NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

"Shin, gue mau balik duluan ya."

​Regina menggeser cangkir keramik teh chamomile yang sudah dingin, lalu melipat tisu bekas di samping piring waffle.

​Shinta mendongak dari ponselnya, alisnya terangkat. "Lah? Kan abang gue belum nyampe, Gin. Baru jam delapan kurang dua menit."

​"Gue ada urusan sebentar," Regina menyampirkan tas kecilnya ke bahu, lalu berdiri. "Lu tunggu abang lu aja di dalam. Biar adem."

Tenggorokan Regina terasa agak kaku. Ia membenarkan letak lengan cardigan abu-abunya, menelan ludah pelan sebelum melangkah menuju pintu keluar kafe.

​"Ih, aneh banget lu. Janji jam berapa, pulang jam berapa," gumam Shinta, melambaikan tangannya malas sembari kembali menyendok es krim. "Ati-ati ya!"

​Kring...

​Bel pintu kaca kafe berdenting halus saat Regina mendorongnya keluar. 

Udara dingin malam hari langsung menyapu kulit lehernya, membawa aroma aspal basah dan asap kendaraan.

Regina menyeberangi jalan raya yang agak lengang. 

Di bawah bayangan pohon rindang dekat tiang listrik, Helga masih bersandar di atas sepeda motor matic hitamnya. 

Mesin motor itu mati, tetapi lampu jalan yang redup memantulkan garis tipis di atas kaca helm hitamnya yang terangkat.

Regina berhenti satu meter di depan ban depan motor Helga. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

​Helga melepas helm hitamnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan satu usapan tangan. 

"Gua pikir lu gak bakal keluar."

​"Gue udah di sini," kata Regina datar, matanya menatap tajam ke arah wajah Helga. "Mana dompetnya?"

​"Ada di dalam saku," sahut Helga, menepuk saku jaket jeansnya yang tebal. "Naik dulu. Tempatnya gak jauh dari sini, cuma lima menit."

Regina berkedip lambat. 

Ia menatap jok belakang motor Helga, lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan yang gelap di ujung gang rel.

Ia meraih helm cadangan warna hitam polos yang menggantung di stang kanan motor Helga. 

Regina memasangnya di kepala, menautkan talinya hingga berbunyi klik keras.

​"Gak usah ngebut," ujar Regina pelan tapi tegas.

​"Gua bawa santai," jawab Helga pendek.

​Brum... brum...

​Mesin motor menyala dengan suara halus. 

Regina naik ke jok belakang, menyisakan jarak sekitar sepuluh sentimeter di antara punggung Helga dan badannya. Tangannya memegang pinggiran jok belakang dengan kencang.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, sepeda motor Helga berhenti di sebuah pelataran warung kopi pangku setengah terbuka di balik bangunan ruko tua. 

Beberapa sepeda motor terparkir tidak beraturan di atas tanah berbatu.

​Suara dentuman musik bass dari speaker portabel murah terdengar memantul di tembok semen—Dug, dug, dug.

​Di sudut warung, Varen sedang duduk bersandar di kursi plastik merah, memegang stik PS yang tersambung ke layar TV kabel kecil. 

Di sebelahnya, Andreas sedang membuka bungkus kacang atom memakai giginya.

​"Eh, Helga datang!" seru Andreas setengah berteriak, melemparkan bungkus kacang ke atas meja. "Lu dari mana aja—"

​Kalimat Andreas terhenti saat matanya menangkap sosok Regina yang melangkah turun dari motor di belakang Helga.

Varen menghentikan jemarinya di atas tombol stik PS. 

Layar TV memperlihatkan karakter gamenya mati tertembak, tetapi Varen tidak menekan tombol restart. Ia menatap Regina dengan mulut sedikit terbuka.

Regina berdiri tegak di samping motor, merapikan ujung cardigan abu-abunya yang tersingkap angin malam. 

​Helga melepaskan helmnya, lalu berjalan dua langkah mendahului Regina. Tangannya merogoh saku jaket jeansnya.

​"Ren," panggil Helga, suaranya pelan tapi memotong suara musik bass dari speaker.

​"Apaan?" jawab Varen canggung, meletakkan stik PS-nya di atas meja semen.

Helga mengeluarkan dompet kain hitam yang kusam milik Varen, lalu melemparkannya tepat ke atas dada Varen. 

Dompet itu mendarat dengan bunyi puk pelan sebelum jatuh ke pangkuan Varen.

​"Duit seratus ribu dari lu ada di dalam situ. Lengkap, gak ada yang berkurang," kata Helga datar.

​Varen memegang dompetnya, menatap Helga lalu beralih menatap Regina yang berdiri tenang dua meter di belakang Helga.

​"Elah, Ga... lu baperan amat dah," kekeh Varen, mencoba tertawa ringan meski suaranya agak garing. 

"Gua kan cuma becandaan anak-anak tadi siang. Gak usah dibawa serius sampai kemari lah. Anak orang lu ajak malam-malam gini."

​"Gua gak baper," jawab Helga dingin. "Gua cuma mau lu jelasin ke Regina kalau gua gak pernah minta taruhan itu."

Andreas meraih gelas kopi hitam di meja, mengaduknya mutar-mutar memakai sendok plastik kecil hingga berbunyi clink, clink, clink, berusaha berpura-pura sibuk dan tidak terlibat.

Regina melangkah maju satu pijakan. 

Kehadirannya di tengah persekitaran warung remang-remang itu terasa sangat kontras dengan seragam kaus krem dan cardigannya yang bersih.

​"Varen," panggil Regina, suaranya sangat jelas dan tertata.

​Varen menegakkan posisinya, menatap Regina canggung. "Ya, Gin?"

​"Uang dua puluh ribu yang gue tumpuk di meja gazebo tadi siang," kata Regina datar, "itu bayaran bensin asli dari gue karena Helga udah nganterin gue balik pas hujan. Bukan uang dari taruhan lu."

​Varen terdiam. Ia memindahkan pandangannya dari Regina ke Helga, lalu menelan ludahnya pelan. 

"Iya, iya, Gin... sorry. Gua emang salah ngomong tadi pagi sama Fanya."

Regina tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk tipis sekali. 

"Bagus kalau lu sadar. Lain kali kalau mau taruhan, pake uang lu sendiri buat taruhan hal lain. Jangan bawa-bawa nama gue."

Andreas menyemburkan napas pelan melalui hidungnya, matanya melotot ke arah Varen seolah memberi isyarat kan-udah-gua-bilang.

​Helga memalingkan badannya kembali ke arah Regina. "Udah kan?"

​"Udah," jawab Regina pendek. "Anter gue pulang sekarang. Udah jam delapan lewat seperempat."

Pukul delapan lewat tiga puluh lima menit, jalanan kompleks perumahan tempat tinggal Regina terasa sangat lengang. 

Angin malam berhembus dingin di antara deretan pilar rumah berpagar tinggi.

​Sepeda motor Helga melaju pelan, mematikan putaran gasnya saat memasuki gang utama rumah Regina agar suaranya tidak menggelegar.

Motor itu berhenti tepat dua meter di luar pagar besi putih rumah Regina. 

Lampu teras rumah yang terang benderang memancarkan cahaya hingga ke atas aspal.

​Regina melepas helm hitamnya, menyerahkannya kembali kepada Helga.

​"Makasih," kata Regina pendek.

​Helga menerima helm itu, mengaitkannya di stang motor. "Gua gak bakal bikin lu keseret masalah anak-anak IPS lagi."

Regina menatap wajah Helga yang terkena pantulan lampu teras. 

Rambut cowok itu agak acak-acakan terkena angin malam, dan ada noda minyak tipis di sudut jaket jinsnya.

​"Gue gak takut sama anak IPS," balas Regina datar. "Gue cuma gak suka hal yang gak rapi."

​Helga tertawa kecil—suara tawa yang sangat tipis dan hampir tak terdengar di kegelapan malam. 

"Sama aja."

​Regina hendak membalikkan badan menuju pintu pagar besi rumahnya. Namun, langkahnya terhenti saat pintu utama rumah berkaca tebal itu mendadak terbuka dari dalam.

​Kreeek...

Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik lengan panjang dan kacamata berbingkai hitam melangkah keluar ke area teras. 

Papanya Regina—Hermawan.

​Hermawan berdiri di ujung anak tangga teras, tangannya memegang sebuah map dokumen tebal. 

Matanya memicing tajam menembus kegelapan malam, tertuju lurus ke arah Regina dan cowok berjaket jeans kusam yang masih duduk di atas motor matic hitamnya.

​"Regina?" suara Hermawan terdengar berat dan bergema di halaman rumah yang sunyi. "Kamu diantar siapa?"

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!