Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Balik Altar
Rasa hangat dari pendar Soul Aegis yang tertanam di tongkat safir Monica masih mengalir lembut, menopang staminanya. Di dalam ruang ritual bawah tanah yang luas, bau belerang terasa semakin pekat, mengaburkan pandangan.
Prajurit berzirah hitam yang tersisa kini berbaris rapat melingkari altar pusat, menjadi dinding pelindung bagi sosok bertopeng hitam—salah satu petinggi Ordo Umbra yang sedang memimpin ritual pemanggilan.
"Elena, Danis! Tahan pergerakan sayap kanan!" seru Monica memecah kegelapan.
"Serahkan padaku!" sahut Elena seraya melompat ke atas pilar batu yang setengah runtuh. Ia menarik tali busurnya hingga maksimal.
"Celestial Arrow: Starfall!"
Puluhan anak panah cahaya meluncur deras dari udara, menembus bahu dan sendi zirah para prajurit hitam, menghentikan laju serangan mereka. Di saat bersamaan, Danis bergerak bagai bayangan lewat Shadow Walk, menyusup ke sela-sela pertahanan musuh dan melumpuhkan barisan belakang dalam waktu singkat.
"Reno, Kazuma, buat jalan menuju altar!" perintah Monica seraya melangkah cepat di garis depan.
"Siap, Ketua!" Reno menerjang maju dengan perisai terbarunya. "Aegis of the Iron Titan!" Perisai besinya memancarkan gelombang kejutan emas yang menghempaskan tiga prajurit zirah sekaligus.
Kazuma mengekor di belakang Reno, mengibaskan kedua tangannya untuk memanggil "Hellfire Phoenix".
Burung api raksasa meluncur membelah barisan musuh, membakar habis sisa-sisa pertahanan di depan tangga altar.
Monica melompat menaiki anak tangga altar yang mulai retak. Di puncak altar, kristal hitam berukuran raksasa melayang di atas permukaan air raksa yang memantulkan bayangan merah darah. Petinggi Ordo Umbra tersebut berbalik, mengacungkan tongkat tulang ke arah Monica.
"Kau terlambat, gadis kecil dari Grandoria!" desis penyihir Ordo tersebut dengan suara parau. "Portal ini sudah meminum cukup banyak energi!"
Penyihir itu melepaskan gelombang petir hitam langsung ke arah dada Monica. Namun, Monica tidak membuang waktu untuk bertahan. Ia memutar tongkat safirnya dan menghentakkannya ke pijakan batu altar.
"Arcana Domain: Celestial Sanctum!"
Kubah cahaya emas murni merekah luas, seketika menyapu gelombang petir hitam tersebut hingga sirna. Aura murni dari sihir Monica membuat penyihir Ordo itu menjerit kesakitan saat kulitnya terpapar pendaran cahaya murni.
"Ini berakhir di sini!" tegas Monica. Ia memfokuskan seluruh daya sihirnya ke ujung tongkat safir, lalu menancapkannya tepat di pusat kristal hitam altar.
CRACK!
Kristal raksasa itu retak hebat sebelum akhirnya pecah menjadi ribuan serpihan debu yang menguap ke udara. Hentakan energi yang tercipta melempar penyihir Ordo tersebut jatuh dari puncak altar, melumpuhkan seluruh jaringan ritual di ruangan subterranean itu.
Kabut hitam dan bau belerang perlahan menyusut, digantikan oleh hawa sejuk yang dibawa oleh sihir Monica. Reno, Kazuma, Elena, dan Danis langsung berlari menaiki tangga altar, berkumpul mengelilingi ketua mereka.
"Kau berhasil, Monica!" puji Reno dengan lega seraya menyandarkan perisainya.
"Altar utama di distrik ini sudah benar-benar hancur," tambah Kazuma setelah memeriksa aliran mana di sekitar ruangan.
Namun, Monica tidak langsung bersorak. Ia membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya yang sedikit berantakan, matanya menatap tajam ke arah lantai altar bekas tumpuan kristal hitam. Di sana, terukir sebuah peta sihir berskala besar yang memancarkan pendaran merah redup.
"Ini..." Danis berlutut, mengamati ukiran tersebut. "Ini peta ibu kota Kerajaan Grandoria."
"Altar di sini hanya satu dari lima titik pengikat," jelas Monica, menyadari konspirasi yang jauh lebih besar. "Mereka sedang mempersiapkan Formasi Segel Pentagram untuk mengurung seluruh ibu kota saat gerhana bulan merah tiba."
Elena mengerutkan kening. "Artinya, pertempuran sesungguhnya memang baru akan meletus tepat di jantung akademi kita?"
Monica mengangguk mantap, menggenggam tongkat safirnya yang masih berkilau emas.
"Benar. Tapi setidaknya, kita berhasil memutus salah satu pilar utama mereka hari ini. Kita kembalikan laporan ini kepada Kepala Sekolah Alaric dan bersiap untuk tiga minggu ke depan."
Kelima anggota Tim Vanguard saling melempar pandangan penuh keyakinan. Langkah mereka semakin mantap meninggalkan reruntuhan bawah tanah tersebut.
Episode 15 (Lanjutan): Peta Merah dan Bayang-Bayang yang Mengintai
Pecahan kristal hitam yang hancur berhamburan di atas lantai altar batu, berubah menjadi serpihan debu pekat yang menguap lambat di udara. Asap belerang yang tadinya menyesakkan dada perlahan terbilas oleh pendaran emas sejuk dari Celestial Sanctum milik Monica.
Suasana di dalam ruang bawah tanah raksasa itu mendadak menjadi hening, hanya diselingi oleh napas terengah-engah dari kelima anggota Tim Vanguard.
Di dasar tangga altar, penyihir Ordo Umbra yang terhempas tampak mengerang kesakitan.
Zirah tulangnya retak dan energi kegelapan yang melingkupi tubuhnya terus menguap akibat terpapar sihir murni Monica.
"I-ini... belum selesai..." bisik penyihir itu dengan suara parau dan patah-patah, matanya yang merah menatap benci ke arah Monica. "Kalian hanya... menghancurkan satu simpul kecil..."
Danis bergerak secepat kilat. Tanpa memberikan kesempatan bagi musuh untuk merapal sihir bunuh diri atau melepaskan sinyal bahaya, belati kembarnya menyilang di udara, melumpuhkan kesadaran penyihir Ordo tersebut dalam satu gerakan bersih.
"Dia sudah pingsan," lapor Danis dingin seraya menyarungkan kembali belatinya.
Kazuma melangkah mendekati ukiran peta merah berskala besar yang terpatri di lantai altar. Ia berlutut, melepaskan sarung tangannya, lalu menyentuhkan jemarinya ke garis-garis sihir yang masih berdenyut lambat.
"Aliran mana di dalam garis-garis ini sangat kompleks," ujar Kazuma, alisnya bertaut rapat di balik kacamatanya. "Ukiran ini tersambung langsung dengan urat jaringan mana bawah tanah Kerajaan Grandoria. Lihat titik-titik simpul ini..."
Reno, Elena, dan Monica mendekat, mengelilingi ukiran bercahaya merah tersebut.
Elena menunjuk salah satu dari lima lingkaran kecil yang melingkari gambar Akademi Grandoria di pusat peta. "Satu simpul di Distrik Barat ini baru saja kita matikan. Tapi masih ada empat simpul lainnya yang tersebar di wilayah utara, timur, selatan, dan inti bawah tanah akademi."
"Mereka berniat mengunci seluruh ibu kota dari lima penjuru," analisis Reno seraya menepuk bahu armor besinya yang penuh jelaga. "Begitu gerhana bulan merah tiba, kelima simpul ini akan menyerap energi kehidupan dari ribuan warga dan murid akademi untuk memulihkan naga hitam itu secara utuh sekaligus membuka portal utama Ordo Umbra."
Monica berdiri tegak. Ia merapikan kuncir kuda rambut hitamnya yang diterpa angin sisa-sisa energi sihir. Cahaya emas dari tongkat safirnya masih memancar stabil, memantulkan keteguhan di sepasang mata birunya.
"Ini alasan mengapa perempuan bertopeng perak itu sengaja mundur saat pertempuran di gerbang Lembah Kelam," tutur Monica pelan namun pasti. "Dia tidak melarikan diri karena takut. Dia mengulur waktu agar anggota Ordo lainnya bisa menyelesaikan empat simpul luar ini sementara dia memulihkan lukanya."
"Artinya, pertempuran di gerbang waktu itu hanyalah umpan?" tanya Elena dengan raut kaget.
"Tepat," jawab Monica. "Tapi sekarang kita memegang keunggulan informasi. Dengan hancurnya simpul barat ini, rencana mereka tidak lagi sempurna. Formasi Pentagram mereka telah cacat."
Tiba-tiba, getaran halus kembali terasa dari balik dinding gua. Suara reruntuhan batu kecil terdengar di beberapa sudut lorong. Struktur ruangan bawah tanah itu mulai tidak stabil akibat hancurnya kristal pendorong energi di altar utama.
"Tempat ini akan runtuh dalam beberapa menit!" peringat Danis seraya menoleh ke arah lorong keluar.
"Reno, bantu bawa penyihir Ordo yang pingsan ini untuk kita interogasi di akademi!" perintah Monica cepat. "Kazuma, rekam struktur peta merah ini ke dalam gulungan sihirmu! Elena, amankan jalur keluar!"
Dengan koordinasi yang sangat rapi, kelima anak muda itu bergerak tangkas.
Kazuma dengan cepat menyalin garis-garis sihir di lantai menggunakan tinta mana, sementara Reno menggendong tubuh musuh di pundaknya tanpa kesulitan. Elena memimpin di depan, melepaskan tembakan panah cahaya ke arah langit-langit lorong yang rawan runtuh untuk menstabilkan jalur evakuasi mereka.
BOOM!
Saat mereka berhasil melompati pintu luar gua, seluruh kompleks altar subterranean di belakang mereka ambruk total, tertimbun tonan batu dan tanah. Air raksa dan sisa Miasma racun terkubur jauh di dalam bumi, tak lagi bisa digunakan.
Di luar, angin malam yang segar menyambut Tim Vanguard. Langit di atas Distrik Barat tampak bersih dari kabut hitam untuk pertama kalinya setelah bertiga-minggu terpapar aura kegelapan.
Monica menatap ke arah timur—ke arah menara-menara Akademi Grandoria yang megah menjulang di kejauhan di bawah pendar sinar rembulan.
"Kita harus segera kembali," kata Monica seraya menggenggam tongkat safirnya erat-erat. "Kepala Sekolah Alaric harus melihat salinan peta ini malam ini juga.
Persiapan untuk menghadapi Episode 18 memasuki babak penentuan!"