NovelToon NovelToon
Takdir Kedua: Balas Dendam Ophelia

Takdir Kedua: Balas Dendam Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:696
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

“Yakin neng mau turun di sini?” tanya sopir taksi yang duduk di depannya. “Restoran itu bukan tempat yang aman untuk dimasuki anak sekolah.”

Harusnya Ophelia mengganti baju dulu tadi. 

Ia sengaja bolos latihan taekwondo agar punya sedikit waktu luang. Ayah angkatnya pasti curiga kalau Ophelia pergi disaat atau sepulang sekolah—ini adalah satu-satunya waktu yang tepat. 

Tapi jadinya dia masih memakai seragam.

“Tidak apa-apa.” Ophelia memberi uang pada pak sopir itu kemudian turun. Taksi yang ia naiki masih tetap diam di sana selama beberapa detik sebelum akhirnya pergi. 

Seberbahaya itu, kah?

Ophelia menatap gedung restoran kecil di depannya. Terlihat seperti tempat makan biasa, walaupun agak jauh dari jalan raya dan kerumunan.

Ini restoran yang dimiliki kakaknya Airin?

Dengan langkah santai Ophelia berjalan ke arah pintu masuk. Tempat ini sepi dengan hanya ada satu pelayan yang terlihat membersihkan meja.

Pria itu tinggi dengan kulit pucat juga mata yang terlihat kurang tidur. Begitu melihat Ophelia dia langsung berjalan pelan ke arahnya—mirip zombie—kemudian menunjuk ke arah pintu ganda di ujung sana. 

“Bos sudah menunggu.” 

Bos?

Ophelia hanya berterima kasih kemudian berjalan ke sana. Amis darah, adalah aroma yang menusuk hidungnya ketika pintu itu terbuka.

Di balik sana ada beberapa ruangan lain yang tertutup. Mungkin khusus VIP? Sekalipun baunya menyengat begini tapi tempatnya bersih sekali.

Mungkin kak Arga ada di salah satu pintu-pintu ini? 

Ophelia berjalan pelan melewati pintu itu. Ketika menemukan satu yang tidak tertutup rapat, dia langsung mundur sembari membulatkan mata ketika melihat darah yang keluar dari lubang kecil sana.

“Ophelia?”

“...Kak Arga?” panggilnya pelan.

“Tunggu di ruangan bertuliskan ‘Arjuna’. Aku sebentar lagi selesai.” 

“Oke.”

Ophelia tidak mau tahu apa yang sedang kakaknya Airin itu lakukan. Tempat apa ini? Markas mafia? 

“Oh, Ophelia ‘kan ya? Temannya Ririn?” 

Seorang pria dengan luka di bibirnya tersenyum ramah begitu Ophelia membuka pintu. Berbeda dengan di lorong tadi, aroma di sini tercium seperti kopi.

Syukurlah.

“Iya,” angguknya. 

Pria itu mempersilahkan Ophelia untuk duduk dan memberinya teh hangat. Dia juga mengeluarkan aneka camilan manis. 

“Tunggu sebentar ya. Bos biasanya tidak akan lama.”

Ophelia mengangguk kecil dan memilih untuk memainkan ponsel. Ada pesan dari Airin disana. 

Airinnn^^

Di restoran kakakku yang paling enak itu iga bakar. Kamu harus coba! 

Ia langsung merinding. 

Daging biasa ‘kan ya? Bukan daging manusia? 

“Oh, bos.” 

Kak Arga masuk ke ruangan dengan pakaian serba hitam. Bau amis darah tercium semakin kuat dan Ophelia bisa melihat ada jejak merah yang menetes dari bajunya. 

Yap. Tidak salah lagi, dia pasti ketua mafia atau sesuatu.

Pria dengan luka di wajahnya itu dengan sigap membantu bosnya melepas jaket dan memberinya jubah panjang. 

“Hebat juga kamu tidak pingsan,” ujar Kak Arga tenang sambil menyalakan rokoknya. “Ketika Kaiser pertama kali kemari wajahnya tidak jauh berbeda dengan mayat.” 

“Aku terbiasa dengan bau menyengat begini.” 

Dia meniupkan asapnya ke udara. “Bilang saja apa yang kamu mau.”

Ophelia melirik ke arah pria yang membantu Kak Arga tadi. Dia sedang memainkan yoyo di kursi samping mereka. 

“Jangan pedulikan dia. Orion tidak akan membocorkan apapun yang ia dengar di ruangan ini.” 

“Wah, kalau dipuji begitu aku jadi terharu.” Orion tersenyum dan menangkap yoyo-nya. “Jangan sungkan, anggap saja aku tidak ada.”

…oke?

Ophelia menarik napas satu kali sebelum bicara. “Kak Arga belum punya pacar ‘kan ya? Kalau ingin punya pasangan tipenya yang seperti apa?” 

“Eh?” 

“Hah?” 

...****************...

Arjuna menghela napas dan memegang bola keras di tangannya kuat-kuat. Kenapa bisa si Aiden itu jago sekali soal bowling? 

Dia mendapatkan strike berturut-turut.

“Kenapa?” senyum Aidoneus sinis. “Coba sendiri kalau mau.” 

Arjuna menyipitkan mata. Kalau saja dia ini tidak silinder—“Arga, lempar ini dan bungkam mulut si sombong itu.”

Kembarannya terlihat tidak mendengar apa yang Arjuna katakan. Dari semenjak datang dia hanya duduk dengan membawa satu tangkai mawar merah yang terus ia pandang.

“Kakakmu itu kenapa? Bawa mawar segala, sedang kasmaran?” tanya Aidoneus. Dia bersiap melempar lagi.

Arjuna juga tidak tahu. 

“Aku dilamar.” 

Untuk pertama kalinya hari ini, lemparan Aidoneus meleset dan bola yang dipegang oleh Arjuna hampir jatuh. “Maksudnya?” 

“Wah, ada juga yang mau menikah denganmu?” 

Arjuna menginjak kaki temannya itu dan kembali bertanya. “Maksudnya apa? lamaran pernikahan?” 

Arga memutar-mutar mawar merah di tangannya dan mengangguk. 

“Siapa?” 

“Kemarin Ophelia datang ke restoranku. Dia bertanya bagaimana tipe yang kusuka, apa aku tertarik dengan pertunangan atau—”

Perkataan Arga terhenti ketika Aidoneus langsung mengguncang kedua bahunya. “Ophelia? Ophelia yang mana?” 

“Ophelia Pratama?” Arga memiringkan kepala. “Yang mana lagi?” 

Aidoneus langsung mematung. 

Wah, ini pertama kalinya Arjuna melihat dia panik begitu.

Temannya itu menarik napas pelan beberapa kali dan langsung duduk. “Konteksnya apa? Dia tidak tiba-tiba butuh suami ‘kan ya? Dan kenapa yang dipilihnya adalah dirimu?” 

“Tenang dulu.” Arjuna menepuk pundak Aidoneus dan duduk di sebelahnya. 

Arga menguap. “Memang bukan untuk dia, Ophelia melamarku untuk kakaknya. Siapa itu? Ceri atau sesuatu.” 

“Chelsea,” sebut Arjuna. “Tapi bukannya ada rumor kalau dia akan dijodohkan dengan Pak Wijaya?” 

Baru rumor sih, tapi kalau mereka benar-benar bertemu berarti akan terjadi.

Aidoneus terlihat menghela napas lega. “Begitu rupanya. Mungkin Ophelia tidak mau kakaknya menikah dengan tua bangka itu? Dia melenyapkan istri pertama dan keduanya ‘kan?” 

Dilihat oleh publik, hilangnya istri pertama dan kecelakaan yang dialami istri keduanya Pak Wijaya terlihat biasa saja. Tapi siapapun yang menganalisis lebih dalam akan tahu kalau itu disengaja. 

Dia hanya ingin punya istri baru tanpa menurunkan reputasinya. 

“Akan ada skandal kalau semisal istri ketiganya nanti meninggal juga, tapi sepertinya dia cukup pintar untuk tidak melakukan itu.” Aidoneus memperbaiki duduknya. “Jika tua bangka itu bosan, mungkin Chelsea yang kita bicarakan akan disiksa sampai dia yang meminta cerai.”

“Mungkin karena tau akan itu Ophelia meminta bantuan,” gumam Arjuna. 

Aidoneus menatap Arga. “Tapi kenapa pada dirimu?” 

“Dia pernah menyelamatkan Airin sekali, jadi aku bilang akan melakukan apapun untuknya kalau dia butuh suatu saat nanti.” Arga mengeluarkan permen dan memakannya. “Kukira dia akan meminta bantuan soal rumor yang sedang terjadi  atau soal Ayah angkatnya itu.”

“Tapi dia malah meminta bantuan untuk orang lain ya?” ujar Aidoneus pelan. 

Arjuna melirik ke arah temannya. Mungkin tidak terlihat karena Aiden memang pandai menyembunyikan ekspresi, tapi Arjuna tahu kalau dia sedang kesal sekarang.

Sebenarnya siapa di sini yang sedang kasmaran? 

“Jadi intinya dia ingin kamu untuk melamar kakaknya agar dia tidak dijodohkan, begitu?” 

Arga mengangguk. “Tapi sepertinya dia tidak sadar kalau aku bukan calon yang tepat.”

Kehidupan yang dipilih Arga terlalu berbahaya. 

Pesaingnya di dunia bawah pasti akan mengincar Chelsea kalau semisal mereka menikah, mengingat dia hanyalah gadis biasa.

Tidak ada pilihan lain. 

“Chelsea hanya butuh dilamar sebelum perjodohannya terjadi ‘kan ya?” Arjuna mengusap rambutnya ke belakang. “Kalau siapapun tidak masalah, berarti aku juga bisa?” 

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!