Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang direlakan
"Lagi ngobrolin apa nih?" tanya Ardan begitu sampai di meja makan. Ia berhenti di samping Naresa yang masih duduk, lalu tangannya terulur mengusap lembut pundak istrinya. Tatapannya kemudian beralih kepada beberapa tantenya dan Kale yang duduk di seberang Naresa.
"Ini, Dan. Ngobrol-ngobrol soal anak. Kan dari dulu kamu pengen banget jadi ayah," kata salah satu tante.
Mendengar itu, mata Ardan seketika turun kepada Naresa. Perempuan itu hanya diam, tatapannya hanya tertuju pada permukaan meja.
"Iya, bener tuh. pasti setiap malam giat banget, tuh kamu," sahut tante yang lain sambil tersenyum penuh arti Kepada Ardan.
Kale yang mendengarnya hanya mendelik. Kalau para tante itu tahu kebenarannya, apa tidak syok?
Ardan hanya membalas dengan senyum tipis. Ia kemudian mengusap pundak Naresa sekali lagi sebelum berkata, "yaudah, Tan. Aku sama Resa pulang dulu, ya."
Tangannya turun meriah pergelangan tangan Naresa dengan lembut, membantunya berdiri dari kursi. "Ayo, sayang."
"Loh? Mau ke mana, Dan? Cepet banget? Biasanya kamu paling betah tuh kalau kumpul-kumpul gini," ujar tante yang lain.
"Ada urusan penting," jawab Ardan singkat.
Naresa yang sudah berdiri ikut tersenyum sopan kepada para tantenya. "Pamit dulu, ya, Tante."
"Oh, iya. Hati-hati, Res," jawab salah satu Tante.
Sebelum beranjak, Ardan menoleh kepada Kale. "Kal, bilangin ke Mommy. Gue sama Resa pulang duluan."
Kale pun ikut bangkit dari duduknya. Ia hanya mengangguk singkat. "Hmm."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia meninggalkan meja panjang itu.
...
"Sayang—"
"Aku nggak apa-apa, Kak." Naresa menoleh menatap Ardan dengan senyum kecil.
Kini keduanya sudah berada di depan halaman rumah setelah tadi pulang lebih dulu menggunakan GrabCar.
"Jangan nggak apa-apa terus, dong,"
Ardan bangkit dari duduknya, lalu menarik kursinya hingga berhadapan dengan Naresa. Ia memang tidak suka jika percakapan seperti ini harus dipisahkan oleh jarak, atau lebih tepatnya ia memang tidak suka jauh-jauh dengan istrinya tercinta.
"Ya emang nggak apa-apa kok. Aku tuh nggak sedramatis itu juga, kali. Kalau kepikiran... ya pasti. Tapi nggak gimana-gimana, kok. Toh, mereka juga cuma nanya."
Ardan hanya memperhatikan ekspresi santai istrinya. Entah bagaimana, wajah itu seolah tidak pernah banyak berubah dalam keadaan apa pun. Ia menarik napas panjang sebelum meraih kedua telapak tangan Naresa.
"Aku minta maaf kalau ada sikap atau omongan keluarga aku yang bikin kamu sakit hati." Ardan menggenggam tangan istrinya lebih erat. "Aku janji hal ini nggak akan terjadi lagi."
"Iya, Kak. Toh aku juga udah biasa denger pertanyaan soal anak dan betapa maunya Kak Ardan jadi ayah." Kata Naresa sambil tersenyum..
Deg.
Mendengar kata sudah biasa, dada Ardan mencelos. Sesering itukah istrinya mendapatkan pertanyaan dari keluarganya?
"Resa..." suara Ardan memelan.
"Aku paham. Dan aku nggak nuntut apa pun dari kak Ardan. Karena kakak juga nggak bisa ngatur semua orang. Aku baik-baik aja."
Naresa terdiam sejenak. senyumnya perlahan menghilang.
"Cuma..." Pandangannya jatuh pada tangan mereka yang masih saling menggenggam. "Gimana sama Kak Ardan?" Naresa kembali menatap suaminya.
Ardan mengernyitkan kening.
Naresa menggerakkan tangan Ardan dalam genggamannya, seolah ingin memastikan laki-laki itu benar-benar memperhatikannya. "Apa Kak Ardan baik-baik aja? Merelakan mimpi kakak buat aku?"
"Sa—"
"Sst." Telunjuk Naresa segera menyentuh bibir Ardan, menahan suaminya agar tidak memotong ucapannya terlebih dahulu. Ardan kembali terdiam. Ia hanya menatap perempuan di hadapannya, sementara Naresa menarik tangannya kembali.
"Itu kak yang bikin aku selalu gelisah," lanjutannya pelan.
Naresa menarik napas panjang. "Ibaratnya, pertanyaan dari keluarga Kak Ardan itu nggak seberapa sama apa yang udah aku alami bahkan sebelum ketemu Kak Ardan."
Ardan tidak menjawab. Ia tahu Naresa tidak sedang membicarakan keluarganya lagi.
Perempuan itu mengalihkan pandangan ke pepohonan di belakang Ardan.Angun malam berembus pelan, membuat beberapa helai rambut panjangnya bergerak melewati wajah. Naresa membiarkannya begitu saja sebelum menyelipkan rambut tersebut ke belakang telinga.
"Aku udah biasa ditanya soal anak, Kak. Udah biasa denger omongan orang soal perempuan yang seharusnya punya anak, soal keluarga yang katanya nggak lengkap kalau nggak ada anak, soal betapa anehnya keputusan yang aku pilih." Ia tersenyum kecil. "Jadi aku bisa hadapi itu."
Naresa kembali menatap Ardan. "Yang nggak bisa mau hadapi itu kalau ternyata Kak Ardan juga sebenarnya merasa begitu."
Ardan terdiam.
Naresa menundukkan wajahnya sebentar, memperhatikan jemarinya sendiri sebelum melanjutkan.
"Aku cuma takut..." Kalimat itu menggantung beberapa detik. "Aku takut Kak Ardan suatu hari bangun dan sadar kalau hidup yang Kakak jalani sekarang bukan hidup yang sebenarnya kakak mau."
Ardan hendak membuka mulut, tetapi Naresa kembali menggeleng kecil. "Jangan jawab dulu." Suaranya lembut, hampir seperti permintaan. "Aku cuma mau Kakak dengerin."
Ardan akhirnya mengangguk.
Naresa menatapnya cukup lama sebelum berkata, "aku cuma takut... Kak Ardan, orang yang aku cintai dan sayangi, ternyata hidupnya nggak bahagia sama aku.
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Naresa benar-benar hilang. "Aku selalu bertanya-tanya, apakah kak Ardan nggak nyesel buat milih hidup sama aku?"
Ardan tidak langsung menjawab. Genggamannya pada tangan Naresa mengerat, tetapi perempuan itu tidak mengalihkan pandangannya.
"Aku tahu Kakak bilang pilihan ini adalah pilihan Kak Ardan sendiri. Aku tahu kakak bilang nggak merasa kehilangan apa pun." Naresa menelan ludah, kemudian tersenyum tipis. "Taku kalau suatu hari ternyata kakak berubah pikiran, aku nggak mau kakak batu sadar setelah semuanya terlambat."
Angin kembali berembus. Daun-daun di halaman bergesekan pelan,.mengisi jeda yang tercipta di antara mereka.
"Aku nggak takut sama pertanyaan orang lain, Kak." Naresa mengusap ibu jarinya pada tangan Ardan.
"Aku takut kehilangan orang yang aku cintai karena ternyata selama ini dia terlalu sayang sama aku sampai lupa sama Dirinya sendiri."
kalimat itu membuat Ardan terdiam lebih lama.
Naresa menatapnya, menunggu.
Kali ini ia tidak mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Ia hanya menunggu jawaban dari laki-laki yang sejak awal memilih untuk hidup bersamanya.