Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. DEBAR YANG BERBEDA
Rebeca menghentikan mobilnya di halaman rumah. Ia membuka pintu dengan langkah yang ringan nyaris seperti berlari. "My home ... aku pulang!" serunya sekilas sambil membuka pintu dan tersenyum ceria. Rebeca langsung berlari masuk ke lift untuk menuju kamarnya.
Setiba di lantai dua, Rebeca langsung membuka pintu kamar. Setelah mengunci pintu, Rebeca spontan memekik keras sambil melompat ke atas ranjang. "Aaaaa!" Ia memeluk bantal guling seerat mungkin, lalu berguling ke kanan dan ke kiri dengan wajah semerah tomat. "Oh my god ... oh my god!" katanya berkali-kali sambil menendang-nendangkan kaki ke udara. "Ini beneran terjadi? Beneran?" Ia segera meraih ponselnya, membuka galeri, lalu kembali menatap foto selfie yang tadi diambil bersama Elgar.
Senyumnya semakin melebar. "Pacarku ganteng banget," gumamnya tanpa sadar, jemarinya mengusap layar ponsel dengan hati-hati. "Kenapa bisa seganteng ini, sih?" Bayangan saat Elgar menyatakan perasaannya kembali terlintas di kepalanya.
"Aku suka sama kamu."
Kalimat itu terus terngiang-ngiang hingga membuat Rebeca kembali menjerit kecil. "Aaaaa ...!" Ia menutup wajahnya dengan bantal karena malu sendiri. "Rebeca ... kamu sekarang punya pacar aktor!" Ia bangkit duduk, lalu memeluk kedua lututnya sambil tersenyum lebar. "Kalau Mili tahu pasti dia bakal kaget banget."
Tak lama kemudian, ia kembali memandangi gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. "Huu ... cantik banget ih," bisiknya bahagia. Ia mengangkat tangannya, memandangi gelang itu dari berbagai sudut, lalu kembali tersenyum lebar. "Mulai hari ini, aku harus jadi pacar yang baik."
Ucapan itu baru saja keluar ketika ponselnya kembali bergetar. Nama Elgar muncul di layar. Mata Rebeca langsung membulat penuh semangat. "Ya ampun ... baru juga kepikiran, dia sudah menghubungi aku." Dengan jantung berdegup semakin cepat, Rebeca segera menekan tombol terima panggilan.
Dalam sekejap, wajah Elgar memenuhi layar. Pria itu tampak sudah berganti pakaian santai. Rambutnya masih sedikit basah, seolah baru selesai mandi. Di belakangnya terlihat interior apartemen yang modern dan elegan. "Hai," sapa Elgar sambil tersenyum hangat. "Udah sampai rumah?"
Rebeca mengangguk cepat. "Udah!" jawabnya antusias. "Baru saja."
"Syukurlah."
Rebeca lalu tersenyum lebar. "Kalau Kak Elgar, udah sampai rumah juga?"
Elgar terkekeh pelan. "Udah, nih. Tapi bukan di rumah utama." Ia mengarahkan kamera sedikit ke sekeliling ruangan. "Aku lagi di apartemen."
Mata Rebeca langsung berbinar melihat apartemen yang tampak mewah dan nyaman itu. "Bagus banget ..."
Elgar kembali mengarahkan kamera ke wajahnya. "Kapan-kapan kamu main ke sini, ya. Mau nggak?"
Rebeca spontan menganga. Beberapa detik ia hanya bisa menatap layar tanpa berkedip. "Hah?" Ia lalu mengangguk berkali-kali dengan semangat. "Mau banget!"
Melihat reaksi polos itu, Elgar tertawa geli. "Oke." Senyumnya semakin lebar. "Nanti setelah kita pulang dari Korea, aku ajak kamu main ke sini."
Mata Rebeca berbinar semakin terang. "Yeay!" serunya sambil mengepalkan kedua tangan kecilnya. "Horeee!"
Elgar ikut tertawa melihat tingkah kekasih barunya itu. "Kamu lucu banget."
Rebeca langsung menutup wajahnya karena malu. "Jangan diketawain."
"Bukan ngetawain," sahut Elgar lembut. "Aku senang lihat kamu bahagia."
Kalimat sederhana itu sukses membuat pipi Rebeca kembali memerah. Jantungnya kembali berdebar kencang.
Di dalam hati, ia masih sulit percaya bahwa aktor yang selama ini hanya bisa ia lihat di layar kini sedang tersenyum hangat khusus untuknya.
Elgar menyandarkan punggungnya ke sofa apartemen sambil terus menatap layar ponselnya. "Ngomong-ngomong, kalau hari minggu gini, Papa kamu pergi ke mana?"
"Ya kerja," jawab Rebeca.
"Kerja?" Elgar melongo. "Masa libur-libur begini kerja?"
"Ya kan Papa gila kerja. Hari libur pun tetap aja ada pertemuan tuh dengan para rekan bisnisnya." Wajah Rebeca agak ditekuk manja.
"Aduh ... kasihannya pacarku. Pasti kamu sering kesepian ya?"
"Bukan sering lagi, Kak. Kesepian setiap waktu aku tuh."
Elgar mengangguk-anggukan kepalanya. "Tenang, mulai sekarang ... kamu nggak akan kesepian lagi. Aku akan selalu ada untukmu. Tapi ..."
"Tapi apa?" Rebeca begitu tak sabar menunggu lanjutan perkataan Elgar.
"Tapi kalau aku lagi sibuk syuting ... kamu harus sabar nungguin aku ya?"
"Pasti ... Sayang." Rebeca memberanikan diri menyebut panggilan mesra itu.
Mata Elgar membulat. "Nah gitu dong. Panggil aku 'Sayang', jangan Kakak doang. Aku lebih suka dipanggil Sayang. Pertahankan ya?"
Rebeca terkekeh kikuk. "Iya, Ka-eh ... Sayang."
Elgar memberikan finger heart ke Rebeca, membuat pipi gadis itu merona. "Aku juga mau manggil kamu Sweety, boleh kan?"
"Boleh banget, Sayang."
Mereka pun mengobrol santai. Elgar bertanya tentang makanan kesukaan Rebeca, warna favoritnya, hobi, film yang sering ditonton, hingga tempat yang ingin ia kunjungi.
Rebeca menjawab semuanya dengan antusias. Sesekali mereka tertawa bersama ketika menemukan banyak kesamaan.
Obrolan mengalir begitu saja hingga suasana terasa semakin akrab.
Beberapa saat kemudian, Elgar tampak berpikir sejenak sebelum bertanya, "Aku mau nanya satu hal."
"Tanya apa?"
"Kamu suka dugem?"
Rebeca sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Ehm ... suka sih," jawabnya jujur. "Tapi aku baru pernah pergi satu kali."
"Hanya sekali?"
Rebeca mengangguk. "Iya. Papa terlalu protektif sama aku. Beliau nggak pernah mengizinkan aku keluar malam sembarangan. Waktu itu aja aku bisa pergi karena menginap di tempat Mili."
Elgar mengangguk pelan, lalu tersenyum. "Berarti kamu belum terlalu sering menikmati suasana klub."
"Iya."
Elgar kemudian berkata dengan nada santai, "Kamu jangan salah paham dulu ya soal pertanyaanku barusan. Aku nanya gitu ... karena sebentar lagi aku ulang tahun, dan aku berniat merayakan ulang tahunku secara private di sebuah club malam di kota ini. Aku pengen kamu datang dan menemani di hari spesialku."
Rebeca langsung tersenyum lebar. Wajahnya kian merona. "Aaa ... makasih udah membuat aku menjadi wanita paling spesial di hari bahagiamu, Sayang."
"Tentu dong, Sweety. Kamu kan pacarku. Jadi kamu harus hadir dan menemaniku."
"Aku pasti hadir, Sayang. Aku akan mengusahakannya. Tenang saja."
Melihat wajah Rebeca yang begitu ceria dan antusias, Elgar ikut tersenyum puas. Dalam hati, ia membatin. "Perfect! Akhirnya lo masuk ke perangkap gue, Rebeca Alexander. Wajah dan gelagat lo kelihatan udah suhu ... ternyata lo masih lugu. Ini bisa memuluskan rencana gue buat memenangkan taruhan dengan anak-anak Golden Faces. Hahaha ...!"
***
Cika baru saja selesai membersihkan diri. Ia duduk di tepi tempat tidurnya. Pandangannya kosong mengarah ke dinding, tetapi pikirannya melayang jauh.
Bayangan siang tadi kembali berputar di kepalanya. Kotak-kotak perhiasan berlian yang berkilauan. Sepasang cincin pernikahan yang elegan. Lalu map berisi sertifikat rumah mewah yang dengan tenang disodorkan Robinson kepadanya sebagai bagian dari mahar.
Cika mengembuskan napas panjang. "Ya Allah ..." bisiknya lirih. "Sampai sekarang pun aku masih sulit mempercayainya." Ia memeluk kedua lututnya.
Seumur hidup, ia tak pernah membayangkan akan diperlakukan seistimewa itu. Bahkan saat Robinson mengatakan bahwa semua itu "biasa saja", Cika masih merasa ucapan tersebut begitu sulit dicerna. "Bagi beliau mungkin memang biasa ..." gumamnya. "Tapi bagiku ... itu terlalu luar biasa."
Ingatannya kemudian beralih pada tatapan Robinson siang tadi. Tatapan yang selalu tenang. Penuh penghargaan.
Tidak pernah sekalipun membuatnya merasa rendah meski mereka berasal dari dunia yang sangat berbeda. Tanpa sadar, sebuah pertanyaan muncul di benaknya. "Apakah Pak Robinson sudah jatuh cinta padaku?" Cika terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Kemudian ia menggeleng cepat. "Astagfirullah!" Ia memukul-mukul kepalanya sendiri. "Jangan mikir yang aneh-aneh Cika!" sergahnya. "Eling, Cika! Eling! Pernikahan ini terjadi karena kesepakatan. Bukan karena cinta!" Ia segera mengusir pikiran anehnya. Tapi entah mengapa ... Cika merasakan dadanya berdebar tak karuan. "Jangan-jangan ... aku yang mulai jatuh cinta sama Pak Robinson?"