⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Jadi Ibu
"Bunuh diri?!" Banyu terkejut mendengarnya. "Kenapa?"
Siska menjawab lirih, "Ibu kandung Melati mengalami depresi pascamelahirkan. Lalu, saat dia tahu Rendi dan aku mendaftarkan pernikahan kami, dia kehilangan akal sehatnya dan melompat dari apartemennya. Karena insiden itu, Rendi tahu dia tidak bisa lagi menyembunyikan kebohongannya dariku. Dia menggendong bayi itu, datang menemuiku sambil menangis meraung-raung, memohon agar aku memberinya satu kesempatan lagi."
Siska menghela napas panjang. "Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai pria bajingan yang begitu tak berperasaan? Saat itu juga, aku tegas menceraikannya. Tapi Rendi benar-benar monster tanpa hati. Melihatku menolak untuk rujuk, dia dengan teganya membuang bayi itu begitu saja di rumahku dan pergi. Melihat bayi malang itu, hatiku hancur, jadi aku mengadopsinya dan memberinya nama Melati. Ayahku... beliau tahu aku sudah melihat sifat asli Rendi, jadi beliau malah merasa bersyukur. Beliau sama sekali tidak menentang keputusanku mengadopsi Melati. Malahan, beliau menyayanginya persis seperti cucu kandungnya sendiri."
"Biasanya kan cuma ada istilah pria 'mendadak jadi bapak' gara-gara dihamili orang lain, eh nggak nyangka kau malah 'mendadak jadi ibu'. Ini membuktikan kalau hatimu memang benar-benar baik," ucap Banyu dengan tulus. "Tapi Melati itu anak yang luar biasa menggemaskan, jadi menurutku peranmu sebagai ibunya sama sekali tidak rugi."
Mengingat masa kecil Melati, wajah cantik Siska memancarkan senyum keibuan yang hangat. "Melati tumbuh menjadi anak yang sangat menggemaskan. Aku dan ayahku sangat menyayanginya. Di hati kami, dia adalah anak kandung dan cucu kandung kami sendiri. Makanya, saat Melati terkena Leukemia kemarin, aku tidak punya pilihan selain membuang harga diriku dan memohon pada Rendi. Tapi... aku sama sekali tidak menyangka bajingan itu tega menjadikan darah dagingnya sendiri sebagai alat tawar-menawar! Untung saja ada kau, Banyu. Kalau tidak... aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana!"
Mendengar penjelasan Siska, Banyu akhirnya mendapat pencerahan mutlak. Semua teka-teki yang selama ini mengganjal di kepalanya terjawab sudah. Kenapa Siska yang biasanya sedingin es dan super dominan di depan orang lain mendadak menjadi lemah saat berhadapan dengan Rendi? Kenapa saat Melati butuh donor, Siska harus memohon pada Rendi untuk melakukan tes? Dan kenapa saat Rendi mengancam akan merebut hak asuh, Siska langsung panik setengah mati? Ternyata, akar dari semua itu adalah status asal-usul Melati!
Banyu menghela napas berat, lalu amarahnya kembali memuncak. "Rendi itu benar-benar lebih rendah dari binatang! Bisa-bisanya dia melakukan perbuatan biadab yang bikin murka langit dan bumi. Coba kalau dari awal aku tahu ceritanya begini, malam itu aku nggak bakal cuma mematahkan dua kakinya! 'Kaki ketiganya' juga bakal ikut kuremukkan sekalian!"
"Dasar mesum!" Siska memelototi Banyu dengan pipi merona, lalu bersandar manja di dada bidang pria itu. "Begitu aku mendengar berita Rendi dianiaya sampai cacat berat, aku langsung tahu kalau itu ulahmu. Sejak detik itu, aku sudah bersumpah di dalam hati... seumur hidupku, aku hanya akan mengabdi padamu!"
Banyu mengelus punggung Siska yang mulus bagai porselen dan tersenyum, "Itu sih harapan terbesarku!"
Siska mengangkat tubuhnya dan menatap Banyu tepat di matanya. Mengabaikan fakta bahwa bagian atas tubuhnya yang menggoda terekspos sempurna, ia berkata dengan sangat serius, "Bagiku, Melati adalah darah dagingku sendiri. Demi menjaga perasaannya dan memberinya lingkungan yang stabil... aku... aku tidak akan pernah menikah denganmu. Ke depannya, tidak peduli apakah kau akan menikahi Laras, Sonia, atau bahkan Jessica sekalipun... aku akan tetap berada di sisimu, menemanimu dalam diam."
"Dan aku juga akan selalu melindungi kalian berdua, kau dan Melati," Banyu mengecup dahi Siska yang mulus dan mengungkapkan isi hatinya dengan senyuman tulus.
Siska tahu Banyu bukan tipe pria yang hanya bisa mengobral janji manis. Sejak hari pertama mereka saling mengenal, pria ini selalu membuktikan kata-katanya dengan tindakan. Memikirkan hal itu, mata Siska kembali berkaca-kaca. Ia diam-diam merasa sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Banyu.
Merasa suasana menjadi terlalu melankolis, Banyu sengaja menggoda Siska. "Eh, tunggu dulu. Kemarin kan kita sudah sepakat: kalau kau tidak percaya padaku, kau akan kena hukuman. Nah, masalah sebesar asal-usul Melati ini malah kau sembunyikan dariku! Coba bilang, hukuman apa yang pantas buatmu sekarang, hm?"
Sambil berbicara, tatapan mesum Banyu tertuju pada bokong Siska yang sintal, membuat wanita itu seketika gelagapan. Namun, saat Siska teringat sensasi tamparan tangan besar Banyu di bokongnya tadi malam rasa perih yang bercampur dengan kebas dan getaran kenikmatan tubuhnya mendadak terasa lemas tak bertulang. Sejujurnya, ia merasa takut sekaligus diam-diam menantikan "hukuman" itu. Dengan wajah merona, ia mendelik manja dan berbisik, "K-kau... jangan macam-macam ya!"
Tentu saja, larangan Siska di telinga Banyu terdengar persis seperti undangan terbuka. Banyu tertawa nakal, menyingkap selimut yang menutupi mereka, dan langsung mendaratkan satu tepukan gemas di bokong Siska yang bulat dan kencang.
Plak!
Terkena serangan mendadak itu, seluruh otot Siska melemah. Ia tak kuasa menahan erangan manja, dan sepasang matanya langsung diselimuti kabut gairah yang tebal.
Baru saja Banyu bersiap untuk melipatgandakan "hukumannya" pada Siska, nada dering ponselnya mendadak berbunyi, menghancurkan suasana di momen yang sangat tidak tepat. Memanfaatkan kesempatan itu, Siska segera melarikan diri dari 'cengkeraman maut' Banyu. Sambil terkikik kegirangan, ia memberi isyarat agar Banyu mengangkat teleponnya dulu.
Melihat Siska sudah sukses kabur ke ujung ranjang, Banyu hanya bisa menghela napas pasrah. Ia mengobrak-abrik tumpukan bajunya di lantai untuk mencari ponselnya. Namun, begitu melihat nama penelepon di layar, wajah mesum Banyu langsung berubah pucat pasi! Ia buru-buru menekan tombol angkat dan mengubah suaranya menjadi sangat sopan dan menjilat, "H-halo, Pak Wijaya! Selamat pagi, Bapak!"
Yup, orang yang menelepon Banyu tak lain dan tak bukan adalah Pak Wijaya, ayah Siska. Padahal, biasanya Banyu selalu bersikap santai dan natural saat mengobrol dengan Wakil Gubernur tersebut. Masalahnya, saat ini ia sedang berbaring telanjang bulat di ranjang yang sama dengan putri kandung pria itu! Wajar saja kalau Banyu merasa nyalinya menciut, dan tanpa sadar nada bicaranya berubah menjadi sangat caper dan patuh bak bawahan setia.
Mendengar Banyu memanggil "Pak Wijaya", Siska juga ikut jantungan. Ia tahu persis itu panggilan Banyu untuk ayahnya. Ditambah lagi dengan reaksi Banyu yang mendadak panik, Siska seratus persen yakin ayahnya-lah yang berada di seberang sana. Siska langsung menahan napas, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun, sambil menajamkan telinga untuk mendengar apa yang dibicarakan ayahnya pada Banyu.
Di sisi lain, sampai kepalanya pecah pun Pak Wijaya tidak akan pernah menebak kalau pemuda ini baru saja meniduri putri kesayangannya. Karena itu, ia merasa sangat keheranan mendengar nada bicara Banyu yang kelewat sopan. Ia bertanya dengan bingung, "Lho, Banyu? Kamu ini kenapa hari ini? Kok tiba-tiba jadi kaku dan sopan banget sama Bapak?"
Ucapan Pak Wijaya membuat Banyu tersentak. Ia sadar aktingnya terlalu berlebihan dan malah mengundang kecurigaan. Ia buru-buru mendehem dan mengubah nadanya menjadi lebih santai. "Hehe... nggak apa-apa, Pak. Namanya juga menghormati orang tua! Tapi kalau Bapak merasa canggung, ya sudah, saya balik ke gaya biasanya saja deh."
"Hahaha, nah, ini baru Banyu yang Bapak kenal!" Terdengar tawa Pak Wijaya dari ujung telepon. "Siang ini kamu ada acara tidak? Datanglah ke rumah Bapak, kita makan siang bareng."
Sejujurnya, Banyu sangat ingin menghindari Pak Wijaya saat ini. Bertatap muka dengan ayah mertua setelah 'memakan' putrinya semalaman suntuk dijamin bakal membuat jantungnya copot karena merasa bersalah. Masalahnya, secara de facto, Pak Wijaya adalah satu-satunya calon ayah mertua resminya saat ini. Jika sang mertua sudah menitahkan, mana berani Banyu menolak? Ditambah lagi, mata Siska sedang mengawasinya lekat-lekat dari ujung ranjang. Jadi, Banyu langsung menyanggupi dengan lantang, "Siap, Pak! Kalau Bapak yang memanggil, saya pasti langsung meluncur! Asyik, siang ini saya numpang makan gratis ya, Pak!"
"Hehehe, baiklah. Kita ketemu siang nanti ya." Pak Wijaya sangat puas dengan antusiasme Banyu, lalu menutup panggilannya.
Kesigapan dan rasa hormat Banyu pada ayahnya membuat hati Siska diam-diam berbunga-bunga. Begitu telepon ditutup, Siska merangkak mendekat dan memberikan ciuman manis di bibir pemuda itu. Mengingat jam makan siang tinggal beberapa jam lagi, Banyu terpaksa harus memendam niatnya untuk melakukan 'ronde kedua'. Setelah berpelukan manja sejenak dengan Siska, Banyu pun segera mandi, merapikan pakaiannya, dan melangkah keluar dari vila di Perumahan Taman Danau tersebut.