NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rasa canggung

Matahari sudah meninggi ketika jam dinding di teras mes menunjukkan pukul sembilan pagi. Cahaya terang yang menembus celah-celah kanopi seketika memaksa kelopak mata Salman untuk terbuka. Sambil memegang keningnya yang masih terasa agak pening akibat efek sisa satu sloki semalam, kesadaran Salman perlahan kembali penuh.

Detik berikutnya, Salman langsung terperanjat tegak dari posisinya. Jantungnya berdegup agak kencang saat menyadari bahwa semalaman ia benar-benar tertidur pulas dengan kepala beralaskan pangkuan Siska yang kini duduk bersandar di tembok teras sambil tersenyum tipis menatapnya.

"Sis... maaf banget, semalam aku—"

Belum sempat Salman menyelesaikan kalimat kecanggungannya, Siska langsung melambaikan tangan memotong ucapan pemuda itu.

"Sudahlah, Man... gak apa-apa kok. Aku ngerti," potong Siska santai, memaklumi kondisi Salman yang memang tumbang karena belum pernah menyentuh alkohol sama sekali.

Di tengah momen canggung tersebut, Tias berjalan keluar dari arah dapur sambil mengikat rambutnya asal-asalan.

"Eh Sis, pagi ini kita mau makan apa, nih? Perut udah keroncongan.

"Dian yang baru muncul di balik pintu ikut menyahut dengan wajah mengantuk. "Di kulkas sisa telur doang, nih.

"Jono yang sudah duduk rapi di atas jok motor bebeknya langsung mengambil kendali logistik. "Kalian masak nasi aja di dalam.

Sisanya biar aku yang keluar buat beliin lauknya. Kalian pada mau makan apa?" tanya Jono menawarkan.

"Beli ayam tepung aja, Jon, biar cepat! Sama sekalian titip mie instan, tapi beli yang pake kuah ya, biar segar," seru Dian memberikan instruksi menu sarapan darurat mereka.

"Ada pesanan yang lain lagi gak?" tanya Jono memastikan sebelum menarik gas.

Agus yang duduk selonjoran di dekat tiang menyahut lemas, "Rokokku habis, Jon. Titip sebungkus."

"Nih, ambil aja punyaku," potong Salman dengan tangkas. Ia merogoh kantong kemejanya dan menyodorkan sisa bungkus rokok filter berbatang kecil miliknya kepada Agus, menghemat pengeluaran belanja Jono.

"Oke, siap!" Jono langsung menghidupkan mesin motornya, lalu melesat pergi meninggalkan area mes menuju warung makan terdekat.

Setelah deru motor Jono menjauh, Salman menoleh ke arah Siska. "Eh Sis, di dalam ada air panas gak?"

"Ada. Kamu mau kopi hitam lagi?" tanya Siska cepat dengan nada menawarkan.

Salman mengangguk sembari menggaruk tengkuknya. "Hehe... iya, Sis. Maaf, kebiasaan tiap pagi kalau baru bangun tidur harus ketemu kopi."

Dian yang mendengar hal langsung terkekeh dari ambang pintu. "Halah, kalau cuma perkara air panas sama kopi sih aman aja kali, Man!"

Salman bersiap bangkit dari duduknya. "Biar aku bikin sendiri aja di dalam kalau gitu," kata Salman, merasa sungkan jika harus terus-terusan dilayani oleh pemilik mes.

Namun, Siska langsung berkacak pinggang, menatap Salman dengan dahi berkerut seolah merasa tertantang. "Hey... emangnya bikinanku semalam gak enak ya, Man?"

"Bukan gitu... maksudku, takutnya nanti malah merepotkan kamu," ralat Salman gugup, tidak enak hati melihat perubahan ekspresi Siska.

Siska spontan tertawa melihat kegugupan montir tangguh itu. "Haduh, Man... jangan kaku-kaku banget lah jadi orang! Cuma perkara bikin kopi doang kok repot.

Kamu duduk aja di sana, tunggu bentar," perintah Siska tegas namun ramah, sebelum melangkah masuk kedapur mes.

I-iya deh..." sahut Salman pasrah.Sembari menunggu kopinya matang, Salman mengeluarkan sebungkus rokok baru dari kantongnya. Ia menyalakan pemantik, lalu membakar sebatang rokok untuk menyegarkan pikirannya yang masih agak melayang. Melihat Tias dan Dian melirik ke arah bungkus rokoknya, Salman menyodorkannya ke depan.

"Ambil aja kalau mau," kata Salman menawarkan.Tanpa malu-malu, Tias langsung menyambar satu batang dari bungkus tersebut. Ia menjepitnya di sela jari, menyalakannya dengan pemantik, lalu menghisapnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asapnya ke udara.

Dian yang ikut memperhatikan aroma asap yang mengepul tipis langsung menimpali, "Enak nih baunya, gak terlalu menyengat."

"Iya, ambil aja kalau mau," pungkas Salman dengan senyum ramah, membiarkan rokok "gengsi" malam minggunya kini dinikmati bersama di tengah kehangatan pagi yang santai di perantauan kota besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!