NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beasiswa Untuk Rania

Keesokan paginya, sinar matahari menyelinap lembut di antara celah dedaunan, menyapa jalanan yang perlahan mulai ramai oleh hiruk-pikuk orang-orang yang bergegas menuju tempat kerja masing-masing. Namun pagi ini, langkah kaki Rania tak mengikuti kebiasaan yang selama ini ia jalani. Pakaian kerjanya yang rapi sudah ia kenakan, tas kecil tersampir di bahu, seakan ia akan berangkat ke Restoran Narira seperti hari-hari biasanya. Namun ketika tiba di persimpangan jalan yang seharusnya berbelok ke arah tempat ia bekerja, kakinya tiba-tiba berhenti.

Ia berdiri diam sejenak, menatap jalan yang membelah di hadapannya, lalu perlahan memutar arah bukan ke kanan menuju restoran, melainkan ke kiri, menuju arah taman kota.

Angin pagi menerpa pelan wajahnya, mengibarkan ujung rambutnya yang terurai rapi, namun ia tak merasakan sejuknya udara itu. Hatinya terasa jauh lebih berat daripada beban tas yang ia pikul. Langkah kakinya melangkah tanpa arah yang pasti, seakan tubuhnya bergerak sendiri, dipandu oleh kegelisahan yang tak kunjung mereda sejak semalam. Hingga akhirnya ia tiba di gerbang taman kota yang luas dan teduh.

Rania melangkah masuk perlahan, menyusuri jalan setapak yang dipenuhi bayangan pepohonan rindang. Beberapa orang terlihat berolahraga pagi, ada yang berjalan santai bersama keluarga, ada yang duduk membaca buku, namun kehangatan itu seakan tak bisa menjangkaunya. Ia berjalan menuju bangku kayu tua yang terletak di sudut paling sepi, di bawah naungan pohon besar yang daun-daunnya bergoyang pelan ditiup angin. Di sanalah ia duduk, membiarkan tubuhnya merosot perlahan, menatap lurus ke arah jalan setapak yang kosong di hadapannya.

Pikirannya seketika kembali berkecamuk, berputar tanpa henti, tak memberi ruang sedikit pun untuk ketenangan. Wajah gadis itu kembali muncul senyum itu, tatapan itu, cara berjalan di samping Dimas yang begitu dekat, begitu wajar, seakan tak ada jarak di antara mereka. Bayangan itu terus berulang, menari-nari di benaknya, menohok hatinya berkali-kali tanpa ampun.

Siapa dia? Mengapa ia begitu dekat dengan Kak Dimas? Mengapa aku tidak pernah tahu tentangnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu kembali menyeruak, sama seperti semalam, namun kali ini terasa lebih nyata, lebih menyakitkan. Rania menekan kedua telapak tangannya ke pangkuan, mencengkeram kain roknya hingga terlipat berantakan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berhenti memikirkannya, untuk mengalihkan perhatiannya pada hal lain namun apa yang bisa ia pikirkan selain itu?

Untuk sesaat, bayangan lain sempat menyelinap masuk sosok Ibu Rosita Wijaya, segala harapan yang selama ini ia pikul, masa depan yang tampak begitu jauh dan penuh keraguan. Selama ini, beban itu yang terasa paling berat di pundaknya, kekhawatiran tentang siapa dirinya, tentang tempatnya di keluarga besar itu, tentang apakah ia pantas meraih mimpi-mimpi yang ia inginkan. Namun pagi ini, seolah-olah semua itu tersisihkan begitu saja. Kekhawatiran tentang Ibu Wijaya, tentang masa depannya, tentang kuliah yang belum tentu bisa ia lanjutkan semuanya terasa jauh, pucat, tak sebanding dengan perih yang kini mengiris hatinya.

Sakitnya mengetahui orang yang dicintainya mungkin sudah dimiliki orang lain itu jauh lebih tajam daripada segala kekhawatiran yang pernah ia rasakan.

Rania menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, namun dadanya tetap terasa sesak. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang bersih, lalu bergumam pelan, suaranya nyaris hilang tertiup angin pagi.

"Aku ingin menemuinya..."

Kalimat itu terucap begitu saja, meluncur dari bibirnya sebelum ia sempat menahannya. Keinginan itu begitu kuat, membara di dadanya, mendesak untuk segera diwujudkan. Ia ingin berdiri, berlari mencari Dimas, menatap mata pria itu, dan bertanya langsung siapa gadis itu, apa hubungan mereka, apakah hatinya sudah dimiliki orang lain. Ia ingin mendengar jawabannya, ingin tahu kebenarannya, apa pun itu.

Namun saat ia bergerak sedikit untuk bangkit, tubuhnya kembali terhenti. Kakinya terasa berat, seakan tertanam di tanah tempat ia duduk. Ia baru menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam seribu bahasa ia tidak tahu ke mana harus pergi.

Selama ini, Dimas selalu yang datang kepadanya. Dimas yang menyapa, Dimas yang mengantar, Dimas yang hadir saat ia membutuhkan. Ia tak pernah sekalipun bertanya di mana rumah pria itu. Ia tak pernah menanyakan tempat kerjanya secara pasti. Ia tak pernah meminta nomor telepon lain selain yang ia gunakan untuk berkirim pesan.

Selama ini ia merasa cukup, merasa bahagia hanya dengan kehadiran Dimas di dekatnya, di tempat yang ia kenal, di lingkungan yang ia kuasai. Ia tak pernah menyadari betapa sedikitnya hal yang ia ketahui tentang pria yang ia cintai itu.

Dan kini, saat ia ingin mencari Dimas, ia tak tahu harus melangkah ke arah mana.

Rania tersenyum pahit, senyum yang penuh kepedihan sekaligus kesadaran yang menyakitkan. Ia menepuk pelan keningnya sendiri, seakan memarahi dirinya yang begitu ceroboh, begitu bodoh.

"Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa, Rania..." bisiknya lirih, matanya berkaca-kaca.

"Kamu mencintainya, tapi kamu bahkan tidak tahu di mana ia tinggal. Tidak tahu di mana ia bekerja. Tidak tahu siapa saja orang-orang di sekitarnya..."

Ia teringat bagaimana Dimas disebut-sebut sebagai sahabat baik kakaknya. Sahabat baik seharusnya itu berarti ia bisa mengenalnya lebih dekat, bukan? Seharusnya ia bisa tahu lebih banyak tentang kehidupan pria itu. Namun selama ini, ia hanya melihat satu sisi Dimas, sisi yang ditunjukkan kepadanya saja. Sisanya tertutup rapat, tersembunyi di balik senyum ramah dan sikap sopan yang selalu ia tampilkan.

Apakah ia memang tak pernah cukup penting untuk Dimas, sehingga pria itu tak pernah merasa perlu membuka dunianya lebih lebar kepadanya? Atau... apakah ada hal lain yang selama ini disembunyikan?

Pikiran itu kembali membuat dadanya sesak. Rania menunduk dalam, kedua tangannya saling meremas erat di pangkuan. Ia ingin marah, ingin menyalahkan Dimas, namun ia sadar tidak ada yang disembunyikan, karena tidak ada yang dijanjikan. Dimas tidak pernah berkata apa-apa tentang perasaan mereka. Tidak pernah menyatakan cinta, tidak pernah memintanya menunggu, tidak pernah memberi harapan secara terang-terangan.

Semua itu tumbuh sendirian di hatinya perasaan itu, harapan itu, impian tentang masa depan bersama semuanya lahir dari dirinya sendiri, tumbuh tanpa ditanam, tanpa disiram, tanpa dirawat oleh siapa pun kecuali dirinya.

Dan kini, saat ia ingin melangkah lebih jauh, ia menyadari bahwa ia berdiri sendirian di jalan yang tak berujung.

"Kalau saja aku bertanya lebih banyak..." gumamnya pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya namun ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan. "Kalau saja aku tidak hanya diam dan menikmati kehadirannya... mungkin aku tidak akan bingung seperti ini sekarang."

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Langit di atasnya tampak cerah, burung-burung berkicau riang di dahan pohon, namun di dalam dadanya terasa mendung dan kelabu. Ia kembali berpikir apakah ia harus pergi ke tempat kerjanya dulu? Mungkin Dimas akan mampir ke restoran seperti biasanya? Atau mungkin ia harus menunggu di sana, berharap pria itu datang, lalu menanyakan semuanya secara langsung?

Namun kemudian ia teringat jika ia pergi ke restoran sekarang, ia akan kembali ke rutinitasnya, menyembunyikan kegelisahannya di balik senyum pelayanannya, dan mungkin ia tak akan punya keberanian untuk bertanya. Rania tahu dirinya sendiri, ia cenderung menutupi perasaannya, takut menyinggung, takut terlihat berlebihan, takut membebani orang lain. Jika ia bertemu Dimas di tempat kerja, kemungkinan besar ia hanya akan tersenyum biasa, menyapa seperti biasa, dan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja.

Ia butuh tempat lain, momen lain, di mana hanya ada mereka berdua, di mana ia bisa bicara jujur tanpa takut didengar orang lain. Tapi di mana?

Rania mendongak, menatap ke arah jalan raya yang terlihat dari balik pepohonan. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang bergegas menuju tujuannya masing-masing. Setiap orang tampak tahu ke mana mereka pergi, kecuali dirinya. Ia merasa kecil, tersesat di tengah kota yang luas ini, memegang perasaan yang begitu besar namun tak tahu ke mana harus membawanya.

"Kak Dimas..." namanya terucap pelan, penuh kerinduan sekaligus kepedihan. "Di mana kau? Mengapa saat aku ingin bicara denganmu, aku tak tahu harus mencarimu ke mana?"

Ia kembali merenung, menyadari satu hal pahit selama ini, Dimas yang mengatur ritus pertemuan mereka. Dimas yang menentukan kapan bertemu, kapan pergi, seberapa dekat jarak di antara mereka. Dan ia hanya mengikuti, senang dengan apa yang diberikan, tak berani meminta lebih. Kini, saat kendali itu diambil alih, ia tak tahu ke mana harus melangkah.

Namun di tengah keputusasaan itu, secercah tekad mulai tumbuh perlahan di hatinya. Bukan kemarahan, bukan kebencian, melainkan kesadaran ia tidak bisa terus seperti ini. Ia tidak bisa hanya menunggu, tidak bisa hanya diam, tidak bisa membiarkan ketidakpastian ini menggerogotinya hari demi hari. Entah bagaimana, entah kapan, ia akan menemukan cara untuk bicara dengan Dimas. Ia akan tahu siapa gadis itu. Ia akan tahu kebenarannya, apa pun itu.

Dan jika jawabannya menyakitkan ia akan menghadapinya. Ia akan menerima apa adanya. Karena setidaknya, ia tidak akan lagi hidup dalam keraguan yang tak berujung.

Rania menarik napas panjang, lalu berdiri perlahan. Kakinya masih terasa berat, namun hatinya sedikit lebih tenang. Ia menatap sekeliling taman yang damai itu untuk terakhir kalinya, lalu berbalik arah. Ia tidak akan pergi mencari Dimas hari ini ia sadar itu sia-sia. Namun ia juga tidak akan membiarkan dirinya terpuruk selamanya.

Langkah kakinya mulai melangkah meninggalkan bangku itu, perlahan namun pasti. Ia kembali ke jalan yang menuju restoran bukan karena menyerah, tapi karena ia tahu, jawaban itu akan datang kepadanya. Saat tiba waktunya, ia akan siap bertanya. Dan saat itu tiba, ia akan mendengarkan dengan kepala tegak, dengan hati yang jujur, dan dengan keberanian yang selama ini ia simpan diam-diam.

Matahari pagi kini berdiri lebih tinggi, menyinari jalannya yang masih panjang. Rania menyeka sisa air mata yang sempat jatuh, lalu tersenyum tipis senyum yang rapuh namun tetap ada. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tidak tahu apa yang disembunyikan di balik senyum Dimas dan kehadiran gadis itu. Namun satu hal yang ia yakini ia tidak akan lagi berdiri di tempat yang sama, menunggu tanpa tahu ke mana tujuannya. Ia akan mencari tahu. Bagaimanapun caranya.

 

Sementara itu, jauh dari kegelisahan yang menyelimuti hati Rania, di taman teduh kampus yang dipenuhi pepohonan rindang, Rina duduk sendirian di bangku kayu yang bersih. Cahaya matahari pagi menembus celah dedaunan, menciptakan bintik cahaya keemasan yang bergerak pelan di atas rumput hijau.

Suasana begitu damai, namun ketenangan itu tak sepenuhnya menyentuh hati Rina. Ia sesekali melirik ke arah jalan setapak, jemarinya saling meremas di pangkuan, menahan detak jantung yang berdebar tak menentu.

Tak berselang lama, langkah kaki terdengar mendekat cepat, ringan, dan akrab. Rina mendongak, dan seketika itu juga, sedikit ketegangan di wajahnya mereda. Yuna berjalan mendekat, napasnya sedikit terengah, rambutnya berantakan ditiup angin, namun matanya tetap bersinar ramah.

"Kak... ada apa?" tanyanya pelan, penuh rasa ingin tahu sekaligus hormat. "Pesannya terasa mendesak... aku langsung bergegas ke sini."

Rina beranjak berdiri perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang menyiratkan begitu banyak hal yang tak terucap. "Yun... boleh Kakak minta tolong?"

Yuna mengangguk mantap tanpa ragu. "Tentu, Kak. Selagi aku bisa, pasti aku bantu. Kakak tidak perlu sungkan."

Kata-kata tulus itu membuat Rina hampir terharu. Ia menarik napas dalam, lalu menunjuk bangku di sampingnya. "Duduk dulu, Yun. Ini akan lumayan panjang."

Keduanya duduk berdampingan, diiringi suara gemerisik daun yang ditiup angin. Rina menatap lurus ke depan, lalu memulai dengan suara yang tenang namun serius.

"Ini soal Rania..."

Yuna langsung mengangguk paham, duduk lebih tegak, menyimak saksama.

"Kakak tahu betul betapa besar keinginan adikku itu untuk melanjutkan kuliah," lanjut Rina pelan namun tegas.

"Ia cerdas, tekun, dan bermimpi besar. Tapi Kakak juga tahu bagaimana pandangan Ibu soal ini. Ibu sangat tidak menykai rania, bahkan ia menjadikan rania ancaman terbesarnya menguasai harta wijaya. dan jika aku ataupun ka rian membantu secara terang-terangan sangat tidak mungkin untuk sekarang"

Yuna mengerutkan kening samar. "Lalu... apa yang Kakak rencanakan?"

Rina menoleh menatapnya lekat. "Ada sebuah beasiswa penuh dari yayasan pendidikan yang tidak berafiliasi dengan keluarga kita. Kakak sudah menyiapkan semuanya persyaratan, pendaftaran, hingga proses seleksinya. Rania sudah terpilih sebagai salah satu penerimanya. Tinggal satu hal yang belum selesai menyampaikan kabar ini kepadanya."

"Jadi..." Yuna mulai menangkap maksudnya.

"Kamu yang akan menyampaikannya, Yun," ucap Rina mantap.

"Bukan Kakak. Kamu yang memberi tahu Rania bahwa kamu menemukan informasi beasiswa itu, kamu yang mendorongnya mendaftar, dan kamu yang menyampaikan kabar diterimanya. Semuanya harus terlihat murni kebetulan, seakan keberuntungan itu datang sendiri kepadanya, tanpa ada campur tangan siapa pun dari keluarga."

Yuna terdiam sejenak, mencerna. "Tapi Kak... bagaimana caranya? Rania pasti akan bertanya-tanya. Bagaimana kalau ia curiga?"

"Itulah kenapa Kakak memintamu, bukan orang lain," jawab Rina lembut namun tegas.

"Kamu sahabatnya. Kamu orang yang paling ia percaya selain keluarga. Jika kamu yang bilang, ia akan menerimanya apa adanya. Kakak sudah menyusun langkah-langkahnya agar tidak ada celah"

"Pertama, kamu sebutkan bahwa informasi beasiswa itu kamu temukan di papan pengumuman kampus secara tidak sengaja. Kedua, kamu bilang kamu pikir beasiswa itu cocok untuknya, jadi kamu sarankan ia mencoba. Ketiga, kamu bantu ia mengisi formulir padahal berkasnya sudah Kakak siapkan sebelumnya, tinggal kamu serahkan atas namamu. Dan keempat, saat kabar diterima datang, kamulah yang menyampaikannya seolah-olah kamu yang menerima pemberitahuannya duluan."

Yuna mengangguk pelan, mulai memahami. "Jadi Kakak benar-benar sudah menyiapkan semuanya?"

"Sudah sejak lama," akui Rina, matanya menerawang jauh.

"Setiap kali melihat Rania tersenyum namun menyembunyikan kekecewaannya, Kakak merasa tak bisa diam saja. Ia berhak bermimpi, Yun. Ia berhak meraih masa depan yang lebih luas. Kakak tidak ingin ia menyesal di kemudian hari karena kesempatan yang tak pernah datang."

"Tapi Kak..." Yuna ragu sejenak, "kalau suatu saat nanti Rania tahu kebenarannya? Atau tante laras mengetahuinya?"

Rina menghela napas panjang. "Rania akan mengerti suatu hari nanti — Kakak yakin. Soal Ibu... Kakak sudah memperhitungkan segala risikonya. Beasiswa itu datang dari pihak luar, lembaga yang tak dikenal Ibu, dan semua prosedurnya sah dan resmi. Ibu mungkin terkejut, mungkin bingung, tapi ia tak bisa menolak kesempatan pendidikan yang datang secara resmi seperti ini. Kakak hanya memintamu menjaga rahasia ini sampai waktu yang tepat tiba."

Ia menatap Yuna dengan mata yang berkaca-kaca namun teguh.

"Kakak tahu ini berat, Yun. Kakak tahu kamu harus menyimpan sesuatu yang besar sendirian. Tapi percayalah tak ada orang lain yang bisa Kakak percaya sepertimu. Kamu tulus, kamu jujur, kamu memiliki keberanian, dan kamu menyayangi Rania. Itulah sebabnya Kakak datang kepadamu, bukan kepada orang lain."

Yuna menunduk sejenak, memikirkan segalanya tanggung jawab besar ini, kepercayaan yang diberikan, dan apa artinya semua itu bagi sahabatnya. Ia teringat wajah Rania, senyumnya yang cerah, dan keinginannya yang begitu kuat untuk maju. Hatinya tergerak. Ia mendongak, menatap Rina, lalu tersenyum tulus.

"Baiklah, Kak. Aku akan melakukannya."

Rina tersenyum lega, menyentuh lengan Yuna pelan. "Terima kasih... terima kasih banyak, Yun."

"Aku lakukan karena aku sayang Rania juga," lanjut Yuna tegas. "Tapi Kak, ada satu hal yang harus kita sepakati jika suatu saat Rania bertanya lebih dalam, atau jika ada hal yang membahayakan posisi Kakak di keluarga, kita harus bicara. Aku tidak ingin Kakak yang menanggung semua risiko sendirian."

"Sepakat," jawab Rina mantap. "Setiap hal yang terjadi, kita akan hadapi bersama. Sekarang, ini jadwal dan langkah pertamanya..."

Rina mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi dari tasnya, menyerahkannya kepada Yuna. Di sana tertulis rincian: kapan menyampaikan informasi itu, apa yang dikatakan, hingga bagaimana menyusun cerita agar terlihat wajar dan tak dicurigai. Semuanya dipikirkan dengan matang, tak ada satu pun yang terlewat.

"Besok ajak rania bertemu di restoran, mulailah dari sana," pesan Rina pelan namun tegas.

"Bicarakan seolah-olah baru teringat. Jangan terlalu mendesak. Biarkan ia merasa ini adalah pilihannya sendiri."

Yuna melipat kertas itu kembali, menyimpannya rapi di dalam tas. "Siap, Kak. Aku akan lakukan persis seperti yang direncanakan."

Rina menghela napas panjang, beban di pundaknya terasa sedikit terangkat. Ia menatap ke arah langit yang cerah, berharap rencana ini berjalan lancar, berharap adiknya bisa meraih apa yang pantas ia dapatkan tanpa mengetahui betapa besar kasih sayang yang tersembunyi di baliknya.

"Terima kasih, Yun..." bisiknya sekali lagi, tulus dari lubuk hati terdalam. "Kau tak tahu betapa berartinya ini bagi Kakak."

Yuna tersenyum hangat. "Sama-sama, Kak. Semoga semuanya berjalan lancar demi Rania."

Keduanya berdiri, berpisah dengan perasaan yang berbeda satu berharap semuanya berhasil, satu berjanji menjaga amanah ini sebaik mungkin. Di bawah langit pagi yang cerah itu, sebuah rencana telah disusun, bukan dengan niat menyembunyikan kebenaran selamanya, melainkan demi kebaikan orang yang paling dicintai demi masa depan yang lebih cerah bagi rania.

 

Bersambung… ✨

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!