tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Smith menyeringai tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan bahaya. Sebagai pewaris utama dari Vuitton Empire, menghancurkan perusahaan sekelas Wijaya Group bukanlah hal yang mustahil baginya.
"Jovento Group? Perusahaan properti dan tekstil berskala menengah itu?" Smith mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat kepada sekretaris pribadinya untuk mengumpulkan seluruh data keuangan dan hukum perusahaan tersebut. "Dua minggu. Beri aku waktu dua minggu, Tian."
Tian menatap Smith dengan tidak percaya. "Dua minggu? Apa itu tidak terlalu cepat? Mereka punya koneksi yang cukup kuat di pemerintahan."
"Koneksi mereka tidak ada apa-apanya di hadapan kekuasaan Vuitton," sahut Smith tenang sembari memasukkan kembali ponselnya ke saku jas. "Pertama, kita akan memotong pasukan utama mereka. Aku tahu mereka baru saja memenangkan tender proyek besar yang modalnya didapat dari pinjaman dari saya. saya akan buat membatalkan pinjaman ke mereka dan menarik investasi mereka secara sepihak."
Smith melangkah lebih dekat, mencengkeram lembut bahu Tian untuk menyalurkan kekuatan. "Kedua, aku akan mengirim orang untuk kebusukan mereka dan kasus korupsi internal yang selama ini disembunyikan tomi ayahmu. Begitu nama mereka cacat di bursa saham, investor akan lari. Di saat itulah, aku akan membeli seluruh saham mereka dengan harga sampah, lalu membubarkan perusahaan itu."
Mendengar rencana taktis dan kejam dari Smith, Tian merasakan secercah harapan yang sudah bertahun-tahun padam kini menyala kembali.
"Aku ingin melihat mereka mengemis di jalanan, Smith. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dan berada di titik terendah," bisik Tian dengan tatapan dingin.
"Mereka akan mendapatkannya, Tian. Lebih buruk dari yang kamu bayangkan," janji Smith serius. "Tapi setelah ini selesai, berjanji pulalah padaku untuk ikut pulang ke rumah Mama. Dia sangat merindukanmu."
Tian tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus pertama setelah sekian lama. "Iya, aku berjanji."
Tepat saat kesepakatan gelap itu selesai dibuat, terdengar suara tawa riang dari luar pintu. Rendra telah kembali bersama ketiga pemuda apartemen dengan membawa cup es krim di tangannya.
" Hahaha, Kakak Brian hebat loh bisa mengalahkan penjahat itu, padahal mereka tiga orang," kagum Rendra.
"Tentu saja gue hebat. Nggak lihat nih otot gue? Lagian gue kan bisa bela diri," ucap Brian dengan wajah angkuh.
"Sombong amat," ucap Revangga.
"Percuma badan berotot kalau jadi pihak bawah, wkwkwk," ucap Elvian.
"Hahaha, hahaha, benar juga," tawa Revangga.
"Merusak suasana aja lo pada!" ucap Brian.
"Daddy..., Daddy tahu tidak? Tadi waktu kami mau pulang, ada orang jahat yang menghadang kami," ucap Rendra.
"Orang jahat? Kamu tidak apa-apa kan, Sayang?" ucap Smith dengan rasa khawatir.
"Aku baik-baik aja. Untung ada Kak Brian yang menghajar mereka, jadi penjahat itu kabur," ucap Rendra.
"Kamu baik-baik saja? Tidak ada luka, kan?" tanya Tian.
"Kak Tian tenang aja, kami baik-baik saja. Justru para penjahat itu yang terluka sama pukulan Brian," ucap Revangga.
Puk! Puk!
"Tentu saja! Siapa dulu dong, Brian gitu loh!" ucap Brian.
Ceklek!
Saat mereka sedang berbicara, datanglah tiga pemuda yang begitu tampan masuk ke dalam apartemen.
"Elvian," panggil Maxime.
Elvian memutar matanya malas. Sudah seminggu mereka tidak bertemu karena Maxime ada pekerjaan di luar negeri, dan sekarang dia baru datang kembali.
"Ngapain?" tanya Elvian.
"Saya bawakan kamu ini." Maxime memberikan sebuah paper bag.
"Makasih." Dengan ogah-ogahan, Elvian mengambil paper bag itu.
"Hai, Revan," ucap Michael dengan senyum manisnya.
"Hai juga," dengan malu-malu Revangga menyapa balik Michael.
"Nih, buat kamu," ucap Michael.
"Apa ini?" Revangga mengambil paper bag itu.
Sementara itu, Caesar hanya berdiri menatap tajam Brian karena melihat pakaian Brian yang sedikit terbuka di bagian dadanya. Brian merasa risih ditatap seperti itu oleh seseorang yang ingin memakannya.
"Ngapain lo lihat kayak gitu, hah?!" ucap Brian dengan suara meninggi.
"Tutup," ucap Caesar.
"Hah? Apa? Tutup apa?" ucap Brian.
Caesar mendekati Brian dan membenarkan pakaian Brian yang terbuka.
"Dibuka lagi, kamu tahu akibatnya, Sayang." Caesar tersenyum miring.
"Posesif amat, Bang," ucap Michael.
Caesar langsung menatap dingin Michael. Michael meneguk ludahnya kasar.
"Hehehe, sorry, Bang. Silakan lanjut," ucap Michael.
Smith yang melihat tiga pemuda—yang merupakan anak dari Anton, mafia nomor satu di dunia—merasa terkejut karena mereka berada di apartemen Tian.
"Kenapa mereka bertiga ada di sini? Dan... apa mereka kenal dengan anaknya Tuan Anton?" tanya Smith kepada Tian.
"Aku kenal. Mereka menyukai Elvian, Revangga, dan Brian," ucap Tian.
"Saya kira mereka itu dingin dan tidak tersentuh. Apalagi Caesar yang punya aura begitu mematikan. Tapi mereka bisa jatuh cinta juga, ya," ucap Smith. "Namanya juga manusia."ucap tian
"Tian," panggil Smith.
"Ya?"
Saat Smith ingin mengatakan sesuatu kepada Tian, Rendra tiba-tiba memeluk kaki Smith.
"Dad, Kak Tian ikut kita pulang, ya?" pinta Rendra dengan puppy eyes.
"Coba tanya Kak Tian, mau apa tidak ikut kita pulang," ucap Smith.
"Kak Tian mau kok! Tadi aku sudah bilang ke Kak Tian," ucap Rendra.
"Baiklah, kalau Kak Tian-nya mau, Kak Tian ikut juga," ucap Smith.
"Yeeeee! Makasih, Daddy!" seru Rendra dengan senyum manisnya.
"Sama-sama, Boy," ucap Smith sambil mengusap rambut Rendra.
Brian dan Elvian terlihat sangat kesal saat Caesar dan Maxime memeluk mereka dengan posesif. Sementara itu, Revangga dan Michael tampak akrab. Tawa Revangga terdengar renyah mendengar cerita lucu dari Michael.
Hahaha, apa iya seperti itu?" ucap Revangga.
"Iya, suer deh kagak bohong! Tahu gak apa yang paling lucu?" ucap Michael.
"Apa?" tanya Revangga.
"Sini gue bisikin." Revangga mendekat dan Michael membisikkan sesuatu ke telinga Revangga.
"Huahahahaha! Serius seperti itu? Tapi kok..." Revangga menoleh ke arah Caesar yang sedang memeluk Brian. "Wajahnya dingin dan sangar, masa takut sama badut sih?" ucap Revangga dengan tatapan tidak percaya.
"Serius, kagak bohong! Tuh orang memang dingin dan kejam, tapi kalau lihat badut langsung kabur," ucap Michael.
"Hihihihi, tampang doang sangar ya, tapi takut badut," ucap Revangga.
"Hahaha, benar!" Michael membenarkan.
"Apa yang kalian tertawakan dari tadi?" ucap Maxime.
"Kagak ada, Bang," ucap Michael.
"Micel lagi cerita tetangganya yang ee di celana, Bang. Iya kan, Revan?" Revangga mengangguk cepat.
"Mencurigakan," ucap Elvian dengan menyipitkan matanya.