NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Paham 33.

Rendy menarik tangan Mona dengan pelan, lalu meletakkan kalung itu di atas telapak tangannya. Karena posisi rantai yang melingkar di jari-jari Rendy, dari kejauhan benda itu tampak melingkar bulat sempurna, berkilau di antara jemari mereka yang saling bertumpu.

Mona tidak bisa menahan air matanya. Dia mendekapkan kalung itu ke dadanya, merasakan kehangatan yang aneh sekaligus kelegaan yang luar biasa. "Makasih, Ren... makasih banyak udah jaga kalung ini, kamu gak tahu seberapa berartinya benda ini untuk saya."

"Saya udah balikin kalungnya. Dan besok, saya janji bakal ngadep ke Kepala Sekolah sama pembina OSIS buat bersihin nama kamu. Saya bakal ngaku kalau saya yang nyuri informasi itu secara ilegal dan saya yang bakal tanggung semua sanksinya, bahkan kalau saya harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun," kata Rendy tegas, keputusannya sudah bulat. "Saya bener-bener minta maaf, Mona. Semoga suatu hari nanti, entah kapan, kamu bisa maafin temen kecil kamu yang berengsek ini."

Tanpa menunggu jawaban Mona, Rendy berbalik dan berjalan menjauh. Langkah kakinya terdengar berat meninggalkan koridor yang sepi, meninggalkan Mona yang masih terduduk memeluk kalung peninggalan kakeknya, di antara sisa-sisa badai emosi yang baru saja lewat.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan interaksi itu dari balik pilar pembatas koridor.

Affan berdiri mematung. Telapak tangannya yang tersembunyi di dalam saku celana mencengkeram kuat.

Tepat sore ini, semua dinding usaha yang dilakukan Affan terbuang sia-sia.

Dari sudut pandang Affan, Rendy baru saja meraih jemari Mona dan meletakkan sebuah benda kecil berbentuk lingkaran yang berkilau. Affan tidak bisa mendengar percakapan mereka karena jarak, namun ekspresi Mona yang menangis haru lalu mendekapkan tangan ke dadanya sudah lebih dari cukup bagi Affan untuk menyimpulkan segalanya.

Cincin.

Affan yakin itu adalah cincin pernikahan yang sengaja dibawa Rendy ke sekolah. "Kamu udah ada suami mon, mau nambah suami lagi hah?!"

Dada Affan bergemuruh hebat. Ada rasa panas yang membakar tenggorokannya, bercampur dengan kekecewaan yang sangat dingin hingga menusuk tulang. Dia merasa bodoh. Dia merasa seperti penyusup di hidup Mona, meskipun secara hukum remaja perempuan itu adalah istrinya.

Tanpa suara, Affan berbalik. Langkah kakinya sengaja dipercepat, mengabaikan genangan air hujan yang menciprati sepatu seragamnya.

Mona melihat kebaradaan Affan, gadis berkuncir kuda itu bangkit dan berlari kecil menuju tempat Affan untuk pulang bersama.

Malamnya, suasana rumah terasa mencekam. Suara denting sendok yang beradu dengan piring kaca terdengar begitu nyaring di ruang makan yang sepi. Mona melirik Affan yang duduk di seberang meja. Cowok itu makan dengan tatapan kosong, rahangnya mengeras, dan aura di sekitarnya terasa sangat dingin sejak pulang sekolah tadi.

"Mas," panggil Mona pelan. "Lauknya kurang asin ya? Mau saya ambilin kecap?"

Affan tidak menjawab. Dia meletakkan sendoknya dengan ketukan yang agak keras hingga membuat Mona tersentak.

Affan menatap Mona lurus-lurus, matanya tajam, namun ada luka tersembunyi di balik tatapan itu.

"Gak usah sok peduli sama saya, Mon," ucap Affan, suaranya berat dan datar.

Mona mengernyitkan dahi, bingung dengan perubahan sikap suaminya. "Kamu kenapa sih mas? Aneh banget? Dari pulang sekolah tadi ditekuk terus mukanya?"

Affan terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang membuat bulu kuduk Mona merinding. "Jangan belaga polos, saya sudah tau semuanya dengan mata saya sendiri, jangan sandiwara"

"Kamu kenapa sih mas? Sandiwara apa?" suara Mona mulai meninggi, terpancing emosi karena sikap Affan berubah sinis, sementara Mona yang emangnya paling benci dengan cowok sinis.

"Tadi sore. Di koridor belakang," kata Affan dengan nada yang merendah, namun penuh penekanan. "Saya liat kamu sama Rendy. Saya liat apa yang dia kasih ke kamu, Mon."

Mona tertegun sejenak. Affan melihatnya? "Oh, soal Rendy... Mas, kamu salah paham, itu—"

"Salah paham apa lagi?!" potong Affan, emosinya yang ditahan sejak sore akhirnya pecah. Dia berdiri dari kursinya, menatap Mona dengan kekecewaan mendalam. "Saya liat sendiri dia ngasih benda itu ke kamu. Dan kamu? Kamu nangis, kamu terima benda itu seolah dia adalah penyelamat hidup kamu, padahal kemarin dia yang hancurin hidup kamu! Kalau emang merasa saya kurang membantu menyelesaikan masalah kamu di sekolah, merasa kalau semua masalah kamu dihandle sama papah kamu, dan kalau kamu emang pengen pake cincin dari cowok bajingan itu, bilang dari awal, Mona! Gak usah bikin saya keliatan kayak orang bego yang berusaha menambal kekurangan saya di hubungan ini!"

Mona terpaku di tempat duduknya. Kata-kata Affan menghantamnya bertubi-tubi. Butuh waktu beberapa detik bagi otaknya untuk mencerna frasa 'cincin dari cowok lain'.

Affan mengira kalung kakeknya adalah sebuah cincin lamaran dari Rendy.

"Masa, dengerin saya dulu—" Mona ikut berdiri, berniat menjelaskan.

Namun Affan sudah berbalik, melangkah lebar menuju kamarnya di lantai atas dan menutup pintu dengan debuman keras yang menggema di seluruh ruangan. Meninggalkan Mona yang berdiri sendirian di ruang makan, memeluk kalung di dalam sakunya dengan perasaan campur aduk antara sedih, sesak, dan frustrasi.

"Jangan jadi bocil mas! Dia ngasih kalung bukan cincin!" Teriakan Mona sayangnya diabaikan oleh Affan.

......................

...****************...

To be continue

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!