NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Tira menutup ponsel malam itu dengan air mata yang jatuh di pipi. “Aku akhirnya berpikir,” kata Tira kepada Amanda, “mungkin selama ini aku terlalu sibuk menunggu orang yang kucintai sampai lupa bahwa aku juga berhak dipilih.”

Amanda menatapnya tanpa suara.

“Fahri memang belum membuatku jatuh cinta,” lanjut Tira. “Tapi dia membuatku merasa dihargai. Dia datang dengan niat yang jelas. Dia tidak memintaku menunggu bertahun-tahun. Dia tidak mengatakan nanti. Dia datang bersama keluarganya dan meminta izin kepada Ayah.” Tira berhenti sebentar. “Aku pikir mungkin cinta tidak selalu harus dimulai dengan perasaan yang besar. Mungkin cinta juga bisa tumbuh setelah dua orang memutuskan untuk saling menjaga.”

Amanda menelan ludah. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi tertahan. “Kamu nggak takut menyesal?” tanyanya.

“Takut.” Tira tersenyum. “Aku sangat takut.”

“Lalu?”

“Aku lebih takut menunggu delapan tahun lagi.”

Amanda menundukkan kepala.

Tira melanjutkan ceritanya. “Waktu Fahri datang bersama keluarganya, aku masih memikirkan Dimas. Tapi Fahri tidak membuatku merasa bersalah karena itu. Dia bilang, ‘Saya tidak meminta Tira melupakan masa lalu dalam satu malam. Kalau Tira menerima saya, kita bisa belajar mengenal satu sama lain dari awal.’”

Amanda mengangguk pelan. “Dia memang terdengar baik.”

“Iya.” Tira mengambil gelasnya. “Aku belum tahu apakah nanti aku bisa mencintainya seperti aku mencintai Dimas. Tapi aku mau mencoba.”

Amanda memandang sahabatnya. “Kalau Dimas datang sekarang?”

Tira terdiam. Pertanyaan itu ternyata masih memiliki kekuatan untuk membuat wajahnya berubah. Beberapa detik ia hanya memandangi meja. “Aku tidak tahu,” jawabnya. “Mungkin hatiku masih akan bergetar. Aku masih mencintainya.”

Amanda menahan napas. “Tapi?”

“Tapi cinta tidak cukup.” Tira menatap Amanda. “Aku sudah belajar itu selama delapan tahun.”

Kalimat tersebut membuat Amanda menunduk. Ia merasa begitu kecil di hadapan sahabatnya sendiri. Tira sedang berbicara tentang luka yang ditimbulkan Dimas, sementara Amanda adalah salah satu bagian dari rahasia yang tidak pernah diketahuinya.

“Man,” panggil Tira.

“Hm?”

“Menurutmu aku jahat?”

Amanda langsung mengangkat wajah. “Kenapa?”

“Karena aku menerima laki-laki lain padahal perasaanku masih ada untuk Dimas.”

Amanda menggeleng cepat. “Nggak.”

“Aku takut orang-orang menganggap aku cuma memanfaatkan Fahri.”

“Kamu nggak begitu.” Amanda berusaha tersenyum. “Kamu cuma sedang memilih hidupmu.”

Tira tersenyum kecil. “Aku harap begitu.”

Beberapa saat mereka makan dalam diam. Amanda memperhatikan Tira yang sesekali tersenyum ketika menceritakan hal-hal kecil tentang Fahri. Lelaki itu ternyata memiliki kebiasaan sederhana. Ia tidak banyak bercanda, tetapi ketika sekali bercanda justru membuat Tira tidak bisa menahan tawa. Ia selalu datang tepat waktu. Ia berbicara kepada orang tua Tira dengan hormat. Dan ketika Tira mengatakan bahwa ia belum siap membuka hati sepenuhnya, Fahri tidak memaksanya. “Dia pernah bilang,” kata Tira sambil tertawa kecil, “‘Saya tidak minta Tira langsung cinta sama saya. Kalau nanti setelah menikah Tira masih belajar mencintai saya, ya kita belajar sama-sama.’”

Amanda ikut tersenyum, meskipun hatinya terasa sesak. “Kamu beruntung.”

Tira mengangguk. “Mungkin.” Setelah beberapa detik, Tira menggenggam tangan Amanda di atas meja. “Aku sebenarnya takut, Man.”

“Takut apa?”

“Takut setelah menikah nanti aku masih memikirkan Dimas.”

Amanda menatap tangan sahabatnya yang menggenggam tangannya.

“Tapi aku juga percaya, kalau Fahri memang orang baik, aku akan belajar mencintainya. Aku tidak mau menjadikan dia obat untuk melupakan Dimas. Aku ingin menjadikannya suamiku.”

Amanda menahan napas. Kata suami itu terasa begitu berat.

“Kamu tahu,” kata Tira lagi, “selama ini aku selalu menunggu Dimas datang dan mengatakan, ‘Tir, ayo kita menikah.’ Ternyata ada lelaki lain yang bahkan belum pernah kukenal sebelumnya yang justru berani mengatakan itu lebih dulu.”

Amanda tersenyum pahit. “Mungkin memang begitu caranya hidup mengajarkan kita.”

Tira mengangguk., lalu matanya menangkap cincin di jari manis Amanda. Ia tersenyum, lalu “Eh, ngomong-ngomong, kamu sendiri kapan menikah?”

Amanda yang sedang merapikan tas langsung terdiam. “Menikah?”

“Iya.” Tira menunjuk cincin pertunangan di jari Amanda. “Bukannya kamu sama Arga sudah hampir dua tahun bertunangan? Jangan-jangan kalian mau jadi pasangan tunangan terlama di Indonesia.” Tira tertawa kecil.

Amanda ikut tersenyum, tetapi senyumnya terasa kaku. “Belum tahu.”

“Belum tahu bagaimana?” Tira mengerutkan kening. “Arga kan sudah lama ngajak nikah.”

“Iya.”

“Kamu terus menolak?”

“Bukan menolak.” Amanda memainkan cincin di jarinya. “Cuma... belum menemukan waktu yang tepat.”

Tira langsung tertawa. “Lho, kok mirip seseorang?”

Amanda menatapnya. “Siapa?”

“Dimas.” Tawa Tira perlahan menghilang setelah menyebut nama itu.

Amanda menunduk. “Iya. Memang mirip.”

“Kamu tahu, Man,” kata Tira sambil menghela napas, “aku dulu juga selalu bilang begitu. Belum waktunya. Nanti kalau sudah siap. Nanti kalau keadaan lebih baik. Sampai akhirnya aku sadar, kalau menunggu orang siap terus, kita bisa tua di ruang tunggu.”

Amanda tertawa kecil, tetapi hatinya justru semakin sesak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa masalahnya bukan pekerjaan Arga, bukan uang, bukan persiapan pernikahan, bahkan bukan restu keluarga. Masalahnya bernama Dimas. Lelaki yang seharusnya sudah ia tinggalkan bertahun-tahun lalu, tetapi justru terus menariknya kembali setiap kali Amanda mencoba membangun kehidupan baru. Arga sudah berkali-kali mengajaknya menikah. Bahkan beberapa kali ia datang membawa pembicaraan serius tentang rumah, tanggal, dan rencana setelah pernikahan. Arga tidak pernah menggantungnya. Tidak pernah membuatnya bertanya apakah lelaki itu sungguh-sungguh mencintainya. Tetapi setiap kali Amanda membayangkan berdiri di samping Arga sebagai istrinya, wajah Dimas selalu muncul entah dari mana. Dan itulah yang paling membuat Amanda membenci dirinya sendiri. Ia tahu Arga berhak mendapatkan perempuan yang memilihnya dengan utuh. Namun ia belum mampu memberikan hati itu sepenuhnya.

“Kamu masih sayang sama Arga, kan?” tanya Tira. Ia masih ingat, bagaimana bahagianya Amanda memamerkan cincin pertunangan mereka kala itu.

Amanda mengangguk cepat. “Tentu.”

“Terus kenapa belum menikah?”

Amanda membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang aman. Karena aku masih terikat dengan pacarmu. Karena setiap kali aku hendak meninggalkan Dimas, dia selalu kembali. Karena selama hampir delapan tahun aku tidak pernah benar-benar mampu mengatakan tidak kepadanya. Semua kalimat itu hanya berputar di kepalanya. “Aku cuma butuh waktu,” jawab Amanda akhirnya.

Tira menghela napas. “Jangan terlalu lama, Man.”

Amanda tersenyum. “Kenapa?”

“Karena menurutku Arga sudah sabar sekali.”

Kalimat itu membuat Amanda terdiam.

Tira sama sekali tidak tahu betapa dalam luka yang sedang disembunyikan sahabatnya. Ia hanya melihat seorang perempuan yang terlalu lama menunda pernikahan dengan lelaki baik. “Kalau kamu memang mencintai Arga, jangan buat dia menunggu tanpa kepastian,” lanjut Tira. “Aku tidak mau kamu mengalami apa yang aku alami. Juga, aku nggak mau kamu menjadi yang menyakiti seperti orang yang menyakiti aku. Kalau kamu yakin, melangkahlah. Kalau nggak yakin, lepaskan. Nunggu itu melelahkan, Man. Apalagi kalau akhirnya nanti gagal, sakit."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!