Larasati dipaksa menikah demi menyelamatkan keluarganya, namun tiga tahun kesetiaannya dibalas dengan pengusiran saat wanita idaman suaminya kembali. Tanpa mereka tahu, Larasati bukan wanita lemah yang mereka kira. Saat identitas aslinya terbongkar, kini giliran mereka yang memohon belas kasihannya—tapi Larasati tak akan pernah kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niclia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — Saat Dia Datang Kembali Menengok Lagi
Hari-hari berjalan tenang. Pagi datang menyapa, sore berlalu perlahan, dan malam membawa istirahat yang damai. Semuanya sederhana saja, tak banyak berubah di luarnya. Tapi di dalam hati, rasanya dunia sudah berbeda jauh. Langkah tegap, pandangan lurus ke depan, senyum tumbuh tulus tanpa dipaksakan. Tak ada lagi yang ditunggu pulang, tak ada lagi yang dikhawatirkan hatinya. Hidup terasa ringan dan lapang sekali.
Sampai suatu hari, tanpa diduga sama sekali, sosok itu muncul kembali. Berdiri di hadapan tempatku berdiri, menatap lama seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Matanya tak lagi setajam dulu, suaranya tak lagi sedingin dulu. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya, seakan baru menyadari sesuatu yang seharusnya sudah diketahui sejak lama sekali.
Ia mulai berbicara pelan. Mengatakan betapa sepinya rumah sejak kepergianku. Tak ada makanan yang terasa nikmat. Tak ada yang mengingatkan hal-hal kecil yang sering terlupakan. Tak ada yang sabar mendengarkan keluh kesah tanpa membalas dengan amarah. Katanya baru terasa betapa beratnya semua hal yang dulu kukerjakan tiap hari tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Baru terasa betapa berharganya kesetiaan yang tak pernah diminta balasan. Baru terasa, saat semuanya sudah tak ada lagi di dekatnya.
Aku mendengarkan semuanya dengan tenang. Hatiku tak berdebar kencang. Tak ada marah yang meluap-luap, tak ada sedih yang kembali menyayat. Rasanya seperti mendengarkan cerita orang lain yang tak ada hubungannya dengan diriku. Saat ia selesai berbicara dan menunggu jawaban, aku hanya tersenyum pelan lalu bercerita pelan juga.
Semua hal yang kau rindukan itu dulu ada di hadapanmu setiap hari. Tak pernah hilang, tak pernah berubah. Hanya saja kau tak pernah berhenti sejenak untuk melihatnya. Kau menganggap itu semua sudah sepantasnya terjadi. Kau menganggap aku akan selalu ada di sana, menunggu sabar walau diabaikan berbulan-bulan bertahun-tahun. Kau tak pernah berpikir bahwa hati yang sabar pun suatu hari bisa lelah menunggu di pintu yang tak pernah terbuka lebar. Kau tak pernah menyadari bahwa kesabaran itu ada batasnya juga. Bukan karena berhenti mencintai, tapi karena mulai menghargai diri sendiri juga.
Katakan padanya, waktu tak akan pernah berjalan mundur. Luka yang dulu kau buat terlalu dalam untuk bisa hilang begitu saja dengan satu dua kata manis. Jalan yang kutapaki sekarang sudah jauh meninggalkan tempat yang dulu menyakitkan itu. Langkahku sudah tegak ke arah yang lain, arah yang lebih terang dan lapang. Tak mungkin aku berbalik arah dan kembali melangkah ke tempat yang dulu hampir menghancurkan hatiku berkali-kali. Bukan karena dendam, bukan karena benci. Hanya karena aku sudah terlalu berharga untuk kembali ke tempat yang tak pernah tahu menghargai.
Ia tampak tak menyangka akan jawaban itu. Seakan selama ini mengira aku akan tetap berdiri di tempat yang sama, menunggu kembali seperti tak pernah pergi kemana-mana. Padahal dunia terus berputar, dan hati pun tumbuh dewasa. Yang dulu tak berani melangkah sendirian, kini sudah berjalan jauh meninggalkan masa kelam itu di belakang. Yang dulu rela memberi semuanya tanpa syarat, kini tahu bahwa ketulusan pantas disambut dengan ketulusan juga, bukan diabaikan dan dibuang begitu saja saat tak lagi dibutuhkan.
Aku melangkah pelan melewatinya, tak menoleh lagi ke belakang. Biarlah penyesalan itu menjadi pelajaran baginya. Biarlah ia paham bahwa hal yang berharga tak akan selamanya menunggu di tempat yang sama. Kalau tak dijaga baik-baik, suatu hari akan pergi perlahan, dan saat baru terasa harganya, pintu itu sudah tertutup rapat, tak ada lagi kunci yang bisa membukanya. Bukan karena kejam, tapi karena tak ada hati yang pantas memberi kesempatan kedua pada tempat yang tak pernah belajar menjaganya di kesempatan pertama.
Langkahku makin lama makin jauh meninggalkannya. Tak ada yang tertinggal di sana. Hatiku sudah utuh kembali, dan milikku sepenuhnya sekarang. Tak ada lagi yang bisa dirampas, tak ada lagi yang bisa disakiti. Karena aku tak lagi menggantungkan bahagia pada pandangan mata siapa pun. Bahagia itu tumbuh dari dalam diriku sendiri, tak bergantung pada siapa pun yang datang atau pergi. Kalau ada yang berjalan seiring kelak, ia harus berjalan sejajar dan menghargai apa adanya. Kalau tak ada, aku tetap melangkah tegak sendirian. Tak ada yang berubah sedikit pun. Karena aku sudah lengkap sebelum bertemu siapa pun, dan tetap lengkap saat berjalan sendirian. Itulah hal terpenting yang baru kusadari belakangan ini.