Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Asisten Urakan
Sisa-sisa aroma wiski mahal yang tumpah di dinding mahoni masih membekas di udara, berbaur dengan rasa amarah Elvano yang belum sepenuhnya reda.
Sang Bos baru saja hendak menyalakan sebatang cerutu untuk menenangkan sarafnya ketika pintu ruang kerjanya yang kokoh tiba-tiba terbuka tanpa didahului ketukan sama sekali.
BRAK!
Pintu itu berayun lebar, menabrak pembatas dinding dengan suara berdentum yang sanggup membuat nyali pengawal biasa menciut.
Namun, pria yang melangkah masuk sama sekali tidak menunjukkan raut wajah berdosa.
Kaiven Axel Moretti melenggang masuk dengan gaya santai yang terlampau urakan untuk seseorang yang menyandang status sebagai tangan kanan sekaligus kepala eksekutor klan mafia Salvatore di Asia Tenggara.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu adalah perpaduan genetik yang tidak biasa blasteran Korea-Amerika dengan rambut hitam bergelombang yang dipotong rapi, serta sepasang mata berwarna biru jernih yang selalu memancarkan binar jenaka sekaligus licik.
Malam ini, Kaiven mengenakan setelan jas tiga potong berwarna abu-abu arang buatan desainer Italia yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.
Penampilannya sangat parlente, necis, dan mahal.
Namun, kemewahan itu langsung runtuh berantakan ketika melihat apa yang sedang didekapnya di lengan kiri, sebuah kantong plastik transparan berisi camilan konyol khas Bogota, Kolombia, yang dibelinya dari salah satu importir gelap di pelabuhan.
Di tangan kanannya, ia memegang sepotong arepa roti jagung panggang tebal dengan keju meleleh yang separuhnya sudah digigit.
"Yo, Bos! Kamu harus coba ini. Chicharron kering asli impor dari Bogota. Renyahnya minta ampun, lebih mantap daripada kerupuk kulit lokal," seru Kaiven tanpa beban.
Ia berjalan melewati pecahan gelas kristal di lantai tanpa mengedipkan mata, seolah-olah pemandangan kehancuran di ruang kerja Elvano adalah sesuatu hal yang biasa.
Elvano tidak bergerak dari tempat duduknya. Tatapan matanya sedingin es, mengawasi setiap gerak-gerik asistennya dengan rahang yang mengatup rapat.
"Kaiven. Berapa kali harus kukatakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke ruanganku?" Suara Elvano rendah, berbahaya, dan penuh akan ancaman terselubung.
Kaiven mengabaikan nada mematikan itu sepenuhnya. Ia malah mendudukkan bokongnya dengan santai di atas meja kerja marmer hitam milik Elvano, tepat di sebelah tumpukan berkas penting, lalu menggigit kembali rotinya dengan suara kunyahan yang sengaja dikeraskan.
"Mengetuk pintu itu hanya untuk orang asing, El. Kita sudah mandi di sungai darah yang sama sejak memakai celana pendek di Sisilia," sahut Kaiven santai.
Matanya yang biru beralih menatap wajah Elvano, lalu beralih ke gumpalan kertas dokumen medis yang diremas di sudut meja.
Kaiven langsung terkekeh geli.
"Lagipula, ada apa dengan wajahmu itu? Kusut sekali. Kamu kelihatan persis seperti duda kaya raya yang baru ditinggal mati dua kali oleh istri-istrinya, lalu mendapati semua rekening banknya dibekukan oleh mertua."
"Kaiven, turun dari mejaku sebelum aku menembak kedua lututmu," desis Elvano, tangannya perlahan bergerak menuju laci meja tempat ia menyimpan sebuah pistol Beretta semi-otomatis.
"Oke, oke! Singa tua sedang sensitif rupanya," gerutu Kaiven konyol.
Ia mengangkat kedua tangannya dengan malas, lalu melompat turun dari meja dan menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit di seberang Elvano.
Ia meletakkan kantong plastik berisi camilan Bogota-nya di atas meja kopi dengan hati-hati seolah itu adalah barang pusaka.
"Aku tahu Kakek Domenico baru saja meneleponmu. Suara bentakan orang tua itu bahkan hampir menembus pintu ruanganmu dan terdengar sampai ke koridor luar. Jadi... bagaimana? Dia masih menuntut seorang bayi mungil berpopok untuk mewarisi jaringan penyelundupan kita?"
Elvano mengembuskan napas berat lewat hidung, membatalkan niatnya untuk mengambil senjata.
Hanya Kaiven yang tahu persis rahasia diagnosis mandulnya, dan hanya pria urakan ini pula yang berani berbicara sekasar itu di hadapannya tanpa berakhir menjadi umpan hiu di Laut Bogota.
"Satu tahun," jawab Elvano pendek, suaranya terdengar letih namun tetap dingin.
"Kakek memberiku waktu dua belas bulan untuk mencari wanita, menikahinya, dan membuatnya hamil. Jika gagal, Matteo akan mengambil alih seluruh distrik Bogota."
Kaiven menghentikan kunyahannya sejenak.
Alisnya terangkat sebelah. Binar jenaka di mata birunya mendadak meredup, digantikan oleh kilatan tajam yang dingin sifat asli seorang Moretti yang dikenal kejam tanpa ampun saat mengeksekusi musuh.
"Matteo si tikus Sisilia itu? Cih, kalau dia berani menginjakkan kaki di pelabuhan kita, aku sendiri yang akan menguliti kepalanya dan menjadikannya keset kaki di klub malam."
Kaiven mendengus, lalu kembali mengunyah dengan santai, mengembalikan suasana komedinya dalam sekejap.
"Tapi serius, El. Membuat wanita hamil dalam satu tahun dengan kondisi... anu-mu yang mogok kerja itu? Itu lebih sulit daripada menyuruhku bertobat dan ikut pengajian."
"Cukup omong kosongmu, Kaiven. Laporkan apa yang membawamu kemari malam-malam begini, atau keluar dari ruanganku," potong Elvano tajam, tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang organ reproduksinya yang cacat.
Kaiven mendesah dramatis, menegakkan posisi duduknya, lalu merapikan jas abu-abunya yang sedikit kusut.
Dari balik saku jasnya, ia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua dan melemparkannya ke atas meja Elvano.
Momen bercanda telah usai, kini yang berbicara adalah kepala eksekutor Salvatore.
"Ini mengenai laporan dari kasino bawah tanah utama kita yang terhubung dengan distrik Bogota, yang mengelola pencucian uang lewat jalur Amerika Selatan," ujar Kaiven, suaranya berubah menjadi serius dan profesional.
"Dua jam yang lalu, ada seekor tikus paruh baya asal Indonesia yang membuat kekacauan besar di meja baccarat VIP kita di sana."
Elvano membuka map tersebut dengan satu tangan, membalik halamannya dengan ekspresi datar.
"Siapa?"
"Namanya Albert. Pria paruh baya serakah yang hobi berjudi melampaui batas isi dompetnya," jelas Kaiven.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengambil satu asupan camilan kering dari kantong plastiknya dan mengunyahnya berisik.
"Dia sudah kalah judi berturut-turut selama tiga malam terakhir. Total kekalahannya mencapai angka empat puluh miliar rupiah. Karena dia tidak bisa membayar tunai dan lintah darat kasino kita sudah menodongkan moncong senapan ke dahi botaknya, pria tua itu akhirnya mengeluarkan kartu as terakhirnya."
"Sertifikat tanah?" tebak Elvano tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen foto seorang pria paruh baya berwajah licik.
"Tepat sekali. Dia menjaminkan sebuah sertifikat kepemilikan atas sebuah rumah mewah dan sebidang tanah luas di kawasan elit Jakarta Selatan," kata Kaiven sambil tersenyum sinis.
"Masalahnya adalah, tim analis forensik kita di bawah tanah baru saja memeriksa keaslian dokumen tersebut setengah jam yang lalu. Dan tebak apa yang mereka temukan?"
Elvano mengangkat pandangannya, menatap Kaiven dengan sebelah alis bertaut.
"Sertifikat itu bermasalah, El," lanjut Kaiven dengan nada mengejek.
"Secara hukum formal, rumah dan tanah itu terdaftar atas nama sebuah yayasan warisan milik sepasang suami istri yang sudah meninggal belasan tahun lalu akibat kecelakaan. Si Albert ini memang memegang dokumen fisiknya, tetapi hak balik nama dan kuasa hukumnya cacat total. Dia mencoba menipu kasino Salvatore dengan menjaminkan barang yang bukan sepenuhnya miliknya demi melunasi utang judi."
Mendengar kata 'menipu', aura membunuh yang pekat seketika menguar dari tubuh Elvano.
Di dunia bawah yang dipimpinnya, penipuan adalah dosa terbesar yang pelakunya hanya memiliki satu jalan keluar: kematian.
"Di mana bajingan itu sekarang?" tanya Elvano, suaranya terlampau tenang, namun Kaiven tahu itu adalah tanda bahwa bosnya sudah siap melakukan pembantaian.
"Anak-anak buahku sudah menahannya di ruang belakang kasino, tapi dia terus menangis dan berjanji akan memberikan jaminan lain yang 'lebih berharga' begitu dia kembali ke rumahnya di Jakarta besok pagi," Kaiven menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Pria blasteran itu berdiri dari sofa, merapikan kembali jas mahalnya dengan anggun, lalu mengambil kantong plastik camilannya.
"Aku berencana menemuinya besok subuh untuk mengeksekusi penyitaan rumahnya secara paksa. Mau ikut bersenang-senang, Bos? Hitung-hitung untuk melampiaskan stres akibat vonis mandulmu itu."
Elvano menutup map kulit itu dengan sentakan keras. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, membetulkan letak kancing jas hitamnya, dan menatap lurus ke arah jendela kaca yang menampilkan kegelapan Bogota.
"Aku akan turun tangan langsung besok pagi, Kaiven," ucap Elvano dingin.
"Siapkan mobil dan bawa anak-anak buah terbaikmu. Aku ingin melihat sekreatif apa bajingan itu meminta ampun sebelum aku meratakan rumahnya dengan tanah."
"Siap, Tuan Besar! Jangan lupa bawa pistolmu yang paling berkilau," sahut Kaiven riang dengan nada konyol, sama sekali tidak terpengaruh oleh rencana kekejaman yang baru saja mereka susun.
Ia melangkah pergi meninggalkan ruangan sambil bersiul kecil, kembali mengunyah arepa jagungnya dengan santai tanpa tahu bahwa eksekusi utang besok pagi akan mempertemukan bosnya dengan satu-satunya wanita yang ditakdirkan untuk memecahkan kutukan kemandulannya.