NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delapan

Ketika jam istirahat, Aruna dan Ganesha pergi ke kantin seperti biasa. Mereka duduk di salah satu meja kosong dengan makanan di masing-masing tangan. Baru juga akan menyantap makanannya, seseorang sudah terduduk di hadapan Aruna dengan nampan makanan juga. Anak itu mendongak dan mendapati Abas tersenyum seperti orang bodoh di sana.

Ya ampun! Apa mau anak itu, sih?

"Boleh duduk di sini, kan? Tempat lain sudah penuh," ucap Abas santai.

Apanya yang penuh? Bahkan ada banyak meja kosong tersedia di sekitar mereka. Apa ia pikir Aruna buta? Tapi karena ia malas berdebat, Aruna lebih memilih mengabaikan saja.

"Kau tidak keberatan, kan, Ganesh?" tanya Abas sembari menatap Ganesha yang terduduk diam di sebelah Aruna.

Ganesha tersenyum kaku sembari melirik Aruna, sebenarnya ia tak masalah tapi ia memikirkan Aruna yang mungkin saja tidak nyaman. Namun, sahabatnya itu tidak bereaksi sama sekali dan fokus dengan makanannya.

"Kurasa begitu, "Ganesha menjawab ragu.

Abas tersenyum dan memakan makanannya, sesekali ia melirik Aruna yang benar-benar seperti tidak perduli dengan kehadirannya. Tidak bermaksud sombong, tapi status keluarga Allaric cukup di kenal dan berpengaruh meskipun tidak bisa di sandingkan dengan keluarga Adijaya yang memang memiliki pengaruh luar biasa.

Tapi sebagai anak angkat dari keluarga Adijaya dengan posisi tidak menguntungkan, bukankah seharusnya Aruna merasa senang dengan kehadirannya? Dengan menjalin hubungan pertemanan saja, posisi Aruna setidaknya bisa sedikit aman.

Tapi anak itu menolaknya mentah-mentah. Bahkan tak ada sedikit keraguan di matanya ketika ia menolak tawaran Abas. Aruna seolah tak gentar dengan apa pun. Jika boleh jujur, tatapan Aruna berbeda dari teman-teman seusianya. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi di sana dan begitu menarik perhatiannya. Makanya meski egonya agak terluka dengan penolakan Aruna, Abas tetap nekat mendekatinya.

"Baskara! Ayo, bergabung dengan kami. Lebih seru bersama kami ketimbang di sini," ucap seorang anak lelaki lain sembari melirik remeh Aruna yang nampak tidak perduli.

"Benar, reputasi keluargamu bisa tercoreng nanti jika duduk bersama anak angkat. Oh! Jangan tersinggung, ya, Aruna. Aku tak bermaksud mengata-ngataimu," sambung anak lainnya dan di sambut tawa mengejek dari temannya yang lain.

Namun, Aruna tidak merespon dan terlihat seperti tidak perduli sama sekali. Tak lama anak itu mengerjap seolah baru menyadari kehadiran anak-anak lain yang berdiri di sebelah meja makannya.

"Oh, aku tidak mendengarkan karena sibuk dengan pikiranku sendiri. Kau bilang sesuatu tadi?" tanya Aruna dengan raut waja polos.

"Pfffttt!" Abas menyemburkan tawanya begitu saja melihat reaksi Aruna.

Hal itu membuat si anak lelaki menjadi malu dan kesal lalu menatap tajam Aruna, "Apa?! Beraninya kau mengabaikanku!"

"Aku tidak mengabaikanmu. Ku pikir kau berbicara dengan yang lain jadi aku tak mendengarkan. Bisa ulangi lagi?"

"Kau!"

"Bisa tidak jangan berisik? Kau mengganggu anak-anak lain yang sedang menikmati makan siangnya, begitu pun aku," potong Abas cepat. Raut wajahnya seketika berubah menjadi dingin tidak bersahabat.

"A-ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengganggu kenyamananmu, Baskara," ucap anak itu terbata-bata.

"Kalau begitu kau tak keberatan aku menghabiskan makan siangku dengan tenang, kan?"

"Tentu saja! Silahkan nikmati makan siangmu. Kami pergi dulu. Ayo!" katanya lalu pergi bersama teman-temannya yang lain.

Setelahnya Abas menatap Aruna yang masih nampak tak perduli dan tetap fokus pada makanannya.

"Maafkan ucapan mereka, terkadang mereka suka berbicara tanpa berfikir lebih dahulu," kata Abas.

"Seperti yang kubilang tadi, aku sibuk dengan pikiranku sendiri jadi aku tidak mendengarkan ucapan mereka."

"Kau benar. Tidak penting juga mengingatnya kembali," kekeh Abas.

"Ngomong-ngomong, aku takjub dengan yang kau lakukan kemarin terhadap Paula, kupikir kau akan diam saja seperti biasanya. Meski gegabah, sih," imbuh Abas lagi.

Aruna mendongak dengan sebelah alis naik, "Gegabah?"

Senyuman Abas semakin mengembang saat mendapat respon dari Aruna.

"Ya, apa kau tahu kalau Paula itu puteri kesayangan keluarga Rasyid? Anak itu pasti mengadu soal kejadian kemarin pada orang tuanya."

Tentu saja. Buktinya Elvio sampai tahu dan ia di panggil ketika baru tiba di Rumah kemarin.

"Oh."

"Kau nampak tak perduli," ucap Abas.

"Memang kau mau aku bereaksi bagaimana?"

"Tak ada, sih. Aku hanya tak menyangka reaksimu biasa-biasa saja."

Lalu tak ada yang bicara karena Aruna hanya akan merespon Ganesha dan mengabaikan keberadaan Abas.

***

Aruna sedang di toilet ketika ia di hadang oleh Paula dan teman-temannya. Padahal ini sedang jam pelajaran tapi kenapa mereka bisa keluar semua dengan kompak begini?

Ah, benar. Tentu saja status keluarga masing-masing dari mereka berpengaruh.

Kali ini apa lagi?

Tidak bisa kah mereka meninggalkannya sendiri dengan tenang?

"Kau! Kebohongan apa yang kau katakan kepada Tuan Adijaya?! Gara-gara kau, aku di marahi oleh ayahku!" pekik Paula marah.

Aruna menatap bingung, "Apa maksudmu? Bukankah kau yang menangis dan mengadu pada ayahmu? Kenapa menyalahkanku?"

"Berhenti berbohong! Aku tahu kau mengatakan sesuatu, iya, kan?! Sialan! Anak angkat sepertimu benar-benar tidak tahu diri! Harusnya kau menyadari posisimu! Kau bukan siapa-siapa di keluarga Adijaya! Jika si bungsu yang asli masih hidup, kau pikir kau bisa berada di tempatnya saat ini dan menikmati semuanya?! Berhenti bermimpi!"

Wah! Ucapan bocah berusia 10 tahun itu benar-benar tajam. Yakin baru 10 tahun?

Jika saja ia masih dirinya yang dulu, mungkin Aruna akan sangat sakit hati dan menangis mendengar semua cacian itu. Tapi sekarang ia bahkan tak perduli sama sekali. Memangnya kematian si bungsu adalah salahnya? Memangnya ia di adopsi juga adalah kemauannya?

Lucu sekali.

Kenapa semua orang menyalahkannya?

Tanpa sadar Aruna tertawa pelan dan membuat Paula semakin marah.

"Kau tertawa?! Kau berani menertawakanku?! Sialan!"

PLAK!

Tamparan keras menghantam wajah Aruna begitu saja. Meski tak terasa begitu sakit sebenarnya, ia hanya kaget.

"Rasakan! Kau pikir aku—"

PLAK!

Kali ini Paula yang terkejut karena wajahnya dibalas tamparan kuat oleh Aruna. Bahkan terlalu kuat hingga anak itu jatuh terduduk dan membuat teman-temannya yang lain kaget. Mereka sampai menatap Aruna tak percaya karena anak itu berani membalas tamparan Paula.

"Ka-kau! Be-beraninya kau menamparku!"

"Kau juga melakukannya, kenapa aku tidak?"

"Apa?!"

Paula akan berdiri dan membalas, tapi tubuhnya tak dapat bergerak ketika ia menatap mata Aruna yang begitu dingin dan tajam. Anak itu seperti orang lain dan membuat Paula tanpa sadar bergetar ketakutan.

"Paula, aku takkan diam saja jika kau terus mengusikku. Jika kau menginjak kakiku, maka aku akan mematahkan lehermu. Aku tidak perduli latar belakang keluargamu. Jadi, Jangan menggangguku, aku tidak ada waktu untuk meladeni anak manja sepertimu," ucapnya lalu berjalan begitu saja melewati Paula juga teman-teman lainnya yang hanya bisa diam tanpa melakukan apa pun.

Ketika keluar dari toilet, ia mendapati Mahesa tengah berdiri menyender di dinding depan toilet.

"Kau tidak lupa kalau ini toilet cewek, kan? Toilet cowok di lorong lainnya," kata Aruna.

Bukannya menjawab tapi Mahesa malah menunjuk sudut bibirnya, "Sepertinya kau perlu ke UKS."

Aruna yang paham langsung mendengus, "Oh, sepertinya kau tahu. Kalau kau mau melapor silahkan. Lakukan sesukamu, aku tak perduli," ucapnya lalu pergi begitu saja. Sementara Mahesa hanya menatap punggung Aruna dengan tatapan berbeda.

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!