BACAAN 18+ Harap tidak dibaca oleh yang di bawah umur tersebut.
Pernikahan Saras yang indah berubah mengerikan karena suaminya Aidan ternyata seorang monster galak. Lebih parah lagi Aidan dan Papanya menyimpan rahasia kelam terhadap Mama Aidan. Tapi kenapa Saras yang hidup tersiksa akhirnya bisa meraih bahagia? Yuk, baca biar gak penasaran....
PERINGATAN: Beberapa tokoh di novel ini tidak biasa. Jangan baper dengan tingkah Aidan dan Papanya yang raja tega. Masih ada tokoh Nerissa, Jhon dan Emaknya Jhon yang rada gila tapi lucu. Baca sampai habis biar tau serunya Emak si Jhon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31. Heru Ketahuan
DEEGG.
Arabella kaget. “Ibu saya jatuh dari kursi roda?”
“Iya.” Bu Sukri menjawab di hand phone. “Jatuh dari kursi roda terus kepalanya terantuk batu di halaman…”
“Astagfirullah. Kalau begitu saya langsung pulang kantor ini Bu. Saya pamit sebentar ke Boss…”
“Iya, Bella. Buruan kamu pulang. Kasian ibu kamu..”
Arabella menutup pembicaraan di telpon. Teman kantornya si gadis gemuk menatap penuh simpati ke Arabella.
“Kasihan juga ibu lo. Lagian dia di kursi roda, mau kemana-mana gak leluasa. Mana ibu lo lagi sakit….”
Arabella tau yang dikatakan temannya sangat benar. Lalu Arabella pamit pulang ke Bossnya. Ia mengetuk ruang kerja Boss dan masuk.
“Kamu ini sering banget pamit, izin, permisi…!” Lelaki kurus berambut licin itu menatap tak suka ke Arabella setelah gadis itu bilang hendak izin pulang. “Tiga hari lalu kamu gak masuk kantor! Sekarang baru setengah hari sudah minta izin pulang!”
“Iya, Pak. Maafin saya.” Arabella menunduk. “Tapi ibu saya sakit dan dia pake kursi roda. Kalau mau keluar rumah tergantung orang lain. Sementara ayah saya sudah meninggal dan saya anak satu-satunya. Makanya saya sering izin gak masuk kerja buat merawat ibu.”
“Jadi kamu ini sebenarnya gak serius kerja?!” Boss Arabella bertanya dengan nada nyebelin.
“Bukan gitu, Pak.” Sergah Arabella. “Saya butuh kerja. Saya butuh duit. Tapi… saya kan harus ngurusin ibu juga. Kayak sekarang ibu saya jatuh dari kursi roda dan kepalanya berdarah, masa saya gak minta izin pulang buat ngurusin ibu?” Arabella memohon pengertian Bossnya.
“Ya terserah kamulah. Silakan kalau mau izin pulang.” Suara si Boss tak enak didengar. “Tapi saya harus mengingatkan bahwa kamu keseringan izin. Padahal kamu disini digaji bukan buat izin melulu. Tapi buat kerja…!”
Sungguh tak enak hati Arabella mendengar itu.
Tapi iya tau. Saat ini ia harus pulang ke rumah secepatnya agar bisa mengurusi ibunya yang jatuh pingsan.
Diiringi tatapan tak sedap Bossnya, Arabella tetap pamit pulang.
Sejam kemudian, karena harus naik bus lalu disambung naik mikrolet, barulah Arabella tiba di rumahnya. Sebuah rumah kecil sederhana di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Ibunya sudah dibaringkan ke tempat tidur, masih lemas dan dijaga oleh beberapa tetangga. Terlihat ada kain kasa dibubuhi obat luka sudah terpasang plester di kening ibunya. Ada Bu Sukri dan beberapa ibu ada di rumahnya.
“Tadi lukanya enggak parah, kok. Sudah ibu obatin.” Kata Bu Sukri.
“Terima kasih Bu Sukri. Terima kasih juga ya ibu-ibu semua.” Arabella menatap para tetangganya yang baik hati. “Maaf, jadi ngerepotin.”
“Gak apa-apa, Bella. Tapi terus terang. Kasian ibu kamu kalo kamu tinggal-tinggal terus. Kayak tadi, mungkin dia ada perlu apa sampai maksain mau keluar rumah. Akhirnya malah jatuh dan kepalanya luka.”
“Iya, Bella.” Bu Tanti, Ibunya Arabella berkata dengan suara lemas. “Ibu tadi pusing. Terus mau nelpon kamu. Tapi gak bisa karena hape ibu low bat. Ibu tadi keluar mau minta tolong tetangga karena hand phone ibu chargernya rusak. Malah ibu jatuh di depan…”
“Nah, urusan kecil aja ibu kamu gak bisa melakukannya Bella. Kasian kalau ibu kamu ditinggal sendirian di rumah. Kalau dia jatuh di kamar mandi tanpa ketahuan orang gimana?” kata Bu Sukri lagi.
Arabella jadi pusing. Ia ingat Bossnya di kantor sudah mulai jutek. Si Boss menegur karena Arabella keseringan minta izin. Kini tetangganya bilang ia tak boleh meninggalkan ibunya sendirian di rumah.
Arabella menatap Bu Tanti, ibunya. “Bella takut ibu jatuh lagi atau kenapa-napa gak ada yang tau. Jadi apa lebih baik kalau Bella berhenti kerja aja ya? Biar bisa jagain ibu di rumah?”
DEEGGG!
Bu Tanti kaget mendengar ucapan Bella. Bu Sukri dan tetangga lain saling berpandangan, tak enak hati.
*
Pagi itu Heru bersiul-siul masuk kamar mandi di villa Pak Argajaya di Puncak.
Pak Argajaya yang berada di ruang belakang melihat Heru masuk kamar mandi. Tak lama terdengar bunyi air mengucur dari keran di kamar mandi tanda Heru mulai mandi.
KLIK! Pintu kamar yang ditempati Heru dan memang tak dikunci dibuka dari luar oleh Pak Argajaya. Lelaki itu masuk kamar. Lalu pintu ditutupnya kembali.
Pak Argajaya celingukan.
Dimana hand phone Heru? Pak Argajaya mencari barang itu.
Di meja dan di rak tak kelihatan hand phone Heru. Pak Argajaya memeriksa di laci rak. Juga tak ada.
Dicarinya di saku pakaian dan celana panjang Heru yang ditaruh di gantungan. Tak ada pula hand phone itu.
Oh. Pak Argajaya ingat Heru membawa tas pakaian. Mungkin hand phonenya ditaruh di tas. Segera Pak Argajaya memeriksa tas pakaian Heru yang ditaruh di samping ranjang. Tapi sudah diperiksanya dengan teliti, tak kelihatan ada hand phone di tas itu selain barang-barang pribadi Heru.
Sial! Dimana Heru menyimpan hand phone? Apa dibawanya ke kamar mandi?
Pak Argajaya mulai curiga pada Heru kala security itu kemarin menerima telpon dari seseorang dan segera mematikannya. Lantas ia meminta pak Argajaya dan Pandi kembali ke villa padahal mereka sedang mengejar Bu Wicaksono. Pandi juga curiga karena Bu Wicaksono dicari tak ketemu di belakang rumah penduduk. Padahal yang mencari Bu Wicaksono adalah Heru bersama Pandi.
Siapa yang menelpon Heru? Pak Argajaya curiga Heru menyembunyikan identitas si penelpon? Dan kenapa Bu Wicaksono bisa kabur saat didatangi di rumahnya? Tentu ada yang menelpon atau mengirim pesan chat ke Bu Wicaksono.
Dan sekarang Heru membawa hand phonenya ke kamar mandi. Tentu karena ia sangat menjaga barang itu. Pak Argajaya makin curiga bahwa di hand phone Heru tertera nama orang yang mungkin ada hubungannya dengan teror yang terjadi belakangan ini.
TLAK!
Pintu kamar dibuka dari luar. Heru masuk kamar. Ia sudah ganti baju. Rambutnya masih basah dan dilap handuk.
“Lho, ada apa Pak?” Heru kaget melihat Pak Argajaya di kamarnya.
“Enggak. Saya cuma nyari kunci mobil.” Pak Argajaya berdalih.
“Oh, kunci mobil ada di laci rak, Pak. Disitu…” Heru menunjuk laci.
“Ya sudah, kalau kamu sudah mandi. Kita mau segera balik ke Jakarta. Buruan beresin barang kamu!”
“Siap, Pak…”
Pak Argajaya keluar kamar.
Heru menatap Bossnya pergi. Lantas ia memperhatikan seisi kamar.
Heru yang teliti bisa melihat bahwa tasnya yang ada di samping ranjang sedikit berubah posisinya!
DEEGG!
Heru paham. Barusan Pak Argajaya memeriksa tasnya. Berarti lelaki itu sudah mulai curiga dengan Heru.
Otak heru bekerja. Ia tak boleh ketahuan. Tentu pak Argajaya mencari hand phonenya. Padahal di hand phone Heru ada nomer telpon pribadi Lady dan nomer Hand phone Bu Wicaksono.
Segera Heru mengeluarkan hand phone dari kantung celananya. Ia buru-buru menghapus nomer telepon Lady dan nomer Bu Wicaksono di hand phonenya. Juga semua chat dan history panggilan telpon Lady dan Bu Wicaksono ke nomer hand phonenya. Ia tak mau Pak Argajaya bisa melacak keberadaan dua perempuan itu.
BRAKKK!
Pintu dibuka dengan kasar dari luar. Tampak Pak Argajaya, Sam, Pandi dan dua security masuk!
“Ambil hand phonenya!” Pak Argajaya memerintah Sam.
Heru kaget.
Sam maju hendak mengambil hand phone heru. Heru berusaha mempertahankan hand phonenya.
“Apa-apaan ini?!”
BUUKK! Pandi memukul tubuh Heru.
“Aarrghh..!” Heru kesakitan. Hand phonenya terlepas dari pegangan dan jatuh ke lantai.
BERSAMBUNG……
kui si emak ganggu wae.
sak.e cah cah.. lgi panas panass.e diganggu.. gek Rasane wiiih Ra karuan.. sabaaar yaa narissa.🤭🤭
sambil nunggu Boss Barton Up lagi 🤗🤗🤗
emang dl gak pernah gituan gitu??