Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Jawaban yang Tertunda
Nada suara Raka tertinggal di kepala Ayu sampai malam.
Nggak apa-apa.
Kalimat itu seharusnya ringan. Diucapkan orang setiap hari untuk menutup percakapan, menenangkan keadaan, atau menghindari masalah kecil. Tapi dari mulut Raka, sore itu, kalimat itu terdengar seperti pintu yang dikunci dari dalam.
Ayu tidak suka.
Ia tidak suka melihat Raka kembali menjadi tamu yang sopan. Tidak suka melihatnya duduk agak jauh saat makan. Tidak suka ketika ia berhenti mengingatkan jam makan Ayu, seolah hak kecil yang mereka bangun lewat catatan kulkas tiba-tiba dicabut.
Malam itu, Ayu membuka pesan Fajar.
Ia mengetik.
`Wa'alaikumussalam. Terima kasih untuk ajakannya. Minggu ini Ayu sedang banyak pesanan restoran dan Kak Raka juga persiapan ujian, jadi belum bisa ke Bukittinggi. Maaf ya.`
Ia membaca ulang.
Terlalu banyak menyebut Raka?
Ia menghapus bagian itu.
`Wa'alaikumussalam. Terima kasih untuk ajakannya. Minggu ini Ayu sedang banyak pesanan restoran, jadi belum bisa ke Bukittinggi. Maaf ya.`
Lebih aman.
Ia mengirim sebelum berubah pikiran.
Balasan Fajar datang sepuluh menit kemudian.
`Tidak apa-apa, Yu. Semoga pesanannya lancar. Kalau butuh bantuan kontak supplier atau tempat di Bukittinggi, kabari saja.`
Sopan.
Tidak memaksa.
Malah membuat Ayu merasa lebih bersalah.
Ia meletakkan ponsel dan menatap langit-langit kamar. Dari arah ruang belajar, suara Raka tidak terdengar. Lampunya sudah mati. Entah ia tidur, entah hanya memilih tidak membuat suara.
Keesokan paginya, suasana rumah sedikit membaik, tapi tidak kembali seperti sebelumnya. Raka menyapa Ayu saat sarapan, menanyakan daftar pesanan, lalu masuk ruang belajar. Ia tidak dingin. Justru itu masalahnya. Ia terlalu benar. Terlalu rapi. Terlalu tidak memberi celah untuk dibaca.
Nenek Sari tentu menyadari.
"Kamu sudah jawab Fajar?" tanyanya saat mereka menyiapkan sayur nangka.
"Sudah. Ayu bilang belum bisa."
"Belum bisa bukan tidak mau."
Ayu mengiris nangka lebih keras. "Nek."
"Apa? Nenek cuma mengulang bahasa pesanmu."
"Ayu memang banyak pesanan."
"Dan memang belum berani bilang tidak."
Ayu menatap Nenek. "Nenek ingin Ayu sama Fajar?"
Nenek berhenti mengaduk santan. Wajahnya yang biasa penuh siasat mendadak lebih lembut.
"Nenek ingin kamu memilih dengan sadar. Bukan diam sampai orang lain memilihkan."
"Ayu tidak minta dipilihkan."
"Tapi kamu juga tidak bergerak."
Kalimat itu membuat Ayu terdiam.
Di luar dapur, Raka lewat membawa buku soal menuju teras belakang. Ia pasti tidak mendengar semuanya, tapi ketika suara langkahnya menjauh, Ayu merasa dadanya ikut ditarik.
Siang itu, Fajar datang lagi.
Bukan untuk makan malam. Ia datang membawa beberapa brosur pemasok kemasan makanan dari Bukittinggi, katanya mungkin berguna untuk pesanan baralek Ayu yang mulai banyak. Ia juga membawa contoh kotak nasi yang lebih kuat untuk pengiriman jauh.
Nenek menyambutnya dengan terlalu ramah.
"Nah, kebetulan Ayu memang perlu kemasan."
Ayu tidak bisa menolak bantuan bisnis yang memang relevan. Ia menerima brosur itu, mengucapkan terima kasih, lalu mengajak Fajar duduk di ruang makan depan agar percakapan tetap terbuka.
Raka sedang belajar di teras belakang.
Setidaknya, seharusnya begitu.
Namun beberapa menit setelah Fajar duduk, Raka masuk mengambil air. Ia melihat kotak contoh di meja, melihat Fajar menjelaskan bahan food grade, lalu melihat Ayu mencatat harga.
"Kak Raka," sapa Ayu, sedikit terlalu cepat.
Raka mengangkat gelas. "Saya ambil air."
Fajar tersenyum. "Mas Raka, kan? Kemarin belum sempat ngobrol banyak. Bagaimana persiapan CPNS?"
"Baik."
"Kalau butuh tempat print atau fotokopi di Bukittinggi, saya bisa bantu. Kantor saya dekat beberapa tempat."
"Terima kasih. Sudah ada."
Jawabannya sopan.
Pendek.
Ayu merasakan udara ruang makan berubah kaku.
Fajar tampaknya juga merasakan, tapi ia tetap tersenyum. "Bagus kalau begitu."
Raka mengangguk, mengambil air, lalu pergi.
Tidak ada yang salah.
Tapi justru karena tidak ada yang salah, Ayu ingin mengejarnya.
Fajar menutup salah satu brosur. "Maaf kalau kedatangan saya membuat tidak nyaman."
Ayu menatapnya. "Bukan begitu."
"Saya tahu mungkin Nenek terlalu semangat." Fajar tersenyum kecil. "Saya juga tahu Ayu tidak wajib menerima ajakan saya."
Kejujuran itu membuat Ayu lebih sulit bersikap tegas.
"Fajar orang baik," katanya pelan.
"Tapi?"
Ayu menunduk ke brosur. "Tapi Ayu sedang tidak ingin memberi harapan yang salah."
Fajar diam sebentar. Lalu mengangguk.
"Saya mengerti. Tapi kalau boleh, saya tetap ingin berteman. Urusan kemasan ini murni bisnis. Kalau Ayu tidak nyaman, saya bisa kirim kontaknya saja lewat WhatsApp."
Ayu menarik napas lega sekaligus malu. "Terima kasih."
Fajar tidak terlihat tersinggung. Justru sikapnya yang tenang membuat Ayu semakin menghargainya. Ia membuka salah satu brosur, menjelaskan perbedaan kotak nasi biasa dan kotak berlapis yang tahan minyak lebih lama. Ia juga menyebut satu pemasok yang bisa mengirim sampai Sungai Tanang jika pesanan minimal seribu kotak.
"Untuk usaha Ayu, ini bisa membantu," katanya. "Tidak harus lewat saya. Saya kirim kontak langsungnya."
"Fajar benar-benar tidak keberatan?"
"Ditolak ajakan kopi bukan berarti harus berhenti jadi manusia berguna."
Ayu akhirnya tertawa kecil. "Terima kasih."
"Tapi saya boleh jujur?"
Ayu mengangguk.
"Mas Raka terlihat seperti orang yang sedang menahan diri."
Ayu langsung diam.
Fajar tersenyum tipis, tidak mengejek. "Saya tidak tahu hubungan kalian apa. Tapi kalau seseorang menahan diri sampai wajahnya sekaku itu, biasanya ada sesuatu."
"Fajar..."
"Tenang. Saya tidak akan masuk ke tengah." Ia menutup brosur. "Saya cuma tidak mau Ayu merasa harus bersikap baik kepada saya kalau hatimu sedang melihat ke arah lain."
Kalimat itu terlalu tepat, dan karena itu membuat Ayu tidak bisa membantah.
Percakapan itu seharusnya menyelesaikan banyak hal.
Tapi ketika Fajar pamit satu jam kemudian, Raka tidak muncul dari teras belakang. Kamar belajar juga kosong. Ayu menemukannya di halaman samping, sedang memperbaiki tali kandang ayam yang sebenarnya tidak rusak.
"Kak Raka."
"Iya?"
"Fajar sudah pulang."
"Oh."
"Dia cuma bantu soal kemasan."
"Bagus."
Ayu menatap punggungnya. "Kak Raka masih nggak apa-apa?"
Raka berhenti mengikat tali.
Beberapa detik berlalu.
"Saya sedang belajar untuk tidak merasa punya hak cemburu," katanya pelan.
Ayu membeku.
Kata itu akhirnya muncul.
Cemburu.
Bukan dari Bayu, bukan dari Dian, bukan dari Nenek yang sengaja menyalakan lampu. Dari Raka sendiri. Pelan, hampir kalah oleh suara ayam di kandang, tapi cukup jelas untuk membuat seluruh tubuh Ayu berhenti.
Raka masih membelakanginya. Bahunya kaku. Tangan yang memegang tali kandang tidak bergerak. Seolah kalau ia menoleh, kalimat itu akan menjadi lebih nyata daripada yang sanggup ia hadapi.
Ayu pun belum siap sepenuhnya.
Belum juga.
Kali ini, Raka tidak bisa menarik kembali kalimatnya.