat secenti di hadapan bibir Jio.
“Aku sudah benar-benar jatuh Jio... tidak bisakah kau lihat ini?"
Nafas Jio memberat, menjauhkan badan Giselle dari hadapannya perlahan.
“Ayo pulang, kau butuh istirahat."
"Brengsek." Gumam Giselle.
•••
Beberapa hari ini berlalu dengan canggung, setelah mereka kembali dari pantai.
Tak ada pesan teks panjang yang dikirim oleh Giselle.
Tak ada telpon tengah malam, yang membuat Jio tebangun hanya untuk mendengar cerita tak jelas yang Giselle lontarkan.
Jio mulai merasa bingung akan Giselle yang biasanya tidak bisa diam, kali ini justru membisu tak bersuara, terhitung dua hari gadis itu hanya bicara seadanya.
Jio sampai mengira, gadis dihadapannya ini telah kehilangan pita suaranya.
Setidaknya Jio bersyukur karena tak harus mendengar ocehan gadis ini sekarang, namun rasa bersalahnya pada Giselle tak ayal selalu dirasakannya.
Tiba di rooftop, Jio duduk bersila seraya mengeluarkan beberapa buku materi serta laptopnya untuk mengerjakan tugas. Pun dengan Giselle yang ikut duduk berhadapan dengannya, gadis itu masih bungkam.
Hampir satu jam tak bersuara, Jio mulai khawatir, gadis ini lebih menyeramkan saat hanya diam dengan tatapan tertuju padanya. Entah apa yang tengah dipikirkan olehnya saat ini.
Jio melambaikan tangan di depan wajah gadis tersebut membuatnya berkedip beberapa kali.
"Ada apa?" Tanyanya bingung.
"Harusnya aku yang bertanya."
"Eoh... aku baik-baik saja."
"Katakan, ada apa?"
Berpikir sejenak, "Jio... Minggu depan kau punya waktu?”
“Ulang tahun Ibuku. Kau bisa ikut aku mengunjunginya?"
Jio mengangguk, tak membantah permintaan gadis itu, dia sedikit iba melihat wajah sendu Giselle.
Padahal biasanya gadis itu akan dengan sangat tidak sopannya mengoceh ribuan kali saat mengajaknya pergi kesuatu tempat pun dengan paksa.
Tapi kali ini dia tak banyak bicara.
•••Vienbluu (annavienbluu)