Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMPAT MENUANGKAN RINDU
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Dara berlari keluar kelas dengan ransel yang agak kebesaran di punggungnya. Tapi yang membuat Sutami lebih lega adalah wajah ceria Dara, yang artinya kelas berjalan baik-baik saja. Semua bisikan sinis di lobi tadi pagi, seolah hilang sesaat ketika melihat senyum anak kecil ini.
"Ibu!" serunya menghambur memeluk Sutami.
Sutami langsung menggendong Dara, mengusap keringat di dahi bocah itu, lalu mengajaknya duduk sejenak di bangku tunggu di lobi.
"Dara, ibu mau ajak Dara ke rumah ibunya ibu, mau?" tanyanya kemudian.
"Ibunya ibu... Nenek? Mau-mau!" seru girang bocah itu penuh semangat.
"Baiklah, Ibu ijin dulu sama Ayah, Ya?" Sutami mengambil ponsel dari tasnya dan menekan nomor Waluyo. "Halo, Pak," sapa Sutami pelan ketika panggilan tersambung.
"Ya, Tami? Dara sudah pulang?" jawab Waluyo di seberang.
"Sudah, Pak. Maaf, bolehkah saya hari ini mengajak Dara berkunjung ke rumah Ibu saya? Nanti sore sebelum Magrib kami sudah kembali," ujar Sutami tenang dan sopan.
Di seberang, Waluyo terdiam sejenak. Ia mengerti, setelah kejadian tempo hari, rumah pasti terasa begitu berat untuk Sutami.
"Boleh. Tentu saja boleh!" ujarnya kemudian.
"Terima kasih, Pak," jawab Sutami lega dan panggilan pun berakhir.
Perjalanan ke rumah Mak Mia tak lama. Hanya sekitar dua puluh menit dari sekolahnya Dara. Mobil taksi masuk ke jalanan kecil yang diapit sawah yang mulai menguning.
Rumah Mak Mia dan Pak Sukimin masih sama, sederhana dengan halaman yang sangat bersih. Di teras, ada beberapa pot bunga yang dirawat dengan telaten.
Mak Mia yang sedang menjemur kerupuk di halaman, langsung berdiri, menoleh lalu mematung. Tangannya menutup mulut saat melihat Sutami turun dari taksi. "Ya ampun... Tami?" teriaknya dengan suara bergetar.
Pak Sukimin yang sedang memperbaiki jaring di teras, juga langsung berdiri. Kacamata bacanya ia lepas.
Mak Mia berlari kecil dan langsung memeluk putrinya erat-erat. "Ya Tuhan, anakku... Tami... kamu pulang," isak Mak Mia. Tubuh ringkihnya bergetar dalam pelukan Sutami. Ia menciumi kepala anaknya berkali-kali. "Ibu kangen banget sama kamu... kamu makin cantik, Nduk."
Sutami tidak bisa menahan air matanya lagi. Semua sesak yang ia tahan sejak di lobi sekolah akhirnya pecah di pelukan ibunya. Tangis yang tadi ia tahan menjadi tangis rindu yang sesungguhnya. "Ibu... Tami juga kangen Ibu," isak Sutami.
Pak Sukimin mendekat. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya mengusap punggung Sutami dengan tangan kasarnya yang penuh kapalan, tapi matanya berkaca-kaca. "Sudah, sudah. Anaknya sudah pulang, jangan ditangisi terus. Ayo masuk, ayo masuk," ucap Pak Sukimin dengan suara serak menahan haru. "Kau sehat, Nduk? Keluarga Juragan Waluyo memperlakukanmu dengan baik?"
Sutami mengangguk sambil menghapus air matanya. "Baik, Pak. Baik sekali."
Saat itulah Mak Mia baru menyadari ada seorang anak kecil yang berdiri sabar tak jauh dari mereka, memegang boneka kelincinya dengan sedikit malu-malu, menatap mereka dengan mata bulatnya.
Mak Mia langsung melepas pelukannya dari Sutami dan menatap Dara dengan senyum yang begitu hangat dan tulus. Tidak ada sedikit pun rasa canggung. "Ya ampun, ini pasti Dara ya? Yang sering Tami ceritakan di telepon?" tanya Mak Mia dengan suara yang langsung berubah lembut.
Sutami mengangguk dan menggandeng Dara. "Dara, ini Mak Mia, ibunya Ibu. Dan itu Pak Sukimin, ayahnya Ibu."
Dara langsung tersenyum lebar, mungkin karena aura hangat dari Mak Mia. "Halo, Nek... Halo, Kek..." sapa Dara pelan dan sopan.
"Ya ampun, cantiknya... sini, sini sama Nenek," Mak Mia langsung berjongkok dan merentangkan tangannya. Tanpa ragu, Dara berlari ke dalam pelukannya.
Sambutan keluarga Pak Sukimin tetap hangat untuk Dara. Tidak ada pembedaan, tak ada tatapan bahwa Dara adalah anak tiri dari Sutami. Bagi mereka, Dara adalah cucu.
Pak Sukimin langsung masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa sekantong kue cucur yang baru saja dibuat Mak Mia pagi tadi.
"Dara tahu kue ini? Ini buatan Nenek, manis sekali, namanya kue cucur" tawar Pak Sukimin sambil duduk di lantai teras agar sejajar dengan Dara.
Dara menggangguk ragu, "Nggak tahu sih, tapi akan Dara icipi," katanya sopan.
Sutami selonjoran di lantai teras, melihat pemandangan itu. Dara tertawa lepas berbincang dengan Mak Mia dan Pak Sukimin, bercerita tentang sekolahnya, tentang ulat yang ia temukan di taman. Mak Mia dan Pak Sukimin mendengarkan dengan antusias, mereka tertawa bersama.
Tanpa sadar Sutami tersenyum. Di teras rumah yang sederhana inilah, ia merasa hidup. Tidak ada tatapan sinis, tak ada bisikan kejam, tak ada foto mendiang yang menghantui. Hanya ada tawa ibunya, suara serak ayahnya, dan tawa kecil Dara yang tulus.
Di tengah tawa itu, Sutami menatap sawah di seberang jalan. Pikirannya kembali melayang. Di tempat sehangat inilah ia merasa aman. Mungkin memang di sinilah ia seharusnya berada, bukan di rumah mewah Juragan Waluyo yang dingin dan penuh luka. 'Kalau saja aku bisa tinggal di sini saja bersama Dara,' batinnya.
Namun ketentraman itu harus terusik. Suara mobil berderit keras memasuki halaman rumah Mak Mia. Itu Kuswara.
Begitu melihat Sutami duduk di teras, senyum liciknya langsung terkembang. "Wah! Ini nih pelakunya! Bahkan sudah menikah pun tetap saja menyebabkan sial!" umpatnya dengan wajah masam.
...****************...
Bersambung....
bojoku biyen Yo mergae ngono, Kus, Kus...
rasain tuh 😏