NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Catatan Persalinan

Tangisan bayi memecah lorong rumah sakit yang begitu lengang, lalu menghilang begitu saja ditelan suara roda troli dan langkah tergesa para perawat malam.

Kemala tersentak bangun.

Rasa sakit mengalir dalam dada Kemala begitu nyeri setelah melahirkan. Terasa menjalar dari perut Kemala yang kini terasa kosong, kosong yang begitu hampa. Tangannya refleks meraba sisi ranjang.

Tak ada.

Mata Kemala langsung terbuka lebar. Napasnya tercekat. Boks bayi transparan yang sejak tadi berada di samping tempat tidurnya kini kosong.

“Sus?” suara Kemala serak. “Bayi saya mana?”

Tak ada jawaban.

Ia buru-buru bangkit. Jarum infus hampir tercabut saat tubuhnya limbung turun dari ranjang. Rasa sakit menjalar sampai pinggang, tetapi kepanikan jauh lebih menyiksa dibanding jahitan di tubuhnya.

“Sus!” suaranya meninggi.

Seorang perawat yang melintas menoleh cepat. “Ibu jangan berdiri dulu, jahitannya–”

“Bayi saya mana?” potong Kemala dengan napas memburu. “Tadi ada di sini!”

Perawat itu tampak bingung. “Sebentar, Bu. Mungkin dibawa perawat lain untuk diperiksa.”

“Tidak ada yang bilang apa-apa ke saya!”

“Coba tenang dulu–”

“Bagaimana saya bisa tenang kalau anak saya hilang?”

Suara Kemala pecah di ujung kalimat. Beberapa pengunjung di lorong menoleh. Seorang ibu yang sedang membawa termos mendekat pelan.

“Memangnya tidak dibawa keluarganya, Mbak?” tanyanya hati-hati.

Kemala langsung menggeleng keras.

“Keluarga saya gak mungkin datang.”

Jawaban itu meluncur begitu saja, terlalu tegas. Namun justru setelah mengucapkannya, wajah Kemala berubah pucat.

Ia tahu persis kenapa. Karena memang tak ada siapa-siapa lagi yang peduli padanya.

Perutnya tiba-tiba terasa mual mengingat malam saat ayahnya melempar tas pakaian ke teras rumah.

'Keluar kalau kamu masih mau mempertahankan anak haram itu!'

Ibunya hanya menangis tanpa berani menahan Kemala.

Sementara Reza, pria yang membuatnya hamil, bahkan tak datang saat kontraksi pertama menyerang. Nomor Kemala diblokir sejak lima bulan lalu.

“Sus, tolong cari bayi saya …” bisik Kemala lirih, nyaris memohon. “Tolong ….”

Perawat itu mulai tampak panik melihat kondisi Kemala yang gemetar. “Baik, Bu. Saya cek dulu ke ruang bayi.”

“Saya ikut ....”

“Ibu belum boleh banyak bergerak.”

“Saya ikut!”

Nada suara Kemala membuat perawat itu akhirnya mengalah.

Lorong rumah sakit terasa terlalu panjang malam itu. Lampu putih di langit-langit tampak menyilaukan mata. Setiap pintu yang dilewati membuat jantung Kemala berdegup semakin keras.

Ia menoleh ke setiap orang yang ditemui.

“Permisi … lihat bayi saya?”

“Permisi, tadi ada yang bawa bayi keluar?”

“Mas, lihat bayi laki-laki? Baru lahir ….”

Tatapan orang-orang penuh bingung dan iba, tetapi tak satu pun memberi jawaban yang Kemala butuhkan.

Saat tiba di ruang bayi, seorang petugas berjaga mengernyit melihat Kemala.

“Ibu pasien kamar 105, ya?”

“Iya.” Kemala menelan ludah. “Anak saya mana?”

Petugas itu mengecek daftar di meja. Keningnya berkerut.

“Bukannya bayi ibu ada di kamar?”

“Kalau ada, saya tidak akan ke sini!”

Suasana langsung berubah tegang.

Perawat yang menemani Kemala buru-buru ikut melihat data. Jemarinya bergerak cepat membalik beberapa lembar dokumen.

“Sebentar … tadi memang tidak ada permintaan observasi.”

Kemala merasa lututnya melemas.

“Jadi anak saya benar-benar hilang?”

Tak ada yang segera menjawab, dan diam mereka terasa lebih mengerikan daripada jawaban buruk apa pun.

“Ada CCTV, kan?” suara Kemala mulai bergetar hebat. 

“Mohon maaf bu, kami tidak memasang CCTV dalam ruang rawat karena terkait privasi pasien.” Perawat itu mencoba menjelaskan untuk menenangkan Kemala.

“Tidak mungkin tidak ada CCTV! Mau di lorong, di manapun, pasti ada!” gertak Kemala dengan amarah yang semakin memuncak. 

“Coba lihat! Cari! Tolong cari anak saya!”

“Bu, kami sedang proses–”

“Itu bayi saya!” bentak Kemala nya tiba-tiba. “Dia baru lahir dua hari! Dia bahkan belum punya nama!”

Lorong mendadak hening.

Napas Kemala memburu. Air matanya jatuh satu-satu tanpa bisa ditahan.

Dua hari lalu teriakan Kemala dalam ruang persalinan begitu nyaring terdengar. Seolah membentak dunia, agar setidaknya dunia tak membinasakan Kemala dan anaknya yang dicampakkan.

Bayi mungil itu, baru dua hari dia mengenal dunia, dan sekarang dia menghilang begitu saja.

Pintu lift terbuka.

Seorang wanita berlari masuk ke lorong dengan wajah panik. Rambutnya berantakan, napasnya ngos-ngosan.

“Kemala!”

Kemala menoleh cepat. “Rani .…”

Rani langsung memegang bahunya. “Aku baru dengar dari perawat. Bayinya belum ketemu?”

Kemala menggeleng pelan, lalu tiba-tiba menangis tersedu.

“Mereka bilang mungkin dibawa keluarga …” suaranya patah-patah. “Tapi keluargaku bahkan berharap aku sama anak ini gak pernah ada.”

Rani memeluknya cepat.

“Aku tadi sudah hubungi rumahmu.”

Kemala perlahan menatap sahabatnya itu.

“Terus apa kata mereka?”

“Ayahmu bilang jangan pernah hubungi mereka lagi.” Rani menggigit bibir sebelum melanjutkan. “Keluarga Reza juga sama. Mereka bilang bukan urusan mereka.”

Kalimat itu menghantam Kemala telak. Meski sudah menduganya, mendengar kenyataan itu secara langsung tetap terasa seperti ditusuk berulang kali.

Kemala tertawa kecil. Namun suara tawanya kosong dan rapuh.

“Lihat?” katanya lirih. “Tidak ada yang mau anak itu.”

“Jangan ngomong begitu.”

“Tapi itu kenyataannya.”

Rani menggenggam tangan Kemala erat. “Aku ada di sini.”

Mata Kemala memerah. “Kalau anakku kenapa-kenapa, Ran … aku tidak akan sanggup melanjutkan hidup.”

Belum sempat Rani menjawab, seorang pria paruh baya yang sedari tadi duduk di kursi tunggu mendadak berdiri.

“Maaf .…”

Semua kepala menoleh ke arahnya.

Pria itu tampak ragu. “Saya tadi lihat ada wanita tua bawa bayi keluar.”

Jantung Kemala seperti berhenti berdetak.

“Apa?”

“Sekitar setengah jam lalu.” Pria itu menunjuk ke arah lobi. “Dia jalan buru-buru sambil gendong bayi dibungkus selimut biru.”

Selimut biru. Kemala langsung teringat selimut kecil yang diberikan rumah sakit untuk putranya.

“Dia pergi ke mana?” tanya Rani cepat.

“Ke area parkir.” Pria itu menjawab. “Dia naik mobil hitam. Plat B kalau tidak salah.”

Kemala langsung berbalik.

“Mala!” seru Rani saat melihat Kemala memaksa berjalan cepat.

Namun Kemala tak peduli rasa sakit di tubuhnya. Jahitannya terasa seperti ditarik paksa, tetapi pikirannya hanya dipenuhi satu hal.

Anakku.

Meja administrasi di lantai dasar langsung didatangi dengan napas terengah.

“Permisi!” Kemala memukul meja pelan. “Tadi ada wanita bawa bayi keluar, kan?”

Petugas administrasi tampak terkejut. “Maaf, Bu?”

“Itu anak saya!”

Petugas itu saling pandang dengan rekannya.

“Tenang dulu, Bu.”

“Jangan suruh saya tenang!” bentak Kemala. “Berikan data wanita itu pada saya!”

“Maaf, kami tidak bisa sembarangan membuka data pasien.”

“Kalau itu benar anak saya bagaimana?!” bentak Kemala yang matanya sudah terlihat begitu merah.

Suasana lobi mendadak sunyi.

Seorang satpam mulai mendekat, khawatir keributan membesar.

Petugas administrasi menarik napas panjang. “Bu, bayi yang dibawa keluar tadi bukan bayi ibu.”

“Kamu tahu dari mana?” ujar Kemala meragukan petugas.

“Kami sudah cek.”

“Kalian bohong!”

“Ibu–”

“Saya tidak bodoh!” Mata Kemala memanas. “Saya dua hari di sini dan saya tidak lihat pasien melahirkan lain selain saya!”

Petugas itu tampak mulai kehilangan kesabaran. “Rumah sakit punya prosedur–”

“Kalau begitu buka datanya!” potong Kemala tajam. “Tunjukkan siapa ibu yang membawa bayi keluar itu!”

“Bu, itu rahasia pasien.”

“Anda masih mau memakai alasan itu saat keselamatan anak saya dipertaruhkan?!”

Rani buru-buru menahan bahu Kemala yang mulai gemetar hebat.

“Mala .…”

Namun Kemala sudah terlalu kalut.

“Buka data ibu melahirkan di hari yang sama dengan saya,” desak Kemala penuh penekanan. “Kalau memang ada pasien lain, tunjukkan!”

Petugas administrasi terdiam.

Perawat yang tadi menemani Kemala tampak ragu. Ia akhirnya menarik kursi dan mulai membuka data dari komputer.

Suara keyboard terdengar begitu jelas di tengah lobi yang membeku.

Kemala menatap layar monitor tanpa berkedip.

“Ini, Bu,” ucap perawat itu pelan.

Daftar pasien mulai muncul.

Nama pertama: Kemala Sinta.

Perawat itu menggulir layar ke bawah. Kosong. Keningnya berkerut.

Dia mengetik ulang tanggal persalinan. Muncul lagi nama yang sama. Perawat itu menggulir layar ke bawah, kosong lagi.

Keningnya berkerut. Ia mengulang lagi sampai beberapa kali, tetapi hasilnya tetap tidak berubah.

Hanya ada nama Kemala Sinta. Tak ada nama lain.

Raut wajah perawat itu perlahan berubah pucat.

“Tunggu .…” bisiknya.

Petugas administrasi mendekat. “Kenapa?”

Perawat itu menelan ludah.

“Catatan persalinan yang lain … tidak ada.”

Tidak ada.

Sedari tadi, hanya kata ini yang satu-satunya meyakinkan Kemala. Bahwa prasangkanya selama ini benar nyata, anaknya hilang di ambil orang. 

Kemala merasa udara di sekitarnya mendadak lenyap.

“Apa maksudnya tidak ada?” tanyanya perlahan.

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!