Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Keesokan harinya...
Karena jadwal kontrol kemarin batal gara-gara rapat besar, Adera akhirnya kembali lagi ke Rumah Sakit Adisakti ditemani oleh Nindy yang setia.
Sepanjang berjalan di koridor yang panjang dan bersih itu, Adera terus was-was. Matanya jelalatan ke kanan dan ke kiri.
"Ya Tuhan, semoga jangan ketemu Dokter Ezra deh... Jangan sampai... gue gak mau lihat muka dia lagi," batin Adera berdoa dalam hati, berharap pria itu tidak muncul di hadapannya hari ini.
Beruntung nasib baik sedang berpihak padanya. Dokter yang memeriksanya kali ini adalah Dokter Candra, dokter yang ramah dan santai. Proses pemeriksaan berjalan lancar dan cepat.
"Syukurlah, hasilnya bagus semua, Nona Adera. Kamu makin sehat. Istirahat yang cukup ya," kata Dokter Candra tersenyum ramah.
"Makasih banyak, Dok," jawab Adera lega.
Setelah selesai, Adera dan Nindy pun berjalan menuju lift untuk pulang.
"Yuk cepetan pulang Nin, gue udah laper banget nih," ajak Adera sambil melangkah cepat.
Namun... saat mereka sampai di depan pintu lift yang baru saja terbuka...
BRUK!
Jantung Adera seakan berhenti berdetak seketika. Nindy di sebelahnya pun ikut terbelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka tak percaya.
Di dalam lift, berdiri tegap seorang pria dengan jas dokter putih yang terlihat sangat mahal dan rapi. Postur tubuhnya tinggi semampai, wajahnya tampan sempurna tanpa cela, dan auranya... sangat mendominasi.
Itu Damar.
Mata mereka bertemu.
Damar menatap Adera dengan tatapan dingin namun tajam, seolah sedang meneliti setiap inci wajah gadis itu. Adera terpaku, matanya tak bisa berkedip, dadanya berdebar kencang tak karuan. Waktu seakan berhenti berputar di antara mereka berdua.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang penuh makna. Pintu lift hampir tertutup otomatis, tapi dengan sigap Damar mengulurkan tangannya, menahan pintu itu agar terbuka kembali.
"Silakan masuk," ucap Damar. Suaranya rendah, tenang, namun sangat berwibawa.
Adera dan Nindy pun masuk dengan langkah gontai dan kaku.
Begitu Adera melangkah masuk ke dalam kabin lift yang tertutup itu...
JLEB!!!
Hidung Adera langsung menangkap aroma yang sangat familiar. Aroma parfum maskulin yang mewah, dingin, namun entah kenapa terasa sangat menenangkan dan membuatnya nyaman.
Ini aroma yang sama persis dengan yang pernah dia cium.
Kepala Adera langsung terasa pening, kakinya lemas seolah tak bertulang. Dunia seakan berputar cepat. Gairahnya seketika hilang digantikan oleh rasa kaget yang bercampur aneh dengan rasa nyaman yang luar biasa.
"Uhh..." erang Adera pelan. Wajahnya memucat, matanya mulai berkunang-kunang. Badannya oleng ke samping, hampir jatuh jika tidak ada yang menahan.
"Dera! lo kenapa?!" seru Nindy panik, langsung memeluk bahu Adera agar tidak jatuh.
Damar yang melihat itu pun langsung sigap. Tangannya yang besar dan kuat segera menopang pinggang Adera dari sisi lain, menahan tubuh gadis itu agar tetap berdiri tegak. Wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat sedikit khawatir.
"Hati-hati" kata Damar lembut, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Adera.
Aroma itu semakin kuat menyelimuti indra penciumannya, membuat Adera merasa seperti sedang melayang di awan. Dia menatap Damar dengan mata yang mulai sayu, pikirannya kacau.
"Jadi... selama ini yang ngirim buket... dan yang punya aroma ini... itu dia? Dia Damar kan?" batin Adera yang berisik.
Di dalam lift yang tertutup itu, suasana hening namun penuh ketegangan manis. Adera masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang terasa lemas karena aroma parfum Damar yang sangat menusuk indra penciumannya, membuat kepalanya terasa pening dan jantungnya berdegup kencang tak karuan.
Damar yang melihat Adera masih tampak pucat dan gemetar, akhirnya membuka suara dengan nada yang lembut namun tetap berwibawa.
"Bagaimana hasil kontrolnya hari ini?" tanya Damar pelan, matanya menatap lekat ke manik mata gadis itu seolah ingin menelusuri isi hatinya.
Adera yang tadinya salah tingkah dan malu-malu, tiba-tiba mendongak mendengar pertanyaan itu.
"Eh... ehmm..." jawab Adera terbata-bata, tangannya meremas-remas ujung bajunya sendiri dengan gugup.
"Maaf ya kemarin kamu harus pulang dengan sia-sia. Sebagian dokter harus menghadiri rapat penting sehingga tidak sempat memeriksamu," lanjut Damar sopan, meminta maaf dengan tulus dan tatapan yang hangat.
Alih-alih menjawab dengan sopan atau tersipu malu, Adera malah tiba-tiba mendengus kesal dan menatap Damar dengan wajah manyun.
"Hmph! Iya tahu! Jadi repot kan gara-gara itu! Harus bolak-balik ke sini, buang-buang tenaga, buang-buang waktu, capek tahu gak!" cetus Adera ketus, padahal di dalam hatinya berteriak histeris 'Astaga Adera kenapa sih lo ngomong gitu!!! Kenapa mulut lo lebih cepat dari otak!!!'
Nindy yang berdiri di samping Adera langsung melotot lebar mendengar ucapan temannya itu.
"Lah kenapa si Adera malah marah-marah sama si dokter tampan ini sih?! Sayang banget tauuu!! Ganteng gini kok dibentak-bentak!" batin Nindy panik setengah mati.
Damar sedikit terkejut melihat reaksi Adera, tapi bukannya marah, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis yang misterius. Dia malah merasa gemas melihat Adera yang ngambek seperti kucing kesal yang ingin dielus.
Nindy segera menarik lengan baju Adera pelan, lalu membisikkan suara sangat pelan ke telinga temannya.
"Der... Der... ssttt..." panggil Nindy pelan.
"Apaan sih Nin?!" bisik Adera ketus masih saking paniknya.
"Kok Lo marah sih? Lo kenal sama dokter tampan ini ya, sayang banget kalo diomelin?! Apa dia dokter yang pernah meriksa Lo, tapi kok gue gak pernah lihat sih?" tanya Nindy bertubi-tubi dengan mata berbinar-binar campur takjub, matanya tak lepas memandang wajah rupawan Damar.
Mendengar pertanyaan Nindy yang beruntun itu, dan melihat Damar yang masih menatapnya tajam, Adera yang emosi dan salah tingkah campur aduk akhirnya kehilangan kendali.
"DIA ITU..." teriak Adera tiba-tiba membuat Nindy dan Damar kaget.
"...DOKTER DAMAR!!! DIREKTUR UTAMA DI SINI!!!" teriak Adera keras sampai gema suaranya memantul di dinding lift.
JLEB!!!
Nindy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melotot sempurna sampai hampir keluar dari tempatnya.
"HAAAAAA??!!!" pekik Nindy tak percaya, lalu dia menatap Damar dengan pandangan takjub dan hormat campur malu. "Oh... oh my God... Maaf ya Pak... eh Dok... eh Direktur... Adera ini kadang kalau panik suka gitu omongannya..." Nindy langsung membungkuk sopan berkali-kali, wajahnya memerah padam karena malu.
Sementara Damar...
Pria itu tertawa kecil. Suara tawanya renyah dan sangat menggoda, membuat suasana tegang tadi langsung mencair. Dia menatap Adera yang sekarang sudah menunduk karena sadar dia baru saja mempermalukan dirinya sendiri.
"Ada hal yang belum disebutkan," gumam Damar pelan tapi jelas terdengar, lalu dia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Adera hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti. "Perkenalkan, saya adalah calon suami Adera."
JLEB BENERAN!!!
Adera makin salah tingkah, mukanya merah padam bak kepiting rebus. Dia pengen tanah merenggang dan menelannya saat itu juga karena malu sekaligus deg-degan.
"WHAT!! Ca-calon suami Adera?? Adera yang ini" teriak Nindy makin panik dan syok berat, matanya hampir copot mendengar pengakuan berani mati itu.
Ting!
Suara lift berbunyi nyaring tanda pintu sudah terbuka.
Adera tidak mau berlama-lama lagi malu! Tanpa pikir panjang, dia langsung mencengkeram tangan Nindy kuat-kuat.
"AYO PULANG NIN!!!" teriak Adera sambil menyeret temannya yang masih melongo keluar dari lift secepat kilat bagai dikejar hantu.
"Hati-hati, Adera! Jangan lari-lari!" teriak Damar dari dalam lift dengan suara yang terdengar sangat geli dan senang melihat kelakuan gadis itu.
Pintu lift tertutup kembali, menyisakan Damar yang tersenyum lebar sendirian di sana.
Sedangkan di luar...
Nindy masih syok dan belum sadar sepenuhnya. Langkahnya terseret-seret, mulutnya mangap terus, matanya kosong melompong.
"Ca... calon suami...Dokter eh Direktur... Ganteng banget... Deraaa... lo bakal rugi kalo nolak dia ..." gumam Nindy tak karuan, otaknya masih dalam proses loading berat mencerna semua kejadian fantastis barusan.
"Stop! gue beneran laper. Ayo ke resto depan!". Ujar Adera sambil menarik tangan Nindy.