Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DESA SALIM
Paviliun Melati
Baskara menatap yena yang sedang berbaring lemah. Gadis itu terluka cukup parah di bagian punggung. Setelah merasa sudah cukup lama ia berada di sana, Baskara memutuskan untuk pergi.
"Yang mulia." Yena memegang ujung jubah baskara. "Jangan pergi." Kedua mata jernihnya berkaca-kaca. Lalu, Baskara kembali duduk di ujung ranjang miliknya.
"Apa kau masih merasa kesakitan, Aku akan memanggilkan tabib lagi untuk-mu." Ucap baskara, Yena menggeleng. Ia mendekat dan memeluk baskara dengan erat. "Aku ingin yang mulia menemani aku, Aku takut permaisuri mendatangiku lagi." Cicitnya.
"Dia tidak akan berani melakukan itu lagi, Kau tenang saja di sini. Aku punya beberapa masalah penting." Ucap baskara menolak halus yena, Pemuda itu keluar begitu saja dari dalam paviliun Melati.
Selepas kepergian baskara, Wajah yena terlihat menggelap. "Yang mulia, Mengapa anda tak mencegah yang mulia pergi, Dia pasti bersedia. Karna dia mengasihani anda." Ucap ayu dengan bingung. Yena tersenyum miring, "Jangan terburu-buru, Kita harus melakukannya dengan lembut dan hati-hati. Agar yang mulia selalu merasa bahwa aku orang yang polos dan tak tahu apa-apa." Ucap yena, Ayu tersenyum. "Anda sangat pintar yang mulia." Yena tersenyum. "Suatu saat, pangeran pasti hanya akan menatapku." Ucap yena tersenyum percaya diri.
***
Baskara pergi menuju ruang kerja miliknya. Menatap 5 gulungan laporan yang belum ia baca sebelumnya. "Yang mulia, Apa anda ingin membaca laporan?" Tanya pengawal kepercayaannya, Jaya.
"Tidak, Aku ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu. Bawakan baju gantiku. Aku ingin mandi." Perintah baskara, Sang pengawal mengangguk dan segera pergi menuju paviliun Elang. Kediaman utama putra mahkota.
Baskara mendatangi tempat pemandian, Ia melepaskan semua kecuali celananya. Lalu ia berendam dan memejamkan kedua matanya. "Jangan pergi." Baskara mengingat perkataan yena sebelumnya, Tetapi bukan dengan wajah yena, Melainkan Aluna.
"Aku tahu, Semirip apapun seorang gadis padamu, Mereka bukan dirimu. Mereka hanya ular yang menyamar menjadi kelinci. Sedangkan kau, Kau benar-benar kelinci menggemaskan." Gumam baskara tersenyum membayangkan wajah Aluna.
Di lain sisi, Luna menatap kearah kediaman yena, Paviliunnya berada tepat di depan paviliun yena. Wajahnya tersenyum miring. "Yang mulia, Hari ini...pangeran mendatangi selir yena lumayan lama, Posisi anda akan semakin berada di bawahnya." Ucap lili, Luna tersenyum sambil meneguk secangkir teh miliknya. "Lili, Kau belum paham juga, Musuh yena itu, Yang mulia permaisuri. Bukan aku." Lili berjongkok sambil merendam kaki selir Luna dengan senyum merekahnya. "Jadi, Anda sengaja mundur untuk menang, Anda sungguh cerdas selir." Luna tersenyum penuh arti. "Pada akhirnya, Yang mulia hanya akan menempatkan diriku di sisinya, Meskipun aku tak pernah sekali pun mengharapkan cintanya." Ucap Luna tersenyum sambil menatap cangkir teh miliknya.
Berita soal pangeran baskara yang menemani selir barunya itu pasti akan menyebar, Dan kuping seseorang pasti sedang panas kali ini. Luna hanya berharap, Akan ada tontonan menarik esok hari.
"Lili, Mendekat lah." Selir Luna membisikan sesuatu pada lili, Lalu pelayan itu tersenyum miring. "Akan hamba laksanakan selir." Pelayan itu keluar menuju suatu tempat.
****
Zephira menatap tajam paviliun Melati, Hatinya tak tenang, Bagaimana jika baskara menghabiskan malamnya bersama selir baru itu? Posisinya benar-benar tak akan aman.
"Yang mulia, Yang mulia pangeran baskara sudah keluar dari paviliun Melati. Sekarang ia sedang berada di ruang kerjanya."Zephira tersenyum puas. "Hahaaa...Mana mungkin gadis bodoh itu di sukai oleh baskara, Dia saja sama bodohnya dengan Aluna." Desis Zephira.
"Tetapi, Yang mulia."Lena menelan saliva-nya kasar, Ia tak tahu harus memberitahukan hal ini atau tidak. "Ada apa?" Tanya Zephira dengan wajah kesal. "Ibu suri mendengar bahwa yang mulia pangeran baskara mendatangi selir yena, Jadi..." Zephira menatap tajam selirnya. "Ibu suri menaikan statusnya sebagai selir mulia."
PRANG!
"APA!"
Zephira melempar gelas porselen miliknya dengan wajah kesal. "Apakah baskara tau hal ini?" Tanya Zephira, Lena mengangguk pelan. "Tahu yang mulia" Wajah Zephira semakin mengetat.
Ia mencoba bersabar, Mengatur nafas dan berusaha terlihat baik-baik saja...
"Kirimkan surat pada ayahku, Katakan bahwa aku akan pulang dalam beberapa hari." Perintah Zephira, Lena mengangguk. "Baik yang mulia." Selepas kepergian Lena, Zephira jatuh terduduk.
"Aku akan meminta ayah untuk menegur baskara, Supaya dia tahu. Bahwa posisi yang ia dapat itu karna keluarga wangsa memihak padanya." Desis Zephira.
****
Aluna dan Arya berjalan meninggalkan desa Qing, Mereka pergi menuju beberapa desa untuk menghindari para mata-mata. Kini, Mereka sudah berjalan cukup jauh. Mereka memutuskan untuk istirahat di sebuah desa bernama desa Salim.
Desa yang 50 persen penduduknya berkerja di bagian penempa. Baru saja masuk, Arya dan Aluna bisa melihat beberapa orang yang sedang menempa senjata dan beberapa baju besi.
Clang! clang! clang!
Suara besi itu menggema ketika di pukul oleh palu. Arya menggandeng tangan Aluna memasuki Desa Salim. Beberapa orang menatap mereka dengan aneh.
Wajah mereka berdua di tutupi oleh tudung yang di lapisi oleh tirai tipis. Tubuh dan kulit serta jalan mereka benar-benar bukan seperti orang biasa.
"Tunggu!."
Arya dan Aluna menghentikan langkahnya. Seseorang berseru dengan nada nyaring. Beberapa orang yang sedang lewat ikut terhenti dan penasaran dengan kedua orang itu.
"Kalian berasal dari mana?" Tanya seorang pria tua berbaju lusuh, Dengan pengikat kepala yang sudah sangat kusam. "Kami berasal dari desa Qing." Jawab Arya, Pria itu menatap Arya dari atas sampai bawah. Tinggi, Kedua matanya tajam. Bahunya lebar. Lalu pada Aluna. Gadis itu terlihat ramping, Tidak terlalu tinggi dan berkulit putih bersih.
"Apa tujuan kalian datang ke desa Salim?" Tanya pria tua itu penasaran, "Kami hanya ingin berlibur saja, Kami tertarik untuk melihat para penempa senjata." Ucap Arya, Pria itu menatapnya curiga. "Siapa kerabat anda di desa Qing?" Tanyanya lagi.
Arya mengeluarkan sebuah tongpai tembaga (Papan identitas) Pada pria tua itu. "Owhh...Kakek Lin? Dan tabib Julian!" Teriak pria tua itu, Ia tersenyum lega. "Bagaimana kabar tabib Julian? Beberapa bulan yang lalu. Dia datang menangani beberapa orang yang sakit di desa ini." Wajah pria tua itu berubah, Tidak lagi mencurigai mereka. "Mereka baik, Baru saja kemarin, Tabib Julian mengobati orang-orang di desa bambu." Pria tua itu tersenyum senang.
"Ayo, Tuan dan nyonya. Saya akan mentraktir makanan di kedai milik teman saya. Saya sangat senang di datangi oleh kerabat kakek Lin Dan juga Julian. Sebagai tanda terima kasih-ku pada tabib Julian." Ucap pria tua itu, Arya tersenyum. Ia dan Aluna berjalan mengikuti pria tua itu.
Tanpa di sadari, Beberapa orang sedang menatap mereka dengan curiga. "Segera laporkan pada pangeran Arnold, Sepasang wanita dan pria itu terlihat seperti bukan orang biasa." Bisik beberapa prajurit yang menyamar.
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏