NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Dulu, Sekarang, dan Nanti

"Jangan sentuh dia."

Semua kepala menoleh ke pintu.

Zhen berdiri di sana dengan kemeja hitam dan jaket tipis yang tadi tidak ia pakai saat mengantar Yu turun. Mungkin ia mengambilnya dari mobil. Mungkin ia memang sudah naik sejak suara ribut mulai terdengar. Yu tidak tahu.

Yang ia tahu, pria itu tidak berteriak.

Tetapi satu kalimatnya membuat tangan orang yang hendak mendekati Yu langsung berhenti di udara.

Meilin masih berdiri dengan red wine menetes dari ujung rambut. Gaun champagne-nya kini bernoda seperti bunga yang diinjak. Matanya menyala ketika melihat Zhen.

"Siapa kamu? Ini urusan alumni kami!"

Zhen masuk dua langkah, lalu berhenti di samping Yu. Ia tidak menyentuhnya. Tidak menggenggam tangan, tidak menarik bahunya, tidak memosisikan tubuh Yu seolah Yu barang yang harus dipindahkan.

Ia hanya berdiri cukup dekat sehingga jika Yu mundur setengah langkah, ia tidak akan jatuh sendirian.

"Urusan alumni?" ulang Zhen datar.

Meilin menunjuk wajahnya sendiri. "Dia menyiram aku!"

"Saya lihat hasilnya."

"Kalau begitu kamu juga lihat dia gila!"

Beberapa orang mengernyit. Siska memegang tisu di tangan, wajahnya pucat.

Zhen menatap Meilin. "Saya dengar cukup banyak sebelum masuk."

Meilin terdiam sepersekian detik.

"Tentang tubuhnya waktu SMA," lanjut Zhen. "Tentang Kevin. Tentang kalian yang menyebut penghinaan sebagai nostalgia."

Udara di ruangan seperti kehilangan tempat keluar.

Yu menunduk sesaat. Tangan kanannya masih gemetar, tetapi bukan karena menyesal. Lebih seperti tubuhnya terlambat sadar bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan dirinya lakukan bertahun-tahun.

Membalas.

Seorang laki-laki di ujung meja berusaha tertawa kecil. "Bro, mungkin ini salah paham. Kita semua teman lama. Meilin tadi cuma bercanda."

Zhen menoleh ke arahnya.

"Kalau harus dijelaskan berkali-kali bahwa itu bercanda, biasanya bukan bercanda."

Laki-laki itu langsung diam.

Meilin meraih tisu dari Siska dengan kasar. "Aku bisa lapor. Aku bisa upload ini. Biar semua orang lihat dia seperti apa."

Yu mengangkat wajah.

Ancaman itu seharusnya membuatnya takut. Foto dirinya menyiram wine pasti akan terlihat buruk jika dipotong dari awal cerita. Meilin cukup pandai memilih sudut. Dulu, satu foto lama saja bisa membuat Yu menghindari kantin dua minggu.

Namun sebelum rasa takut sempat tumbuh, Zhen sudah berkata, "Silakan."

Meilin berkedip. "Apa?"

"Upload." Zhen memasukkan satu tangan ke saku celana, suaranya tetap rendah. "Tapi lengkap. Sertakan juga bagian kamu menyindir tubuhnya, membawa nama mantannya, dan menjadikan perselingkuhan sebagai lelucon. Kalau kamu potong, saya akan minta pihak restoran menyimpan rekaman koridor dan mengumpulkan pernyataan saksi dari orang-orang di ruangan ini."

Tidak ada ancaman kosong dalam nada itu. Justru karena ia bicara seperti sedang membacakan instruksi teknis, beberapa orang langsung saling menatap.

Meilin menggigit bibir. "Kamu pikir aku takut?"

"Tidak penting kamu takut atau tidak." Zhen melirik noda di gaunnya. "Kalau mau tagih dry cleaning, kirim nota."

Yu hampir tersedak napas sendiri.

Di situasi lain, kalimat itu mungkin lucu. Di ruangan itu, kalimat itu lebih memalukan daripada marah-marah. Karena Zhen tidak memberi Meilin panggung untuk menjadi korban besar. Ia hanya mengakui noda, bukan narasi palsu.

Siska akhirnya maju satu langkah. "Yu."

Yu menoleh.

Siska memegang tisu bersih, tetapi tidak memaksa memberikannya. Matanya basah karena malu. "Maaf. Aku harusnya tadi hentikan dari awal."

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Yu melihat perempuan yang dulu sering mencatat nama murid terlambat untuk Papa Chua. Siska bukan orang jahat. Dulu ia juga tidak pernah ikut mengejek paling keras. Tetapi ia ada di sana. Melihat. Diam.

Yu mengambil tisu itu.

"Terima kasih," katanya.

Siska menelan ludah. "Maaf, Yu."

"Jangan cuma minta maaf padaku malam ini." Yu melipat tisu di tangannya. "Kalau nanti ada orang lain dipermalukan di depanmu, berhenti diam."

Siska mengangguk cepat.

Yu tidak tahu apakah janji itu akan bertahan. Tetapi setidaknya malam ini, ada satu orang yang tidak lagi bersembunyi di balik kata bercanda.

Zhen menoleh sedikit. "Mau pulang?"

Yu menatap meja, gelas kosong, noda merah di lantai, wajah-wajah lama yang kini tampak asing lagi.

"Mau."

Zhen mengangguk, lalu memberi jalan. Ia tetap tidak menyentuh Yu.

Baru ketika mereka sampai di koridor, jauh dari pintu private room, Yu berhenti. Keramaian restoran terdengar normal di bawah, piring beradu, pelayan memanggil pesanan, musik lembut dari speaker. Aneh, dunia di luar ruangan itu tidak ikut hancur.

Zhen juga berhenti.

"Butuh?" tanyanya.

Yu memandangi tangannya sendiri. Jari-jarinya merah karena memegang gelas terlalu keras.

"Boleh pegang lenganmu?"

Zhen mengulurkan lengan kirinya.

Yu menyentuh kain jaketnya dengan dua jari. Tidak lama. Cukup untuk memastikan tubuhnya masih di sini, bukan kembali ke lorong SMA, bukan di apartemen Kevin, bukan di foto lama yang ditertawakan orang.

"Cukup," katanya.

Zhen tidak bertanya lagi.

Mereka turun ke parkiran dalam diam.

Di mobil, Zhen menyalakan mesin, tetapi tidak langsung jalan. Lampu dashboard membentuk garis biru tipis di wajahnya. Yu duduk di kursi penumpang dengan tas di pangkuan. Dress hitamnya masih bersih. Tangannya tidak.

"Aku menyiram orang," katanya akhirnya.

"Aku lihat."

"Dengan wine."

"Aku juga lihat."

"Kamu tidak akan bilang itu tidak dewasa?"

Zhen memandang kaca depan. "Itu tidak dewasa."

Yu menutup mata sebentar.

Lalu Zhen melanjutkan, "Tapi orang dewasa di ruangan itu juga tidak cukup dewasa untuk menghentikan penghinaan. Jadi penilaiannya tidak bisa berdiri sendiri."

Yu membuka mata.

"Aku tidak bangga," katanya.

"Tidak harus."

"Aku juga tidak menyesal sepenuhnya."

"Juga tidak harus."

Kalimat sederhana itu membuat dada Yu terasa nyeri.

Ia menatap punggung tangannya. Masih ada sedikit noda merah di sela kuku. "Dulu aku memang seperti yang dia bilang."

Zhen menoleh.

"Pipiku tembam. Aku takut difoto. Aku benci kalau harus beli seragam baru karena yang lama sempit. Aku tahu mereka jahat, tapi kadang aku tetap merasa mungkin tubuhku memang pantas jadi bahan tertawa."

Zhen diam cukup lama sampai Yu hampir menyesal sudah bicara.

Lalu ia berkata, "Yu."

Yu menoleh.

Zhen tidak tersenyum. Tidak melembutkan suaranya menjadi palsu. Justru karena itu, kata-katanya jatuh dengan berat yang bisa dipercaya.

"Kamu cantik. Dulu, sekarang, dan nanti."

Napas Yu tersangkut.

Di luar, mobil lain lewat dengan lampu putih menyapu kaca depan. Cahaya itu bergerak sebentar di wajah Zhen, memperjelas garis rahangnya, lalu hilang.

Yu memaksa tertawa kecil. "Kamu bahkan tidak melihat aku dulu."

"Mereka melihatmu dulu dan tetap salah." Zhen kembali menatapnya. "Aku tidak perlu mengulang kesalahan mereka."

Tidak ada musik di mobil.

Tidak ada tangan yang menyentuhnya.

Tetapi kalimat itu bekerja lebih dalam daripada sentuhan sepuluh detik.

Yu menoleh ke samping, melihat profil Zhen yang tenang di bawah lampu parkiran. Pria yang mengantarnya tanpa meminta balasan. Pria yang berdiri di pintu tanpa merebut suara darinya. Pria yang mengatakan ia cantik seolah itu fakta, bukan hiburan.

Dan di sana, di kursi penumpang yang sunyi, Yu memikirkan satu kenyataan yang jauh lebih menakutkan daripada roller coaster.

Ia tidak hanya membutuhkan sentuhan Zhen.

Ia menyukai Zhen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!