Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Matahari pagi kini telah naik sepenuhnya, menunjukkan pukul 07.00 WIB. Setelah menunaikan salat Subuh berjamaah di masjid desa dan berjalan santai menikmati udara pagi, suasana di teras depan rumah besar peninggalan almarhum Pak Harto terasa begitu menenangkan.
Pemandangan di luar tampak kontras dengan kengerian malam sebelumnya. Di seberang jalan desa, terhampar luas persawahan hijau milik keluarga Theo yang membentang luas, diterpa sinar matahari hangat yang memantulkan bulir-bulir embun pagi. Tiara tampak cekatan menyiapkan beberapa kue tradisional dan secangkir teh serta kopi hangat di atas meja teras. Bu Sri, Theo, dan Tiara duduk bersama, menikmati camilan pagi sambil menghirup udara segar pedesaan yang menenangkan jiwa.
Di tengah kehangatan obrolan ringan mereka, suara deru motor terdengar memasuki halaman rumah. Dua orang pria paruh baya mematikan mesin motornya dan berjalan mendekati teras. Mereka adalah Joko dan Yayan—dua orang kepercayaan mendiang kakek yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
"Selamat pagi, Ndoro Putri, Mas Theo, Mbak Tiara," sapa Joko dan Yayan hampir bersamaan dengan penuh takzim.
"Pagi, Mas Joko, Mas Yayan. Silakan, mari bergabung duduk di sini," sambut Bu Sri ramah, sementara Tiara dengan sigap bangkit untuk menyiapkan dua cangkir teh hangat tambahan bagi tamu yang baru datang itu.
Setelah sejenak berbasa-basi dan menikmati teh hangat yang disuguhkan, Joko meletakkan cangkirnya perlahan. Ia menatap lurus ke arah Theo dengan ekspresi yang sedikit serius namun menenangkan.
"Begini, Mas Theo," ujar Joko membuka inti kedatangan mereka pagi itu. "Kemarin sore kita sempat membahas soal rencana Mas Theo yang mau balik ke Jakarta sebentar buat merapikan urusan di sana, ya?"
Theo mengangguk. "Iya, Mas Joko. Rencananya nanti aku harus berangkat ke ibu kota. Mas Yayan mau kah nemenin saya ke Jakarta mas?." tanya Theo kepada pemuda yang tampak berusia sekitar 33 tahun tersebut.
Mendengar hal itu, Yayan yang duduk di samping Joko ikut angkat bicara dengan nada suara yang mantap. "Wah tentu sangat mau dong mas, kebetulan memang pengiriman buat hari ini sampai beberapa hari kedepan sudah banyak yang beres mas, paling juga nanti Pak Joko sama Mas Anwar bisa menggantikan saya mengirim pesanan kecil harian. Jadi aman mas."
.
.
.
Jarum jam di dinding ruang tamu telah menunjuk ke angka empat sore. Sinar matahari mulai condong ke barat, memancarkan rona jingga kekuningan yang menembus celah-celah jendela besar bergaya Eropa. Di halaman depan, sebuah mobil SUV hitam milik keluarga sudah terparkir rapi dengan mesin yang menyala pelan. Theo dan Yayan berdiri di dekat pintu mobil, mengenakan jaket bersiap berangkat.
Di teras rumah, suasana terasa sedikit tegang namun penuh kehangatan keluarga. Tiara berdiri di samping Bu Sri, memegang erat tangan nenek suaminya itu untuk mengantar kepergian Theo. Meskipun keyakinan mereka sudah dikuatkan oleh obrolan pagi tadi, rasa cemas di lubuk hati Theo tentu tidak bisa langsung lenyap begitu saja, terutama setelah teror nyata dan mimpi buruk yang ia alami semalam.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil, Theo memanggil Joko dan istrinya—Marni—yang turut hadir di halaman untuk membantu melepas keberangkatan mereka. Dengan raut wajah yang menyiratkan kekhawatiran mendalam, Theo mendekati kedua orang kepercayaan kakeknya itu.
"Mas Joko, Mbak Marni..." ucap Theo dengan suara berat dan penuh permohonan. Ia menatap bergantian ke arah suami istri paruh baya tersebut. "Saya ingin minta tolong satu hal yang sangat penting sebelum saya berangkat ke Jakarta."
Joko dan Marni saling berpandangan sejenak, lalu Joko mengangguk hormat. "Ada apa, Mas Theo? Katakan saja, insya Allah kami bantu."
"Saya... jujur sangat khawatir meninggalkan Uti dan Tiara berdua saja di rumah ini. Saya ingin meminta tolong kepada Mas Joko dan Mbak Marni untuk sementara waktu, selama saya di Jakarta, mau meluangkan waktu untuk menginap di rumah ini," ujar Theo, sorot matanya menyiratkan kecemasan seorang suami dan cucu.
Mendengar permintaan itu, Marni seketika tertegun. Wajahnya berubah pucat pasi, dan ia reflek melirik ke arah rumah megah berarsitektur klasik tersebut. Sebagai orang desa yang paham betul dengan cerita-cerita angker di tempat itu, Marni sangat tahu betapa seramnya rumah peninggalan almarhum Pak Harto ketika malam tiba. Joko pun tampak menelan ludah, ragu-ragu sejenak mengingat keangkeran tempat tersebut.
Melihat keraguan di wajah Joko dan Marni, Bu Sri lantas angkat bicara dengan lembut. "Joko, Marni... selama Theo di Jakarta, kalau kalian tidak keberatan, temani kami ya. Biar rumah ini tidak terlalu sepi."
Mendengar permohonan dari Bu Sri—Ndoro Putri yang amat mereka hormati, hati Joko dan Marni akhirnya luluh. Rasa kasihan mengalahkan rasa takut di dada mereka.
"Baiklah, Ndoro Putri, Mas Theo..." jawab Joko dengan suara mantap meski sedikit bergetar. "saya dan Marni bersedia menginap di sini selama Mas Theo pergi."
Marni mengangguk menyusul suaminya. "Iya, Mas Theo. Jangan khawatirkan Ndoro Sri dan Tiara. Kami akan jaga mereka di sini."
Mendengar persetujuan itu, raut wajah Theo seketika berubah lega. Beban berat di dadanya seolah terangkat separuh. Namun, sebelum pembicaraan itu ditutup, Marni menambahkan satu permintaan dengan nada ragu.
"Tapi, Mas Theo... kalau kami menginap di sini, bolehkah kami mengajak anak kami, Jalu, untuk ikut tidur di rumah ini juga?" tanya Marni hati-hati. "Soalnya kalau Jalu ditinggal sendirian di rumah kami malam-malam, kami juga cemas. Lagian dia kan harus sekolah pagi pagi, repot kalau saya harus bolak balik, Mas."
"Oh, tentu saja boleh, Mbak Marni! Silakan ajak Jalu ke sini sekalian, biar rumah ini makin ramai dan kalian tidak perlu khawatir soal anak kalian di rumah," jawab Theo cepat dengan senyuman penuh rasa terima kasih.
Setelah semua kesepakatan tercapai, Theo berpamitan kepada Bu Sri dan memeluk Tiara erat-erat, berpesan agar istrinya menjaga diri baik-baik selama ia tinggalkan. Theo kemudian masuk ke dalam mobil bersama Yayan, melambaikan tangan terakhir kalinya sebelum kendaraan tersebut melaju perlahan meninggalkan halaman, membelah jalanan desa Bojasari menuju Jakarta di bawah temaram senja yang mulai turun.
.
.
.
Malam pertama kepergian Theo ke Jakarta berlalu di luar dugaan. Tidak ada suara isak tangis misterius yang mengusik, tidak pula teror bau melati busuk ataupun bayangan mengerikan di balik tirai jendela. Suasana rumah besar peninggalan almarhum Pak Harto terasa begitu tenang, seolah malam itu bersekongkol untuk memberikan jeda dan kedamaian bagi orang-orang di dalamnya.
Menjelang waktu tidur, Bu Sri mengajak Tiara untuk tidur bersamanya di kamar utama lantai bawah, sementara Joko, Marni, dan anak mereka Jalu, tidur di kamar tamu yang berada tidak jauh dari sana.
Di dalam kamar Bu Sri yang luas dan bernuansa klasik, lampu tidur berpendar lembut memantulkan bayangan lemari kayu jati tua.Disamping lemari itu tampak foto Pak Harto semasa muda yang tampak sangat gagah dan memiliki wajah yang hampir mirip dengan wajah suaminya saat ini. Tiara duduk bersila di atas ranjang empuk di samping sang nenek, mendengarkan dengan penuh takjub ketika Bu Sri mulai membuka lembaran masa lalu melalui cerita-ceritanya.
"Dulu, waktu kakungnya Theo masih muda dan baru pertama kali dipercaya warga menjabat sebagai kepala desa di Bojasari ini, beliau adalah sosok yang luar biasa, Tiara," kenang Bu Sri sambil tersenyum hangat, tatapannya menerawang jauh seolah memutar kembali kaset memori puluhan tahun silam.
Tiara menyimak dengan saksama, sesekali tersenyum melihat binar di mata wanita sepuh tersebut.
"Pak Harto itu orangnya tegas, tidak kenal takut, tapi sangat penyayang sama keluarganya dan warga desa," lanjut Bu Sri bernostalgia. "Beliau yang merintis pembangunan jalanan desa,penerangan jalan meskipun belum maksimal dan membela warga saat masa-masa sulit, sampai-sampai namanya sangat disegani bukan cuma oleh warga Bojasari, tapi juga dari kecamatan sebelah. Tidak ada satupun orang yang berani macam-macam kalau Kakungmu sudah turun tangan."
Bu Sri meraih tangan Tiara, mengelusnya dengan penuh kelembutan. "Kakungmu sangat mencintai rumah ini, Tiara. Rumah ini saksi bisu perjuangan hidupnya. Makanya, Uti sangat bangga waktu Theo memutuskan untuk pulang dan merawat rumah ini. Uti tahu, darah kepemimpinan dan keteguhan Kakung mengalir deras di tubuh suami kamu itu."
Obrolan penuh kehangatan dan nostalgia itu mengalir begitu saja, menghapus sisa-sisa ketakutan yang sempat menghantui jiwa Tiara sehari sebelumnya. Di bawah naungan malam yang tenang, kebersamaan itu merajut rasa aman dan kedekatan baru di antara cucu menantu dan sang nenek.
"namun, semua hal baik pasti ada saja orang yang tidak suka Le....
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨